Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

6 menit baca
Iqa Kinanti Nandakasih
Ditulis oleh Iqa Kinanti Nandakasih diterbitkan
Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)

Anak-anak keracunan dan tewas, tetapi yang diidamkan adalah generasi cemerlang. Tanah adat dirampas, tetapi yang dijunjung adalah pembangunan. Hutan dan pohon dibakar, tetapi yang terus dibicarakan adalah masa depan. 

29 Oktober 2026, Braga menjadi ruang bagi Aksi Kamisan Bandung dan Jatinangor. Aksi tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga warga sipil lainnya. Tuntutan utamanya adalah pembebasan massa aksi. Terhitung sejak 20 Oktober 2026, ada puluhan kasus penangkapan, penculikan, dan kriminalisasi terhadap massa aksi yang dilakukan oleh Polda Jabar. Selama 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, tak terhitung berapa banyak kasus penyelewengan kekuasaan yang menyebabkan hak dan ruang hidup direnggut, mulai dari Makanan Bergizi Gratis (MBG), ketimpangan sosial, pendidikan, dan kesehatan, pembakaran hutan dan lahan secara sengaja hampir di seluruh wilayah Indonesia, pajak terus dinaikkan, korupsi merajalela, diskriminasi kelompok minoritas dan rentan, hingga pembungkaman dan maraknya penangkapan warga sipil.

Bukan aksi musiman, sejak 18 Januari 2007, Aksi Kamisan digelar secara rutin tiap Kamis untuk menyuarakan tuntutan penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, terutama di zaman Orde Baru, sekaligus sebagai cara untuk merawat ingatan kolektif. Walau begitu, aksi ini sudah digagas sejak tahun 2006 dalam pertemuan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang mencari cara-cara alternatif untuk memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM berat. Alih-alih membuahkan hasil yang diharapkan, para penyintas dan keluarga korban sampai hari ini tak kunjung mendapatkan keadilan. 

Aksi Kamisan sendiri terinspirasi dari Association Madres de Plaza de Mayo (AMPM) atau “Ibu-Ibu Plaza de Mayo” di Argentina. Sejak April 1977, mereka meminta keadilan atas pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim militer Jorge Rafael yang mengakibatkan sekitar 30.000 orang dibunuh, diculik, dan dihilangkan secara paksa. Setiap hari Selasa sore, mereka yang beraksi mengenakan simbol kain kerudung dan pakaian berwarna putih sebagai simbol duka. Tidak hanya Aksi Kamisan, gerakan mereka juga menginspirasi banyak aktivis HAM di banyak negara.

Dengan semua kegelisahan, kemarahan, dan rasa pesimis akibat rentetan kasus penyelewengan kekuasaan di negeri ini, kini yang terus mengusik benak penulis adalah pertanyaan tentang masa depan seperti apa yang sedang diupayakan? Penulis memutuskan hadir dalam Aksi Kamisan sore itu dengan membawa semua kecamuk yang ada. 

“Hidup korban! Jangan Diam! Lawan!” dengan lantang dilontarkan berkali-kali. Di saat yang sama, penulis sedikit teralihkan oleh wajah orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang memerhatikan poster-poster kemudian beranjak pergi, ada yang melengos begitu saja, ada yang ngomel karena aksi tersebut membuat jalanan macet, dan ada juga yang meneriakkan semangat. Pandangan penulis kemudian beralih ke para massa aksi. Marah, kecewa, lelah, tetapi juga ada semangat yang tak padam. Mereka secara bergiliran menyuarakan tuntutannya, ada pula yang membacakan puisi. Ragam persoalan, tetapi harapannya sama: keadilan dan kesejahteraan ruang dan hak hidup sesama makhluk ditegakkan. 

Melebur bersama massa aksi, menyaksikan mereka tak berhenti berjuang dan bersuara di jalanan dengan berbagai risiko besar yang harus dihadapi, hingga rela mengesampingkan urusan pribadi demi mewakili mereka yang tidak bisa bersuara, sedikit bisa menambal rasa pesimis penulis dalam melihat negeri ini. Dari aksi protes dan hujan-hujanan di sore itu, untuk sekali lagi penulis meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kekuatan di antara kita.

Welas Asih di Ruang Aksi 

Perjuangan panjang di balik payung hitam, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor, 29 Oktober 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Perjuangan panjang di balik payung hitam, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor, 29 Oktober 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)

Sosok yang pertama kali terlintas di kepala ketika membicarakan Aksi Kamisan adalah Maria Catarina Sumarsih. Ia adalah ibu dari Bernardinus Realino Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998. Hampir 28 tahun berlalu, Sumarsih tetap setia berdiri setiap Kamis sore di depan Istana Merdeka dengan payung hitamnya, menuntut keadilan untuk sang anak beserta korban pelanggaran HAM berat lainnya. Keteguhannya menyalakan api solidaritas hingga Aksi Kamisan terus berlipat ganda dan berjejaring ke berbagai kota, termasuk di Braga sore itu.

Di tengah barisan payung hitam, simbol tiga jari belakangan ikut diacungkan. Terinspirasi dari Revolusi Prancis, simbol ini berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, di mana ia dijadikan lambang perlawanan sipil terhadap represi kekuasaan yang kian mempersempit ruang hidup dan demokrasi. Di balik ketegaran Sumarsih, payung-payung hitam, dan acungan tiga jari itu sesungguhnya ada satu hal yang sama-sama sedang dirawat: welas asih.

“Turun ke jalan adalah salah satu bentuk cinta terhadap diri sendiri sekaligus merawat nurani kepada sesama dan memperpanjang napas perjuangan!” terang salah seorang orator Aksi Kamisan 29 Oktober lalu.

Semua hal ini mengingatkan penulis pada buku yang pernah dibaca, seperti “Hati Tanpa Gentar” yang ditulis oleh Thubten Jinpa. Buku ini memaparkan tentang melatih batin untuk berwelas asih kepada diri sendiri, orang-orang yang kita cintai, dan lingkaran yang lebih luas, serta manfaat welas asih dalam kehidupan kolektif kita. Berangkat dari ajaran atau nilai-nilai universal dalam Buddhisme, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan. 

Welas asih sebetulnya ada di dalam diri setiap orang. Ia adalah dorongan batin yang menolak melihat makhluk lain menderita. Bedanya hanya terletak pada sejauh mana rasa itu dilatih dan dipraktikkan. Mengasihi diri sendiri tidak bisa dipisahkan dengan kepedulian terhadap sekitar, persis seperti orasi yang disuarakan di jalanan. Gerakan hari ini pun semakin meluas; protes yang muncul tak lagi cuma membicarakan kepentingan manusia, tapi juga alam, satwa, dan seluruh ekosistem yang ikut terancam oleh kesewenang-wenangan kekuasaan.

Masihkah Ada Harapan?

Menyalakan pelita dan simbol Tiga Jari dalam Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor, 29 Oktober 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Menyalakan pelita dan simbol Tiga Jari dalam Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor, 29 Oktober 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)

Di sela-sela aksi, penulis sempat berbincang singkat dengan Marha, seorang mahasiswi program studi Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia. Kepeduliannya terhadap kawan-kawan disabilitas membuka pilu lain yang masih tidak terjamah secara utuh baik dari pemerintah maupun gerakan-gerakan kolektif kita. Baginya, hadir di Braga bukan sekadar bentuk solidaritas simbolis, melainkan upaya mendesak agar ruang aman dan akses yang setara benar-benar terwujud.

Mewakili kawan-kawan disabilitas, salah satu hal yang paling menyulitkan mereka di masa sulit ini adalah akses dan jaminan kesehatan yang sangat timpang. Ada sekitar 80 titik puskesmas di Kota Bandung, tetapi hanya satu puskesmas yang cukup mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Tak hanya itu, trotoar yang tidak layak juga seringkali menjadi hambatan bagi mereka untuk beraktivitas. Kenyataan ini menunjukkan ironi yang menyesakkan. Ketika krisis ekonomi, kenaikan pajak, hingga pemangkasan subsidi makin mencekik warga biasa, kelompok rentan adalah pihak yang pertama kali dan paling parah terdorong ke jurang keterpurukan. 

Bagi Marha, rutin turun ke jalanan adalah cara ia meyakinkan dirinya bahwa kita masih punya harapan untuk memperbaiki negeri ini. “Prabowo-Gibran harus lengser,” terangnya. Namun di sisi lain, hal itu juga tidak menjamin bahwa sistem negara akan berbenah jika pemerintahan selanjutnya punya pola kebijakan yang sama seperti yang sudah-sudah. Selain itu, konflik horizontal yang terus terjadi dan aksi protes yang terpecah-pecah membuat semuanya terasa lebih berat. Kita memang sudah lebih sadar bahwa ketidakadilan juga berdampak bagi unsur kehidupan lain yang menopang kehidupan kita. Namun, kesadaran itu sering kali patah di tengah jalan karena kita masih mudah diadu domba. Kita kerap disibukkan oleh pertengkaran antarsesama korban, merasa isu kelompok sendiri paling penting, dan akhirnya gagal membangun barisan yang utuh.

Dalam artikel yang pernah ditulis berjudul "Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan", penulis menjelaskan tentang bagaimana konflik horizontal ini menggerogoti ekosistem pergerakan kolektif kita. Buku tersebut menjelaskan cara melatih empat kemuliaan batin: Upeksha (keseimbangan batin), Maitri (cinta kasih tanpa batas), Karuna (welas asih tanpa batas), dan Mudita (sukacita tanpa batas). Keempat laku ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk belajar memandang penderitaan setiap makhluk secara setara, sehingga empati kita tidak lagi berhenti pada sekat kelompok sendiri.

Pada akhirnya, melebur bersama orang-orang di jalanan menyadarkan bahwa perjuangan kita masih panjang. Memang tidak ada jaminan untuk kita menang melawan rezim ini. Namun, mereka yang berdiri puluhan tahun di bawah payung hitam dan melewati berbagai cuaca membuktikan bahwa perjuangan ini hanya bisa bertahan kokoh selama welas asih terus dirawat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)