Budaya Sunda yang Merefleksikan Kesehatan lewat Hawu dan Seeng

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Alat Masak Tradisional Suku Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons/Uchup19)
Alat Masak Tradisional Suku Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons/Uchup19)

Di zaman modern semua manusia memimpikan kepraktisan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, penggunaan alat masak dan alat makan, kendaraan, proses tersajinya sebuah makanan dan segala hal yang menunjang kehidupan era modern tak lepas dari segala kemudahan.

Salah satu produk budaya modern adalah kompor dan Rice Cooker. Kedua alat ini sangat mempermudah kegiatan manusia di zaman ini. Dengan kompor manusia bisa memasak apapun yang diinginkan. Dengan Rice Cooker, manusia tidak perlu kerepotan merubah beras menjadi nasi dengan beberapa proses yang membutuhkan banyak waktu.

Dahulu masyarakat Sunda masih menggunakan hawu dan seeng untuk memasak nasi dan bahan makanan. Hawu sendiri berasal dari kata awu (bahasa jawa) yang berarti abu, sementara dalam bahasa sunda abu disebut dengan lebu. Jadi hawu dapat di definisikan sebagai tempat berkumpulnya abu. Masyarakat Sunda memanfaatkan hawu sebagai tungku tempat membuat masakan.

Hawu terdiri dari dua jenis, pertama terbuat dari adonan tanah liat dan bata merah. Kedua hawu yang terbuat dari gerabah yang dilapisi adonan tanah liat. Hawu di desain sedemikian rupa supaya api yang dihasilkan dari kayu bakar bisa keluar melalui lubang yang berada di atas bagian hawu.

Lubang tersebut digunakan sebagai pijakan untuk meletakkan panci, seeng dan wajan saat memasak. Sementara pelengkap hawu disebut songsong, yaitu alat berbentuk pipa panjang yang terbuat dari bambu, digunakan sebagai alat tiup untuk menambahkan udara supaya api bisa menyala lebih besar.

Masyarakat Sunda yang hidup di Pedesaan biasanya masih menggunakan dandang atau seeng sebagai alat untuk memasak nasi. Menanak nasi dengan hawu dan menggunakan seeng biasanya bisa menghasilkan nasi yang penuh dengan aroma dan rasa yang lebih nikmat.

Bahkan abu bekas pembakaran kayu bisa berguna untuk kegiatan domestik lainnya, misalnya abu (lebu) yang digunakan untuk membantu menghilangkan noda hitam yang menempel pada alat masak seperti wajan dan dandang.

Abu bekas pembakaran juga bisa digunakan untuk memasak umbi-umbian, pepes ikan atau memanggang opak. Caraya adalah dengan memasukan bahan yang akan di masak ke dalam kumpulan abu, secara ajaib makanan bisa matang dengan sempurna.

Tanpa disadari kegiatan ini juga membantu mengurangi pengeluaran bahan bakar minyak yang semakin langka ketersediaannya. Bahkan zaman dulu masyarakat memanfaatkan abu yang dimasukan ke dalam setrika tradisonal yang bisa digunakan untuk merapikan baju.

Hal ini juga membantu penggunaan bahan bakar listrik. Dari hal yang sederhana ternyata Budaya Sunda menunjukkan kedekatannya dengan alam sebagaimana yang terejawantahkan melalui Masyarakat Adat Suku Baduy.

Menurut sebuah jurnal gizi dan kesehatan indonesia yang berjudul Karakteristik Pemasakan Nasi Putih Menggunakan Rice Cooker dan Dandang terhadap Kadar Pati dan Kadar Gula Total, hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi yang dimasak menggunakan Rice Cooker mengandung pati sebanyak 52.453 dan gula sebesar 58.281, sementara nasi yang dimasak menggunakan dandang mengandung pati sebanyak 30.125 dan gula sebanyak 33.472.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa memasak menggunakan dandang atau seeng menghasilkan kadar gula yang lebih rendah dibandingkan dengan nasi yang dimasak menggunakan Rice Cooker.

Sementara penelitian yang berjudul Studi Komparasi Kadar Glukosa Pada Nasi yang Dimasak dengan Metode Rice Cooker dan Metode Tradisional Pada Berbagai Suhu, hasil penelitian menunjukkan perbedaan nyata kadar gula dalam penelitian adalah karena perbedaan suhu dan proses pemasakan sehingga terjadi proses pelindian.

Proses inilah yang menyebabkan gelatinisasi pada pati sehingga mudah dicerna karena enzim dalam pencernaan mendapatkan tempat bekerja yang lebih luas.

Hawu. (Sumber: Ayobandung.com)
Hawu. (Sumber: Ayobandung.com)

Sementara menurut Prof. Saptawati Bardosono M,Sc, seorang pakar kesehatan gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memaparkan bahwa ada kolerasi yang dekat antara diabetes dari nasi yang dipanaskan secara terus-menerus. Makin tinggi kadar glikemik dalam suatu makanan maka akan meningkatkan kemungkinan penyakit diabetes.

Diabetes sendiri merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Meski sebetulnya faktor terbesar terjadinya diabetes adalah kurangnya aktivitas tubuh seperti olahraga, kelebihan berat badan (obesitas) atau memiliki keturunan riwayat diabetes.

Namun proses pemanasan nasi mesti menjadi perhatian khusus, terlebih yang sering terjadi adalah nasi yang berada dalam Rice Cooker bisa dipanaskan sepanjang hari hingga nasi benar-benar habis dikonsumsi.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan para peneliti bahwa nasi panas cenderung memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi. Hal ini menjadi salah satu bagian kecil pemicu penyakit diabetes jika polanya tidak segera diperbaiki.

Memasak secara tradisional menggunakan hawu dan seeng bukan hanya sekedar budaya yang merepresentasikan identitas Suku Sunda tapi ternyata menjadi bahan refleksi kesehatan manusia.

Selain itu juga kehadiran hawu dalam dapur suku Sunda bisa merekatkan hubungan antar anggota keluarga. Biasanya keluarga akan berkumpul untuk siduru (menghangatkan tubuh) sambil membicarakan hal-hal kecil yang tidak penting. Bukankah kunci dari kehangatan keluarga adalah komunikasi ? karena membicarakan hal yang tidak penting itu ternyata penting.

Menulis ini membuat saya makin bangga dengan Budaya Suku Sunda karena sudah merepresentasikan banyak hal tentang makna kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)