Bandung - Di balik hiruk-pikuk jalanan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga kota seni yang terus berevolusi, menjadi ruang ekspresi generasi seniman dari berbagai disiplin seni. Beragam kegiatan seni dan budaya terus menghiasi lanskap kreatif Bandung, membuktikan bahwa kota ini tetap menjadi kota yang hidup lewat karya.
Salah satu ruang kreatif terbaru yang menarik perhatian adalah dotHub Space dan Dia.Lo.Gue Artspace, yang baru saja merayakan 15 tahun keberadaannya dengan pameran “Ngariung” yang menampilkan karya 69 seniman dan desainer. Ruang ini kini menjadi platform penting bagi seniman Bandung untuk bertukar gagasan lintas disiplin seni, dari lukis, instalasi, hingga desain visual.
Tak hanya itu, Festival Soundrenaline 2025 juga memilih Bandung sebagai salah satu kota penyelenggara, menghadirkan panggung musik, seni visual, dan aktivitas kreatif di enam titik ikonik kota. Event ini mempertemukan seniman, musisi, dan kreator dari berbagai latar budaya, memperkaya ekosistem seni lokal.
Sementara itu, festival light art seperti .BDG Lights Festival turut memperlihatkan kekuatan seni kontemporer di ruang publik dengan instalasi cahaya yang megah dan interaktif, sekaligus menarik wisatawan dan penikmat seni dari luar kota.
Pameran Seni & Jejak Sejarah Kreatif Bandung

Perhelatan seni tak kalah menarik datang dari kampus, seperti Pasar Seni ITB 2025, yang kembali digelar setelah sekian lama dengan format lebih besar dan melibatkan kolaborasi antara seniman Bandung, nasional, dan maestro seni rupa. Pameran ini memperlihatkan bahwa generasi muda seniman Bandung masih memiliki semangat kuat dalam berkarya, meski tantangan logistik dan antusiasme penonton menjadi bagian dari dinamika perhelatan.
Di sisi lain, pameran tunggal seniman kontemporer seperti Wagiono Sunarto di Selasar Sunaryo Art Space juga masih berlangsung hingga awal 2026, menyoroti bagaimana seniman Bandung secara kritis merespons gejolak sosial dan sejarah melalui karya visualnya.
Selain panggung lokal, seniman Bandung juga memiliki jejak internasional. Program residensi dan kolaborasi seperti pameran Re-aksi di Soemardja Gallery FSRD ITB membawa seniman dari Indonesia, Jepang, dan Malaysia untuk berkarya bersama dan mempresentasikan proses kreatif mereka kepada publik. Program seperti ini memperkaya dialog lintas budaya dan membuka peluang kolaborasi baru bagi seniman Bandung.
Beberapa seniman Bandung juga dikenal di kancah global, seperti pelukis kontemporer Christine Ay Tjoe - lahir dan besar di Bandung - yang telah menerima berbagai penghargaan internasional dan tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda kreator lokal.
Selain pameran besar dan festival berskala nasional, karya seni juga tercipta dalam bentuk karya komunitas. Pameran Infrastruktur: Riuh Sunyi Bandung oleh lima seniman muda mempresentasikan refleksi kota melalui media lukis dan instalasi, mengajak publik merasakan denyut urban sekaligus kesunyian yang tersembunyi di balik keramaiannya.
Bandung juga telah menjadi tuan rumah pameran internasional seperti ASEAN-India Artists Camp Exhibition, yang menampilkan 20 seniman dunia, membuktikan kota ini mampu menjadi ruang temu lintas budaya dan seni tingkat global.
Menjadi Kota Seni yang Dinamis
Kisah seniman Bandung bukan sekadar tentang karya, tetapi juga tentang komunitas, ruang, dan kolaborasi. Dari galeri kecil di Braga hingga panggung festival besar, dari karya konseptual hingga kolaborasi lintas negara, Bandung terus memosisikan dirinya sebagai kota kreatif yang tak pernah sepi dari cerita dan panggung.
Aktivitas seni yang terus mengalir menunjukkan bahwa seniman Bandung tidak hanya hidup di dalam kota, tetapi juga memberi warna bagi dunia seni Indonesia dan internasional. (*)
