Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

3 menit baca
iwan setiawan
Ditulis oleh iwan setiawan diterbitkan
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)

Di tengah riuh dunia digital, penyair masa kini berdiri seperti seorang perenung yang tetap setia mendengarkan bisik bahasa. Ia sadar bahwa dunia berubah terlalu cepat, kata-kata dipotong, dipadatkan, dikejar algoritma, namun dari reruntuhan kecepatan itulah ia menemukan bentuk kepenyairan baru: lebih cair, lebih bebas, tetapi juga lebih rapuh. Penyair tidak lagi hanya menulis di halaman-halaman buku; ia menyalakan puisinya di layar kaca, menyebarkannya seperti serbuk cahaya dalam jaringan senyap.

Roman Jakobson pernah mengatakan bahwa fungsi puitik adalah fokus pada pesan itu sendiri. Di era digital, fungsi ini tidak hilang; justru semakin menuntut ketelitian. Penyair masa kini harus menghadapi paradoks: bagaimana menjaga kedalaman di tengah banjir teks singkat? Bagaimana mempertahankan nyala lirih ketika semua orang berbicara dengan suara keras? Di sinilah penyair kembali pada hakikat: ia menulis bukan untuk kebisingan, melainkan untuk gema yang bertahan.

Dalam The Bow and the Lyre, Octavio Paz menyebut puisi sebagai modus eksistensi, sebuah cara berada. Pandangan ini menjadi relevan kembali, terutama ketika puisi kini sering dikurung menjadi sekadar “caption estetis” atau “quote motivasi”. Penyair masa kini harus melampaui perangkap itu. Ia perlu mengubah puisinya menjadi ruang kontemplasi, menjadi semacam ziarah batin, bukan sekadar ornamen. Puisi bukan hiasan hidup; ia adalah jalan sunyi yang membuat hidup dapat ditafsir ulang.

T.S. Eliot melalui Tradition and the Individual Talent menegaskan bahwa penyair terhubung dengan tradisi sekaligus melampauinya. Tradisi bukan beban, melainkan reservoir energi. Penyair Indonesia hari ini mewarisi jejak Chairil yang meledak, Sapardi yang bening, Sutardji yang membebaskan kata, hingga Afrizal yang mengacaukan tatanan makna. Namun penyair masa kini berada dalam lanskap baru: dunia di mana batas-batas genre memudar, di mana puisi bertemu film, musik, desain, bahkan analitik data. Tradisi tetap menjadi akar, tetapi rantingnya bergerak ke arah yang tak terduga.

Roland Barthes dalam Writing Degree Zero menyebut tulisan sebagai tubuh yang terus berubah. Penyair masa kini harus menerima bahwa bahasa tidak lagi memiliki sakralitas tunggal; ia menjadi organisme yang digerakkan industri, media sosial, dan selera pasar. Tetapi dari fluiditas itulah penyair dapat menemukan bentuk baru: puisi hiper-teks, puisi visual, puisi panggung, puisi digital yang memadukan bunyi dan gerak. Penyair tidak kehilangan wilayahnya; wilayahnya justru bertambah, meluas seperti nebula.

Para penulis yang mengabdikan diri pada sastra terjebak dalam kondisi prekariat—kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. (Sumber: Pexels/Tima Miroshnichenko)
Para penulis yang mengabdikan diri pada sastra terjebak dalam kondisi prekariat—kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. (Sumber: Pexels/Tima Miroshnichenko)

Namun, perlu disadari bahwa di tengah perluasan itu, ada ancaman ke dangkalan. Banyak puisi yang viral justru lahir dari formula klise, mudah disukai, cepat dilupakan. Padahal, seperti kata Sapardi, puisi adalah bahasa yang dibebaskan dari kewajiban memberikan informasi. Artinya, ia bukan sekadar penegas emosi sesaat, melainkan penyelam sunyi yang berani masuk ke kedalaman jiwa manusia. Penyair masa kini harus berlatih menolak godaan instan. Ia harus berani menghadirkan ambiguitas, metafora yang dijaga, keheningan yang diolah. Bukan untuk menjadi rumit, tetapi untuk setia pada hakikat: puisi adalah perjalanan, bukan komoditas.

Di tengah arus cepat ini, penyair memiliki tugas moral, bukan dalam arti propaganda, melainkan sebagai penjaga nalar dan nurani. Ketika politik menjadi penuh slogan, penyair menghadirkan jeda. Ketika media sosial dikuasai caci, penyair menawarkan ruang hening. Ketika manusia kehilangan bahasa untuk menyebut rasa, penyair menciptakan kembali kemungkinan penamaan.

Penyair masa kini adalah pengembara yang membawa lentera kecil: cukup redup sehingga tidak memekakkan mata, cukup terang untuk menuntun satu langkah ke depan. Ia merawat bahasa seperti merawat luka, tidak tergesa, tidak sembarangan. Ia menyalakan metafora agar manusia kembali mengenali dirinya.

Akhirnya, kepenyairan masa kini bukan soal medium, bukan soal popularitas, bahkan bukan soal bentuk. Ia adalah soal keberanian untuk tetap mendengarkan bahasa. Di dunia yang penuh suara, penyairlah yang menjaga bisikan. Di dunia yang terburu-buru, penyairlah yang menjaga ritme. Dan di dunia yang sering kehilangan makna, penyairlah yang terus menggali, mengguncang, dan merawat misteri kata-kata. (*)

Rujukan:

– Roman Jakobson, Linguistics and Poetics (1960)

– Octavio Paz, The Bow and the Lyre (1956)

– T.S. Eliot, Tradition and the Individual Talent (1919)

– Roland Barthes, Writing Degree Zero (1953)

– Sapardi Djoko Damono, berbagai esai tentang puisi dan bahasa

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

iwan setiawan
Tentang iwan setiawan
Iwan Setiawan, penyair sufistik yang menulis puisi gelap dan kontemplatif tentang luka batin, rindu ilahi, dan perjalanan jiwa menuju cahaya.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)