Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

iwan setiawan
Ditulis oleh iwan setiawan diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 16:18 WIB
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)

Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)

Di tengah riuh dunia digital, penyair masa kini berdiri seperti seorang perenung yang tetap setia mendengarkan bisik bahasa. Ia sadar bahwa dunia berubah terlalu cepat, kata-kata dipotong, dipadatkan, dikejar algoritma, namun dari reruntuhan kecepatan itulah ia menemukan bentuk kepenyairan baru: lebih cair, lebih bebas, tetapi juga lebih rapuh. Penyair tidak lagi hanya menulis di halaman-halaman buku; ia menyalakan puisinya di layar kaca, menyebarkannya seperti serbuk cahaya dalam jaringan senyap.

Roman Jakobson pernah mengatakan bahwa fungsi puitik adalah fokus pada pesan itu sendiri. Di era digital, fungsi ini tidak hilang; justru semakin menuntut ketelitian. Penyair masa kini harus menghadapi paradoks: bagaimana menjaga kedalaman di tengah banjir teks singkat? Bagaimana mempertahankan nyala lirih ketika semua orang berbicara dengan suara keras? Di sinilah penyair kembali pada hakikat: ia menulis bukan untuk kebisingan, melainkan untuk gema yang bertahan.

Dalam The Bow and the Lyre, Octavio Paz menyebut puisi sebagai modus eksistensi, sebuah cara berada. Pandangan ini menjadi relevan kembali, terutama ketika puisi kini sering dikurung menjadi sekadar “caption estetis” atau “quote motivasi”. Penyair masa kini harus melampaui perangkap itu. Ia perlu mengubah puisinya menjadi ruang kontemplasi, menjadi semacam ziarah batin, bukan sekadar ornamen. Puisi bukan hiasan hidup; ia adalah jalan sunyi yang membuat hidup dapat ditafsir ulang.

T.S. Eliot melalui Tradition and the Individual Talent menegaskan bahwa penyair terhubung dengan tradisi sekaligus melampauinya. Tradisi bukan beban, melainkan reservoir energi. Penyair Indonesia hari ini mewarisi jejak Chairil yang meledak, Sapardi yang bening, Sutardji yang membebaskan kata, hingga Afrizal yang mengacaukan tatanan makna. Namun penyair masa kini berada dalam lanskap baru: dunia di mana batas-batas genre memudar, di mana puisi bertemu film, musik, desain, bahkan analitik data. Tradisi tetap menjadi akar, tetapi rantingnya bergerak ke arah yang tak terduga.

Roland Barthes dalam Writing Degree Zero menyebut tulisan sebagai tubuh yang terus berubah. Penyair masa kini harus menerima bahwa bahasa tidak lagi memiliki sakralitas tunggal; ia menjadi organisme yang digerakkan industri, media sosial, dan selera pasar. Tetapi dari fluiditas itulah penyair dapat menemukan bentuk baru: puisi hiper-teks, puisi visual, puisi panggung, puisi digital yang memadukan bunyi dan gerak. Penyair tidak kehilangan wilayahnya; wilayahnya justru bertambah, meluas seperti nebula.

Para penulis yang mengabdikan diri pada sastra terjebak dalam kondisi prekariat—kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. (Sumber: Pexels/Tima Miroshnichenko)
Para penulis yang mengabdikan diri pada sastra terjebak dalam kondisi prekariat—kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. (Sumber: Pexels/Tima Miroshnichenko)

Namun, perlu disadari bahwa di tengah perluasan itu, ada ancaman ke dangkalan. Banyak puisi yang viral justru lahir dari formula klise, mudah disukai, cepat dilupakan. Padahal, seperti kata Sapardi, puisi adalah bahasa yang dibebaskan dari kewajiban memberikan informasi. Artinya, ia bukan sekadar penegas emosi sesaat, melainkan penyelam sunyi yang berani masuk ke kedalaman jiwa manusia. Penyair masa kini harus berlatih menolak godaan instan. Ia harus berani menghadirkan ambiguitas, metafora yang dijaga, keheningan yang diolah. Bukan untuk menjadi rumit, tetapi untuk setia pada hakikat: puisi adalah perjalanan, bukan komoditas.

Di tengah arus cepat ini, penyair memiliki tugas moral, bukan dalam arti propaganda, melainkan sebagai penjaga nalar dan nurani. Ketika politik menjadi penuh slogan, penyair menghadirkan jeda. Ketika media sosial dikuasai caci, penyair menawarkan ruang hening. Ketika manusia kehilangan bahasa untuk menyebut rasa, penyair menciptakan kembali kemungkinan penamaan.

Penyair masa kini adalah pengembara yang membawa lentera kecil: cukup redup sehingga tidak memekakkan mata, cukup terang untuk menuntun satu langkah ke depan. Ia merawat bahasa seperti merawat luka, tidak tergesa, tidak sembarangan. Ia menyalakan metafora agar manusia kembali mengenali dirinya.

Akhirnya, kepenyairan masa kini bukan soal medium, bukan soal popularitas, bahkan bukan soal bentuk. Ia adalah soal keberanian untuk tetap mendengarkan bahasa. Di dunia yang penuh suara, penyairlah yang menjaga bisikan. Di dunia yang terburu-buru, penyairlah yang menjaga ritme. Dan di dunia yang sering kehilangan makna, penyairlah yang terus menggali, mengguncang, dan merawat misteri kata-kata. (*)

Rujukan:

– Roman Jakobson, Linguistics and Poetics (1960)

– Octavio Paz, The Bow and the Lyre (1956)

– T.S. Eliot, Tradition and the Individual Talent (1919)

– Roland Barthes, Writing Degree Zero (1953)

– Sapardi Djoko Damono, berbagai esai tentang puisi dan bahasa

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

iwan setiawan
Tentang iwan setiawan
Iwan Setiawan, penyair sufistik yang menulis puisi gelap dan kontemplatif tentang luka batin, rindu ilahi, dan perjalanan jiwa menuju cahaya.

Berita Terkait

Linguistik dan Kesusastraan

Ayo Netizen 09 Sep 2025, 16:01 WIB
Linguistik dan Kesusastraan

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)