Berjuang itu Mudah, Bertahan itu Sulit: Kisah Sosok Santri yang Tangguh

Nabillah Luthfiyana
Ditulis oleh Nabillah Luthfiyana diterbitkan Selasa 11 Nov 2025, 07:58 WIB
Pemberian Piala Juara 1 Membaca Kitab Kuning kepada Defani Raspati, salah satu Santri Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin. (Istimewa)

Pemberian Piala Juara 1 Membaca Kitab Kuning kepada Defani Raspati, salah satu Santri Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin. (Istimewa)

Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, di mana perhatian anak muda sering tersedot ke layar ponsel, ada sosok yang memilih jalan berbeda mendalami kitab kuning dan menapaki ilmu agama dengan tekun. Ia adalah Defani Raspati, seorang pemuda asal Bandung yang kini dikenal sebagai santri sekaligus mahasiswa aktif di Madrasah Aliyah Sukamiskin.

Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah perjuangan yang menginspirasi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan makna sejati dari “bertahan.”

Defani tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak duduk di bangku kelas dua Aliyah, ia mulai menekuni kitab Fathul Mu’in sebuah kitab klasik yang menjadi rujukan penting dalam fiqih. Awalnya, niat itu muncul karena rasa ingin berkembang.

Ia merasa bahwa pelajaran tahrib yang telah ia tekuni selama delapan tahun tak lagi memberinya tantangan baru. Maka ia memutuskan untuk mendalami kitab yang lebih berat, sebagai cara untuk mengasah ilmu dan meningkatkan kualitas dirinya.

Belajar kitab kuning bukan hal mudah, apalagi bagi seseorang yang mengaku memiliki “otak lemot” dan berbicara cadel. Namun, di situlah justru letak kekuatan Defani. Ia tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa kemampuan bukan ditentukan oleh kesempurnaan, tetapi oleh kemauan untuk terus berusaha.

Selama empat tahun, ia dengan sabar menamatkan tahrib hingga ribuan kali. Ia menyadari bahwa membaca kitab bukan hanya tentang memahami bahasa Arab atau menerjemahkan teks, tetapi tentang melatih diri untuk istiqomah bertahan dalam proses panjang yang penuh ketekunan.

Suatu ketika, Defani mengikuti lomba membaca kitab Fathul Mu’in. Awalnya ia hanya berniat menambah pengalaman, bukan mengejar piala. Persiapannya hanya dua minggu, dengan metode belajar yang tidak terstruktur membuka kitab secara acak dan membaca bagian yang ia temui. Namun, berkat ketekunan dan dasar kuat yang telah ia bangun bertahun-tahun, ia mampu tampil percaya diri di depan juri.

Yang menarik, kemenangan itu datang tak terduga. Ia tak pernah menyangka bisa membawa pulang juara. Namun bagi Defani, piala bukanlah inti dari perjuangan. Ia melihat kemenangan itu sebagai hasil dari kerja kolektif hasil pendidikan pesantren, bimbingan guru, dan dukungan teman-teman. Ia memandang prestasinya sebagai cerminan dari sistem dan lingkungan yang menumbuhkan semangat belajar dan disiplin.

Dalam pandangan Defani, inti dari belajar kitab kuning bukan sekadar menguasai teks, tetapi membentuk karakter tahan banting. Ia percaya bahwa perjuangan mungkin mudah dimulai, tapi sulit dipertahankan. Istiqomah adalah kunci. Banyak orang semangat di awal, namun berhenti di tengah jalan karena merasa bosan atau lelah. Bagi Defani, keberhasilan sejati bukan pada hasil akhir, tapi pada kemampuan untuk tetap bertahan di tengah kesulitan.

Ia juga punya cara unik untuk menjaga semangat di era digital. Menurutnya, seseorang perlu memiliki “dua sifat penting”: tuli terhadap hinaan dan buta terhadap pujian. Hinaan bisa melemahkan semangat, dan pujian bisa membuat lengah. Dengan sikap itu, ia belajar untuk tetap fokus pada proses, bukan pada komentar orang.

Namun di balik keteguhan itu, Defani menyimpan kisah masa lalu yang pahit. Saat SD, ia pernah difitnah mencuri uang masjid dan lebih menyakitkan lagi, ayahnya sendiri sempat mempercayai tuduhan itu. Ia menjadi sasaran amarah masyarakat. Sejak saat itu, ia tumbuh dengan rasa benci terhadap lingkungan sosialnya. Baginya, masyarakat dulu hanyalah sumber luka.

Namun waktu dan ilmu mengubah pandangannya. Melalui diskusi dan pelajaran tentang humaniora, ia mulai menyadari bahwa seburuk apa pun masyarakat, mereka tetap manusia yang layak dipahami. Dari sanalah lahir cita-citanya yang paling dalam: menyadarkan masyarakat agar tak ada lagi orang yang diperlakukan seperti dirinya dulu. Ia ingin mengubah luka menjadi jalan kebaikan membalas kebencian dengan pemahaman.

Kisah hidup Defani Raspati mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan di panggung lomba, melainkan dalam perjuangan pribadi melawan keterbatasan diri. Ia membuktikan bahwa istiqomah bisa mengalahkan bakat, dan kesabaran bisa melampaui kecerdasan. Di saat banyak anak muda berlomba mengejar validasi di dunia maya, Defani memilih jalan sunyi: memaknai ilmu, mengasah diri, dan memperjuangkan nilai yang ia yakini benar.

Bagi siapa pun yang sedang merasa lelah belajar atau hampir menyerah dalam proses panjang, kisah Defani adalah pengingat bahwa waktu tidak pernah sia-sia bagi mereka yang terus berjalan. Karena sebagaimana ia katakan lewat sikapnya,

Baca Juga: Jawa Barat Menuju 2029: Sinergi Ekonomi Biru, Industri 5.0, dan Pemerintahan Progresif untuk Pertumbuhan Inklusif

“Berjuang itu mudah, tapi bertahan itu sulit.” Dan justru dalam kesulitan itulah, manusia ditempa menjadi kuat.

Defani Raspati bukan sekadar santri yang memenangkan lomba membaca kitab. Ia adalah representasi dari semangat zaman yang langka ketika ketekunan dan keikhlasan masih menjadi kompas hidup. Dari sosoknya, kita belajar bahwa ilmu tak selalu datang dari ruang kuliah mewah atau buku modern. Kadang, ilmu sejati tumbuh dari kesederhanaan, dari tekad untuk bertahan, dan dari hati yang terus belajar meski dunia berubah.

Kisah Defani adalah cermin bahwa setiap manusia, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi sumber inspirasi asal ia mau bertahan di jalan yang diyakini benar. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabillah Luthfiyana
nothing impossible
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)