Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruang terbuka di kawasan Cigadung Barat, Kota Bandung, suara dongeng dipadukan dengan cahaya video mapping yang menari di antara pepohonan. Anak-anak berlarian di atas rumput, sebagian duduk melingkar mendengarkan cerita. Tidak ada suasana mencekam seperti seminar kebencanaan pada umumnya. Tidak ada bunyi sirine ataupun narasi menakutkan soal gempa besar.

Namun justru di tempat itu, pembicaraan tentang ancaman Sesar Lembang sedang berlangsung.

Bagi sebagian orang, mitigasi bencana identik dengan angka korban, simulasi evakuasi, atau kabar mengerikan tentang potensi gempa besar di Bandung Raya. Tetapi bagi komunitas Sesar Lembang Kalcer, mitigasi tidak harus selalu hadir lewat ketakutan. Mereka memilih jalan berbeda: menjadikannya sebagai cerita, pertunjukan seni, musik, hingga pengalaman kolektif yang terasa dekat dengan keseharian warga Bandung.

Pendiri Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, mengatakan bahwa pendekatan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa masyarakat lebih mudah tersentuh lewat cerita dibanding ancaman.

“Wayang itu dari dulu tidak pernah sekadar tontonan. Dia selalu membawa pesan. Kreativitas Nusantara itu selalu hadir untuk menjaga hidup manusia supaya tetap eling. Nah, kami melihat mitigasi juga harus dibawa dengan pendekatan seperti itu,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Menurutnya, masyarakat sering kali terlalu dicekoki narasi menakutkan tentang Sesar Lembang. Akibatnya, banyak orang justru memilih menjauh dari informasi kebencanaan karena merasa cemas terlebih dahulu.

Padahal, kata dia, hidup berdampingan dengan potensi gempa adalah kenyataan yang memang harus dipahami warga Bandung.

“Bandung itu tidak pernah bisa diam. Orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem’. Tapi memang tanahnya juga tidak diam. Kita hidup di atas patahan aktif. Nah, energi bumi yang tidak pernah diam itu juga merambat ke kreativitas manusianya,” katanya.

Dari situ, Sesar Lembang Kalcer mencoba membangun pendekatan mitigasi berbasis budaya. Mereka membuat pertunjukan video mapping di antara pepohonan, dongeng mitigasi, workshop kreatif, hingga ruang berkumpul yang disebut “titik kumpul”.

Di tempat itu, mitigasi tidak diajarkan dengan ceramah kaku. Anak-anak belajar evakuasi sambil bermain. Musik dan cerita dipakai untuk menyisipkan pengetahuan tentang gempa bumi secara perlahan.

“Ketika gempa nanti harus terjadi, orang jangan panik. Orang harus tahu harus melakukan apa. Dan cara paling kuat untuk membangun refleks itu adalah cerita,” kata Adi.

Ia kemudian menyinggung kisah Smong dari Pulau Simeulue, Aceh, yang menjadi salah satu inspirasi gerakan mereka. Kisah itu merupakan dongeng turun-temurun tentang tsunami yang diwariskan lewat lagu dan cerita rakyat.

Saat tsunami Aceh 2004 terjadi, masyarakat Simeulue yang terbiasa mendengar kisah Smong langsung berlari ke tempat tinggi setelah air laut surut. Ribuan warga selamat karena refleks kolektif yang dibangun dari cerita tersebut.

“Yang menyelamatkan mereka bukan alarm modern, tapi dongeng. Cerita yang terus diulang dari generasi ke generasi. Itu yang membuat saya percaya bahwa Bandung juga membutuhkan cerita mitigasi seperti itu,” ujarnya.

Bagi Adi, kreativitas warga Bandung sebetulnya memiliki akar kuat dengan kondisi geografis kota ini. Ia melihat bentang alam Cekungan Bandung yang dikelilingi gunung dan patahan aktif justru melahirkan masyarakat dengan daya imajinasi tinggi.

“Lingkungan yang indah menghasilkan manusia-manusia yang berpikir estetis dan kreatif. Makanya Bandung selalu melahirkan karya, komunitas, musik, desain, sampai budaya nongkrong. Tapi di balik itu, kita lupa bahwa semua ini juga lahir dari kondisi geologis yang bergerak,” katanya.

Sesar Lembang Kalcer kemudian mencoba menghubungkan kembali kreativitas warga dengan kesadaran terhadap alam tempat mereka hidup.

Di titik kumpul mereka di Cigadung, pepohonan bukan hanya dijadikan latar acara. Pohon-pohon itu dijadikan layar video mapping sekaligus bagian dari cerita. Pertunjukan cahaya diproyeksikan ke batang dan daun, menghadirkan dongeng tentang bumi, manusia, dan hubungan yang mulai renggang di antara keduanya.

“Kita hidup terlalu jauh dari tanah. Bangun tidur pakai sandal, ke kamar mandi lantainya keramik, keluar rumah langsung naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar terkoneksi dengan bumi,” kata Adi.

Karena itu, ruang terbuka hijau yang mereka gunakan sengaja dipertahankan sebagai tempat warga bisa kembali bersentuhan dengan alam. Anak-anak diperbolehkan bermain tanpa alas kaki di atas rumput, sementara komunitas-komunitas lain diajak berkumpul untuk berbagi cerita dan gagasan.

Mereka percaya mitigasi tidak bisa hanya datang dari pemerintah secara top down. Kesadaran harus tumbuh dari warga dan komunitas itu sendiri.

“Kalau komunitas bergerak, energinya akan merambat. Sama seperti getaran gempa yang merambat. Kesadaran mitigasi juga harus merambat dari warga ke warga,” katanya.

Di tengah derasnya informasi digital dan konten media sosial yang cepat berlalu, Sesar Lembang Kalcer justru memilih kembali pada cara-cara lama: dongeng, musik, dan ruang berkumpul.

Sebab bagi mereka, cerita selalu punya umur yang lebih panjang dibanding rasa takut.

“Teknologi bisa berubah, orang bisa mati, tapi cerita itu abadi,” kata Adi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)