Mahasiswa Perantau dan Turisme Emosional Bandung

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Delman bejajar di depan Gedung Sate, menanti wisatawan yang hendak berkeliling Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Magang Ayobandung/Shilvia Yulianti Sumarna)
Delman bejajar di depan Gedung Sate, menanti wisatawan yang hendak berkeliling Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Magang Ayobandung/Shilvia Yulianti Sumarna)

MAHASISWA perantau datang ke Kota Kembang Bandung dengan membawa koper dan juga  harapan. Mereka mencari kampus, mencari tempat kos, maupun mencari teman. Lantas, tanpa sadar, mereka juga mencari jati diri sendiri.

Bandung menyambut mereka dengan udara yang dulu sejuk, namun sekarang kadang hanya wangi hujan yang tersisa. Jalan-jalan kecil memeluk kaki-kaki bukit yang kian gersang. Dan di sana, langkah-langkah ragu berubah menjadi kebiasaan.

***

Di ruang kuliah, teori-teori berserakan. Di luar ruang kuliah, hidup memberi ujian yang tak ada silabusnya. Nilai akademik diganti dengan nyali.

Kos-kosan adalah laboratorium karakter. Betapa tidak. Mahasiswa belajar hemat. Mereka juga belajar bernegosiasi dengan ibu kos, pun belajar memaknai kata “sendiri”. 

Angkot menjadi ruang kuliah bergerak. Sopir, pedagang asongan, dan penumpang lain mengajar pelajaran paling konkret berupa jam kota, ritme kemurahan hati, dan cara menawar.

Dago, Braga, dan Cihampelas menjadi halaman buku yang senantiasa terbuka. Ada tanda tanya di setiap tikungannya. Para mahasiswa membaca lampu-lampu kota seperti membaca catatan kaki.

Di Bandung, kafe bukan semata tempat kongkow dan ngopi. Ia juga adalah ruang aman untuk gagal, untuk mengulang, untuk membahas rasa rindu yang tidak lulus-lulus. 

Bahasa Sunda hadir sebagai musik latar. “Mangga.” “Nuhun.” “Hatur nuhun pisan.” Pada mulanya, mungkin mereka malu menirukan. Lama-lama, mereka jatuh hati pada kelembutannya. Someah bukan slogan, tapi cara menyapa dengan ramah dan tulus.

Urusan wisatawan

Turisme Bandung kerap dianggap urusan wisatawan wikenan alias akhir pekan. Padahal, mahasiswa perantau adalah turis untuk jangka panjang. Mereka menjejak pelan Bandung, lebih dalam, dan lebih lama dibanding wisatawan wikenan.

Dalam hal ini, ada turisme emosional yang tumbuh diam-diam dalam wujud sebuah kebiasaan memetakan kota dengan rasa. Contohnya, tempat pertama kali makan seblak sampai keringetan, tempat cinta pertama ditolak, tempat mengabarkan duka lewat telepon, dan sebagainya, dan sebagainya.

Setiap orang membangun “museum personal” di kepalanya. Koleksinya bukan patung atau dokumen, melainkan momen. Contohnya, hujan di depan kampus, senja di Taman Musik, malam romantis di Punclut. Tiket masuknya, dalam hal ini, cuma ingatan.

Ekonomi kota memeluk para mahasiswa rantau. Warung burjo menjadi sponsor utama skripsi. Laundry kiloan menjadi mitra riset tak tertulis.

Ada juga harga yang tak tercantum. Sewa kos naik karena kawasan “instagrammable”. Ruang kampus menyusup ke kafe. Ruang publik menyempit, lalu macet menjadi lagu kojo setempat.

Namun, di tengah komodifikasi, ada solidaritas yang tak dijual. Patungan tiket konser, tebengan pulang, sapaan“Kamu sudah makan?” adalah beberapa contoh dan tata krama sekaligus pertolongan pertama.

Bandung mengajari pelan-pelan bahwa identitas tidak dibangun oleh citra. Ia bertumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten. Misalnya antara lain menyapa satpam, merapikan gelas sendiri, mengucap nuhun tanpa menunda.

Mahasiswa perantau rata-rata datang dengan aksen daerah, membawa rumah mereka dalam kata-kata. Dan Bandung tidak pernah menghapus aksen itu. Bandung malah ikut menambah kosa kata mereka.

Ada hari-hari ketika kota memang terasa asing. Tugas menumpuk, rekening menipis, kabar dari rumah membuat dada sesak. Pada momen begitu, Bandung menawarkan jalan. Kota ini akan menenangkanmu dengan lampu-lampu yang tidak menghakimi.

Peta batin

Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)
Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)

Turisme emosional sejatinya adalah seni membuat peta batin. Kita menandai lokasi: “Di sini aku pernah berhasil.” “Di sini aku pernah belajar memaafkan.” “Di sini aku berhenti membandingkan.”

Festival musik, pameran, diskusi kecil di ruang komunitas, semuanya menambal retak-retak hati. Di panggung-panggung sederhana, keyakinan diperbaiki. Kota menjadi bengkel percaya diri.

Sementara itu, nilai kesundaan menyusup sebagai fondasi. Silih asah, silih asih, silih asuh bukan jargon museum, melainkan protokol hidup berjejaring. 

Di sisi lain, Bandung juga sibuk menjual pesonanya. Heritage, kuliner, pemandangan, semua dikemas rapi. Mahasiswa perantau berdiri di persimpangan, antara menjadi penikmat sekaligus menjadi warga sementara. Dan mereka membayar dengan waktu.

Di laboratorium identitas itu, kesunyian adalah asisten dosen. Malam-malam menjelang subuh, tugas dan pikiran berkejar-kejaran. Kadang menang logika, kadang menang luka.

Nostalgia mulai tumbuh bahkan sebelum lulus. “Nanti kalau balik, kita makan di tempat yang sama, ya.” Janji-janji kecil menjadi semacam jangkar yang mengikat. 

Ada pula pertarungan yang lebih senyap, antara keinginan pamer dan kebutuhan bermakna. Feed media sosial memanggil, namun dialog batin meminta kejujuran. Dan Bandung menyaksikan tanpa ikut campur.

Di ruang kelas, mereka belajar metodologi. Di jalan, mereka belajar empati. Dua-duanya penting. Yang kedua sering menyelamatkan yang pertama.

Ekonomi perasaan

Turisme emosional juga menghasilkan ekonomi perasaan. Toko-toko menjual kenangan, mulai dari kaos bergambar jalan hingga mug bergambar peta. Tapi, yang paling laku tetap cerita, yang dibagikan berkali-kali tanpa kehabisan stok.

Mahasiswa perantau awalnya datang sebagai pengunjung, pelan-pelan menjadi penghuni, lalu bersiap menjadi peziarah. Siklusnya sederhana namun dalam. Itulah ritme Bandung.

Pada hari wisuda, kota pun terasa melambat. Jalan masih macet, tapi hati serentak beres. Foto di gerbang kampus, pelukan, dan tawa yang mirip tangis.

Lalu koper-koper ditutup lagi. Kartu-kartu kos dikembalikan. Sisa-sisa jejak dititipkan ke bangku taman, ke dinding yang pernah jadi latar, ke awan yang menunggu hujan pertama.

Mereka pun pulang dengan gelar di tangan. Tetapi, yang paling bernilai adalah cara berdiri. Lebih tenang. Lebih rendah hati. Dan lebih tahu diri.

Dan Bandung? Bandung tetap menjadi kota yang pandai menyimpan rahasia. Ia membiarkan setiap orang merasa paling mengenalnya, padahal masing-masing memeluk Bandung yang berbeda.

Dan akhirnya, mereka paham bahwa belajar di Bandung adalah perjalanan akademik yang ditopang pariwisata batin. Kota ini menguji, merawat, dan melepas. Selebihnya, mereka menamainya sebagai rindu.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)