Apakah Bandung Masih Romantis?

4 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Abdul Ridwan)
Kota Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Abdul Ridwan)

Bandung, kota yang dulu dikenal dengan udara sejuk dan ritme santainya, kini mungkin sedang menghadapi dilema cinta paling rumit yaitu dicintai terlalu banyak orang.

Setiap akhir pekan, lautan mobil dari arah Jakarta memasuki kota dengan satu tujuan mulia yaitu healing. Tapi bagi warga Bandung, kedatangan para pencinta healing ini justru sering membuat mereka butuh healing tambahan. Dago, Lembang, Ciwidey, semuanya macet seperti antrean minyak goreng saat promo.

Di media sosial, Bandung masih tampak memesona. Langitnya biru, kopinya estetik, dan segala hal tampak vibe-nya. Tapi di balik foto-foto itu, warga lokal sedang mengelus dada, bukan karena haru, tapi karena napasnya tersengal di tengah polusi dan harga kos yang makin melambung.

***

Bagi banyak orang luar kota, Bandung tetap punya pesona romantis yang sulit dijelaskan. Setiap jengkalnya seolah mengandung kenangan. Dari Jalan Braga yang klasik, aroma roti legendaris di Jalan Naripan, sampai udara dingin di Punclut yang sekarang lebih banyak diselimuti kabut asap kendaraan daripada kabut pagi.

Bandung juga masih dikenal sebagai kota kreatif. Data BPS menunjukkan, pada 2024 saja kunjungan wisatawan domestik ke Bandung Raya mencapai kurang lebih dari 9 juta orang, naik hampir 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, orang masih mau (dan sanggup) datang ke Bandung, meski tahu akan terjebak macet tiga jam hanya untuk sampai ke kafe dengan pemandangan hutan pinus yang katanya “instagrammable banget”.

Wisatawan datang dengan cinta. Mereka ingin mengenang Bandung seperti lagu-lagu lama, romantis, teduh, dan manis. Tapi seperti hubungan jarak jauh, ekspektasi sering kali tak seindah kenyataan.

Sementara itu, bagi warga Bandung sendiri, romantisme kota ini mulai terasa seperti nostalgia yang mahal. “Dulu ke Dago cuma 15 menit, sekarang sejam setengah,” kata seorang teman yang tinggal di Antapani. “Itu juga kalau gak ada truk mogok.”

Harga tanah di kawasan wisata melonjak. Sewa kos meningkat karena banyak rumah dijadikan homestay. Bahkan warung makan sederhana ikut-ikutan menyesuaikan harga “biar selevel wisatawan”.

Warga Bandung masih cinta pada kotanya, tapi mungkin sedang menjalani fase relationship fatigue. Mereka ingin menikmati sore di taman, tapi parkiran penuh. Mereka ingin duduk di kafe, tapi antrean lebih panjang dari naskah skripsi.

Ada semacam ironi yang tak terucapkan, kota yang dulu dijuluki Paris van Java kini sering terasa seperti Parking van Java.

Bandung, Kota Kreatif yang Terlalu Populer

Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Bandung Raya terus naik, menyentuh angka sekitar 11 persen pada 2024. Ini kabar baik bagi ekonomi lokal, tapi juga menimbulkan efek samping: overkomersialisasi.

Kafe dan glamping tumbuh di mana-mana,  dari Pangalengan sampai Lembang. Kadang dalam satu kilometer bisa ada tiga tempat “healing”, empat tempat “ngopi”, dan satu plang “tanah dijual”. Ruang publik menyempit, sementara ruang untuk selfie meluas.

Pemerintah kota tentu berupaya menata kota seperti memperbaiki trotoar, memperbanyak ruang terbuka hijau, dan menertibkan pedagang kaki lima. Tapi masalah Bandung bukan hanya soal tata ruang, melainkan juga tata rasa. Kita sedang kehilangan sense of belonging, rasa memiliki yang dulu membuat kota ini begitu hangat, bahkan di udara yang dingin.

Pariwisata idealnya menjadi ruang bersama, bukan arena eksklusif antara “tuan rumah dan tamu”. Tapi di Bandung, garis pemisah itu makin kentara. Wisatawan menikmati “pengalaman lokal”, sementara warga justru makin sulit menikmati hidup lokal itu sendiri.

Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)
Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)

Contohnya, kawasan Punclut dulu adalah daerah pertanian kecil. Kini sebagian besar berubah menjadi kompleks restoran bertingkat dengan harga latte setara dua kilogram beras. Di satu sisi, ini bukti kreativitas ekonomi. Di sisi lain, ada ironi social, petani kehilangan lahan, dan warga kehilangan suasana.

Wisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya menambah pendapatan daerah, tetapi juga memperkuat kualitas hidup warganya. Bandung masih punya kesempatan untuk itu, tapi syaratnya satu, jangan sampai “bandung” justru menjadi kata yang hilang dari identitas kota ini.

Masihkah Bandung Romantis?

Romantisisme Bandung mungkin tidak benar-benar hilang, hanya bergeser bentuknya. Dulu, romantis berarti jalan sore di bawah pohon rindang. Sekarang, mungkin berarti bertahan di lampu merah sambil memutar lagu Yuni Shara – Desember Kelabu.

Bagi wisatawan, Bandung tetap menawan. Bagi warga, Bandung tetap rumah, meski kini agak sesak. Tapi cinta yang dewasa tahu bagaimana menerima kekurangan pasangannya.

Jadi, apakah Bandung masih romantis?
Mungkin iya, tapi dengan catatan kecil di bawahnya, “Harga belum termasuk pajak, parkir, dan antrean.”

Bandung hari ini sedang diuji, bukan oleh cuaca atau krisis ekonomi, tapi oleh popularitasnya sendiri. Mungkin sudah waktunya kita semua, baik warga maupun wisatawan, belajar mencintai Bandung dengan cara yang lebih tenang, datang bukan sekadar untuk memotret, tapi untuk memahami.

Karena sejatinya, kota ini bukan hanya tempat liburan. Ia adalah rumah bagi jutaan orang yang masih mencoba menjaga pesonanya, di tengah kemacetan, harga parkir, dan romantisme yang kini terasa agak realistis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)