Bandung, Kota yang Pernah Terbang dan Kini Rindu Langitnya Sendiri

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Lintasan penerbangan di Bandara Husein Sastranegara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Lintasan penerbangan di Bandara Husein Sastranegara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Bandung tidak hanya dikenal dari udaranya yang sejuk, tapi juga karena langitnya yang pernah terbuka untuk dunia. Kini setelah kereta cepat dan bandara baru hadir, muncul pertanyaan sederhana, apakah bandung masih punya pintu langitnya sendiri untuk menjemput dunia?

Ada yang pelan-pelan hilang dari langit Bandung. Bukan awan, bukan kabut, tapi suara mesin pesawat yang dulu hilir mudik dari Bandara Husein Sastranegara. Suara yang pernah jadi penanda terhubungnya kota dengan dunia luar, dengan mereka yang ingin melihat, belajar, dan jatuh cinta pada Bandung. Kini, langit itu hanya menyisakan memori terdalam, kenapa dunia yang dulu dekat, kini terasa menjauh.

Ketika itu, Bandung tak perlu menunggu dunia datang lewat Jakarta atau Bali, kota ini punya pintu langitnya sendiri. Setiap pesawat yang mendarat di Husein bukan sekadar alat transportasi, tapi pembawa cerita yang membuat Bandung menjadi lebih dari sekadar kota tujuan wisata.

Bandung, kota yang disinggahi ide-ide besar, dan tawa para pelancong.

Dulu, wisatawan dari Singapura, Kuala Lumpur, bahkan Darwin bisa langsung menuju Bandung. Mereka melihat dari jendela pesawat, bentang hijau pegunungan, sawah yang berundak, atap merah yang berserak di bawah awan. Dan ketika mereka menjejak tanah, yang mereka temui bukan sekadar tempat, tapi suasananya, udara sejuk yang menenangkan, aroma kopi, dan senyum hangat orang-orangnya.

Bandung yang Pernah Mengudara

Tak banyak kota di dunia yang bisa berkata, “kami pernah membuat pesawat.” Tapi Bandung bisa. Di sinilah anak-anak bangsa belajar menembus langit. Di sinilah Nurtanio dan BJ. Habibie menulis bab pertama kisah kedirgantaraan Indonesia. Kisah bangsa yang mengudara dengan sayapnya sendiri.

Saat ini, kita hidup di masa ketika jarak bisa dilipat. Ada Whoosh, kereta cepat yang melesat dari Jakarta ke Bandung hanya empat puluh lima menit. Juga ada jalan tol yang menembus bukit dan lembah dengan pemandangan hijaunya.

Dulu turis asing dengan mudah menyeberang dari Singapura, menempuh dua jam penerbangan, lalu menginap di Dago atau Ciumbuleuit, berjalan kaki ke Jalan Braga, membeli batik di Cihampelas, menyesap kopi di Punclut sambil melihat senja. Atau menjelajah bentangan alam di Kawasan Bandung Raya, Kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Pangalengen, Ciwidey, Garut, atau Pantai Pangandaran. Sekarang, mereka harus terbang ke Jakarta atau Kertajati, terus menempuh perjalanan darat panjang untuk sampai di sini. Sebagian memilih batal, sebagian kehilangan arah.

Tapi dunia terus berubah, dan Bandung tak bisa hanya hidup dari kenangan. Saat ini moda kereta cepat (whoosh) menjadi tend moda transportasi internasional menuju Bandung. Data BPS Jawa Barat menunjukkan tren penurunan wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang melalui BIJB Kertajati pada Desember 2024. Herman Suryatman, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat juga menyampaikan data kunjungan pada November 2024 dari 735, anjlok menjadi 337 kunjungan pada Desember 2024, kemungkinan wisman beralih moda, tuturnya.

Bagi sebagian orang, bandara hanyalah tempat pesawat mendarat dan lepas landas. Tapi bagi Bandung, Husein Sastranegara adalah bagian dari jiwanya. Ruang perjumpaan antara lokal dan global, antara ide dan peluang. Dari bandara kecil itulah para wisatawan, pebisnis, hingga mahasiswa asing pertama kali menjejakan kaki di Bandung, sebelum jatuh cinta pada kota ini. Husein menjadi pintu masuk bagi ekonomi kreatif, pendidikan tinggi, dan pariwisata berkarakter.

Menghidupkan kembali bandara ini bukan sekadar keputusan ekonomi, tapi keputusan kebudayaan. Bandung telah lama dikenal dunia sebagai kota kreatif, kota desain, kota pendidikan. Tapi tanpa koneksi udara yang langsung, terasa sulit menjaga irama global. Kota kreatif memerlukan pertemuan. Dan pertemuan memerlukan gerbang yang terbuka. Tentu, ini bukan tentang menyaingi Whoosh atau Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Ini tentang menemukan harmoni.

Antara Kertajati dan Husein

Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pemindahan bandara Bandung ke BIJB Kertajati tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional. Di antara alasan yang mengemuka adalah Husein Sastra Negara dinilai tidak cocok untuk penerbangan komersial, terlebih bagi pesawat bermesin jet bahkan untuk kelas narrow body atau pesawat berbadan sempit.

Di balik narasi itu, tersembul cita-cita proyek strategis nasional (PSN) yang memprediksi mampu menjadi simpul baru mobilitas udara dan stimulus ekonomi Kawasan REBANA, yang didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan.

Sebetulnya implementasi kebijakan tersebut bisa dibicarakan dengan tenang, duduk santai di bawah sejuknya embun pagi di Kawasan Dago Pakar. Para pihak ngobrol tentang berbagi manfaat dengan BIJB Kertajati yang sejak dinyatakan resmi beroperasi tahun 2018, booming di tahun 2023, kemudian lesu lagi hingga saat ini.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar pun, berupaya mendongkrak kelesuan tersebut dengan menambah penyertaan modal untuk BIJB Kertajati, senilai Rp 100 miliar yang tertuang dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) tahun 2026. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lugas berkata, upaya itu agar lis­trik­nya sama airnya tidak mati, malah kalau dibiarkan, nanti akan menjadi tempatnya kelelawar, sambungnya.

Menjemput Dunia, Menata Diri

Di sisi lain, semangat Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang terus berupaya memperjuangkan reaktivasi bandara Husein patut diapresiasi, sekaligus menjadi momen yang tepat untuk merenung. Apa yang membuat Bandung sekarang istimewa? Sebab, sebelum dunia kembali, Bandung harus berbenah. Kota ini punya semua modalitas untuk itu.

Bandung adalah laboratorium gagasan, tempat lahirnya kreativitas, tempat tumbuhnya pendidikan, dan tempat di mana seni dan teknologi bisa bertemu dengan cara yang lembut. Mungkin, langkah pertama untuk menjemput dunia adalah menata ulang masalah yang membuat Bandung tak kunjung masuk dalam peringkat UI GreenCityMetric dalam lima tahun terakhir.

Kota ini masih punya pekerjaan rumah. Pengelolaan sampah yang tertinggal, transportasi publik yang belum terintegrasi, tata ruang yang kian sesak, dan sungai-sungai yang kehilangan jernihnya, hingga tata kelola pemerintahan lintas wilayah. Tapi semua itu bukan alasan untuk pesimis, justru panggilan untuk bergerak.

Kota yang ingin kembali disinggahi dunia, harus terlebih dahulu layak dihuni oleh warganya sendiri.

Bukan beton yang paling penting, tapi kesadaran Bersama. Di sinilah makna "menjemput dunia dari langit Bandung" menjadi nyata. Bukan lagi tentang membangun landasan pacu baru, melainkan menata fondasi batin kota ini dengan kesadaran akan pentingnya keterhubungan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Dunia hanya akan datang jika Bandung mengundangnya dengan wajah yang segar, lingkungan yang bersih, dan warganya yang hangat.

Setiap kota punya caranya sendiri untuk hidup. Jakarta hidup dengan lalu lintas dan ambisinya. Bali hidup dengan pesona lautnya. Bandung hidup dengan udara, kenangan, dan langitnya. Karena kota ini diciptakan untuk bergerak, berinovasi, dan menyapa dunia dengan semangat Soekarno dan Konferensi Asia Afrika yang menggelegar.

Mungkin, langit Bandung sedang menunggu waktu untuk kembali ramai.

“Ayo, Bandung. Buka lagi pintu langitmu. Dunia masih ingin datang menjejak tanahmu, mencium udaramu, dan jatuh cinta sekali lagi.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)