Dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk mengasah skill baik mental, upgrade keilmuan, keberanian berbicara, berkomunikasi dan terjun langsung ke masyarakat maka Program Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Muhammadiyah Bandung bekerjasama dengan setiap fasilitas kesehatan untuk mengirimkan mahasiswanya belajar skill tersebut.
Setiap satu sampai dua bulan mahasiswa akan diberikan fasilitas kesehatan yang beragam mulai dari apotek, rumah sakit, industry farmasi, distributor farmasi hingga dinas kesehatan yang selanjutnya disebar ke setiap puskesmas yang sudah ditunjuk sebagai wahana belajar setiap mahasiswa. Salah satunya mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Bandung ditempatkan di UPTD Puskesmas Cibiru tak hanya mencari dan mengasah ilmu melainkan juga berbagi ilmu yang didapat selama PKPA melalui kegiatan penyuluhan. Adapun sasaran dalam kegiatan ini khususnya bagi para lansia yang sering mengalami kesulitan dalam kepatuhan minum obat hipertensi. Sementara secara umum sasarannya bagi para pengunjung yang datang saat pelayanan di hari Kamis (23/6/2026) dengan kriteria yang beragam mulai dari anak, remaja hingga usia dewasa.
Dalam kesempatan kali ini mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung mengambil tema “Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi”. Tema yang diangkat tentu bukan diajukan secara random tapi juga atas diskusi dan arahan dari preseptor yang berprofesi sebagai seorang apoteker yang tentunya sudah sangat paham apa edukasi mengenai jenis obat yang dibutuhkan oleh pasien untuk dipahami lebih dalam.
Selain berdiskusi dengan preseptor, mahasiswa UMB juga berkesempatan diskusi dengan apoteker lainnya terkait dengan permasalahan hipertensi. Melalui diskusi tersebut didapatkan sebuah data observasi bahwa kepatuhan minum obat hipertensi memang masih sangat sulit dilakukan oleh masyarakat. Hal tersebut tentu dipengaruhi banyak faktor salah satunya dari mis-informasi yang didapatkan pasien diluar yang disampaikan oleh tenaga kesehatan.
Misalnya masih banyak masyarakat kita yang lebih mempercayai statement dari tetangga, keluarga atau bahkan hari ini informasi dari media sosial. Sebuah platform yang hari ini bisa digunakan oleh siapa saja untuk menyebarkan informasi. Sebagaimana bukan rahasia umum lagi jika bisa saja informasi yang disampaikan tidak sepenuhnya bersumber dari data yang valid.
Maka untuk kembali mengingatkan masyarakat khususnya lansia dalam kepatuhan minum obat, mahasiswa UMB mengambil tema yang releate dengan apa yang dialami oleh masyarakat. Maka dalam kegiatan penyuluhan tersebut hal pertama yang disampaikan oleh mahasiswa adalah definisi dari hipertensi. Memberi tahu masyarakat apa padanan kata dari hipertensi karena secara umum masyarakat lebih mengerti dengan istilah “Darah tinggi”.
Hipertensi/darah tinggi menurut WHO adalah sebuah kondisi dimana seseorang memiliki tekanan sistolik (tekanan saat jantung memompa ke seluruh tubuh) sama dengan atau diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic (tekanan saat jantung beristirahat sebelum darah mulai kembali memenuhi jantung) sama dengan atau diatas 90 mmHg. Sementara menurut AHA (American Heart Association) mulai mendefinisikan hipertesi derajat 1 pada angka 130-139 mgHg (sistolik) dan 80-89 mmHg (diastolic).
Setelah definisi disampaikan maka selanjutnya mahasiswa berinteraksi dengan memberikan pertanyaan apakah ada pasien yang sedang konsumsi obat hipertensi dan biasa konsumsi oba tapa. Melalui pertanyaan itu didapatkan sebuah jawaban bahwa pasien sedang mengkonsumsi amlodipine 10 mg. Jawaban tersebut tentu selaras dengan persediaan obat hipetensi lini pertama yang biasa difasilitasi di puskesmas. Selain amlodipine juga terdapat jenis obat hipetensi yaitu captopril 12.5 mg, 25 mg dan 50 mg yang pada konsumsinya tentu harus berkonsultasi dulu dengan dokter serta apoteker yang bertugas di puskesmas.
Selanjutnya kenapa pasien hipertensi harus minum obat secara rutin ? karena sebetulnya tujuan utama dari minum obat seumur hidup adalah supaya tekanan darah terkontrol dengan baik dan untuk menghindari penyakit komplikasi yang disebabkan karena tidak patuh minum obat hipertensi. Lalu apa hubungannya penyakit komplikasi dengan kepatuhan minum obat ? jawabannya tentu karena ketika tekanan darah tidak terkontrol dan bisa melonjak secara tiba-tiba maka akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah, memicu penyumbatan darah serta oksigen ke otak dan pecahnya pembuluh darah yang selanjutnya dapat menyebabkan stroke, serangan jantung dan gagal ginjal.
Ketika tenaga kesehatan memberikan edukasi agar pasien konsumsi obat hipertensi seumur hidup maka biasanya terdapat banyak mitos atau miss-infomasi yang didapatkan oleh masyarakat. Misalnya ada mitos yang beredar bahwa “kalau minum obat seumur hidup nanti ginjal saya rusak” padahal faktanya “justru hipertensi yang tidak terkontrol akan merusak fungsi ginjal”. Mitos selanjutnya juga sering terjadi yaitu “kalau pusing sudah hilang maka obat boleh di stop” padahal faktanya “obat hanya boleh dikurangi/dihentikan oleh dokter dengan pemeriksaan secara berkala”.
Setelah masyarakat di ajak untuk berpikir dan berefleksi tentang masalah yang sering dialami ketika konsumsi minum obat hipertensi maka selanjutnya mahasiswa memberikan tips sukses patuh minum obat. Pertama, obat hipertensi dianjurkan minum di jam yang sama setiap hari agar kadar obat dalam darah tetap stabil, mencegah lonjakan darah secara tiba tiba dan memastikan kerja obat maksimal melindungi jantung dan pembuluh darah. Kedua, minum obat harus sesuai dengan dosis yang diberikan dokter. Karena obat hipertensi memiliki dosis yang beragam maka sebagai pasien tidak boleh mengurangi atau menambahkan dosis tanpa sepengetahuan dokter karena dapat berakibat pada kurangnya terapi atau justru terjadi temuan over dosis obat di dalam tubuh. Ketiga, jangan hentikan obat secara mendadak karena dapat memicu lonjakan darah, risiko serangan jantung serta stroke.

Kegiatan penyuluhan di tutup dengan ajakan kepada masyarakat untuk mencegah hipertensi dengan CERDIK. Cek kesehatan secara berkala, fasilitas ini juga disediakan oleh puskesmas untuk setiap masyarakat memeriksakan kesehatannya 1 x dalam setahun. Enyahkan asap rokok, karena terdapat kandungan nikotin serta karbon monoksida yang memicu penyempitan pembuluh darah. Rajin aktivitas fisik, pasien dianjurkan untuk melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki 30 menit dalam sehari. Diet sehat dan seimbang, penderita hipertensi harus memiliki asupan yang cukup untuk tubuh. Maka mengurangi konsumsi garam bisa menjadi langkah bijak untuk dimulai. Selain itu juga penderita hipertensi harus makan banyak serat dari buah dan sayur serta porsi protein yang mencukupi juga mengurangi konsumsi lemak jenuh seperti gorengan. Istirahat yang cukup juga penting dilakukan agar tubuh selalu dalam kondisi yang baik. Kelola stress dengan baik agar hormon yang memicu penyempitan pembuluh darah bisa dikendalikan.
Melalui kegiatan penyuluhan ini tentu diharapkan dapat menjaga terjalinnya kolaborasi antara praktisi dengan teori keilmuan yang didapatkan di ruang belajar seperti kampus. Yang selanjutnya tentu tujuannya untuk memberikan informasi yang maksimal dan utuh kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup khususnya bagi masyarakat sekitar dan secara luas melalui media sosial. (*)