Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 02 Feb 2026, 19:47 WIB
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)

Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)

AYOBANDUNG.ID -- Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan bahasa. Jika sebelumnya rujukan utama kebahasaan berada pada kamus, guru, editor, dan institusi resmi, kini banyak penutur beralih kepada sistem algoritmik. Fenomena ini menandai pergeseran otoritas linguistik yang patut dikritisi: standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas bahasa, melainkan oleh mesin berbasis data global.

Akal imitasi atau AI bekerja dengan prinsip statistik dan probabilitas. Ia memilih struktur kalimat yang paling sering muncul dalam data pelatihan. Pendekatan ini efektif untuk efisiensi produksi teks, tetapi bermasalah jika dijadikan rujukan normatif. Bahasa tidak hanya soal frekuensi penggunaan, melainkan juga konteks sosial, etika komunikasi, serta nilai budaya yang hidup dalam masyarakat penutur.

Dalam praktiknya, keluaran AI cenderung menampilkan gaya bahasa yang netral, homogen, dan minim nuansa. Hal ini berpotensi mendorong standardisasi semu: bahasa yang tampak rapi secara struktur, tetapi miskin kepekaan makna. Jika dibiarkan, Bahasa Indonesia akan bergerak menuju pola global yang terlepas dari karakter lokalnya.

Salah satu dampak nyata penggunaan AI dalam penulisan adalah homogenisasi gaya bahasa. Di ruang redaksi media, misalnya, penggunaan sistem penyunting otomatis dapat mempercepat kerja produksi, tetapi sekaligus mereduksi kekhasan editorial. Padahal, keberagaman gaya bahasa media merupakan bagian dari ekosistem demokrasi informasi. Media yang hidup adalah media yang memiliki suara editorial, bukan sekadar keluaran template linguistik.

Di dunia pendidikan, ketergantungan terhadap AI juga berpotensi menggerus kompetensi literasi. Proses belajar bahasa sejatinya melatih daya nalar, kemampuan menyusun argumen, dan sensitivitas makna. Ketika mahasiswa hanya menjadi operator alat parafrase, kemampuan berbahasa berubah dari keterampilan kognitif menjadi keterampilan teknis.

Dalam jangka panjang, situasi ini dapat menciptakan generasi yang fasih menggunakan teknologi, tetapi rapuh dalam penguasaan bahasa substantif.

Bahasa sebagai Sumber Daya Ekonomi Digital

Isu ini tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga ekonomi politik digital. Data bahasa Indonesia menjadi komoditas penting dalam pengembangan AI global. Setiap unggahan media sosial, artikel daring, dan dokumen publik berkontribusi pada pelatihan model bahasa.

Namun, kontrol atas teknologi dan nilai tambah ekonomi tidak berada di tangan negara penutur. Indonesia berada pada posisi sebagai pemasok data, bukan pengendali infrastruktur. Dalam perspektif ekonomi, ini menyerupai pola ekstraksi sumber daya mentah: nilai diambil, tetapi manfaat strategis tidak sepenuhnya kembali ke ekosistem nasional.

Tanpa intervensi kebijakan, Bahasa Indonesia berisiko hanya menjadi objek pasar teknologi, bukan subjek yang menentukan arah inovasi kebahasaan.

Situasi ini menuntut perubahan paradigma kebijakan bahasa. Pendekatan konvensional yang bertumpu pada regulasi normatif dan publikasi cetak tidak lagi memadai. Negara perlu memposisikan Bahasa Indonesia sebagai aset strategis dalam ekosistem digital.

Langkah konkret yang dibutuhkan antara lain pembangunan korpus bahasa nasional terbuka, integrasi standar kebahasaan ke dalam sistem digital, serta kolaborasi antara Badan Bahasa, perguruan tinggi, dan pengembang teknologi lokal. Tanpa kehadiran institusi resmi di ruang digital, standar bahasa akan ditentukan sepenuhnya oleh platform global yang tidak memiliki mandat kebudayaan nasional.

Baca Juga: Kamus Bahasa Indonesia vs Aplikasi AI: Siapa yang Kini Membentuk Standar Berbahasa?

Di tengah laju otomatisasi, posisi manusia seharusnya tidak tergantikan, melainkan diredefinisi. AI dapat membantu pada aspek teknis, tetapi keputusan semantik dan etis tetap harus berada di tangan manusia. Editor, guru, dan jurnalis memegang peran penting sebagai penjaga makna dan konteks sosial bahasa.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia membentuk cara berpikir, membangun identitas kolektif, dan merekam pengalaman historis suatu bangsa. Ketika standar bahasa sepenuhnya ditentukan oleh algoritma, yang dipertaruhkan bukan hanya kaidah linguistik, tetapi juga kedaulatan budaya.

Di era kecerdasan buatan, tantangan utama bukan memilih antara manusia atau mesin, melainkan memastikan relasi yang seimbang. Bahasa Indonesia harus berkembang bersama teknologi, tanpa kehilangan kendali atas nilai, makna, dan arah kebudayaannya sendiri. (*)

Berita Terkait

News Update

Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 02 Feb 2026, 17:06 WIB

Mojang Bandung Merumput: Geliat Akar Rumput dan Investasi Masa Depan di Kota Sepak Bola

Lapangan hijau Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh anak laki-laki, melainkan riuh dengan langkah kaki mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia.
Mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia lewat kemeriahan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung Seri 2 2025 - 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 02 Feb 2026, 15:58 WIB

Geliat Bisnis Perlengkapan Anak, Mengupas Strategi IMOBY Bandung Menangkap Ledakan Pasar Millennial Parents

Sektor perlengkapan ibu dan anak di Indonesia menunjukkan daya tahan dan pertumbuhan yang sangat progresif. Fenomena ini sejatinya berakar pada data demografis yang solid.
Ribuan orang tua rela mengantre demi mendapatkan kurasi produk terbaik bagi buah hati, mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengutamakan kualitas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 02 Feb 2026, 15:24 WIB

Hikayat Toko De Vries, Cikal Bakal Toserba di Bandung

Berlokasi di bekas Societeit Concordia, Toko De Vries menjadi motor tumbuhnya Braga sebagai pusat belanja dan jalan jalan kolonial.
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)