Mencari Hening di Tengah Ramadhan

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Senin 02 Mar 2026, 13:15 WIB
Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)

Setiap Ramadhan tiba, ada keinginan yang pelan-pelan menguat dalam diri saya: keinginan untuk hening. Bukan sekadar mengurangi makan dan minum, tetapi mengurangi gangguan. Mengurangi keterlibatan yang berlebihan pada urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Bandung Raya menjelang Ramadhan selalu bergerak lebih cepat. Jalanan semakin padat menjelang berbuka. Pusat perbelanjaan memanjangkan jam operasional. Iklan diskon bertema keagamaan bermunculan di setiap sudut kota dan linimasa. Agenda buka bersama memenuhi kalender, sering kali lebih ramai daripada pertemuan-pertemuan di bulan lainnya.

Kota ini seperti tidak pernah merasa puas dengan gangguannya.

Di tengah semua itu, saya justru merasakan gerakan yang berlawanan arah. Ada dorongan untuk masuk ke dalam diri. Untuk duduk lebih lama selepas Subuh. Untuk berjalan pagi tanpa terburu-buru. Untuk tidak selalu merasa perlu berkomentar atas setiap peristiwa.

Di kota seperti Bandung yang terus bergerak, hening menjadi langka. Diam terasa asing. Tidak bereaksi kerap dianggap tidak peduli. Seolah-olah kepedulian harus selalu hadir dalam bentuk suara, pernyataan, unggahan, atau sikap yang terlihat.

Padahal, shaum mengajarkan yang sebaliknya.

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan reaksi. Menahan ambisi. Menahan ego untuk selalu ingin hadir dan terlihat. Dalam dunia yang mengukur keberadaan dari seberapa sering kita muncul, Ramadhan justru mengajarkan seni menghilang secara perlahan—agar kita bisa menemukan kembali inti diri yang sering tertutup oleh hiruk-pikuk.

Dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi , sunyi bukanlah kehampaan. Ia adalah ruang perjumpaan. Para sufi memahami puasa sebagai jalan pengurangan—mengurangi makan agar jiwa lebih ringan, mengurangi bicara agar hati lebih jernih, mengubah ambisi agar kesadaran lebih luas.

Rumi pernah menulis:

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap,

kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.”

Api dalam pengertian ini bukanlah kehancuran, melainkan pemurnian. Ia adalah metafora tentang proses batin ketika manusia melepaskan lapisan-lapisan kesombongan, ketakutan, dan keinginan yang berlebihan. Ramadhan adalah kesempatan memasuki api itu—membakar tabir-tabir ego, agar yang tersisa hanyalah kesadaran yang lebih jernih.

Namun hari-hari ini, yang sering kita saksikan justru penambahan.

Penambahan menu berbuka. Penambahan acara. Penambahan simbol-simbol keagamaan. Apalagi penambahan eksistensi di ruang digital. Ramadhan menjadi musim konsumsi. Ironisnya, di bulan ketika kita diajak menahan diri, justru hasrat membeli dan memamerkan menemukan momentumnya.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momentum kembali ke kemudahan, sering kali berubah menjadi panggung evaluasi sosial. Pakaian baru terasa seperti kewajiban. Parcel menjadi ukuran perhatian. Mudik menjadi ajang pembuktian keberhasilan.

Tekanan itu nyata.

Beberapa waktu terakhir, kota ini dikejutkan oleh fenomena percobaan bunuh diri di Jembatan Pasupati . Peristiwa seperti itu bukan sekadar kabar yang lewat di linimasa. Ia adalah tanda bahwa di balik gemerlap persiapan Lebaran, ada jiwa-jiwa yang sedang memikul beban terlalu berat.

Tekanan ekonomi menjelang Idul Fitri bukanlah hal yang sepele. Kebutuhan meningkat. Ekspektasi sosial meninggi. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif dan penuh persaingan, kesenjangan antara kemampuan dan tuntutan bisa terasa menyakitkan. Ketika orang merasa gagal memenuhi standar yang dibayangkan lingkungan, yang runtuh bukan hanya keuangan, tetapi juga harga diri.

Ramadhan yang seharusnya menjadi latihan pengurangan, bisa berubah menjadi musim penambahan beban.

Di titik inilah saya kembali pada pertanyaan paling sederhana: apa sebenarnya makna shaum bagi diri saya?

Jika Ramadhan dimaknai sebagai ajang pembuktian sosial, ia akan melelahkan. Jika ia dipahami sebagai simbol perlombaan, ia akan terasa berat. Tetapi jika ia dipahami sebagai gerakan ke dalam—sebagai latihan menerima keterbatasan, sebagai ruang berdamai dengan diri—maka ia bisa menjadi jalan yang memerdekakan.

Menahan reaksi bukan berarti apatis. Diam bukan berarti tidak peduli. Justru dalam hening, kita belajar agar respon kita tidak lahir dari ketakutan atau gengsi. Selanjutnya, kami menemukan kembali empati yang tidak perlu diumumkan. Kepedulian yang bekerja tanpa sorotan.

Lapar yang kita rasakan seharusnya mengasah kepekaan mereka yang lapar sepanjang tahun. Dahaga yang kita tahan seharusnya membuka kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memilih. Shaum pada akhirnya adalah latihan empati yang paling sederhana: merasakan, meski hanya sebentar, apa yang mungkin dirasakan orang lain setiap hari.

Namun empati tidak tumbuh dalam gangguan yang terus menerus. Ia membutuhkan ruang yang sunyi.

Mungkin Ramadhan hari ini memang memerlukan keberanian untuk mengurangi. Mengurangi komentar yang tidak perlu. Mengurangi konsumsi yang berlebihan. Mengurangi keinginan untuk terlihat baik di mata orang lain. Dari pengurangan itulah, kepekaan sosial bisa kembali menemukan akarnya.

Baca Juga: Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Saya percaya, pada akhirnya semua kembali kepada cara kita memaknai Ramadhan. Kota boleh tetap tenang. Tradisi boleh tetap meriah. Perayaan boleh tetap berlangsung. Tetapi di dalam diri, kita masih punya pilihan: ikut terseret arus, atau melangkah perlahan ke dalam.

Di tengah Bandung yang tak pernah benar-benar berpuasa dari gangguannya, mungkin yang terjadi adalah bentuk perlawanan yang paling halus. Bukan perlawanan dengan teriakan, namun dengan kesadaran. Bukan dengan slogan, tapi dengan kejujuran pada diri sendiri.

Dan barangkali, justru dari ruang yang sunyi itu, Ramadhan kembali menemukan esensinya—bukan sebagai musim, melainkan sebagai perjalanan batin. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)