Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Pungutan Liar Menjadi Cerminan Buruknya Tata Kelola Ruang Publik Bandung

Zivaluna Wicaksono
Ditulis oleh Zivaluna Wicaksono diterbitkan Selasa 16 Des 2025, 16:32 WIB
Parkir liar yang tidak dibatasi menimbulkan kemacetan di Jln. Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Minggu (5/12/2025) (Foto: Zivaluna Wicaksono)

Parkir liar yang tidak dibatasi menimbulkan kemacetan di Jln. Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Minggu (5/12/2025) (Foto: Zivaluna Wicaksono)

Kota Bandung tengah menghadapi masalah yang semakin mengakar yakni pemungutan liar yang ditemui di berbagai daerah. Mulai dari parkir liar di ruang publik, pungutan di daerah wisata, sampai oknum pemungut biaya yang tidak memiliki dasar hukum.

Fenomena ini tidak hanya menganggu kenyamanan warga, tetapi juga merusak citra Bandung sebagai destinasi wisata, dikarenakan wisatawan sering kali menjadi korban tarif yang tidak masuk akal. Hal tersebut membuat masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan yang seharusnya berada di bawah arahan Wali Kota Bandung, M Farhan dalam mengatur ruang publik.

Di beberapa titik pusat kota seperti Jalan Braga dan Alun Alun Bandung, pungutan liar bahkan terjadi terang-terangan di ruang yang seharusnya diawasi dengan ketat.

Muhammad Rafi Shafiq, seorang warga yang sering beraktivitas di Alun Alun Bandung turut membagikan keluh kesahnya.

“Bukan hanya resah soal nominalnya, tapi ketidakpastian. Kadang diminta lima ribu, kadang sepuluh ribu, tergantung siapa yang jaga. Kami butuh pemerintah hadir, bukan membiarkan warga berhadapan sendiri dengan situasi seperti ini,” ujar pria berkacamata tersebut.

Pedagang sekitar pun mangaku ikut terdampak saat diwawancarai, hal ini dikarenakan oleh banyak nya pengunjung yang enggan berhenti di titik-titik rawan pungli. Rara Suryani, salah satu pedagang minuman sekitar Alun Alun Bandung mengungkapkan harapannya

“Saya berharap wali kota bisa menertibkan area rawan pungli. Kalau bisa ada patroli rutin dari Dishub atau Satpol PP, Kami pedagang kecil ikut kena imbasnya,” tambahnya.

Wanita paruh baya tersebut menilai wali kota Bandung harus segera menindak tegas pungli karena keramaian pusat kota adalah sumber penghasilan pedagang kecil. Rara Suryani memiliki harapan penertiban dilakukan secara rutin, bukan hanya saat ramai pemberitaan di media sosial.

Bukan hanya warga, wisatawan juga menjadi sasaran oknum tanpa identitas resmi, salah satunya adalah Siti Lailatul Qadri seorang wisatawan asal Cirebon.

“Kami datang untuk menikmati Bandung, tapi langsung kena pungli yang rata rata mempunyai sikap agresif, tidak ada papan tarif resmi sehingga kami tidak bisa menolak. Seharusnya kota sebesar Bandung bisa menata area publiknya,” ujar wisatawan tersebut saat mengunjungi Braga.

Baca Juga: Antara Urusan Rumah dan Lapak, Beban Ganda Perempuan di Pasar Kosambi

Papan tarif resmi juga sangat minim didapati di daerah sekitar bandung sehingga masyarakat tidak mempunyai acuan untuk menolak pungutan liar. Ketidakjelasan informasi semacam ini menjadi salah satu penyebab utama maraknya praktik pungutan liar di Bandung, baik di area pendidikan, pusat kota, maupun lokasi wisata.

Hasil wawancara di lapangan ini berbicara bahwa sangat diperlukan langkah selanjutnya dari Wali Kota Bandung M. Farham guna memperkuat pengawasan serta penghentian praktik pungutan liar yang merugikan warga dan wisatawan. Selain membuat sistem pengawasan untuk area parkir dan ruang publik, Wali Kota Bandung M. Farhan juga perlu mewajibkan pemasangan papan tarif resmi di seluruh zona parkir kota guna mempersempit peluang oknum untuk memanipulasi warga yang tidak mengetahui harga standar.

Ini bukanlah sekedar keresahan kecil yang ada pada diri masyarakat semata, tetapi merupakan cerminan buruknya pengelolaan tata ruang publik di kota Bandung. masyarakat berharap besar untuk Wali Kota M. Farhan segera menindak lanjuti oknum oknum pungutan liar dan menghadirkan perubahan signifikam agar kota Bandung kembali menjadi ruang aman untuk masyarakat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Zivaluna Wicaksono
Mahasiswa digital public relations telkom university 2024.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)