Mengenang Sambas Mangundikarta, Penyiar RRI–TVRI dan Pencipta Lagu Manuk Dadali

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Nama Sambas Mangundikarta tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Di kota inilah ia dilahirkan pada 21 September 1926, sekaligus memulai perjalanan panjangnya di dunia penyiaran. Dari Bandung pula suara khasnya kemudian dikenal luas oleh masyarakat melalui siaran Radio Republik Indonesia dan Televisi Republik Indonesia. Selain sebagai penyiar, Sambas juga dikenang sebagai pencipta lagu Sunda legendaris “Manuk Dadali.”

Alhamdulillah, pada Lebaran 2026 ini penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan putra-putri tokoh penyiaran Indonesia tersebut, keluarga besar Sambas Mangundikarta, di Pemakaman Umum Dungus Wiru, Subang kebetulan makam Sambas berada di Subang.

Menjelang siang, suasana kompleks pemakaman terasa teduh dan tenang. Di bawah rindang pepohonan, keluarga besar berkumpul di sebuah pusara. Bunga-bunga ditaburkan perlahan, sementara doa-doa dipanjatkan dengan khidmat.

Sebagian besar anggota keluarga datang dari Jakarta. Lebaran kali ini bukan hanya menjadi momen berkumpul, tetapi juga kesempatan untuk mengenang sosok yang dahulu mengisi ruang keluarga mereka dan juga ruang keluarga banyak orang Indonesia melalui siaran radio dan televisi.

Bagi keluarga Mangundikarta, ziarah itu bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi cara menjaga ingatan tentang seorang ayah, kakek, sekaligus tokoh penyiaran yang pernah menjadi bagian dari sejarah media di Indonesia.

Bermula Dari Radio Perjuangan

Perjalanan Sambas Mangundikarta di dunia penyiaran bermula pada masa revolusi kemerdekaan.

Pada tahun 1946 hingga 1949, ia terlibat dalam kegiatan Radio Perjuangan Jawa Barat, sebuah radio perjuangan yang didirikan bersama pejuang kemerdekaan Mustopo. Radio ini sempat beroperasi di Subang sebelum berpindah ke Madiun dan Blitar, mengikuti dinamika medan perjuangan saat itu.

Di tengah suasana perang dan keterbatasan fasilitas, radio menjadi alat penting untuk menyebarkan informasi sekaligus membangkitkan semangat rakyat. Dari sanalah Sambas mulai akrab dengan mikrofon dan dunia penyiaran.

Pengalaman di radio perjuangan itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya di dunia media.

Setelah situasi negara mulai stabil, Sambas semakin serius menekuni dunia penyiaran.

Pada Agustus 1952, ia resmi bergabung sebagai penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Di sana ia menjalankan berbagai peran: reporter, penyiar, sekaligus pembaca berita. Suaranya yang berat dan khas membuatnya cepat dikenal oleh para pendengar radio di berbagai daerah.

Kariernya di RRI juga membawanya bertugas di beberapa kota lain, seperti Samarinda dan Cirebon. Pengalaman berpindah-pindah daerah itu memperkaya kemampuannya sebagai penyiar sekaligus reporter lapangan.

Namun satu bidang yang paling ia nikmati adalah reportase olahraga.

Sambas dikenal sebagai reporter olahraga yang menghidupkan pertandingan.

Pernikahan Siti Zuchra dengan  Sambas Mangundikarta, 17 September 1952. (Sumber: Istimewa)
Pernikahan Siti Zuchra dengan Sambas Mangundikarta, 17 September 1952. (Sumber: Istimewa)

Dengan suara bariton yang kuat dan gaya narasi yang hidup, Sambas mampu menghadirkan suasana stadion kepada para pendengar radio.

Banyak orang merasa seolah berada langsung di arena pertandingan ketika ia melaporkan jalannya laga sepak bola maupun bulu tangkis.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika meliput perebutan Thomas Cup yang pertama kali digelar di Indonesia pada 1961. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal sebagai reporter olahraga yang piawai menggambarkan pertandingan secara detail dan dramatis.

Dari Radio ke Televisi

Ketika televisi nasional mulai berkembang, Sambas menjadi bagian dari generasi awal penyiar televisi Indonesia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Penerangan pada 1962, ia bergabung dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Di TVRI, ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Hiburan dan Olahraga pada periode 1963–1967. Setelah itu, ia dipercaya menjadi koordinator penyiar.

Di layar televisi, ia tidak hanya menjadi reporter olahraga, tetapi juga tampil sebagai pembaca berita. Suara dan wajahnya menjadi akrab bagi pemirsa TVRI pada era 1970-an hingga 1990-an.

Sebagai reporter olahraga televisi, ia meliput berbagai peristiwa internasional, antara lain:

~ Thomas Cup 1970

~ All England 

~ Championships (1976, 1977, 1981)

~ Uber Cup di Tokyo (1981)

~ Pra Piala Dunia sepak bola di Singapura (1977)

Ia juga terlibat dalam sejumlah program televisi populer, di antaranya acara pembangunan pedesaan Dari Desa ke Desa serta program dialog Kolempencapir.

Pencipta Lagu “Manuk Dadali”

Selain dikenal sebagai penyiar, Sambas juga meninggalkan jejak penting di dunia musik Sunda.

Ia adalah pencipta lagu “Manuk Dadali,” yang hingga kini masih sering dinyanyikan dalam berbagai kesempatan. Lagu tersebut bahkan pernah menduduki tangga lagu teratas di RRI Bandung pada awal 1960-an.

Selain Manuk Dadali, ia juga menciptakan sejumlah lagu Sunda lainnya seperti Peuyeum Bandung, Sapunyere Pegat Simpay, dan Ka Huma.

Di balik karier panjangnya di dunia penyiaran, Sambas dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan penuh humor.

Putra-putri Sambas Mangundikarta saat berziarah ke makam almarhum di Subang, Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Putra-putri Sambas Mangundikarta saat berziarah ke makam almarhum di Subang, Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)

Dalam kehidupan sehari-hari, ia gemar bersenda gurau dengan keluarga. Candaan-candaannya membuat suasana rumah terasa hidup dan hangat. Bahkan, menurut pengakuannya sendiri, kebiasaan bercanda itulah yang membuat dirinya tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Ia juga dikenal sebagai penyayang binatang. Di rumahnya, berbagai hewan pernah dipelihara, mulai dari kucing, burung, hingga ayam.

Ada pula kisah unik tentang nama anak-anaknya yang hampir semuanya diawali dengan kata “Kris.” Menurut Sambas, kata itu berasal dari keris, yang baginya melambangkan ketajaman, kegunaan, sekaligus perlindungan.

Buah pernikahan Sambas dengan Siti Zuchra menghasilkan tujuh putra-putri yaitu

Aries Kriswandi (alm), Atiek Kriswanti, An-an Kriswana (alm), Is Kriswara, Ed-ed Krisyadi (alm), Inge Krisyani, dan Yan-yan Krisyana.

Atas kiprahnya di dunia penyiaran, Sambas Mangundikarta pernah menerima ucapan terima kasih dan rasa bangga dari Presiden Soeharto atas tayangan program Dari Desa ke Desa. Pada tahun 2022, ia juga dianugerahi KPI Awards kategori Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia.

Ia bahkan menyimpan sebuah keris peninggalan orang tuanya sebagai amanat keluarga yang dijaga dengan penuh hormat.

Silaturahmi yang Menjaga Kenangan

Usai berziarah, keluarga besar Sambas Mangundikarta melanjutkan kebersamaan mereka dalam acara halal bihalal keluarga di sebuah rumah makan di Jalan Otto Iskandardinata, Subang.

Di meja makan, cerita-cerita lama kembali hidup. Ada yang mengenang suara khas Sambas di radio. Ada pula yang tertawa ketika mengingat candaan-candaannya di rumah.

Bagi keluarga Mangundikarta, Sambas bukan hanya tokoh penyiaran yang pernah dikenal publik. Ia adalah ayah, kakek, sekaligus sosok yang meninggalkan teladan tentang kecintaan pada profesi, kesederhanaan, dan kehangatan keluarga.

Waktu mungkin telah berlalu. Suara yang dahulu menggema melalui gelombang radio kini tinggal kenangan. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya baik sebagai keluarga maupun sebagai pendengar jejak Sambas Mangundikarta tetap hidup dalam cerita, dalam ingatan, dan dalam silaturahmi yang terus terjaga dari generasi ke generasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)