Mengenang Sambas Mangundikarta, Penyiar RRI–TVRI dan Pencipta Lagu Manuk Dadali

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Jumat 27 Mar 2026, 18:01 WIB
Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Nama Sambas Mangundikarta tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Di kota inilah ia dilahirkan pada 21 September 1926, sekaligus memulai perjalanan panjangnya di dunia penyiaran. Dari Bandung pula suara khasnya kemudian dikenal luas oleh masyarakat melalui siaran Radio Republik Indonesia dan Televisi Republik Indonesia. Selain sebagai penyiar, Sambas juga dikenang sebagai pencipta lagu Sunda legendaris “Manuk Dadali.”

Alhamdulillah, pada Lebaran 2026 ini penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan putra-putri tokoh penyiaran Indonesia tersebut, keluarga besar Sambas Mangundikarta, di Pemakaman Umum Dungus Wiru, Subang kebetulan makam Sambas berada di Subang.

Menjelang siang, suasana kompleks pemakaman terasa teduh dan tenang. Di bawah rindang pepohonan, keluarga besar berkumpul di sebuah pusara. Bunga-bunga ditaburkan perlahan, sementara doa-doa dipanjatkan dengan khidmat.

Sebagian besar anggota keluarga datang dari Jakarta. Lebaran kali ini bukan hanya menjadi momen berkumpul, tetapi juga kesempatan untuk mengenang sosok yang dahulu mengisi ruang keluarga mereka dan juga ruang keluarga banyak orang Indonesia melalui siaran radio dan televisi.

Bagi keluarga Mangundikarta, ziarah itu bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi cara menjaga ingatan tentang seorang ayah, kakek, sekaligus tokoh penyiaran yang pernah menjadi bagian dari sejarah media di Indonesia.

Bermula Dari Radio Perjuangan

Perjalanan Sambas Mangundikarta di dunia penyiaran bermula pada masa revolusi kemerdekaan.

Pada tahun 1946 hingga 1949, ia terlibat dalam kegiatan Radio Perjuangan Jawa Barat, sebuah radio perjuangan yang didirikan bersama pejuang kemerdekaan Mustopo. Radio ini sempat beroperasi di Subang sebelum berpindah ke Madiun dan Blitar, mengikuti dinamika medan perjuangan saat itu.

Di tengah suasana perang dan keterbatasan fasilitas, radio menjadi alat penting untuk menyebarkan informasi sekaligus membangkitkan semangat rakyat. Dari sanalah Sambas mulai akrab dengan mikrofon dan dunia penyiaran.

Pengalaman di radio perjuangan itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya di dunia media.

Setelah situasi negara mulai stabil, Sambas semakin serius menekuni dunia penyiaran.

Pada Agustus 1952, ia resmi bergabung sebagai penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Di sana ia menjalankan berbagai peran: reporter, penyiar, sekaligus pembaca berita. Suaranya yang berat dan khas membuatnya cepat dikenal oleh para pendengar radio di berbagai daerah.

Kariernya di RRI juga membawanya bertugas di beberapa kota lain, seperti Samarinda dan Cirebon. Pengalaman berpindah-pindah daerah itu memperkaya kemampuannya sebagai penyiar sekaligus reporter lapangan.

Namun satu bidang yang paling ia nikmati adalah reportase olahraga.

Sambas dikenal sebagai reporter olahraga yang menghidupkan pertandingan.

Pernikahan Siti Zuchra dengan  Sambas Mangundikarta, 17 September 1952. (Sumber: Istimewa)
Pernikahan Siti Zuchra dengan Sambas Mangundikarta, 17 September 1952. (Sumber: Istimewa)

Dengan suara bariton yang kuat dan gaya narasi yang hidup, Sambas mampu menghadirkan suasana stadion kepada para pendengar radio.

Banyak orang merasa seolah berada langsung di arena pertandingan ketika ia melaporkan jalannya laga sepak bola maupun bulu tangkis.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika meliput perebutan Thomas Cup yang pertama kali digelar di Indonesia pada 1961. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal sebagai reporter olahraga yang piawai menggambarkan pertandingan secara detail dan dramatis.

Dari Radio ke Televisi

Ketika televisi nasional mulai berkembang, Sambas menjadi bagian dari generasi awal penyiar televisi Indonesia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Penerangan pada 1962, ia bergabung dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Di TVRI, ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Hiburan dan Olahraga pada periode 1963–1967. Setelah itu, ia dipercaya menjadi koordinator penyiar.

Di layar televisi, ia tidak hanya menjadi reporter olahraga, tetapi juga tampil sebagai pembaca berita. Suara dan wajahnya menjadi akrab bagi pemirsa TVRI pada era 1970-an hingga 1990-an.

Sebagai reporter olahraga televisi, ia meliput berbagai peristiwa internasional, antara lain:

~ Thomas Cup 1970

~ All England 

~ Championships (1976, 1977, 1981)

~ Uber Cup di Tokyo (1981)

~ Pra Piala Dunia sepak bola di Singapura (1977)

Ia juga terlibat dalam sejumlah program televisi populer, di antaranya acara pembangunan pedesaan Dari Desa ke Desa serta program dialog Kolempencapir.

Pencipta Lagu “Manuk Dadali”

Selain dikenal sebagai penyiar, Sambas juga meninggalkan jejak penting di dunia musik Sunda.

Ia adalah pencipta lagu “Manuk Dadali,” yang hingga kini masih sering dinyanyikan dalam berbagai kesempatan. Lagu tersebut bahkan pernah menduduki tangga lagu teratas di RRI Bandung pada awal 1960-an.

Selain Manuk Dadali, ia juga menciptakan sejumlah lagu Sunda lainnya seperti Peuyeum Bandung, Sapunyere Pegat Simpay, dan Ka Huma.

Di balik karier panjangnya di dunia penyiaran, Sambas dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan penuh humor.

Putra-putri Sambas Mangundikarta saat berziarah ke makam almarhum di Subang, Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Putra-putri Sambas Mangundikarta saat berziarah ke makam almarhum di Subang, Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)

Dalam kehidupan sehari-hari, ia gemar bersenda gurau dengan keluarga. Candaan-candaannya membuat suasana rumah terasa hidup dan hangat. Bahkan, menurut pengakuannya sendiri, kebiasaan bercanda itulah yang membuat dirinya tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Ia juga dikenal sebagai penyayang binatang. Di rumahnya, berbagai hewan pernah dipelihara, mulai dari kucing, burung, hingga ayam.

Ada pula kisah unik tentang nama anak-anaknya yang hampir semuanya diawali dengan kata “Kris.” Menurut Sambas, kata itu berasal dari keris, yang baginya melambangkan ketajaman, kegunaan, sekaligus perlindungan.

Buah pernikahan Sambas dengan Siti Zuchra menghasilkan tujuh putra-putri yaitu

Aries Kriswandi (alm), Atiek Kriswanti, An-an Kriswana (alm), Is Kriswara, Ed-ed Krisyadi (alm), Inge Krisyani, dan Yan-yan Krisyana.

Atas kiprahnya di dunia penyiaran, Sambas Mangundikarta pernah menerima ucapan terima kasih dan rasa bangga dari Presiden Soeharto atas tayangan program Dari Desa ke Desa. Pada tahun 2022, ia juga dianugerahi KPI Awards kategori Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia.

Ia bahkan menyimpan sebuah keris peninggalan orang tuanya sebagai amanat keluarga yang dijaga dengan penuh hormat.

Silaturahmi yang Menjaga Kenangan

Usai berziarah, keluarga besar Sambas Mangundikarta melanjutkan kebersamaan mereka dalam acara halal bihalal keluarga di sebuah rumah makan di Jalan Otto Iskandardinata, Subang.

Di meja makan, cerita-cerita lama kembali hidup. Ada yang mengenang suara khas Sambas di radio. Ada pula yang tertawa ketika mengingat candaan-candaannya di rumah.

Bagi keluarga Mangundikarta, Sambas bukan hanya tokoh penyiaran yang pernah dikenal publik. Ia adalah ayah, kakek, sekaligus sosok yang meninggalkan teladan tentang kecintaan pada profesi, kesederhanaan, dan kehangatan keluarga.

Waktu mungkin telah berlalu. Suara yang dahulu menggema melalui gelombang radio kini tinggal kenangan. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya baik sebagai keluarga maupun sebagai pendengar jejak Sambas Mangundikarta tetap hidup dalam cerita, dalam ingatan, dan dalam silaturahmi yang terus terjaga dari generasi ke generasi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)