Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 15 Mei 2026, 10:34 WIB
Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruang terbuka di kawasan Cigadung Barat, Kota Bandung, suara dongeng dipadukan dengan cahaya video mapping yang menari di antara pepohonan. Anak-anak berlarian di atas rumput, sebagian duduk melingkar mendengarkan cerita. Tidak ada suasana mencekam seperti seminar kebencanaan pada umumnya. Tidak ada bunyi sirine ataupun narasi menakutkan soal gempa besar.

Namun justru di tempat itu, pembicaraan tentang ancaman Sesar Lembang sedang berlangsung.

Bagi sebagian orang, mitigasi bencana identik dengan angka korban, simulasi evakuasi, atau kabar mengerikan tentang potensi gempa besar di Bandung Raya. Tetapi bagi komunitas Sesar Lembang Kalcer, mitigasi tidak harus selalu hadir lewat ketakutan. Mereka memilih jalan berbeda: menjadikannya sebagai cerita, pertunjukan seni, musik, hingga pengalaman kolektif yang terasa dekat dengan keseharian warga Bandung.

Pendiri Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, mengatakan bahwa pendekatan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa masyarakat lebih mudah tersentuh lewat cerita dibanding ancaman.

“Wayang itu dari dulu tidak pernah sekadar tontonan. Dia selalu membawa pesan. Kreativitas Nusantara itu selalu hadir untuk menjaga hidup manusia supaya tetap eling. Nah, kami melihat mitigasi juga harus dibawa dengan pendekatan seperti itu,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Menurutnya, masyarakat sering kali terlalu dicekoki narasi menakutkan tentang Sesar Lembang. Akibatnya, banyak orang justru memilih menjauh dari informasi kebencanaan karena merasa cemas terlebih dahulu.

Padahal, kata dia, hidup berdampingan dengan potensi gempa adalah kenyataan yang memang harus dipahami warga Bandung.

“Bandung itu tidak pernah bisa diam. Orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem’. Tapi memang tanahnya juga tidak diam. Kita hidup di atas patahan aktif. Nah, energi bumi yang tidak pernah diam itu juga merambat ke kreativitas manusianya,” katanya.

Dari situ, Sesar Lembang Kalcer mencoba membangun pendekatan mitigasi berbasis budaya. Mereka membuat pertunjukan video mapping di antara pepohonan, dongeng mitigasi, workshop kreatif, hingga ruang berkumpul yang disebut “titik kumpul”.

Di tempat itu, mitigasi tidak diajarkan dengan ceramah kaku. Anak-anak belajar evakuasi sambil bermain. Musik dan cerita dipakai untuk menyisipkan pengetahuan tentang gempa bumi secara perlahan.

“Ketika gempa nanti harus terjadi, orang jangan panik. Orang harus tahu harus melakukan apa. Dan cara paling kuat untuk membangun refleks itu adalah cerita,” kata Adi.

Ia kemudian menyinggung kisah Smong dari Pulau Simeulue, Aceh, yang menjadi salah satu inspirasi gerakan mereka. Kisah itu merupakan dongeng turun-temurun tentang tsunami yang diwariskan lewat lagu dan cerita rakyat.

Saat tsunami Aceh 2004 terjadi, masyarakat Simeulue yang terbiasa mendengar kisah Smong langsung berlari ke tempat tinggi setelah air laut surut. Ribuan warga selamat karena refleks kolektif yang dibangun dari cerita tersebut.

“Yang menyelamatkan mereka bukan alarm modern, tapi dongeng. Cerita yang terus diulang dari generasi ke generasi. Itu yang membuat saya percaya bahwa Bandung juga membutuhkan cerita mitigasi seperti itu,” ujarnya.

Bagi Adi, kreativitas warga Bandung sebetulnya memiliki akar kuat dengan kondisi geografis kota ini. Ia melihat bentang alam Cekungan Bandung yang dikelilingi gunung dan patahan aktif justru melahirkan masyarakat dengan daya imajinasi tinggi.

“Lingkungan yang indah menghasilkan manusia-manusia yang berpikir estetis dan kreatif. Makanya Bandung selalu melahirkan karya, komunitas, musik, desain, sampai budaya nongkrong. Tapi di balik itu, kita lupa bahwa semua ini juga lahir dari kondisi geologis yang bergerak,” katanya.

Sesar Lembang Kalcer kemudian mencoba menghubungkan kembali kreativitas warga dengan kesadaran terhadap alam tempat mereka hidup.

Di titik kumpul mereka di Cigadung, pepohonan bukan hanya dijadikan latar acara. Pohon-pohon itu dijadikan layar video mapping sekaligus bagian dari cerita. Pertunjukan cahaya diproyeksikan ke batang dan daun, menghadirkan dongeng tentang bumi, manusia, dan hubungan yang mulai renggang di antara keduanya.

“Kita hidup terlalu jauh dari tanah. Bangun tidur pakai sandal, ke kamar mandi lantainya keramik, keluar rumah langsung naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar terkoneksi dengan bumi,” kata Adi.

Karena itu, ruang terbuka hijau yang mereka gunakan sengaja dipertahankan sebagai tempat warga bisa kembali bersentuhan dengan alam. Anak-anak diperbolehkan bermain tanpa alas kaki di atas rumput, sementara komunitas-komunitas lain diajak berkumpul untuk berbagi cerita dan gagasan.

Mereka percaya mitigasi tidak bisa hanya datang dari pemerintah secara top down. Kesadaran harus tumbuh dari warga dan komunitas itu sendiri.

“Kalau komunitas bergerak, energinya akan merambat. Sama seperti getaran gempa yang merambat. Kesadaran mitigasi juga harus merambat dari warga ke warga,” katanya.

Di tengah derasnya informasi digital dan konten media sosial yang cepat berlalu, Sesar Lembang Kalcer justru memilih kembali pada cara-cara lama: dongeng, musik, dan ruang berkumpul.

Sebab bagi mereka, cerita selalu punya umur yang lebih panjang dibanding rasa takut.

“Teknologi bisa berubah, orang bisa mati, tapi cerita itu abadi,” kata Adi.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)