Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda: Oase Bandung di Tengah Pariwisata Kontemporer

4 menit baca
Adil Rafsanjani
Ditulis oleh Adil Rafsanjani diterbitkan
Tahura Ir. H. Djuanda. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Tahura Ir. H. Djuanda. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kota Bandung dikenal sebagai destinasi wisata favorit yang memadukan panorama alam pegunungan dengan kreativitas masyarakatnya. Namun di balik keriuhan kota modern, terdapat satu kawasan yang menjadi paru-paru utama Bandung, yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (TAHURA).

Kawasan ini bukan sekadar ruang hijau, tetapi juga laboratorium alam yang hidup, tempat di mana sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan bertemu dalam harmoni ekologis.

Tahura menjadi simbol penting dari transformasi pariwisata Bandung menuju arah yang lebih berkelanjutan, mendidik, dan menyatu dengan alam. Dalam konteks dinamika pariwisata kontemporer, Tahura mencerminkan pergeseran minat wisatawan dari sekadar hiburan menuju wisata pengalaman dan kesadaran ekologis.

***

TAHURA diresmikan pada tahun 1985 melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1985, dan diberi nama untuk menghormati Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, Perdana Menteri terakhir Indonesia yang dikenal sebagai perumus Deklarasi Djuanda — tonggak lahirnya konsep “Negara Kepulauan Indonesia”.

Namun, akar sejarah kawasan ini jauh lebih tua. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini menjadi bagian dari hutan lindung Dago Pakar yang difungsikan sebagai daerah resapan air dan pelindung DAS (Daerah Aliran Sungai) Cikapundung. Sisa-sisa peninggalan masa itu masih dapat dijumpai melalui Goa Belanda, yang dibangun pada tahun 1918 untuk kebutuhan militer dan pengaturan air.

Tak jauh dari sana, terdapat pula Goa Jepang, yang dibuat pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942–1945 dan kini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan bangsa.

Tahura menempati area seluas lebih dari 590 hektare, membentang dari Dago Pakar hingga Maribaya, Lembang.
Dengan ketinggian antara 770 hingga 1.330 meter di atas permukaan laut, kawasan ini memiliki iklim sejuk dan kelembapan tinggi, menjadikannya rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna.

Beberapa di antaranya:

  • Flora: pinus merkusii, puspa, rasamala, mahoni, dan bambu hutan.
  • Fauna: lutung jawa, kera ekor panjang, bajing tanah, serta berbagai jenis burung endemik seperti burung kutilang dan tekukur.

Selain itu, Tahura berperan sebagai penyerap karbon alami dan penjaga kestabilan iklim mikro Bandung utara, yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem kota. Banyak peneliti dari ITB, Unpad, dan UPI melakukan penelitian di kawasan ini terkait konservasi, geologi, dan perubahan iklim.

Destinasi dan Aktivitas Wisata

Jembatan Gantung di Taman Hutan Ir. Djuanda merupkan Taman Hutan di Kawasan Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Samudraeka)
Jembatan Gantung di Taman Hutan Ir. Djuanda merupkan Taman Hutan di Kawasan Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Samudraeka)

TAHURA menawarkan beragam aktivitas wisata edukatif dan petualangan alam:

  • Trekking dan Hiking: Jalur lintas hutan Dago–Maribaya sepanjang 6 km yang menantang sekaligus menenangkan.
  • Wisata Edukasi: Area konservasi dan pusat informasi alam yang menjadi lokasi penelitian pelajar dan mahasiswa.
  • Wisata Sejarah: Goa Belanda dan Goa Jepang menjadi daya tarik utama wisata sejarah di tengah hutan.
  • Wisata Air: Curug Dago dan Curug Omas yang menampilkan keindahan air terjun alami khas dataran tinggi Priangan.
  • Spot Fotografi dan Camping Ground: Area luas yang sering digunakan untuk kegiatan keluarga, komunitas, hingga kemah pelajar.

TAHURA juga menjadi lokasi favorit komunitas pencinta alam, fotografer, dan keluarga yang ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kota.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bandung mengalami lonjakan wisatawan domestik dan mancanegara yang signifikan. Fenomena ini membawa dampak positif terhadap ekonomi daerah, namun juga menimbulkan tekanan bagi lingkungan.

Tantangan utama pengelolaan Tahura antara lain:

  1. Overkapasitas pengunjung pada akhir pekan dan hari libur.
  2. Sampah plastik dan limbah wisata, yang dapat mencemari aliran sungai dan mengganggu satwa.
  3. Pembangunan fasilitas non-ramah lingkungan di sekitar kawasan konservasi.
  4. Kurangnya kesadaran wisatawan terhadap pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan kawasan.

Untuk mengatasi hal ini, pengelola Tahura bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerapkan sistem pengelolaan berbasis konservasi dan edukasi publik. Program seperti “Tahura Bersih dan Cerdas” serta “Eco Trail Experience” menjadi contoh inisiatif yang mengedepankan partisipasi masyarakat.

Dari kacamata sosiologi pariwisata, Tahura merupakan ruang interaksi sosial dan ekologis di mana manusia bernegosiasi dengan alam. Wisatawan tidak hanya berperan sebagai penikmat, tetapi juga sebagai subjek yang terlibat dalam pelestarian.
Kegiatan edukatif seperti outbound ekologi, observasi satwa, dan konservasi pohon menjadi wadah bagi pembentukan kesadaran ekologis kolektif.

Tahura juga mempertemukan komunitas lokal dan urban dalam kegiatan ekonomi kreatif seperti penyewaan alat wisata, kuliner tradisional, dan penjualan produk hasil alam. Fenomena ini menunjukkan bagaimana ekowisata dapat menjadi instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat tanpa merusak nilai konservasi.

Untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi, beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Pembatasan jumlah pengunjung pada zona inti konservasi.
  2. Peningkatan fasilitas ramah lingkungan seperti jalur pejalan kaki alami dan tempat sampah terpilah.
  3. Kolaborasi akademis antara pengelola, universitas, dan komunitas pecinta alam.
  4. Digitalisasi informasi wisata, misalnya melalui aplikasi “Smart Tahura” untuk pemesanan tiket dan panduan ekowisata.
  5. Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan edukasi dan patroli lingkungan.

Dengan penerapan strategi ini, Tahura dapat terus menjadi model pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang menjadi kebanggaan Kota Bandung.

Baca Juga: Kehangatan Pagi Hari di Gerobak Bubur Ayam Pasor

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda bukan hanya kawasan wisata, tetapi juga simbol keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian.
Ia adalah jantung hijau Bandung, tempat di mana udara segar, sejarah, ilmu, dan budaya berpadu dalam satu ruang harmoni.

Di tengah derasnya arus urbanisasi dan industri pariwisata modern, Tahura menjadi pengingat bahwa masa depan Bandung yang indah hanya bisa diwujudkan jika manusia hidup selaras dengan alamnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)