Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)

MEMPRIHATINKAN sekaligus mencemaskan. Jawa Barat (Jabar) disebut sebagai jawara judi online (judol). Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat, belum lama ini, sebanyak 2.638.849 warga provinsi ini teridentifikasi sebagai pemain judol sepanjang tahun 2024. 

Jumlah tersebut menempatkan Jawa Barat di urutan pertama nasional. Kabupaten Bogor menjadi penyumbang terbesar dengan 321.589 pemain, disusul Kabupaten Bandung, Karawang, Sukabumi, dan Bekasi. Tak mau ketinggalan, Kota Bandung dengan 151.366 pemain. 

Ini tentu bukan prestasi yang layak dirayakan. Lebih dari sekadar angka statistik, jutaan pemain judol di Jabar memperlihatkan sebuah persoalan sosial, yang perlu segera dicari solusinya.

Besarnya jumlah pemain judol di provinsi ini semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun melalui sekitar 44,9 juta kali transaksi. 

Artinya, persoalannya bukan hanya jutaan orang yang mencoba peruntungan melalui layar gawai, melainkan juga uang dalam jumlah besar yang terus mengalir ke ekosistem perjudian ilegal. 

Angka tersebut memang tidak otomatis menggambarkan kerugian bersih pemain karena deposit dan perputaran transaksi bukan hal yang sama dengan uang yang hilang. Namun, frekuensi transaksi yang sangat tinggi menunjukkan betapa intensifnya aktivitas tersebut berlangsung.

Pertanyaannya kemudian, kenapa Jabar, yang masyarakatnya dikenal religius, sampai  bisa bertengger di peringkat atas sebagai provinsi jawara judol?

Penduduk terbesar

Jabar merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dengan basis penduduk yang sangat besar, jumlah pemain judol secara absolut juga berpeluang lebih tinggi. 

Namun, perbandingan 2,6 juta pemain dengan provinsi yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit tidak serta-merta menunjukkan tingkat kecanduan atau kerentanan yang lebih tinggi. 

Untuk mengetahui apakah warga Jabar memang lebih rentan terhadap judol diperlukan perbandingan berdasarkan proporsi pemain terhadap jumlah penduduk, bukan sekadar jumlah orang. Tanpa ukuran tersebut, predikat tertinggi masih harus dilihat secara hati-hati.

Namun, persoalan itu tidak lantas membuat tingginya jumlah pemain judol di Jabar menjadi kurang mengkhawatirkan. Sebaran pemainnya memperlihatkan bahwa judol tidak hanya tumbuh di pusat kota atau kawasan dengan aktivitas ekonomi modern. 

Artinya, fenomena ini menjangkau wilayah dengan karakter sosial dan ekonomi yang beragam. Ada kawasan industri, permukiman padat, pusat perdagangan, wilayah penyangga metropolitan, hingga daerah yang aktivitas ekonominya masih banyak bergantung pada sektor informal. 

Tampaknya judol tidak mengenal batas geografis sebagaimana kasino konvensional.

Akses tanpa hambatan

Suka atau tidak, telepon pintar dan koneksi internet telah mengubah cara masyarakat bekerja, berbelanja, belajar, dan berkomunikasi. 

Sayangnya, kemudahan yang sama juga membuat perjudian dapat diakses hampir tanpa hambatan. Seseorang tidak perlu mendatangi tempat tertentu, berkenalan dengan bandar, atau terlihat sedang berjudi. Cukup membuka telepon genggam sembari gogoleran di kamar, melakukan deposit, lalu prung permainan dimulai. 

Transaksi yang bisa dilakukan dalam hitungan detik membuat batas antara keinginan sesaat dan tindakan nyata menjadi kian tipis. Dalam situasi seperti ini, akses teknologi yang semakin luas tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan masyarakat memahami risiko di baliknya.

Gambaran profesi pemain judol di Jabar juga menarik diperhatikan. Data yang dipaparkan PPATK menunjukkan bahwa karyawan swasta mendominasi dengan porsi 45,84 persen, disusul pedagang 23,26 persen dan pengusaha 10,43 persen. Pelajar dan mahasiswa tercatat 6,20 persen. Bahkan ibu rumah tangga, aparatur sipil negara, serta anggota TNI dan Polri juga ditemukan dalam kelompok pemain judol. 

Data tersebut membantah anggapan bahwa judol semata-mata menjadi kebiasaan orang yang tidak memiliki pekerjaan atau tidak punya aktivitas produktif. 

Orang yang setiap hari berangkat ke kantor, berdagang, mengurus rumah tangga, bahkan menjalankan tugas pelayanan publik, ternyata tidak sepenuhnya kebal terhadap godaan judol.

Lalu, mengapa orang yang mengetahui risiko kekalahan dari berjudi tetap bermain dan bermain? 

Jawabannya agaknya tidak cukup dijelaskan dengan istilah kurang rasional atau ingin cepat kaya.

Psikologi perilaku mengenal mekanisme yang disebut variable ratio reinforcement, yakni pola pemberian hadiah yang tidak menentu. Dalam perjudian, kemenangan bisa muncul setelah beberapa kali kekalahan, tetapi tidak ada kepastian kapan hal itu terjadi. 

Ketidakpastian itu justru dapat membuat seseorang terus mencoba dan mencoba. Ketika kalah, sebagian pemain merasa perlu menambah deposit untuk mengembalikan uang yang sudah hilang. 

Dalam psikologi perilaku, pola ini dikenal sebagai loss chasing. Mereka tidak lagi bermain judi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga untuk mengejar kembali sesuatu yang telanjur hilang. Di sinilah perjudian dapat berubah dari hiburan sesaat atau sekadar iseng-iseng menjadi perilaku kompulsif yang sulit dihentikan.

Faktor tekanan ekonomi

Data PPATK yang dipublikasikan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar pemain judol berasal dari kelompok berpenghasilan di bawah Rp5 juta. Temuan ini memberi petunjuk bahwa tekanan ekonomi mungkin menjadi salah satu faktor kerentanan. 

Bagi seseorang yang penghasilannya terbatas, peluang memperoleh uang dalam jumlah besar secara cepat bisa terlihat menarik. Namun, bukan berarti kemiskinan otomatis membuat seseorang langsung menjadi pemain judi.

Toh banyak orang berpenghasilan rendah tidak pernah menyentuh perjudian, sementara pemain judol juga ditemukan dari kelompok ekonomi yang lebih mapan. 

Faktor lingkungan pergaulan, paparan iklan, impulsivitas, tekanan psikologis, dan kemudahan transaksi dapat saling berinteraksi. Kemiskinan mungkin memperbesar kerentanan, tetapi bukan satu-satunya penjelasan.

Yang lebih mengkhawatirkan dari judol adalah dampaknya tidak berhenti pada orang yang bermain. Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga bisa berpindah menjadi deposit. Pengeluaran pendidikan anak, cicilan, belanja dapur, dan kebutuhan kesehatan berpotensi terganggu. 

Ketika kekalahan semakin besar, sebagian orang mungkin mencari pinjaman untuk melanjutkan permainan atau menutup kerugian. Dari sana, persoalan bisa merembet menjadi utang, konflik keluarga, kebohongan, bahkan tindakan kriminal. 

Tidak semua pemain judol mengalami rangkaian dampak tersebut, tetapi risiko sosialnya nyata. Satu orang yang berjudi bisa membawa konsekuensi bagi beberapa anggota keluarga yang sama sekali tidak pernah ikut bermain. Dengan kata lain, biaya sosial perjudian jauh lebih luas daripada uang yang tercatat dalam transaksi.

Karena itu, pemberantasan judol tidak cukup jika hanya berfokus pada pemain atau pemblokiran situs. Pemerintah perlu mengejar pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas tersebut, termasuk jaringan operator, promotor, rekening penampung, dan jalur pembayaran yang digunakan. 

Data PPATK tentang besarnya transaksi judol melalui perbankan, dompet elektronik, dan QRIS memperlihatkan bahwa sistem keuangan digital juga menjadi bagian penting dari persoalan ini. 

Maka, pengawasan transaksi mencurigakan, pemutusan aliran dana, penelusuran pemilik manfaat rekening, dan penegakan hukum terhadap jaringan di belakangnya harus berjalan konsisten. 

Pada saat yang sama, masyarakat yang sudah terjebak judol membutuhkan akses terhadap konseling dan pemulihan, bukan sekadar celaan atau stigma. 

Jumlah 2,6 juta orang warga Jabar yang menjadi pemain judol , sebagaimana tercatat dalam data PPATK, seharusnya menjadi alasan untuk memeriksa kembali kondisi sosial, ekonomi, dan ekosistem digital yang memungkinkan perjudian berkembang begitu luas di provinsi ini. 

Pemerintah daerah perlu mengetahui wilayah mana yang paling rentan, kelompok masyarakat mana yang paling banyak terpapar, dan bagaimana pola transaksi berlangsung. 

Selain itu, edukasi keuangan juga perlu dilakukan agar masyarakat belajar mengelola uang dengan lebih baik. Namun demikian, rasanya tidak adil jika seluruh beban pemberantasan judol diserahkan kepada calon korbannya. 

Di satu sisi, orang diminta mengendalikan diri. Di sisi lain, industri judol terus mencari cara agar orang kembali memasang taruhan. 

Kalau bandar judol semakin pintar membaca kelemahan manusia, negara semestinya tidak kalah pintar melacak dan memutus bisnis mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)