Masih banyak yang ceroboh terhadap organ tubuh yang bernama mata. Di dalam keluarga masih banyak perilaku yang bisa merusak kesehatan mata.Begitu pula dengan perilaku di tempat umum. Antara lain perilaku merokok.
Menjaga kesehatan mata di dalam keluarga, tempat umum dan di tempat kerja mesti menjadi resolusi di tahun 2026.Tindakan ceroboh yang bisa mengakibatkan ancaman fatal bagi mata mesti dicegah. Menjaga kesehatan mata dengan makanan yang banyak mengandung vitamin A perlu mendapat perhatian.
Masih banyak perilaku warga kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. Merokok di dalam kendaraan umum maupun di tempat umum merupakan perilaku keji terhadap diri sendiri dan orang lain karena bisa merusak mata.
Dampak rokok menyebabkan mata kering. Perokok dan orang disekitarnya produksi air matanya bisa berkurang. Gejala mata kering di antaranya mata gatal, perih, terasa panas, atau kemerahan.
Dampak merokok memiliki resiko lebih tinggi terkena katarak. Gangguan kesehatan mata ini membuat lensa mata bermasalah. Gejala katarak yang khas yakni pandangan kabur, pandangan terasa kusam, pudar, atau kekuningan. Katarak hanya bisa disembuhkan dengan operasi.
Akibat rokok juga buruk terhadap orang lanjut usia yang rentan terkena penyakit degenerasi makula. Gangguan penglihatan ini menyebabkan penderitanya tidak bisa melihat dengan jelas atau detail. Penyakit degenerasi makula terjadi ketika bagian retina bernama makula rusak. Masalah kesehatan mata ini tidak bisa diobati. Penelitian menunjukkan, perokok dan mantan perokok lebih berpeluang terkena penyakit degenerasi makula ketimbang orang yang tidak merokok.
Resiko retinopati diabetik yakni pembuluh darah di mata rusak akibat asap rokok. Akibatnya penderita penglihatannya menjadi kabur, terdistorsi, hingga buta.

Kesehatan Mata di Tempat Kerja
Menjaga kesehatan mata mersti menjadi resolusi diri nomor satu bagi para pekerja dan pihak pengusaha. Khususnya bagi pekerja pabrik yang setiap hari mesti berkonsentrasi penuh menjalankan mesin produksi. Memelototi benda kerja supaya sesuai dengan desain produksi dan mesti presisi.
Saat bekerja tiba-tiba mata kita memerah dan terasa berat, ingin segera menutup kelopak mata. Tetapi apa daya mesin dan benda kerja harus terus dilihat secara seksama supaya tidak menimbulkan cacat produksi. Jika sudah seperti ini harus ada tindakan untuk menghentikan pekerjaan dahulu dan mencari obat mata atau sekedar refreshing dahulu untuk melihat lingkungan yang hijau agar mata tidak stress.
Bagi pekerja industri sangat riskan terjadi gangguan mata akibat polusi udara, kelelahan kerja, hingga kurang gizi mikro khususnya vitamin A. Jika rasa mengantuk terjadi pada mata pekerja, padahal waktu istirahat masih lama, beberapa kiat dilakukan pekerja antara lain bergerak badan, membasuh muka atau menyeruput minuman.
Baca Juga: Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal
Menjaga kesehatan mata bagi pekerja harus menjadi faktor utama terwujudnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh perusahaan. Demi kesehatan mata pekerja mestinya lampu penerangan di tempat kerja intensitas cahayanya diukur dengan benar agar nyaman. Begitupun sistem pencahayaan mesti memperhatikan faktor ergonomik. Menu makan di tempat kerja perlu mengandung vitamin A yang cukup, seperti buah-buahan dan sayur mayur.
Kita sering menemui kasus dimana pekerja sering mengeluh dengan lampu penerangan akibat pihak perusahaan melakukan program hemat energi atau ngirit listrik. Timbulah paradoks hemat energi listrik yang justru berpotensi menimbulkan kerugian berganda bagi banyak karyawan dan perusahaan. Kecelakaan kerja semakin sering terjadi dan jumlah barang yang cacat produksi meningkat sehingga produktivitas terganggu.
Resolusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mata dan menjalani pemeriksaan mata secara rutin sangat penting. Keniscayaan mencari solusi terkait dengan lingkungan kerja yang ramah dan nyaman untuk mata. (*)
