'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Jeanette Rachelina Kurniawan
Ditulis oleh Jeanette Rachelina Kurniawan diterbitkan Jumat 15 Mei 2026, 20:08 WIB
Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)

Di tengah dinamika seni rupa Indonesia yang terus bergerak, pameran “Jejak Rupa” di Galeri Dago The Huis menjadi ruang untuk kembali memandang seni secara lebih perlahan dan reflektif. Pameran yang berlangsung pada 3 Mei hingga 17 Mei 2026 ini menghadirkan 123 karya pilihan Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam perjalanan panjang seorang seniman dalam membaca alam, manusia, dan perubahan zaman. Melalui karya-karya yang penuh warna, tekstur, dan lapisan makna, pengunjung diajak memasuki ruang kontemplasi tempat ingatan, pengalaman batin, dan realitas sosial saling bertemu. 

Pak Tjejep Rohendi berserta Ibu Dini Tjejep, Pak Diyanto, dan rekan seniman (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Pak Tjejep Rohendi berserta Ibu Dini Tjejep, Pak Diyanto, dan rekan seniman (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Dalam katalog kuratorial pameran, karya-karya Pak Tjetjep dibaca sebagai “sistem tanda” yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, dan dimensi spiritual. Garis vertikal dimaknai sebagai hubungan manusia dengan yang transenden, sementara garis horizontal menjadi simbol relasi sosial dan kehidupan sehari-hari. Di tangan Tjetjep, abstraksi bukan upaya menjauh dari realitas, melainkan cara lain untuk mendekatinya.

Bagi Pak Tjetjep sendiri, pameran bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Dalam wawancara di sela pameran, ia mengatakan bahwa hampir setiap tahun dirinya selalu berusaha mengadakan pameran, baik tunggal maupun kelompok. Awalnya, pameran ini dirancang untuk September 2026 bertepatan dengan usianya yang ke-78. Namun karena jadwal ruang pamer yang terbatas, pameran akhirnya dipercepat pada bulan ini.

Dr. Tri Karyono, M.Sn. (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Dr. Tri Karyono, M.Sn. (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Pandangan serupa juga disampaikan Pak Tri Karyono salah satu murid sekaligus akademisi yang mengenal dekat sosok Tjetjep Rohendi Rohidi. Dalam wawancara terpisah, beliau menyebut Pak Tjetjep bukan hanya seniman, tetapi figur akademik yang telah melahirkan banyak generasi di dunia seni dan pendidikan. “Beliau sekarang usia 78 tahun, tetapi energinya luar biasa. Menulis sangat banyak, berkarya juga sangat banyak.” ujarnya.

Hal menarik dari karya-karya Pak Tjetjep terletak pada proses kreatifnya yang intuitif. Dalam wawancara di sela pameran, beliau mengaku tidak pernah terlalu terpaku pada tujuan akhir saat melukis. Baginya, yang terpenting justru proses dan respons batin yang muncul selama berkarya. “Saya lebih melihat proses. Kalau dalam istilah ilmiah, saya lebih induktif,” ujarnya. Menurut Pak Tjetjep, karya-karyanya berkembang dari pengalaman pribadi, situasi sosial, hingga refleksi terhadap keadaan sekitar yang kemudian muncul secara spontan ke dalam bidang kanvas.

Meski dikenal lewat karya abstrak, Pak Tjetjep mengatakan banyak karyanya tetap dipengaruhi pengalaman hidup di Bandung dan pemahaman estetika lokal. Pengaruh itu, menurut dia, tidak selalu hadir dalam bentuk tradisi yang eksplisit, melainkan melalui rasa, komposisi warna, dan cara memandang kehidupan. “Kalau dilihat orang luar Bandung, memang kuat dalam komposisi warna,” katanya.

Lukisan "Tangis Pertiwi" Karya Tjejep Rohendi Rohidi (Foto: Jeanette Rachelina Kurniawan)
Lukisan "Tangis Pertiwi" Karya Tjejep Rohendi Rohidi (Foto: Jeanette Rachelina Kurniawan)

Salah satu karya yang lahir dari respons sosial adalah Tangis Pertiwi. Karya tersebut dibuat saat Indonesia berada dalam masa reformasi dan gejolak sosial. “Saya melihat keadaan negara kita waktu itu sedang guncang,” ujarnya. Bagi Pak Tjetjep, seni bukan sekadar objek visual, tetapi juga cara merekam kegelisahan zaman.

Di beberapa karya lain, penggunaan plastik dan media campuran terasa seperti komentar halus terhadap perubahan lingkungan dan kehidupan urban. Pada seri Panorama Plastik misalnya, material sehari-hari yang identik dengan limbah justru diolah menjadi lanskap visual yang puitis. Sementara karya-karya seperti Imaji Kota atau Dinding Kota memperlihatkan bagaimana ruang perkotaan diterjemahkan menjadi fragmen-fragmen emosi dan memori.

Pak Tjetjep juga menyinggung posisi seni di tengah perkembangan teknologi dan kondisi sosial Indonesia saat ini. Menurut beliau, dunia modern yang semakin dikuasai teknologi dan ekonomi perlu diimbangi dengan kelembutan dan nilai kemanusiaan yang dibawa seni. “Kalau teknologi kehilangan sisi kemanusiaan, kita bisa kehilangan banyak hal,” ujarnya. Baginya, seni berperan menjaga manusia tetap memahami dirinya secara utuh.

Dinding dipenuhi karya Pak Tjejep (Foto: Kevin Juan Hartanto)
Dinding dipenuhi karya Pak Tjejep (Foto: Kevin Juan Hartanto)

Istilah “lirisisme” yang muncul dalam katalog pun, menurut Tjetjep, bukan berasal dari dirinya sendiri.  Beliau mengatakan istilah itu muncul dari cara orang lain membaca ritme dan irama visual dalam karya-karyanya. “Saya sendiri tidak pernah menyebut karya saya abstrak atau kontemporer. Itu biasanya datang dari orang lain,” katanya. Baginya, melukis lebih dekat dengan proses bermain dan refleksi diri.

Kepada mahasiswa dan seniman muda, Pak Tri menitipkan pesan sederhana, berani memulai dan tidak mudah menyerah. Menurut dia, keberanian menjadi langkah awal paling penting dalam berkarya. “Kalau ada sesuatu yang muncul, ungkapkan itu, buat, kerjakan,” ujarnya. Selain keberanian, ia menekankan pentingnya ketekunan menghadapi tantangan. Baginya, setiap bidang memiliki “rimba” nya masing-masing, termasuk seni, ekonomi, maupun hukum.

Sementara itu, Pak Tjetjep memberi pesan yang lebih reflektif. Menurut Pak Tjejep, hidup pada dasarnya adalah proses belajar tanpa akhir. “Jangan merasa sudah selesai belajar,” katanya. Beliau mengaku masih terus belajar, termasuk dari generasi muda. Baginya, belajar bukan hanya soal teknik berkesenian, tetapi juga proses menjadi manusia seutuhnya. “Menjadi manusia itu lebih susah daripada menjadi seniman,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengunjung Pameran Jejak Rupa (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Pengunjung Pameran Jejak Rupa (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Antusiasme pengunjung yang hadir dalam pameran ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Ruang pamer yang semula terasa tenang dan kontemplatif berubah menjadi arena percakapan hidup antara karya dan penontonnya. Beberapa pengunjung terlihat berlama-lama di hadapan satu kanvas, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terucap. Pameran ini, dengan kata lain, tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga ruang pertemuan antara ingatan kolektif dan pengalaman personal masing-masing orang yang hadir.

Dalam konteks seni rupa Indonesia yang terus bergerak, kehadiran “Jejak Rupa” menjadi semacam pengingat bahwa konsistensi seorang seniman adalah bentuk perlawanan paling diam namun paling nyata terhadap lupa. Di tengah hiruk-pikuk wacana seni kontemporer yang kerap bergerak cepat mengikuti tren global, Pak Tjetjep memilih jalannya sendiri, merawat intuisi, mendengarkan alam, dan membiarkan kanvas berbicara sesuai irama batinnya.

Pak Tjejep Rohendi Bersama Mahasiswa UNPAR (Foto: Shalom Matuankotta)
Pak Tjejep Rohendi Bersama Mahasiswa UNPAR (Foto: Shalom Matuankotta)

Pameran ini juga sekaligus menjadi cermin bagi dunia pendidikan seni. Sosok Pak Tjetjep yang merentangkan diri antara akademisi dan praktisi menunjukkan bahwa kedua dunia itu tidak harus berdiri saling membelakangi. Justru dari persilangan itulah lahir karya-karya yang kaya lapisan makna, bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mampu berdialog dengan konteks sosial, budaya, dan spiritual secara bersamaan.

Pada akhirnya, “Jejak Rupa” bukan pameran yang meminta pengunjung untuk langsung mengerti. Beliau justru mengajak orang berhenti sejenak, memandang lebih lama, lalu menemukan maknanya masing-masing. Dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya-karya Tjetjep terasa seperti ruang hening tempat warna, ingatan, dan intuisi saling bertemu. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Jeanette Rachelina Kurniawan
Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)