Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

3 menit baca
Permata Imaningsun
Ditulis oleh Permata Imaningsun diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 18:47 WIB
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)

Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)

Bandung - Di balik hiruk-pikuk jalanan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga kota seni yang terus berevolusi, menjadi ruang ekspresi generasi seniman dari berbagai disiplin seni. Beragam kegiatan seni dan budaya terus menghiasi lanskap kreatif Bandung, membuktikan bahwa kota ini tetap menjadi kota yang hidup lewat karya.

Salah satu ruang kreatif terbaru yang menarik perhatian adalah dotHub Space dan Dia.Lo.Gue Artspace, yang baru saja merayakan 15 tahun keberadaannya dengan pameran “Ngariung” yang menampilkan karya 69 seniman dan desainer. Ruang ini kini menjadi platform penting bagi seniman Bandung untuk bertukar gagasan lintas disiplin seni, dari lukis, instalasi, hingga desain visual.

Tak hanya itu, Festival Soundrenaline 2025 juga memilih Bandung sebagai salah satu kota penyelenggara, menghadirkan panggung musik, seni visual, dan aktivitas kreatif di enam titik ikonik kota. Event ini mempertemukan seniman, musisi, dan kreator dari berbagai latar budaya, memperkaya ekosistem seni lokal.

Sementara itu, festival light art seperti .BDG Lights Festival turut memperlihatkan kekuatan seni kontemporer di ruang publik dengan instalasi cahaya yang megah dan interaktif, sekaligus menarik wisatawan dan penikmat seni dari luar kota.

Pameran Seni & Jejak Sejarah Kreatif Bandung

John Martono, Seniman di Balik Warna-warni Mural Kota Bandung (Sumber: itb.ac)

Perhelatan seni tak kalah menarik datang dari kampus, seperti Pasar Seni ITB 2025, yang kembali digelar setelah sekian lama dengan format lebih besar dan melibatkan kolaborasi antara seniman Bandung, nasional, dan maestro seni rupa. Pameran ini memperlihatkan bahwa generasi muda seniman Bandung masih memiliki semangat kuat dalam berkarya, meski tantangan logistik dan antusiasme penonton menjadi bagian dari dinamika perhelatan.

Di sisi lain, pameran tunggal seniman kontemporer seperti Wagiono Sunarto di Selasar Sunaryo Art Space juga masih berlangsung hingga awal 2026, menyoroti bagaimana seniman Bandung secara kritis merespons gejolak sosial dan sejarah melalui karya visualnya.

Selain panggung lokal, seniman Bandung juga memiliki jejak internasional. Program residensi dan kolaborasi seperti pameran Re-aksi di Soemardja Gallery FSRD ITB membawa seniman dari Indonesia, Jepang, dan Malaysia untuk berkarya bersama dan mempresentasikan proses kreatif mereka kepada publik. Program seperti ini memperkaya dialog lintas budaya dan membuka peluang kolaborasi baru bagi seniman Bandung.

Beberapa seniman Bandung juga dikenal di kancah global, seperti pelukis kontemporer Christine Ay Tjoe - lahir dan besar di Bandung - yang telah menerima berbagai penghargaan internasional dan tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda kreator lokal.

Selain pameran besar dan festival berskala nasional, karya seni juga tercipta dalam bentuk karya komunitas. Pameran Infrastruktur: Riuh Sunyi Bandung oleh lima seniman muda mempresentasikan refleksi kota melalui media lukis dan instalasi, mengajak publik merasakan denyut urban sekaligus kesunyian yang tersembunyi di balik keramaiannya.

Bandung juga telah menjadi tuan rumah pameran internasional seperti ASEAN-India Artists Camp Exhibition, yang menampilkan 20 seniman dunia, membuktikan kota ini mampu menjadi ruang temu lintas budaya dan seni tingkat global.

Menjadi Kota Seni yang Dinamis

Kisah seniman Bandung bukan sekadar tentang karya, tetapi juga tentang komunitas, ruang, dan kolaborasi. Dari galeri kecil di Braga hingga panggung festival besar, dari karya konseptual hingga kolaborasi lintas negara, Bandung terus memosisikan dirinya sebagai kota kreatif yang tak pernah sepi dari cerita dan panggung.

Aktivitas seni yang terus mengalir menunjukkan bahwa seniman Bandung tidak hanya hidup di dalam kota, tetapi juga memberi warna bagi dunia seni Indonesia dan internasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Permata Imaningsun
Jurnalism | Lifestyle | Music | Student of Broadcast Comunication UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)