Berjuang itu Mudah, Bertahan itu Sulit: Kisah Sosok Santri yang Tangguh

4 menit baca
Nabillah Luthfiyana
Ditulis oleh Nabillah Luthfiyana diterbitkan
Pemberian Piala Juara 1 Membaca Kitab Kuning kepada Defani Raspati, salah satu Santri Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin. (Istimewa)
Pemberian Piala Juara 1 Membaca Kitab Kuning kepada Defani Raspati, salah satu Santri Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin. (Istimewa)

Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, di mana perhatian anak muda sering tersedot ke layar ponsel, ada sosok yang memilih jalan berbeda mendalami kitab kuning dan menapaki ilmu agama dengan tekun. Ia adalah Defani Raspati, seorang pemuda asal Bandung yang kini dikenal sebagai santri sekaligus mahasiswa aktif di Madrasah Aliyah Sukamiskin.

Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah perjuangan yang menginspirasi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan makna sejati dari “bertahan.”

Defani tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak duduk di bangku kelas dua Aliyah, ia mulai menekuni kitab Fathul Mu’in sebuah kitab klasik yang menjadi rujukan penting dalam fiqih. Awalnya, niat itu muncul karena rasa ingin berkembang.

Ia merasa bahwa pelajaran tahrib yang telah ia tekuni selama delapan tahun tak lagi memberinya tantangan baru. Maka ia memutuskan untuk mendalami kitab yang lebih berat, sebagai cara untuk mengasah ilmu dan meningkatkan kualitas dirinya.

Belajar kitab kuning bukan hal mudah, apalagi bagi seseorang yang mengaku memiliki “otak lemot” dan berbicara cadel. Namun, di situlah justru letak kekuatan Defani. Ia tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa kemampuan bukan ditentukan oleh kesempurnaan, tetapi oleh kemauan untuk terus berusaha.

Selama empat tahun, ia dengan sabar menamatkan tahrib hingga ribuan kali. Ia menyadari bahwa membaca kitab bukan hanya tentang memahami bahasa Arab atau menerjemahkan teks, tetapi tentang melatih diri untuk istiqomah bertahan dalam proses panjang yang penuh ketekunan.

Suatu ketika, Defani mengikuti lomba membaca kitab Fathul Mu’in. Awalnya ia hanya berniat menambah pengalaman, bukan mengejar piala. Persiapannya hanya dua minggu, dengan metode belajar yang tidak terstruktur membuka kitab secara acak dan membaca bagian yang ia temui. Namun, berkat ketekunan dan dasar kuat yang telah ia bangun bertahun-tahun, ia mampu tampil percaya diri di depan juri.

Yang menarik, kemenangan itu datang tak terduga. Ia tak pernah menyangka bisa membawa pulang juara. Namun bagi Defani, piala bukanlah inti dari perjuangan. Ia melihat kemenangan itu sebagai hasil dari kerja kolektif hasil pendidikan pesantren, bimbingan guru, dan dukungan teman-teman. Ia memandang prestasinya sebagai cerminan dari sistem dan lingkungan yang menumbuhkan semangat belajar dan disiplin.

Dalam pandangan Defani, inti dari belajar kitab kuning bukan sekadar menguasai teks, tetapi membentuk karakter tahan banting. Ia percaya bahwa perjuangan mungkin mudah dimulai, tapi sulit dipertahankan. Istiqomah adalah kunci. Banyak orang semangat di awal, namun berhenti di tengah jalan karena merasa bosan atau lelah. Bagi Defani, keberhasilan sejati bukan pada hasil akhir, tapi pada kemampuan untuk tetap bertahan di tengah kesulitan.

Ia juga punya cara unik untuk menjaga semangat di era digital. Menurutnya, seseorang perlu memiliki “dua sifat penting”: tuli terhadap hinaan dan buta terhadap pujian. Hinaan bisa melemahkan semangat, dan pujian bisa membuat lengah. Dengan sikap itu, ia belajar untuk tetap fokus pada proses, bukan pada komentar orang.

Namun di balik keteguhan itu, Defani menyimpan kisah masa lalu yang pahit. Saat SD, ia pernah difitnah mencuri uang masjid dan lebih menyakitkan lagi, ayahnya sendiri sempat mempercayai tuduhan itu. Ia menjadi sasaran amarah masyarakat. Sejak saat itu, ia tumbuh dengan rasa benci terhadap lingkungan sosialnya. Baginya, masyarakat dulu hanyalah sumber luka.

Namun waktu dan ilmu mengubah pandangannya. Melalui diskusi dan pelajaran tentang humaniora, ia mulai menyadari bahwa seburuk apa pun masyarakat, mereka tetap manusia yang layak dipahami. Dari sanalah lahir cita-citanya yang paling dalam: menyadarkan masyarakat agar tak ada lagi orang yang diperlakukan seperti dirinya dulu. Ia ingin mengubah luka menjadi jalan kebaikan membalas kebencian dengan pemahaman.

Kisah hidup Defani Raspati mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan di panggung lomba, melainkan dalam perjuangan pribadi melawan keterbatasan diri. Ia membuktikan bahwa istiqomah bisa mengalahkan bakat, dan kesabaran bisa melampaui kecerdasan. Di saat banyak anak muda berlomba mengejar validasi di dunia maya, Defani memilih jalan sunyi: memaknai ilmu, mengasah diri, dan memperjuangkan nilai yang ia yakini benar.

Bagi siapa pun yang sedang merasa lelah belajar atau hampir menyerah dalam proses panjang, kisah Defani adalah pengingat bahwa waktu tidak pernah sia-sia bagi mereka yang terus berjalan. Karena sebagaimana ia katakan lewat sikapnya,

Baca Juga: Jawa Barat Menuju 2029: Sinergi Ekonomi Biru, Industri 5.0, dan Pemerintahan Progresif untuk Pertumbuhan Inklusif

“Berjuang itu mudah, tapi bertahan itu sulit.” Dan justru dalam kesulitan itulah, manusia ditempa menjadi kuat.

Defani Raspati bukan sekadar santri yang memenangkan lomba membaca kitab. Ia adalah representasi dari semangat zaman yang langka ketika ketekunan dan keikhlasan masih menjadi kompas hidup. Dari sosoknya, kita belajar bahwa ilmu tak selalu datang dari ruang kuliah mewah atau buku modern. Kadang, ilmu sejati tumbuh dari kesederhanaan, dari tekad untuk bertahan, dan dari hati yang terus belajar meski dunia berubah.

Kisah Defani adalah cermin bahwa setiap manusia, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi sumber inspirasi asal ia mau bertahan di jalan yang diyakini benar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabillah Luthfiyana
nothing impossible

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)