AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruang terbuka di kawasan Cigadung Barat, Kota Bandung, suara dongeng dipadukan dengan cahaya video mapping yang menari di antara pepohonan. Anak-anak berlarian di atas rumput, sebagian duduk melingkar mendengarkan cerita. Tidak ada suasana mencekam seperti seminar kebencanaan pada umumnya. Tidak ada bunyi sirine ataupun narasi menakutkan soal gempa besar.
Namun justru di tempat itu, pembicaraan tentang ancaman Sesar Lembang sedang berlangsung.
Bagi sebagian orang, mitigasi bencana identik dengan angka korban, simulasi evakuasi, atau kabar mengerikan tentang potensi gempa besar di Bandung Raya. Tetapi bagi komunitas Sesar Lembang Kalcer, mitigasi tidak harus selalu hadir lewat ketakutan. Mereka memilih jalan berbeda: menjadikannya sebagai cerita, pertunjukan seni, musik, hingga pengalaman kolektif yang terasa dekat dengan keseharian warga Bandung.
Pendiri Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, mengatakan bahwa pendekatan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa masyarakat lebih mudah tersentuh lewat cerita dibanding ancaman.
“Wayang itu dari dulu tidak pernah sekadar tontonan. Dia selalu membawa pesan. Kreativitas Nusantara itu selalu hadir untuk menjaga hidup manusia supaya tetap eling. Nah, kami melihat mitigasi juga harus dibawa dengan pendekatan seperti itu,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.
Menurutnya, masyarakat sering kali terlalu dicekoki narasi menakutkan tentang Sesar Lembang. Akibatnya, banyak orang justru memilih menjauh dari informasi kebencanaan karena merasa cemas terlebih dahulu.
Padahal, kata dia, hidup berdampingan dengan potensi gempa adalah kenyataan yang memang harus dipahami warga Bandung.
“Bandung itu tidak pernah bisa diam. Orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem’. Tapi memang tanahnya juga tidak diam. Kita hidup di atas patahan aktif. Nah, energi bumi yang tidak pernah diam itu juga merambat ke kreativitas manusianya,” katanya.
Dari situ, Sesar Lembang Kalcer mencoba membangun pendekatan mitigasi berbasis budaya. Mereka membuat pertunjukan video mapping di antara pepohonan, dongeng mitigasi, workshop kreatif, hingga ruang berkumpul yang disebut “titik kumpul”.
Di tempat itu, mitigasi tidak diajarkan dengan ceramah kaku. Anak-anak belajar evakuasi sambil bermain. Musik dan cerita dipakai untuk menyisipkan pengetahuan tentang gempa bumi secara perlahan.
“Ketika gempa nanti harus terjadi, orang jangan panik. Orang harus tahu harus melakukan apa. Dan cara paling kuat untuk membangun refleks itu adalah cerita,” kata Adi.
Ia kemudian menyinggung kisah Smong dari Pulau Simeulue, Aceh, yang menjadi salah satu inspirasi gerakan mereka. Kisah itu merupakan dongeng turun-temurun tentang tsunami yang diwariskan lewat lagu dan cerita rakyat.
Saat tsunami Aceh 2004 terjadi, masyarakat Simeulue yang terbiasa mendengar kisah Smong langsung berlari ke tempat tinggi setelah air laut surut. Ribuan warga selamat karena refleks kolektif yang dibangun dari cerita tersebut.
“Yang menyelamatkan mereka bukan alarm modern, tapi dongeng. Cerita yang terus diulang dari generasi ke generasi. Itu yang membuat saya percaya bahwa Bandung juga membutuhkan cerita mitigasi seperti itu,” ujarnya.
Bagi Adi, kreativitas warga Bandung sebetulnya memiliki akar kuat dengan kondisi geografis kota ini. Ia melihat bentang alam Cekungan Bandung yang dikelilingi gunung dan patahan aktif justru melahirkan masyarakat dengan daya imajinasi tinggi.
“Lingkungan yang indah menghasilkan manusia-manusia yang berpikir estetis dan kreatif. Makanya Bandung selalu melahirkan karya, komunitas, musik, desain, sampai budaya nongkrong. Tapi di balik itu, kita lupa bahwa semua ini juga lahir dari kondisi geologis yang bergerak,” katanya.
Sesar Lembang Kalcer kemudian mencoba menghubungkan kembali kreativitas warga dengan kesadaran terhadap alam tempat mereka hidup.
Di titik kumpul mereka di Cigadung, pepohonan bukan hanya dijadikan latar acara. Pohon-pohon itu dijadikan layar video mapping sekaligus bagian dari cerita. Pertunjukan cahaya diproyeksikan ke batang dan daun, menghadirkan dongeng tentang bumi, manusia, dan hubungan yang mulai renggang di antara keduanya.
“Kita hidup terlalu jauh dari tanah. Bangun tidur pakai sandal, ke kamar mandi lantainya keramik, keluar rumah langsung naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar terkoneksi dengan bumi,” kata Adi.
Karena itu, ruang terbuka hijau yang mereka gunakan sengaja dipertahankan sebagai tempat warga bisa kembali bersentuhan dengan alam. Anak-anak diperbolehkan bermain tanpa alas kaki di atas rumput, sementara komunitas-komunitas lain diajak berkumpul untuk berbagi cerita dan gagasan.
Mereka percaya mitigasi tidak bisa hanya datang dari pemerintah secara top down. Kesadaran harus tumbuh dari warga dan komunitas itu sendiri.
“Kalau komunitas bergerak, energinya akan merambat. Sama seperti getaran gempa yang merambat. Kesadaran mitigasi juga harus merambat dari warga ke warga,” katanya.
Di tengah derasnya informasi digital dan konten media sosial yang cepat berlalu, Sesar Lembang Kalcer justru memilih kembali pada cara-cara lama: dongeng, musik, dan ruang berkumpul.
Sebab bagi mereka, cerita selalu punya umur yang lebih panjang dibanding rasa takut.
“Teknologi bisa berubah, orang bisa mati, tapi cerita itu abadi,” kata Adi.
