Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Jumat 27 Feb 2026, 12:10 WIB
Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menjelang magrib di awal Ramadan, linimasa media sosial berubah menjadi papan pengumuman raksasa. Poster warna-warni bertebaran: “Open Reg Bukber!”, “Sanlat 1447 H”, “Salurkan ZIS melalui…”, “THR Cair!”.

Di spanduk depan masjid, di grup WhatsApp keluarga, sampai di surat edaran kantor, kata-kata itu hadir dalam bentuk ringkas, padat, cepat, dan seolah semua orang langsung paham.

Ramadan di Indonesia bukan sekadang bulan ibadah, tapi juga musim bahasa. Semakin padat aktivitas, semakin hemat kata. Singkatan dan akronim menjadi alat navigasi sosial. Membantu orang mengatur waktu, uang, dan relasi dalam satu bulan yang ritmenya berbeda dari sebelas bulan lainnya.

Dalam kacamata sederhana ekonomi komunikasi, semakin tinggi intensitas interaksi, semakin besar kebutuhan efisiensi. Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”. Setiap singkatan membawa cerita tentang siapa yang menggunakannya dan untuk kepentingan apa.

Slang Budaya

Coba dengarkan percakapan anak muda di awal Ramadan. “Jadi bukber di mana?” atau “Abis tarawih ada kultum nggak?”

Kata “bukber” alias buka bersama bahkan terasa lebih natural daripada bentuk panjangnya. Begitu pula “bubar” (buka bareng), “kultum” (kuliah tujuh menit), “tarling” (tarawih keliling), hingga SOTR (sahur on the road).

Singkatan-singkatan ini lahir dari ruang kebersamaan. Tumbuh bukan dari meja birokrat, namun dari kebutuhan praktis orang-orang yang ingin berkumpul. Ramadan memperbanyak pertemuan untuk teman sekolah, rekan kerja, alumni kampus, komunitas hobi. Mengatur semuanya butuh bahasa yang cepat dan luwes.

“Bukber” misalnya, bukan sekadar agenda makan. Simbol reuni kecil-kecilan, kadang juga ajang memperluas jejaring. Dalam satu kata, terkandung koordinasi waktu, tempat, dan daftar hadir. Bahasa yang lebih ringkas berarti biaya komunikasi lebih rendah. Orang tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup satu kata, semua mengerti.

“Kultum” juga menarik. Menandai tradisi tausiah singkat sebelum atau sesudah salat tarawih. Tujuh menit, ringkas, padat. Seperti namanya yang merupakan metafora dari Ramadan itu sendiri: waktu terasa pendek, pesan harus jelas. Singkatan di sini bukan hanya pemendekan teknis, tetapi cerminan nilai efisiensi.

Bahasa menjadi perekat sosial. Menciptakan rasa akrab. Orang yang paham istilahnya merasa menjadi bagian dari komunitas. Yang tidak paham, secara halus terdorong untuk belajar. Singkatan menjadi penanda identitas kolektif.

Semi-Formal

Masuk ke ranah yang sedikit lebih terstruktur, kita menemukan singkatan seperti “Sanlat” (pesantren kilat), TPA/TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an), PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an), dan LTQ (Lembaga Tilawatil Qur’an).

Istilah-istilah ini sering muncul di spanduk sekolah, proposal kegiatan remaja masjid, atau surat edaran RT. Kosakata yang tidak lagi sepenuhnya slang, tetapi juga belum sepenuhnya birokratis. Ada unsur organisasi di dalamnya.

“Sanlat” misalnya, hampir menjadi tradisi tahunan di sekolah-sekolah. Dalam satu kata, merangkum rangkaian kegiatan: kajian, tadarus, lomba, hingga buka bersama. Karena berulang setiap tahun, bahasa pun distandardisasi. Panitia tidak perlu menulis “Pesantren Kilat Ramadan” berulang-ulang. Cukup “Sanlat 1447 H”, semua langsung memahami konteksnya.

Di sini terlihat pergeseran fungsi bahasa. Jika pada level slang mempercepat pergaulan, pada level semi-formal memperlancar koordinasi organisasi. Proposal lebih ringkas, spanduk lebih hemat ruang, administrasi lebih praktis. Efisiensi waktu dan tenaga menjadi pertimbangan.

Menariknya, banyak istilah semi-formal ini tetap terasa akrab. Tidak kaku. Hidup di antara dua dunia: komunitas dan institusi kecil. Ramadan menjadi ruang pertemuan keduanya.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)

Resmi Negara dan Lembaga

Lapisan berikutnya adalah singkatan yang memiliki bobot hukum dan ekonomi. Di sini kita bertemu dengan THR (Tunjangan Hari Raya), ZIS (Zakat, Infak, Sedekah), ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), serta lembaga seperti BAZNAS, LAZ, MUI, KUA, dan Kementerian Agama.

Jika “bukber” menggerakkan pertemanan, “THR” menggerakkan konsumsi nasional. Satu singkatan ini mampu meningkatkan daya beli jutaan pekerja dalam waktu singkat. Pusat perbelanjaan ramai, tiket mudik habis, perputaran uang melonjak. Bahasa menjadi pintu masuk kebijakan ekonomi.

Begitu pula “ZIS” dan “ZISWAF”. Bukan hanya istilah religius, tetapi juga instrumen redistribusi kekayaan. Melalui lembaga seperti BAZNAS dan LAZ, dana yang terkumpul disalurkan kepada mustahik. Dalam satu akronim, terkandung sistem pengumpulan, pengelolaan, hingga pelaporan dana publik.

Di tingkat ini, singkatan memiliki legitimasi. Tercantum dalam regulasi, laporan resmi, dan kebijakan negara. Penulisannya konsisten, maknanya tunggal. Tidak ada ruang tafsir liar. Bahasa menjadi bagian dari tata kelola.

Ramadan, dengan demikian, tidak hanya memperbanyak interaksi sosial, tetapi juga mempercepat sirkulasi ekonomi. Dan singkatan-singkatan itu menjadi simbol dari arus tersebut.

Baca Juga: 8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Menarik untuk melihat bagaimana beberapa singkatan bergerak. Ada yang lahir dari masyarakat lalu diterima luas. Ada yang sejak awal lahir di ruang resmi. Ada pula yang tetap bertahan sebagai bahasa pergaulan tanpa pernah masuk dokumen negara.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat adaptif. Mengikuti kebutuhan. Ketika aktivitas masih sebatas lingkar pertemanan, bahasa cukup lentur. Ketika melibatkan dana publik dan regulasi, bahasa menjadi presisi.

Ramadan memperlihatkan seluruh spektrum itu dalam waktu hanya satu bulan. Dari ajakan bukber di grup kecil, hingga laporan pengumpulan ZIS di tingkat nasional, semuanya terhubung oleh kebutuhan yang sama: komunikasi yang efektif. (*)

Berita Terkait

Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Puasa Ayakan

News Update

Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 15:04

Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Menyoroti kemacetan Bandung saat Ramadhan.

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)