Untuk mereka yang tidak pulang, untuk mereka yang tetap menanti dengan harapan.
Apa musik atau lagu yang pas untuk didengar di tengah kekacauan seperti sekarang? Ketika sejarah kelam dan kehilangan yang tidak kira-kira kembali terulang, mungkin lagu-lagu Tigapagi adalah teman untuk menepi sejenak.
Sempat hiatus dari panggung, mereka kembali tampil untuk pertama kalinya di Nusantara Dharma Book Festival 7.0 pada tanggal 16 Agustus 2026 lalu di Nara Park, Kota Bandung. NDBF sendiri merupakan pesta literasi tahunan dalam rangka mengkampanyekan literasi, buku Dharma dan Nusantara, serta ruang temu beragam komunitas seni-budaya di Indonesia. Pesta literasi ini diinisiasi oleh Lamrimnesia, sebuah yayasan nonprofit yang bergerak dalam bidang penerbitan buku dan pendidikan berbasis filsafat Buddhis. Meski sudah lewat beberapa bulan yang lalu, entah mengapa penampilan Tigapagi di malam itu masih terngiang sampai sekarang. Hening dan hampa. Mungkin karena hal itu.
Dibentuk pada tahun 2005, Tigapagi adalah kelompok musik ansambel asal Bandung. Dalam perjalanan musiknya, mereka memadukan eksperimental folk dan chamber pop yang banyak mengeksplorasi napas musik tradisi, seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Mereka tampil dengan intens dan memikat penonton, membawakan beberapa lagu dari dua albumnya, Roekmana’s Repertoire dan Rukiah’s Suites. Roekmana’s Repertoire sendiri merupakan album pertama mereka yang terinspirasi dari seorang budayawan, Agus Roekmana. Album ini menceritakan seorang perempuan bernama Roekmana yang berkecamuk mencari makna hidup dan kebenaran di negerinya dengan latar September 1965. Sementara Rukiah’s Suites terinspirasi dari puisi-puisi Siti Rukiah yang dimuat dalam antologi puisinya berjudul “Tandus”. Siti Rukiah ialah sastrawan perempuan sekaligus anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi tahanan politik menjelang akhir tahun 1965 di tengah gemuruh G30S.
Di malam penutupan pesta literasi NDBF 7.0 itu, “Patung Sembahan” menjadi lagu pembuka.
Masa Lalu yang Suram, Masa Depan yang Berkabut
Ada sekelebat pikiran dan perasaan yang cukup bercampur-aduk sepanjang mendengarkan “Patung Sembahan”. Lagu tersebut mengingatkan pada kondisi saat ini yang terasa seperti sedang berdiri di antara dua ruang: masa lalu suram yang meninggalkan trauma dan masa depan yang hanya berisi kabut.
Dan entah untuk yang ke berapa kalinya kita harus meyakinkan diri sendiri dan sekitar bahwa masih ada hal baik di sini, tetapi di saat yang sama kita juga menyaksikan bagaimana keadilan dan kesejahteraan itu tidak pernah ada di sepanjang sejarah. Ketika banyak yang (di)hilang(kan) dari hidup ini, trauma kolektif itu tumbuh dengan subur.
Ketika “Pasir” dan “Batu Tua” dinyanyikan, suasana semakin hening. Lagu “Pasir” menuntun pada perjalanan tentang waktu dan kehilangan, sementara “Batu Tua” bercerita tentang kemelut yang ada di pikiran Roekmana yang memuncak, di mana pencarian-pencarian Roekmana terhalang keterbatasannya yang semakin hari kian menua, serta makna tentang merelakan.
Yang Tak Kembali, yang Tetap Menanti
Piala ini sudah kosong / Ruangan pun kini jadi kosong / Dan gelak yang tadi panas / Kini dingin tak terdengar lagi
Masuk ke babak Rukiah’s Suites. Beberapa lagu yang dibawakan dari album tersebut ialah “Piala Kosong” dan “Pancaran di Persimpangan”.
Siti Rukiah dengan pemikiran dan pergerakannya yang progresif di kala itu, terutama ketika bergabung dengan Lekra—menjadi salah satu penggagas Turun ke Bawah (Turba), di mana konsep estetika seni tersebut mengharuskan seluruh seniman Lekra untuk langsung turun, hidup, dan berbaur dengan masyarakat kelas pekerja (buruh dan tani). Tujuannya supaya karya mereka dapat menyentuh perjuangan rakyat secara nyata. Hal tersebut sejalan sebagaimana Lekra sendiri memandang bahwa seni tidak pernah dan tidak boleh dipisahkan dari rakyat.
Di malam itu, ‘Rukiah’ baik sebagai seniman maupun sebagai konsep yang digubah Tigapagi menjadi album seketika mengingatkan pada sekelompok perempuan paduan suara bernama Di Atas Lima Puluh Tahun atau Dialita Choir. Keduanya punya latar belakang yang mirip. Anggota Dialita terdiri dari para perempuan penyintas dan keluarga tahanan politik tragedi 1965. Meski dibentuk tahun 2011, lagu-lagu mereka sebenarnya telah lahir sejak masa penahanan, diciptakan secara sembunyi-sembunyi di dalam penjara oleh para anggota Dialita dan sesama tahanan politik lainnya. Beberapa lagu tersebut di antaranya “Ujian”, “Kabut Putih”, “Lagu Untuk Anakku”, “Taman Bunga Plantungan”, dan masih banyak lagi.
Penampilan Tigapagi malam itu membawa penonton pada satu ruang yang sama bernama ingatan kolektif. Serangkaian ingatan tentang yang tidak kembali, penantian, rumah, dan pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tidak ada jawabannya. Di balik remang cahaya panggung, kini kita sedang mengulang setiap adegan di peristiwa itu. Dan di balik remang cahaya itu pula, untuk sekali lagi kita mencoba percaya pada harapan dan pulang. (*)