Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

3 menit baca
Iqa Kinanti Nandakasih
Ditulis oleh Iqa Kinanti Nandakasih diterbitkan
Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)

Untuk mereka yang tidak pulang, untuk mereka yang tetap menanti dengan harapan.

Apa musik atau lagu yang pas untuk didengar di tengah kekacauan seperti sekarang? Ketika sejarah kelam dan kehilangan yang tidak kira-kira kembali terulang, mungkin lagu-lagu Tigapagi adalah teman untuk menepi sejenak.

Sempat hiatus dari panggung, mereka kembali tampil untuk pertama kalinya di Nusantara Dharma Book Festival 7.0 pada tanggal 16 Agustus 2026 lalu di Nara Park, Kota Bandung. NDBF sendiri merupakan pesta literasi tahunan dalam rangka mengkampanyekan literasi, buku Dharma dan Nusantara, serta ruang temu beragam komunitas seni-budaya di Indonesia. Pesta literasi ini diinisiasi oleh Lamrimnesia, sebuah yayasan nonprofit yang bergerak dalam bidang penerbitan buku dan pendidikan berbasis filsafat Buddhis. Meski sudah lewat beberapa bulan yang lalu, entah mengapa penampilan Tigapagi di malam itu masih terngiang sampai sekarang. Hening dan hampa. Mungkin karena hal itu. 

Dibentuk pada tahun 2005, Tigapagi adalah kelompok musik ansambel asal Bandung. Dalam perjalanan musiknya, mereka memadukan eksperimental folk dan chamber pop yang  banyak mengeksplorasi napas musik tradisi, seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Mereka tampil dengan intens dan memikat penonton, membawakan beberapa lagu dari dua albumnya, Roekmana’s Repertoire dan Rukiah’s Suites. Roekmana’s Repertoire sendiri merupakan album pertama mereka yang terinspirasi dari seorang budayawan, Agus Roekmana. Album ini menceritakan seorang perempuan bernama Roekmana yang berkecamuk mencari makna hidup dan kebenaran di negerinya dengan latar September 1965. Sementara Rukiah’s Suites terinspirasi dari puisi-puisi Siti Rukiah yang dimuat dalam antologi puisinya berjudul “Tandus”. Siti Rukiah ialah sastrawan perempuan sekaligus anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi tahanan politik menjelang akhir tahun 1965 di tengah gemuruh G30S. 

Di malam penutupan pesta literasi NDBF 7.0 itu, “Patung Sembahan” menjadi lagu pembuka.

Masa Lalu yang Suram, Masa Depan yang Berkabut

Ada sekelebat pikiran dan perasaan yang cukup bercampur-aduk sepanjang mendengarkan “Patung Sembahan”. Lagu tersebut mengingatkan pada kondisi saat ini yang terasa seperti sedang berdiri di antara dua ruang: masa lalu suram yang meninggalkan trauma dan masa depan yang hanya berisi kabut. 

Dan entah untuk yang ke berapa kalinya kita harus meyakinkan diri sendiri dan sekitar bahwa masih ada hal baik di sini, tetapi di saat yang sama kita juga menyaksikan bagaimana keadilan dan kesejahteraan itu tidak pernah ada di sepanjang sejarah. Ketika banyak yang (di)hilang(kan) dari hidup ini, trauma kolektif itu tumbuh dengan subur.

Ketika “Pasir” dan “Batu Tua” dinyanyikan, suasana semakin hening. Lagu “Pasir” menuntun pada perjalanan tentang waktu dan kehilangan, sementara “Batu Tua” bercerita tentang kemelut yang ada di pikiran Roekmana yang memuncak, di mana pencarian-pencarian Roekmana terhalang keterbatasannya yang semakin hari kian menua, serta makna tentang merelakan.

Yang Tak Kembali, yang Tetap Menanti

Piala ini sudah kosong / Ruangan pun kini jadi kosong / Dan gelak yang tadi panas / Kini dingin tak terdengar lagi

Masuk ke babak Rukiah’s Suites. Beberapa lagu yang dibawakan dari album tersebut ialah “Piala Kosong” dan “Pancaran di Persimpangan”. 

Siti Rukiah dengan pemikiran dan pergerakannya yang progresif di kala itu, terutama ketika bergabung dengan Lekra—menjadi salah satu penggagas Turun ke Bawah (Turba), di mana konsep estetika seni tersebut mengharuskan seluruh seniman Lekra untuk langsung turun, hidup, dan berbaur dengan masyarakat kelas pekerja (buruh dan tani). Tujuannya supaya karya mereka dapat menyentuh perjuangan rakyat secara nyata. Hal tersebut sejalan sebagaimana Lekra sendiri memandang bahwa seni tidak pernah dan tidak boleh dipisahkan dari rakyat. 

Di malam itu, ‘Rukiah’ baik sebagai seniman maupun sebagai konsep yang digubah Tigapagi menjadi album seketika mengingatkan pada sekelompok perempuan paduan suara bernama Di Atas Lima Puluh Tahun atau Dialita Choir. Keduanya punya latar belakang yang mirip. Anggota Dialita terdiri dari para perempuan penyintas dan keluarga tahanan politik tragedi 1965. Meski dibentuk tahun 2011, lagu-lagu mereka sebenarnya telah lahir sejak masa penahanan, diciptakan secara sembunyi-sembunyi di dalam penjara oleh para anggota Dialita dan sesama tahanan politik lainnya. Beberapa lagu tersebut di antaranya “Ujian”, “Kabut Putih”, “Lagu Untuk Anakku”, “Taman Bunga Plantungan”, dan masih banyak lagi.

Penampilan Tigapagi malam itu membawa penonton pada satu ruang yang sama bernama ingatan kolektif. Serangkaian ingatan tentang yang tidak kembali, penantian, rumah, dan pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tidak ada jawabannya. Di balik remang cahaya panggung, kini kita sedang mengulang setiap adegan di peristiwa itu. Dan di balik remang cahaya itu pula, untuk sekali lagi kita mencoba percaya pada harapan dan pulang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)