'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

5 menit baca
Jeanette Rachelina Kurniawan
Ditulis oleh Jeanette Rachelina Kurniawan diterbitkan
Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)

Di tengah dinamika seni rupa Indonesia yang terus bergerak, pameran “Jejak Rupa” di Galeri Dago The Huis menjadi ruang untuk kembali memandang seni secara lebih perlahan dan reflektif. Pameran yang berlangsung pada 3 Mei hingga 17 Mei 2026 ini menghadirkan 123 karya pilihan Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam perjalanan panjang seorang seniman dalam membaca alam, manusia, dan perubahan zaman. Melalui karya-karya yang penuh warna, tekstur, dan lapisan makna, pengunjung diajak memasuki ruang kontemplasi tempat ingatan, pengalaman batin, dan realitas sosial saling bertemu. 

Pak Tjejep Rohendi berserta Ibu Dini Tjejep, Pak Diyanto, dan rekan seniman (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Pak Tjejep Rohendi berserta Ibu Dini Tjejep, Pak Diyanto, dan rekan seniman (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Dalam katalog kuratorial pameran, karya-karya Pak Tjetjep dibaca sebagai “sistem tanda” yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, dan dimensi spiritual. Garis vertikal dimaknai sebagai hubungan manusia dengan yang transenden, sementara garis horizontal menjadi simbol relasi sosial dan kehidupan sehari-hari. Di tangan Tjetjep, abstraksi bukan upaya menjauh dari realitas, melainkan cara lain untuk mendekatinya.

Bagi Pak Tjetjep sendiri, pameran bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Dalam wawancara di sela pameran, ia mengatakan bahwa hampir setiap tahun dirinya selalu berusaha mengadakan pameran, baik tunggal maupun kelompok. Awalnya, pameran ini dirancang untuk September 2026 bertepatan dengan usianya yang ke-78. Namun karena jadwal ruang pamer yang terbatas, pameran akhirnya dipercepat pada bulan ini.

Dr. Tri Karyono, M.Sn. (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Dr. Tri Karyono, M.Sn. (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Pandangan serupa juga disampaikan Pak Tri Karyono salah satu murid sekaligus akademisi yang mengenal dekat sosok Tjetjep Rohendi Rohidi. Dalam wawancara terpisah, beliau menyebut Pak Tjetjep bukan hanya seniman, tetapi figur akademik yang telah melahirkan banyak generasi di dunia seni dan pendidikan. “Beliau sekarang usia 78 tahun, tetapi energinya luar biasa. Menulis sangat banyak, berkarya juga sangat banyak.” ujarnya.

Hal menarik dari karya-karya Pak Tjetjep terletak pada proses kreatifnya yang intuitif. Dalam wawancara di sela pameran, beliau mengaku tidak pernah terlalu terpaku pada tujuan akhir saat melukis. Baginya, yang terpenting justru proses dan respons batin yang muncul selama berkarya. “Saya lebih melihat proses. Kalau dalam istilah ilmiah, saya lebih induktif,” ujarnya. Menurut Pak Tjetjep, karya-karyanya berkembang dari pengalaman pribadi, situasi sosial, hingga refleksi terhadap keadaan sekitar yang kemudian muncul secara spontan ke dalam bidang kanvas.

Meski dikenal lewat karya abstrak, Pak Tjetjep mengatakan banyak karyanya tetap dipengaruhi pengalaman hidup di Bandung dan pemahaman estetika lokal. Pengaruh itu, menurut dia, tidak selalu hadir dalam bentuk tradisi yang eksplisit, melainkan melalui rasa, komposisi warna, dan cara memandang kehidupan. “Kalau dilihat orang luar Bandung, memang kuat dalam komposisi warna,” katanya.

Lukisan "Tangis Pertiwi" Karya Tjejep Rohendi Rohidi (Foto: Jeanette Rachelina Kurniawan)
Lukisan "Tangis Pertiwi" Karya Tjejep Rohendi Rohidi (Foto: Jeanette Rachelina Kurniawan)

Salah satu karya yang lahir dari respons sosial adalah Tangis Pertiwi. Karya tersebut dibuat saat Indonesia berada dalam masa reformasi dan gejolak sosial. “Saya melihat keadaan negara kita waktu itu sedang guncang,” ujarnya. Bagi Pak Tjetjep, seni bukan sekadar objek visual, tetapi juga cara merekam kegelisahan zaman.

Di beberapa karya lain, penggunaan plastik dan media campuran terasa seperti komentar halus terhadap perubahan lingkungan dan kehidupan urban. Pada seri Panorama Plastik misalnya, material sehari-hari yang identik dengan limbah justru diolah menjadi lanskap visual yang puitis. Sementara karya-karya seperti Imaji Kota atau Dinding Kota memperlihatkan bagaimana ruang perkotaan diterjemahkan menjadi fragmen-fragmen emosi dan memori.

Pak Tjetjep juga menyinggung posisi seni di tengah perkembangan teknologi dan kondisi sosial Indonesia saat ini. Menurut beliau, dunia modern yang semakin dikuasai teknologi dan ekonomi perlu diimbangi dengan kelembutan dan nilai kemanusiaan yang dibawa seni. “Kalau teknologi kehilangan sisi kemanusiaan, kita bisa kehilangan banyak hal,” ujarnya. Baginya, seni berperan menjaga manusia tetap memahami dirinya secara utuh.

Dinding dipenuhi karya Pak Tjejep (Foto: Kevin Juan Hartanto)
Dinding dipenuhi karya Pak Tjejep (Foto: Kevin Juan Hartanto)

Istilah “lirisisme” yang muncul dalam katalog pun, menurut Tjetjep, bukan berasal dari dirinya sendiri.  Beliau mengatakan istilah itu muncul dari cara orang lain membaca ritme dan irama visual dalam karya-karyanya. “Saya sendiri tidak pernah menyebut karya saya abstrak atau kontemporer. Itu biasanya datang dari orang lain,” katanya. Baginya, melukis lebih dekat dengan proses bermain dan refleksi diri.

Kepada mahasiswa dan seniman muda, Pak Tri menitipkan pesan sederhana, berani memulai dan tidak mudah menyerah. Menurut dia, keberanian menjadi langkah awal paling penting dalam berkarya. “Kalau ada sesuatu yang muncul, ungkapkan itu, buat, kerjakan,” ujarnya. Selain keberanian, ia menekankan pentingnya ketekunan menghadapi tantangan. Baginya, setiap bidang memiliki “rimba” nya masing-masing, termasuk seni, ekonomi, maupun hukum.

Sementara itu, Pak Tjetjep memberi pesan yang lebih reflektif. Menurut Pak Tjejep, hidup pada dasarnya adalah proses belajar tanpa akhir. “Jangan merasa sudah selesai belajar,” katanya. Beliau mengaku masih terus belajar, termasuk dari generasi muda. Baginya, belajar bukan hanya soal teknik berkesenian, tetapi juga proses menjadi manusia seutuhnya. “Menjadi manusia itu lebih susah daripada menjadi seniman,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengunjung Pameran Jejak Rupa (Foto: Keandra Farrel Raihandika)
Pengunjung Pameran Jejak Rupa (Foto: Keandra Farrel Raihandika)

Antusiasme pengunjung yang hadir dalam pameran ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Ruang pamer yang semula terasa tenang dan kontemplatif berubah menjadi arena percakapan hidup antara karya dan penontonnya. Beberapa pengunjung terlihat berlama-lama di hadapan satu kanvas, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terucap. Pameran ini, dengan kata lain, tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga ruang pertemuan antara ingatan kolektif dan pengalaman personal masing-masing orang yang hadir.

Dalam konteks seni rupa Indonesia yang terus bergerak, kehadiran “Jejak Rupa” menjadi semacam pengingat bahwa konsistensi seorang seniman adalah bentuk perlawanan paling diam namun paling nyata terhadap lupa. Di tengah hiruk-pikuk wacana seni kontemporer yang kerap bergerak cepat mengikuti tren global, Pak Tjetjep memilih jalannya sendiri, merawat intuisi, mendengarkan alam, dan membiarkan kanvas berbicara sesuai irama batinnya.

Pak Tjejep Rohendi Bersama Mahasiswa UNPAR (Foto: Shalom Matuankotta)
Pak Tjejep Rohendi Bersama Mahasiswa UNPAR (Foto: Shalom Matuankotta)

Pameran ini juga sekaligus menjadi cermin bagi dunia pendidikan seni. Sosok Pak Tjetjep yang merentangkan diri antara akademisi dan praktisi menunjukkan bahwa kedua dunia itu tidak harus berdiri saling membelakangi. Justru dari persilangan itulah lahir karya-karya yang kaya lapisan makna, bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mampu berdialog dengan konteks sosial, budaya, dan spiritual secara bersamaan.

Pada akhirnya, “Jejak Rupa” bukan pameran yang meminta pengunjung untuk langsung mengerti. Beliau justru mengajak orang berhenti sejenak, memandang lebih lama, lalu menemukan maknanya masing-masing. Dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya-karya Tjetjep terasa seperti ruang hening tempat warna, ingatan, dan intuisi saling bertemu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)