Toponimi Lembang (Bagian 1)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 10 Jun 2026, 11:29 WIB
Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)

Toponimi adalah cabang ilmu linguistik dan geografi yang mengkaji asal-usul, arti, sejarah dan makna dari penamaan sebuah tempat atau unsur geografi. Toponimi berkaitan dengan bidang etnologi dan kebudayaan. Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Topos yang berarti tempat dan Onoma yang berarti nama.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan toponimi adalah cabang Onomastika yang menyelidiki nama tempat. Adapun Onomastika merupakan bidang ilmu linguistik yang menyelidiki asal-usul, bentuk, makna dari, serta nama orang dan tempat. Karena sebuah nama adalah kontribusi utama dan bagian terpenting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Toponimi sering diabaikan selama ini, padahal dalam kasus-kasus terkait teritori, toponimi adalah pemberi identitas dan kunci penting. Sementara itu, fungsi lain toponimi adalah menjadi salah satu unsur utama untuk berkoordinasi dan berkomunikasi antar bangsa, dan membantu menetapkan sebuah teritori wilayah dan batas administrasi.

Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang berjarak sekitar 22 km dari titik nol Kota Bandung yang berada pada ketinggian 1.312 hingga 2.084 mdpl. Pada KBBI Lembang artinya adalah lekuk atau cekungan pada tanah dan permukaan lainnya. Biasanya disamakan juga dengan lembah atau tanah rendah yang tergenang air.

Berdasarkan kajian geografi tentang patahan Lembang yang diteliti dan dikembangkan oleh Pak T. Bachtiar, Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang atau menggenang karena tertahan, sehingga membentuk genangan yang luas. Ia menjelaskan bahwa nama Lembang kemungkinan berasal dari kondisi alam wilayah tersebut pada masa lalu. Air yang mengalir dari lereng Gunung Tangkuban Parahu tertahan oleh sesar Lembang, sehingga air menjadi tergenang (ngalembang).

Dalam sebuah buku berbahasa Belanda yang berjudul “Het Nederlanche Java Institut, Javaansche Geographische Namen als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijze Van het Volk”, pada halaman 3, menuliskan arti dari penamaan Lembang itu sendiri yang diambil dari sebuah rumput yang banyak ditemui di kawasan Lembang, yaitu Rumput Lembang.

Tanaman ini memiliki bahasa latin Thypia Latifolla, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Cattail atau Bulrush, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut Lidi Air. Tanaman ini banyak ditemui di kawasan Gunung Lembang yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Bosscha (sekarang kawasan Observatorium Bosscha, Propelat, Sinapeul (eks kebun apel Baru Ajak), Baru Ajak hingga kawasan Situ Umar dan Situ PPI (Persatuan Pedagang Ikan)).

Menurut Muhammad Malik Ar Rahiem, tumbuhan ini memang tumbuh subur di kawasan rawa-rawa atau tanah yang banyak tergenang air setiap tahunnya. Namun, mirisnya sekarang tidak dapat lagi dijumpai satu pun dari Rumput Lembang di kawasan tersebut. Kawasan yang telah bersalin rupa akibat tekanan zaman yang membuat habitat Rumput Lembang harus berganti dengan pemukiman padat, sungai-sungai jernih sekarang hanya tinggal seperti selokan kecil yang kumuh, tidak ada lagi rawa-rawa, sepanjang mata memandang kawasan tersebut telah berganti menjadi lautan beton.

Dengan adanya toponimi dari penamaan Lembang ini, kita mampu melihat gambaran masa lalu sebuah wilayah. Dengan gambaran-gambaran pada penjelasan di atas kita mampu mengetahui seberapa rusak lingkungan Lembang saat ini.

Saat tahun 1821 hingga 1853, Priangan tertutup oleh pendatang dari luar. Para pendatang umumnya harus memiliki semacam visa khusus yang dipakai untuk memasuki wilayah Priangan. Namun, saat itu di kawasan Lembang dijadikan tempat pembuangan para penipu atau dalam bahasa selengean Tionghoa masa lalu sering disebut Congtipau, dan mereka semua berasal dari Batavia.

Para Congtipau tersebut dibuang ke kawasan Lembang yang saat itu masih hutan belantara, berharap para Congtipau tersebut mati karena tak mampu bertahan hidup. Namun, fakta berkata lain, para Congtipau tersebut mampu bertahan karena banyaknya sumber kehidupan yang tersebar di Lembang yang belum terjamah, karena tanahnya sangat subur.

Mereka para Congtipau itu akhirnya sukses membuka usaha penggergajian kayu, yang pada saat itu sangat digandrungi. Mereka hidup dan membentuk koloni mereka sendiri bahkan hingga beberapa generasi. Tempat mereka tinggal di Lembang bernama “Kampung Pangragajian” dan nama kampung itu masih eksis hingga kini.

Di kampung Pangragajian ini pada masa kolonial bahkan didatangi oleh satu dari sebelas bekas pejuang Boer Afrika Selatan yang membuka usaha peternakan sapi perah. Hal ini menjadikan kampung semakin hidup dan eksis hingga kini. Perkampungan ini letaknya tidak jauh dari area Sespim Polri sekarang, terus berkembang menjadi pemukiman padat.

Dengan adanya ilmu Toponimi kita jadi mampu mengetahui bahwa perkembangan wilayah kampung Pangragajian berasal dari tekad orang-orang buangan Batavia, yang akhirnya dapat membalikan keadaan mereka, karena suburnya tanah Lembang, melimpahnya segala sumber daya alam.

Tulisan saya untuk bulan Juni ini akan membahas beberapa kisah Toponimi yang ada di Lembang, sehingga mampu memberikan gambaran yang cukup lengkap dalam melihat Lembang lebih dekat. Dengan adanya ilmu toponimi ini kita akan mampu menjabarkan hal yang mungkin selama ini terlewatkan dalam pemikiran kita sehari-hari. Ternyata kita mampu melihat lebih dalam suatu tempat dan mengambil banyak hikmah sehingga lebih perduli pada keberlangsungan hidup, menjaga lingkungan dan menyelaraskan diri ini dengan alam.

Semoga tulisan-tulisan hasil riset saya tentang toponimi Lembang ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semuanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)