Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

7 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan. Ia menjadi bagian dari keseharian sekaligus menyimpan kenangan yang tetap melekat hingga hari ini.

Pada masa ketika pilihan tontonan di televisi belum sebanyak sekarang, TVRI menghadirkan beragam program musik yang mengangkat khazanah musik Indonesia. Sebut saja Aneka Ria Safari, Kamera Ria, Dari Masa ke Masa, Telerama, Chandra Kirana, Selekta Pop, Musik Malam Minggu, Album Minggu Ini, Irama Melayu, Irama Keroncong, dan masih banyak lagi.

Program-program tersebut tidak hanya menawarkan hiburan. Layar kaca TVRI juga menjadi salah satu ruang penting bagi para penyanyi dan musisi Indonesia untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Bagi seorang penyanyi, tampil di TVRI pada masa itu memiliki arti tersendiri. Eksposur yang luas membuat nama mereka lebih mudah dikenal oleh pemirsa di berbagai daerah. Tidak sedikit pula penonton muda yang kemudian terinspirasi untuk menyanyi, bermain musik, atau sekadar bermimpi suatu hari bisa tampil di layar televisi.

TVRI juga memiliki sejumlah program yang memberikan ruang bagi penyanyi pendatang baru. Wajah Baru dan Kenalan Baru, misalnya, menjadi bagian dari program yang memperkenalkan wajah-wajah baru kepada pemirsa setelah melalui proses seleksi. Dalam konteks zamannya, konsep semacam ini mengingatkan kita pada program pencarian bakat yang kemudian populer di era televisi swasta.

Tiga Acara Musik Legendaris di Layar TVRI

Dari begitu banyak program musik yang pernah menghiasi layar TVRI, ada sejumlah acara yang begitu kuat melekat dalam ingatan pemirsanya. Tiga di antaranya adalah Aneka Ria Safari, Chandra Kirana, dan Selekta Pop.

Ketiganya memiliki karakter yang berbeda.

Aneka Ria Safari identik dengan panggung musik yang meriah dan deretan penyanyi populer. Chandra Kirana menawarkan kemasan yang lebih musikal dan artistik, dengan perhatian pada orkestrasi serta aransemen. Sementara Selekta Pop hadir dengan pendekatan visual yang pada zamannya terasa segar dan berbeda.

Tiga program tersebut seperti memperlihatkan tiga warna dalam perjalanan musik di layar kaca TVRI.

Aneka Ria Safari, Panggung Bintang Musik Indonesia

Bagi yang tumbuh besar pada era 1980-90an pastinya mengenal acara televisi Aneka Ria Safari.

Program musik yang dikoordinasikan oleh Eddy Sud ini menjadi salah satu tayangan musik TVRI yang sangat populer pada masanya. Formatnya berupa pertunjukan panggung di studio, tempat para penyanyi dan grup musik tampil membawakan lagu-lagu mereka.

Pada masa itu, konsep semacam ini mempunyai daya tarik tersendiri. Televisi belum dipenuhi beragam pilihan acara musik seperti sekarang. Karena itu, sebuah pertunjukan musik di TVRI dapat menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh pemirsa.

Aneka Ria Safari juga menjadi salah satu ruang penting bagi musik populer Indonesia, termasuk dangdut. Sejumlah kajian mengenai perkembangan musik dangdut di televisi mencatat bahwa pada dekade 1980-an, TVRI memberikan ruang yang cukup besar bagi musik dangdut melalui berbagai program musik, dan Aneka Ria Safari menjadi salah satu tayangan yang menonjol.

Bagi para penyanyi, tampil di Aneka Ria Safari berarti memperoleh kesempatan untuk hadir di hadapan pemirsa dalam jumlah yang sangat luas. Penyanyi dari berbagai genre pun silih berganti menghiasi panggungnya.

Yang membuat acara ini menarik bukan hanya deretan nama penyanyi yang tampil. Tata panggung, pencahayaan, susunan lagu, pembawa acara, hingga suasana pertunjukan dirancang untuk menghadirkan sebuah tontonan yang meriah.

Untuk ukuran produksi televisi Indonesia pada masa itu, panggung Aneka Ria Safari terasa begitu hidup.

Nama Eddy Sud pun kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ingatan pemirsa terhadap acara tersebut. Bagi generasi yang pernah menyaksikannya, pembukaan acara, suasana panggung, dan penampilan para penyanyi seolah membawa kembali kita ke sebuah periode ketika televisi menjadi salah satu panggung utama bagi musik Indonesia.

Pada akhirnya, Aneka Ria Safari bukan hanya sebuah acara musik. Ia menjadi salah satu penanda perjalanan budaya pop Indonesia pada masanya.

Chandra Kirana, Acara Musik dengan Sentuhan Artistik

Chandra Kirana. Salah satu tayangan hiburan televisi yang mewarnai kenangan penonton pada masanya, dengan Diah Iskandar sebagai pembawa acara. Program ini turut merekam geliat budaya populer Indonesia pada zamannya. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Chandra Kirana. Salah satu tayangan hiburan televisi yang mewarnai kenangan penonton pada masanya, dengan Diah Iskandar sebagai pembawa acara. Program ini turut merekam geliat budaya populer Indonesia pada zamannya. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Jika Aneka Ria Safari dikenal dengan kemeriahan panggungnya, Chandra Kirana mempunyai warna yang berbeda.

Program ini berkaitan erat dengan Diah Iskandar, yang berupaya meneruskan semangat bermusik keluarganya. Orkes Chandra Kirana sebelumnya didirikan oleh musikus Iskandar sekitar dekade 1960-an. Setelah sang ayah meninggal, Diah Iskandar berupaya menghidupkan kembali semangat tersebut melalui sebuah program musik di TVRI.

Paket perdana Chandra Kirana ditayangkan pada awal Juni 1980 dengan durasi sekitar 45 menit. Kehadirannya menawarkan warna yang berbeda bagi pemirsa TVRI kala itu.

Chandra Kirana tidak sekadar menampilkan penyanyi berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu. Ada perhatian lebih terhadap aransemen, orkestrasi, serta keseluruhan penyajian musik.

Di situlah kekuatan program ini.

Musik di televisi ternyata tidak harus selalu dikemas sebagai pertunjukan yang serba meriah. Musik juga dapat disajikan dengan pendekatan yang lebih elegan, musikal, dan artistik.

Bagi penikmat musik Indonesia, Chandra Kirana menjadi salah satu contoh bagaimana televisi pada masa itu dapat menjadi ruang bagi musisi, penyanyi, dan komposer untuk menunjukkan kreativitas mereka.

Nama Diah Iskandar pun menjadi bagian penting dalam perjalanan program musik TVRI. Bersama para musisi pendukungnya, ia menghadirkan warna tersendiri di tengah maraknya acara musik yang menghiasi layar televisi pada masa keemasan TVRI.

Selekta Pop, Cikal Bakal Video Musik di Layar Kaca

Selekta Pop. Program musik televisi dengan Mariana Ramelan sebagai pembawa acara yang turut memperkenalkan lagu dan penyanyi populer kepada masyarakat. Selekta Pop menjadi bagian dari romantisme musik dan hiburan Indonesia masa lalu. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Selekta Pop. Program musik televisi dengan Mariana Ramelan sebagai pembawa acara yang turut memperkenalkan lagu dan penyanyi populer kepada masyarakat. Selekta Pop menjadi bagian dari romantisme musik dan hiburan Indonesia masa lalu. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Kemudian ada Selekta Pop, sebuah program yang barangkali terasa paling dekat dengan format video musik yang kelak berkembang pesat di televisi swasta dan kemudian dikenal luas melalui MTV.

TVRI mencatat bahwa Selekta Pop mulai hadir pada 1983 dalam format yang masih berbasis studio. Perubahan terjadi pada 1984 ketika program tersebut berada di bawah pengelolaan Daniel Jacob Nawi atau lebih dikenal dengan nama DJ Nawi.

Kemasan acaranya kemudian menjadi lebih dinamis. Pengambilan gambar tidak hanya dilakukan di dalam studio, tetapi juga memanfaatkan berbagai lokasi di luar studio, permainan gambar, animasi sederhana, serta efek kamera.

Untuk ukuran televisi Indonesia pada era 1980-an, pendekatan tersebut terbilang menarik.

Selekta Pop tidak hanya mengandalkan penyanyi yang berdiri di atas panggung. Lagu-lagu dikemas dengan pendekatan visual sehingga pemirsa tidak hanya mendengar musik, tetapi juga menikmati gambar yang membantu membangun suasana lagu.

Program ini ditayangkan sebulan sekali dan menyajikan sekitar 12 hingga 14 lagu pilihan. Menurut catatan TVRI, konsep tersebut mendapat perhatian besar dari pemirsa. Bahkan, produser musik disebut harus mengantre agar artis mereka dapat masuk ke dalam program tersebut.

Menariknya, Selekta Pop memperlihatkan bagaimana TVRI pada masa itu mulai bereksperimen dengan bahasa visual dalam menyajikan musik.

Jauh sebelum YouTube, platform streaming, dan video musik dapat diakses dengan mudah melalui telepon genggam, pemirsa Selekta Pop sudah diperkenalkan pada pengalaman menikmati lagu melalui perpaduan suara dan gambar.

Tentu saja, istilah music video belum menjadi bagian dari keseharian pemirsa seperti sekarang. Namun, dari layar TVRI itulah penonton mulai mengenal cara lain menikmati sebuah lagu, bukan hanya melalui suara, tetapi juga melalui visual.

Aneka Ria Safari, Chandra Kirana, dan Selekta Pop pada akhirnya memperlihatkan tiga wajah berbeda musik televisi Indonesia.

Aneka Ria Safari menghadirkan kemeriahan panggung dan popularitas para penyanyi.

Chandra Kirana menawarkan sentuhan musikal, orkestrasi, dan artistik.

Sementara Selekta Pop berani mengeksplorasi kekuatan gambar dan kemasan visual.

Ketiganya menjadi bagian dari sebuah masa ketika TVRI memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum televisi swasta berkembang pesat, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi nasional yang dapat diakses masyarakat secara luas. Karena itu, program-program yang hadir di layarnya mempunyai daya jangkau dan pengaruh yang besar terhadap selera hiburan masyarakat.

Itulah sebabnya kenangan terhadap acara-acara tersebut terasa lebih dari sekadar nostalgia televisi.

Ada kenangan tentang lagu yang pertama kali dikenal dari layar kaca. Ada ingatan tentang penyanyi yang kemudian menjadi idola. Ada pula memori sederhana tentang keluarga yang duduk bersama di depan televisi, menunggu acara musik kesayangan dimulai.

Dulu, televisi mungkin hanya sebuah benda di ruang keluarga. Namun, dari benda sederhana itulah banyak kenangan sebuah generasi terbentuk.

Kini, puluhan tahun kemudian, ketika potongan-potongan tayangan lama kembali beredar di internet, kenangan itu seolah menemukan jalan untuk pulang.

Lagu-lagu lama kembali terdengar. Wajah para penyanyi kembali muncul. Panggung-panggung TVRI yang dulu terasa begitu megah kembali hadir dalam ingatan.

Dan tiba-tiba saja, kita seperti kembali menjadi anak-anak atau remaja yang duduk di depan televisi, menunggu sebuah acara musik dimulai.

Baca Juga: Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Tidak ada YouTube. Tidak ada layanan streaming. Tidak ada pilihan untuk memutar ulang kapan saja.

Yang ada hanyalah sebuah layar televisi, sebuah acara yang ditunggu, dan rasa penasaran tentang lagu serta penyanyi apa yang akan muncul malam itu.

Kita mungkin tidak pernah menyadarinya ketika itu. Tetapi bertahun-tahun kemudian, kita baru memahami bahwa tayangan-tayangan sederhana tersebut bukan sekadar hiburan.

Ia adalah bagian dari perjalanan musik Indonesia, bagian dari sejarah televisi, dan yang paling penting, bagian dari ingatan sebuah generasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)