Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

7 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)

Menarik sekali membaca artikel berjudul “Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi” yang ditulis oleh Bapak Titi Bachtiar yang diterbitkan di AyoNetizen – AyoBandung.id pada hari Kamis 27 Agustus 2026 pada pukul 17:25 WIB.

Untuk itu izinkanlah saya untuk turut serta memberikan sumbangsih mengenai kegempaan dengan judul artikel “Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi.” Sejujurnya artikel ini tidak bermaksud untuk menggurui atau menyaingi artikel pak Titi Bachtiar yang sudah sangat senior di bidangnya, melainkan hanya memberikan satu sudut kesamaan pandangan. Yang satu berdasarkan kearifan lokal Sunda dan yang satu lainnya berdasarkan kearifan lokal Jawa. Biar saling melengkapi saja.

Jauh sebelum penggunaan istilah Skala Richter (SR), Skala Magnitudo (M) dan Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) digunakan di seluruh dunia, maka masyarakat suku bangsa Jawa telah lama mengenal istilah tradisional tentang tingkat kegempaan sejak zaman dahulu kala. Kearifan lokal (local wisdom) masyarakat suku bangsa Jawa ini hampir mirip denga kearifan lokal masyarakat suku bangsa Sunda.

Masyarakat Jawa memiliki kedekatan historis yang panjang dengan bencana alam, khususnya gempa bumi. Sebagai wilayah yang berada di jalur cincin api, Pulau Jawa sering mengalami guncangan tektonik, vulkanik, maupun tumbukan. Guna memahami dan mengidentifikasi fenomena alam ini, leluhur suku Jawa menciptakan sistem penamaan tersendiri berdasarkan tingkat keparahan getaran yang mereka rasakan.

Istilah-istilah lokal ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merekam memori kolektif tentang kebencanaan. Mulai dari getaran halus yang hampir tidak terasa hingga guncangan hebat yang merusak bangunan, setiap tingkatan memiliki kosakata unik. Penamaan konvensional ini mencerminkan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan.

Melalui artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai istilah bahasa Jawa yang menggambarkan skala besar guncangan gempa bumi. Memahami kosakata kuno ini sangat penting untuk mengapresiasi cara pandang masyarakat tradisional terhadap dinamika alam. Selain itu, kekayaan bahasa ini membuktikan bahwa mitigasi bencana berbasis budaya telah lama tumbuh di tanah Jawa sebagai kearifan lokal.

Skala kegempaan modern menggunakan Skala Magnitudo Momen (Moment Magnitude Scale) untuk mengukur energi total gempa dan Skala Intensitas untuk mengukur dampaknya.

Jenis Skala Gempa Modern

  1. Skala Richter (SR) adalah metode pengukuran kekuatan (magnitudo) gempa bumi yang dihitung berdasarkan logaritma amplitudo maksimum gelombang seismik yang direkam oleh alat seismograf. Skala ini dikembangkan pada tahun 1935 oleh ahli seismologi asal Amerika Serikat, Charles Francis Richter bersama Beno Gutenberg. Bersama-sama merancang skala logaritmik objektif untuk mengukur kekuatan atau energi total yang dilepaskan oleh gempa bumi berdasarkan rekaman seismograf (Skala Richter). Mengusulkan hubungan matematis antara magnitudo dan frekuensi kejadian gempa bumi di suatu wilayah (Hukum Gutenberg-Richter). Menulis buku penting bersama berjudul Seismicity of the Earth and Associated Phenomena (1941/1949).

  2. Setiap kenaikan satu angka pada skala Richter mewakili peningkatan amplitudo gelombang sebesar 10 kali lipat dan pelepasan energi sekitar 31 kali lipat lebih banyak. Meskipun istilah "Skala Richter" masih sangat sering digunakan oleh media berita, dalam dunia sains modern dan otoritas resmi seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) di Indonesia, skala ini tidak digunakan lagi sejak tahun 2008. Sebagai gantinya, kekuatan gempa sekarang diukur menggunakan satuan Magnitudo Momen (Mw).

  3. Skala Magnitudo (M), menggantikan Skala Richter lama karena lebih akurat untuk gempa besar. Skala ini menghitung total energi yang dilepaskan di pusat gempa dari rekaman sismograf.

Skala MMI (Modified Mercalli Intensity), mengukur tingkat keparahan guncangan dan kerusakan yang dirasakan manusia di suatu tempat tertentu. Skala ini memiliki 12 tingkat dari I (tidak terasa) hingga XII (kerusakan total). Skala ini mengadopsi nama penemunya, yaitu Giuseppe Mercalli.

Dalam Bahasa Jawa, terdapat tingkatan istilah atau kosakata spesifik untuk menggambarkan tingkat kerusakan akibat bencana alam seperti gempa bumi (lindu). Berdasarkan deskripsi kerusakan yang diberikan (menggunakan istilah lokal/Bahasa Jawa), berikut adalah kesesuaian skala MMI (Modified Mercalli Intensity) yang paling tepat untuk masing-masing tingkatan kerusakan gempa.

  1. Skala MMI I –  Lir (gempa yang sangat lemah/halus, tidak terasa oleh manusia). Tidak dirasakan, hanya tercatat oleh alat.

  2. Skala MMI II-III – Lindhu Ogreg (gempa yang hanya membuat barang atau tiang rumah bergetar lirih). Dirasakan oleh beberapa orang di dalam rumah. Lampu gantung bergetar ringan.

  3. Skala IV-V – Lindhu Ngobahake/Geter (gempa yang sudah menggetarkan perabotan rumah secara nyata). Dirasakan banyak orang. Jendela berderit, barang pecah belah berpelantingan.

  4. Skala MMI VI-VII – Lindhu Prahara/Mobah (gempa besar yang membuat tiang rumah/soko guru bergoyang dan masyarakat panik). Kerusakan ringan pada bangunan yang kurang kuat. Orang berlarian keluar.

  5. Skala MMI VIII-IX – Lindhu Grahana/Geger (gempa dahsyat yang menyebabkan kepanikan massal dan kerusakan struktur). Kerusakan berat pada bangunan runtuh, tanah retak.

  6. Skala MMI X-XII – Lindhu Kiamat/Jagad Obah (bencana besar di mana tanah terbelah, pohon tumbang dan bumi seolah berbalik).

Istilah Gempa Spesifik dalam Kosakata Jawa

Dalam budaya Jawa, fenomena gempa secara umum disebut Lindhu. Namun, ada beberapa istilah spesifik berdasarkan dampak atau waktu terjadinya:

  • Lindhu Geter, gempa kecil yang hanya menimbulkan getaran halus pada dinding kayu atau bambu.

  • Lindhu Nggorèng, getaran gempa yang disertai suara gemuruh dari dalam bumi (seperti suara menggoreng/gemuruh).

  • Prakempa, istilah kuno (serapan dari Bahasa Sanskerta) yang sering tertulis di naskah kuno seperti Primbon Betaljemur Adammakna untuk meramal arti gempa berdasarkan bulan Jawa terjadinya (Lindu Sasi).

Kerusakan Ringan

Skala MMI yang sesuai VI (Keenam) hingga VII (Ketujuh). Pada skala MMI VI, kerusakan ringan mulai terjadi pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, seperti plesteran dinding yang rontok. Pada skala MMI VII, gejala genting bergeser atau runtuh sebagian kecil (mrucut/mlorot) dan retak rambut pada dinding beton mulai umum dijumpai. Istilah Bahasa Jawa:

  1. garis (retak rambut), istilah untuk dinding yang mulai retak tipis atau mengalami retak rambut.

  2. ngeprik/rontog, plesteran dinding atau semen yang mulai rontok atau mengelupas sedikit demi sedikit akibat guncangan.

  3. mrucut/mlorot, atap atau genting yang bergeser ke bawah tetapi belum sampai jatuh atau hancur berantakan.

Kerusakan Sedang

Skala MMI yang sesuai VII (Ketujuh) hingga VIII (Kedelapan). Skala MMI VII mencakup kerusakan pada bangunan dengan konstruksi yang baik serta keretakan pada dinding biasa. Memasuki skala MMI VIII, kerusakan sedang hingga berat terjadi pada bangunan biasa, dinding pembatas atau pagar runtuh (ambrol) dan keretakan pada tanah (nelo) mulai terlihat jelas. Istilah Bahasa Jawa:

  1. nelo/nelo-nelo, kondisi tembok atau tanah yang retak cukup lebar dan menganga (membentuk celah).

  2. sempleh, bagian bangunan yang patah atau terkulai tetapi belum sepenuhnya lepas atau roboh (misalnya dahan pohon besar atau tiang penyangga yang miring).

runtuh/ambrol, bagian non-struktur seperti pagar rumah, kaca atau sebagian atap bangunan yang jebol dan jatuh ke tanah.

Kerusakan Parah/Berat

Skala MMI yang sesuai IX (Kesembilan) hingga XI (Kesebelas). Pada skala MMI IX, banyak bangunan yang bergeser dari fondasinya atau roboh sebagian besar (jugrug). Skala MMI X hingga XI menggambarkan kondisi bencana yang masif di mana hanya sedikit struktur bangunan yang tetap berdiri, jembatan runtuh, terjadi tanah longsor luas hingga bangunan menjadi hancur lebur (ratak/sirna/gempandheng).

  1. jugrug/ambruk, bangunan atau dinding permanen yang roboh total dan rata dengan tanah. kata jugrug biasanya juga digunakan untuk tanah longsor.

  2. ratak/sirna, kondisi kerusakan yang sangat masif hingga struktur bangunan tidak bersisa.

  3. gempandheng (gempandhang), iistilah kuno/sastra Jawa yang berarti hancur lebur atau luluh lantak akibat bencana besar.

Istilah Kondisi Pascagempa

  1. porak-porandhe/korat-karit, kondisi lingkungan atau barang-barang di dalam rumah yang berantakan, acak-acakan dan hancur pascaguncangan.

Masih banyak gempa-gempa bumi lain di seluruh dunia dengan Magnitudo > 9.0 dengan korban jiwa yang sangat banyak, termasuk di Indonesia, seperti kasus tsunami di Aceh (26 Desember 2004)

Memahami berbagai istilah Bahasa Jawa untuk menggambarkan guncangan gempa bukan sekadar merawat kekayaan bahasa daerah. Lebih dari itu, kearifan lokal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa terdahulu memiliki kepekaan tinggi terhadap tanda-tanda alam. Dengan melestarikannya, kita turut menjaga warisan leluhur sekaligus memperkaya khazanah mitigasi bencana berbasis budaya nusantara.

Pada akhirnya, istilah tradisional seperti lindu hingga prahara menjadi bukti autentik sejarah kebencanaan di Tanah Jawa. Mengaitkan kosakata ini dengan skala gempa modern dapat membantu masyarakat lokal lebih cepat tanggap terhadap bahaya. Komunikasi bencana yang menyentuh ranah budaya terbukti efektif meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi bencana.

Kesimpulannya, ragam istilah guncangan gempa dalam bahasa Jawa merefleksikan kedekatan hubungan antara manusia dan alam semesta. Setiap kata menyimpan memori kolektif tentang kekuatan bumi yang harus diwaspadai. Semoga ulasan ini memperluas wawasan Anda mengenai pentingnya memadukan sains modern dengan kearifan lokal demi keselamatan bersama di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)