Mencari Hening di Tengah Ramadhan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)

Setiap Ramadhan tiba, ada keinginan yang pelan-pelan menguat dalam diri saya: keinginan untuk hening. Bukan sekadar mengurangi makan dan minum, tetapi mengurangi gangguan. Mengurangi keterlibatan yang berlebihan pada urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Bandung Raya menjelang Ramadhan selalu bergerak lebih cepat. Jalanan semakin padat menjelang berbuka. Pusat perbelanjaan memanjangkan jam operasional. Iklan diskon bertema keagamaan bermunculan di setiap sudut kota dan linimasa. Agenda buka bersama memenuhi kalender, sering kali lebih ramai daripada pertemuan-pertemuan di bulan lainnya.

Kota ini seperti tidak pernah merasa puas dengan gangguannya.

Di tengah semua itu, saya justru merasakan gerakan yang berlawanan arah. Ada dorongan untuk masuk ke dalam diri. Untuk duduk lebih lama selepas Subuh. Untuk berjalan pagi tanpa terburu-buru. Untuk tidak selalu merasa perlu berkomentar atas setiap peristiwa.

Di kota seperti Bandung yang terus bergerak, hening menjadi langka. Diam terasa asing. Tidak bereaksi kerap dianggap tidak peduli. Seolah-olah kepedulian harus selalu hadir dalam bentuk suara, pernyataan, unggahan, atau sikap yang terlihat.

Padahal, shaum mengajarkan yang sebaliknya.

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan reaksi. Menahan ambisi. Menahan ego untuk selalu ingin hadir dan terlihat. Dalam dunia yang mengukur keberadaan dari seberapa sering kita muncul, Ramadhan justru mengajarkan seni menghilang secara perlahan—agar kita bisa menemukan kembali inti diri yang sering tertutup oleh hiruk-pikuk.

Dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi , sunyi bukanlah kehampaan. Ia adalah ruang perjumpaan. Para sufi memahami puasa sebagai jalan pengurangan—mengurangi makan agar jiwa lebih ringan, mengurangi bicara agar hati lebih jernih, mengubah ambisi agar kesadaran lebih luas.

Rumi pernah menulis:

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap,

kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.”

Api dalam pengertian ini bukanlah kehancuran, melainkan pemurnian. Ia adalah metafora tentang proses batin ketika manusia melepaskan lapisan-lapisan kesombongan, ketakutan, dan keinginan yang berlebihan. Ramadhan adalah kesempatan memasuki api itu—membakar tabir-tabir ego, agar yang tersisa hanyalah kesadaran yang lebih jernih.

Namun hari-hari ini, yang sering kita saksikan justru penambahan.

Penambahan menu berbuka. Penambahan acara. Penambahan simbol-simbol keagamaan. Apalagi penambahan eksistensi di ruang digital. Ramadhan menjadi musim konsumsi. Ironisnya, di bulan ketika kita diajak menahan diri, justru hasrat membeli dan memamerkan menemukan momentumnya.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momentum kembali ke kemudahan, sering kali berubah menjadi panggung evaluasi sosial. Pakaian baru terasa seperti kewajiban. Parcel menjadi ukuran perhatian. Mudik menjadi ajang pembuktian keberhasilan.

Tekanan itu nyata.

Beberapa waktu terakhir, kota ini dikejutkan oleh fenomena percobaan bunuh diri di Jembatan Pasupati . Peristiwa seperti itu bukan sekadar kabar yang lewat di linimasa. Ia adalah tanda bahwa di balik gemerlap persiapan Lebaran, ada jiwa-jiwa yang sedang memikul beban terlalu berat.

Tekanan ekonomi menjelang Idul Fitri bukanlah hal yang sepele. Kebutuhan meningkat. Ekspektasi sosial meninggi. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif dan penuh persaingan, kesenjangan antara kemampuan dan tuntutan bisa terasa menyakitkan. Ketika orang merasa gagal memenuhi standar yang dibayangkan lingkungan, yang runtuh bukan hanya keuangan, tetapi juga harga diri.

Ramadhan yang seharusnya menjadi latihan pengurangan, bisa berubah menjadi musim penambahan beban.

Di titik inilah saya kembali pada pertanyaan paling sederhana: apa sebenarnya makna shaum bagi diri saya?

Jika Ramadhan dimaknai sebagai ajang pembuktian sosial, ia akan melelahkan. Jika ia dipahami sebagai simbol perlombaan, ia akan terasa berat. Tetapi jika ia dipahami sebagai gerakan ke dalam—sebagai latihan menerima keterbatasan, sebagai ruang berdamai dengan diri—maka ia bisa menjadi jalan yang memerdekakan.

Menahan reaksi bukan berarti apatis. Diam bukan berarti tidak peduli. Justru dalam hening, kita belajar agar respon kita tidak lahir dari ketakutan atau gengsi. Selanjutnya, kami menemukan kembali empati yang tidak perlu diumumkan. Kepedulian yang bekerja tanpa sorotan.

Lapar yang kita rasakan seharusnya mengasah kepekaan mereka yang lapar sepanjang tahun. Dahaga yang kita tahan seharusnya membuka kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memilih. Shaum pada akhirnya adalah latihan empati yang paling sederhana: merasakan, meski hanya sebentar, apa yang mungkin dirasakan orang lain setiap hari.

Namun empati tidak tumbuh dalam gangguan yang terus menerus. Ia membutuhkan ruang yang sunyi.

Mungkin Ramadhan hari ini memang memerlukan keberanian untuk mengurangi. Mengurangi komentar yang tidak perlu. Mengurangi konsumsi yang berlebihan. Mengurangi keinginan untuk terlihat baik di mata orang lain. Dari pengurangan itulah, kepekaan sosial bisa kembali menemukan akarnya.

Baca Juga: Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Saya percaya, pada akhirnya semua kembali kepada cara kita memaknai Ramadhan. Kota boleh tetap tenang. Tradisi boleh tetap meriah. Perayaan boleh tetap berlangsung. Tetapi di dalam diri, kita masih punya pilihan: ikut terseret arus, atau melangkah perlahan ke dalam.

Di tengah Bandung yang tak pernah benar-benar berpuasa dari gangguannya, mungkin yang terjadi adalah bentuk perlawanan yang paling halus. Bukan perlawanan dengan teriakan, namun dengan kesadaran. Bukan dengan slogan, tapi dengan kejujuran pada diri sendiri.

Dan barangkali, justru dari ruang yang sunyi itu, Ramadhan kembali menemukan esensinya—bukan sebagai musim, melainkan sebagai perjalanan batin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)