Kehangatan Pagi Hari di Gerobak Bubur Ayam Pasor

3 menit baca
Salsabiil Firdaus
Ditulis oleh Salsabiil Firdaus diterbitkan
Gerobak Bubur Ayam Pasor Mang Opik yang berada di pinggir jalan Manisi, Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Gerobak Bubur Ayam Pasor Mang Opik yang berada di pinggir jalan Manisi, Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Kabut tipis masih menggantung di atas pasar kecil di kawasan Bandung timur. Jalan sempit yang becek karena sisa hujan semalam mulai ramai oleh pedagang sayur, tukang kue, dan motor-motor yang berhenti sebentar membeli sarapan. Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri sebuah gerobak coklat muda dengan tulisan stiker yang agak mulai pudar “Bubur Ayam Pasor.” Dari sana, uap panas perlahan naik, membawa aroma kaldu ayam yang gurih dan bawang goreng yang baru diangkat dari wajan.

Mang Opik, lelaki asal Majalengka berusia empat puluhan, sudah bersiap sejak subuh. Tangannya cekatan mengaduk bubur dalam panci besar, sementara bahunya sesekali ia seka dengan handuk kecil. Ia tidak banyak bicara, tapi gerak tubuhnya menunjukkan kebiasaan yang terbangun dari bertahun-tahun rutinitas.

“Sudah lima belas tahun di sini, dari dulu ya di gerobak ini juga,” katanya pelan.

Nama Pasor ternyata muncul dari singkatan sederhana, yaitu pagi-sore. Dulu, Mang Opik memulai jualannya dari pagi sampai petang, sebelum akhirnya memilih berjualan hanya di pagi hari. Nama itu tetap dipertahankan, seperti kenangan dari masa-masa awal merintis. Awalnya, memang hari-hari sering sepi pembeli. Ada kalanya bubur tak laku hingga siang, tapi ia tetap bertahan.

“Kalau sepi, ya dijalani, namanya juga jualan,” ujarnya.

Mang Opik sedang menyiapkan semangkuk bubur ayam kepada pembeli (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Mang Opik sedang menyiapkan semangkuk bubur ayam kepada pembeli (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Gerobaknya kecil tapi rapi. Di sisi kiri, barisan sate usus, ati ampela, dan telur puyuh menunggu untuk disantap. Di sebelah kanan, toples-toples berisi kacang, bawang goreng, dan kerupuk teratur seperti barisan prajurit di pagi hari. Di dalam panci yang besar, bubur putih mengental perlahan. Tak boleh dibiarkan tanpa pengawasan.

“Kalau lagi masak, bubur nggak boleh ditinggal, apinya pun harus pas, benar-benar harus teliti,” ujarnya sambil mengaduk perlahan.

Rasa buburnya sederhana tapi mantap. Tanpa kuah tambahan, hanya lembutnya bubur gurih yang berpadu dengan suwiran ayam, cakwe gurih, dan sambal merah yang menantang. Favorit banyak pelanggan justru bukan di buburnya, melainkan pada sate pendampingnya yang punya cita rasa khas asin, manis, dan sedikit gosong di bagian tepinya.

“Satenya emang paling cepat habis, kadang sebelum jam delapan udah ludes,” katanya, sambil tertawa kecil.

Ia tak punya resep warisan atau rahasia besar dalam berjualan. Semua racikan ia ciptakan sendiri, dari pengalaman dan percobaan yang tidak terhitung. Tapi ada satu hal yang selalu dijaga, yakni kesabaran.

Bagi Mang Opik, membuat bubur ayam dan juga menghadapi hari-hari jualan memang membutuhkan napas panjang. Baginya, kunci dari ketekunan dan juga kesabaran ini berangkat dari kebutuhan untuk menafkahi anak dan istrinya, sehingga ia pun tetap semangat dalam berjualan.

Tampilan semangkuk bubur ayam Mang Opik yang ditemani toppingnya dengan semangkuk krupuk dan teh hangat (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Tampilan semangkuk bubur ayam Mang Opik yang ditemani toppingnya dengan semangkuk krupuk dan teh hangat (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Dari hasil jualannya itulah ia dapat menafkahi dan menghidupi kebutuhan keluarganya. Mungkin bagi banyak orang, gerobak bubur ayam hanyalah pemandangan biasa di pinggir jalan. Tetapi bagi Mang Opik, di sanalah seluruh hidupnya berputar, dimana tempat ia menakar rezeki, menakar rasa, dan juga menakar kesabaran, menjadikannya sebagai aktivitas yang rutin dilakukan setiap pagi di pinggir jalan.

Setiap pagi, sebelum matahari betul-betul naik, ia sudah menyiapkan panci besar berisi bubur ayam hangat. Tangan tuanya cekatan mengaduk, mencampur kaldu ayam dengan beras yang dimasak perlahan sejak subuh. Uap panas mengepul dari panci, bercampur dengan aroma gurih yang menembus udara pagi dan berbaur dengan aroma tanah basah di jalan. Sementara di sudut gerobak, kerupuk putih tersusun rapi di kantong plastik, menunggu dicelupkan ke dalam kuah.

Gerobak itu mungkin tampak sederhana, catnya mulai pudar, tetapi dari sanalah puluhan mangkuk bubur hangat berpindah tangan setiap hari. Ia bekerja dalam ritme yang sudah dihafalnya selama puluhan tahun. Setiap sendok bubur yang ia tuangkan bukan sekadar hidangan, melainkan cerita kecil tentang ketekunan. Kadang, di sela lengangnya pembeli, ia hanya duduk sambil menyeruput teh hangat, menatap jalan yang ramai dengan langkah orang-orang yang mengejar pagi.

“Hidup emang kayak bubur, kudu sabar diaduk biar rasanya pas,” katanya sambil tersenyum tipis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salsabiil Firdaus
Journalist - Opinion Columnist - Politician Young Political Ambassador of the Prosperous Justice Party

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)