Mahasiswa Perantau dan Turisme Emosional Bandung

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Minggu 09 Nov 2025, 16:50 WIB
Delman bejajar di depan Gedung Sate, menanti wisatawan yang hendak berkeliling Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Magang Ayobandung/Shilvia Yulianti Sumarna)

Delman bejajar di depan Gedung Sate, menanti wisatawan yang hendak berkeliling Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Magang Ayobandung/Shilvia Yulianti Sumarna)

MAHASISWA perantau datang ke Kota Kembang Bandung dengan membawa koper dan juga  harapan. Mereka mencari kampus, mencari tempat kos, maupun mencari teman. Lantas, tanpa sadar, mereka juga mencari jati diri sendiri.

Bandung menyambut mereka dengan udara yang dulu sejuk, namun sekarang kadang hanya wangi hujan yang tersisa. Jalan-jalan kecil memeluk kaki-kaki bukit yang kian gersang. Dan di sana, langkah-langkah ragu berubah menjadi kebiasaan.

***

Di ruang kuliah, teori-teori berserakan. Di luar ruang kuliah, hidup memberi ujian yang tak ada silabusnya. Nilai akademik diganti dengan nyali.

Kos-kosan adalah laboratorium karakter. Betapa tidak. Mahasiswa belajar hemat. Mereka juga belajar bernegosiasi dengan ibu kos, pun belajar memaknai kata “sendiri”. 

Angkot menjadi ruang kuliah bergerak. Sopir, pedagang asongan, dan penumpang lain mengajar pelajaran paling konkret berupa jam kota, ritme kemurahan hati, dan cara menawar.

Dago, Braga, dan Cihampelas menjadi halaman buku yang senantiasa terbuka. Ada tanda tanya di setiap tikungannya. Para mahasiswa membaca lampu-lampu kota seperti membaca catatan kaki.

Di Bandung, kafe bukan semata tempat kongkow dan ngopi. Ia juga adalah ruang aman untuk gagal, untuk mengulang, untuk membahas rasa rindu yang tidak lulus-lulus. 

Bahasa Sunda hadir sebagai musik latar. “Mangga.” “Nuhun.” “Hatur nuhun pisan.” Pada mulanya, mungkin mereka malu menirukan. Lama-lama, mereka jatuh hati pada kelembutannya. Someah bukan slogan, tapi cara menyapa dengan ramah dan tulus.

Urusan wisatawan

Turisme Bandung kerap dianggap urusan wisatawan wikenan alias akhir pekan. Padahal, mahasiswa perantau adalah turis untuk jangka panjang. Mereka menjejak pelan Bandung, lebih dalam, dan lebih lama dibanding wisatawan wikenan.

Dalam hal ini, ada turisme emosional yang tumbuh diam-diam dalam wujud sebuah kebiasaan memetakan kota dengan rasa. Contohnya, tempat pertama kali makan seblak sampai keringetan, tempat cinta pertama ditolak, tempat mengabarkan duka lewat telepon, dan sebagainya, dan sebagainya.

Setiap orang membangun “museum personal” di kepalanya. Koleksinya bukan patung atau dokumen, melainkan momen. Contohnya, hujan di depan kampus, senja di Taman Musik, malam romantis di Punclut. Tiket masuknya, dalam hal ini, cuma ingatan.

Ekonomi kota memeluk para mahasiswa rantau. Warung burjo menjadi sponsor utama skripsi. Laundry kiloan menjadi mitra riset tak tertulis.

Ada juga harga yang tak tercantum. Sewa kos naik karena kawasan “instagrammable”. Ruang kampus menyusup ke kafe. Ruang publik menyempit, lalu macet menjadi lagu kojo setempat.

Namun, di tengah komodifikasi, ada solidaritas yang tak dijual. Patungan tiket konser, tebengan pulang, sapaan“Kamu sudah makan?” adalah beberapa contoh dan tata krama sekaligus pertolongan pertama.

Bandung mengajari pelan-pelan bahwa identitas tidak dibangun oleh citra. Ia bertumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten. Misalnya antara lain menyapa satpam, merapikan gelas sendiri, mengucap nuhun tanpa menunda.

Mahasiswa perantau rata-rata datang dengan aksen daerah, membawa rumah mereka dalam kata-kata. Dan Bandung tidak pernah menghapus aksen itu. Bandung malah ikut menambah kosa kata mereka.

Ada hari-hari ketika kota memang terasa asing. Tugas menumpuk, rekening menipis, kabar dari rumah membuat dada sesak. Pada momen begitu, Bandung menawarkan jalan. Kota ini akan menenangkanmu dengan lampu-lampu yang tidak menghakimi.

Peta batin

Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)
Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)

Turisme emosional sejatinya adalah seni membuat peta batin. Kita menandai lokasi: “Di sini aku pernah berhasil.” “Di sini aku pernah belajar memaafkan.” “Di sini aku berhenti membandingkan.”

Festival musik, pameran, diskusi kecil di ruang komunitas, semuanya menambal retak-retak hati. Di panggung-panggung sederhana, keyakinan diperbaiki. Kota menjadi bengkel percaya diri.

Sementara itu, nilai kesundaan menyusup sebagai fondasi. Silih asah, silih asih, silih asuh bukan jargon museum, melainkan protokol hidup berjejaring. 

Di sisi lain, Bandung juga sibuk menjual pesonanya. Heritage, kuliner, pemandangan, semua dikemas rapi. Mahasiswa perantau berdiri di persimpangan, antara menjadi penikmat sekaligus menjadi warga sementara. Dan mereka membayar dengan waktu.

Di laboratorium identitas itu, kesunyian adalah asisten dosen. Malam-malam menjelang subuh, tugas dan pikiran berkejar-kejaran. Kadang menang logika, kadang menang luka.

Nostalgia mulai tumbuh bahkan sebelum lulus. “Nanti kalau balik, kita makan di tempat yang sama, ya.” Janji-janji kecil menjadi semacam jangkar yang mengikat. 

Ada pula pertarungan yang lebih senyap, antara keinginan pamer dan kebutuhan bermakna. Feed media sosial memanggil, namun dialog batin meminta kejujuran. Dan Bandung menyaksikan tanpa ikut campur.

Di ruang kelas, mereka belajar metodologi. Di jalan, mereka belajar empati. Dua-duanya penting. Yang kedua sering menyelamatkan yang pertama.

Ekonomi perasaan

Turisme emosional juga menghasilkan ekonomi perasaan. Toko-toko menjual kenangan, mulai dari kaos bergambar jalan hingga mug bergambar peta. Tapi, yang paling laku tetap cerita, yang dibagikan berkali-kali tanpa kehabisan stok.

Mahasiswa perantau awalnya datang sebagai pengunjung, pelan-pelan menjadi penghuni, lalu bersiap menjadi peziarah. Siklusnya sederhana namun dalam. Itulah ritme Bandung.

Pada hari wisuda, kota pun terasa melambat. Jalan masih macet, tapi hati serentak beres. Foto di gerbang kampus, pelukan, dan tawa yang mirip tangis.

Lalu koper-koper ditutup lagi. Kartu-kartu kos dikembalikan. Sisa-sisa jejak dititipkan ke bangku taman, ke dinding yang pernah jadi latar, ke awan yang menunggu hujan pertama.

Mereka pun pulang dengan gelar di tangan. Tetapi, yang paling bernilai adalah cara berdiri. Lebih tenang. Lebih rendah hati. Dan lebih tahu diri.

Dan Bandung? Bandung tetap menjadi kota yang pandai menyimpan rahasia. Ia membiarkan setiap orang merasa paling mengenalnya, padahal masing-masing memeluk Bandung yang berbeda.

Dan akhirnya, mereka paham bahwa belajar di Bandung adalah perjalanan akademik yang ditopang pariwisata batin. Kota ini menguji, merawat, dan melepas. Selebihnya, mereka menamainya sebagai rindu.***

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)