Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Kamis 26 Feb 2026, 13:18 WIB
Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)

Sebelah barat Rumah Sakit Dustira, Kota Cimahi, ada Jalan Warungcontong. Bila mengikuti jalan itu ke barat kurang-lebih 390 m dari rumah sakit, di sana ada taman kota Warungcontong. Kedua toponim jalan dan taman itu berada di Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah. 

Namun, menurut Machmud Mubarok, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Cimahi, bahwa bukan hanya ada toponim Jalan Warungcontong dan Taman Warungcontong, tapi ada toponim Kampung Warungcontong, yang lokasinya di sebelah barat Rumah Sakit Dustira. Kampung itu masih ada sampai sekarang. 

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat. Jangan-jangan hanya ada di Kota Cimahi. Kata contong, saat ini tidak populer dalam Bahasa Sunda, bahkan tidak ada lema contong dalam kamus berbahasa Sunda

Sebagai bandingan, di Jawa Tengah ada toponim Contong di Widodaren, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Di Jawa Timur ada beberapa toponim yang memakai kata contong, seperti: Alun-alun Contong di Kecamatan Bubutan Surabaya. Ada juga di Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, dan di Kebotohan, Kecamatan Kraton Pasuruan. 

Dalam Bahasa Jawa, contong (conthong) berarti kerucut. Di Jawa Timur ada yang berjualan sego contong, nasi yang dibungkus daun pisang, bentuk bungkusnya kerucut. Misalnya: Sego Contong di Jl. Siguragura no. 21, Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, dan Warung Sego Contong di Jl. Tanjung no. 1, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Sego contong ini disajikan dengan menu utama: kering tempe, urab sayuran, daging ayam suwir, semur daging sapi, mi kuning, dan sambal.

Toponim Kampung Warungcontong, terdapat dalam berita di koran-koran zaman Belanda. Ini memberikan kejelasan, bahwa kampung itu sudah ada sebelum tahun pemuatan berita itu. Misalnya dalam koran De Sumatra post tanggal 22-02-1922. Dalam berita itu dituliskan tentang rabies di Cimahi. Ada seorang gadis dari sekolah pertama yang harus dirawat di rumah sakit karena rabies. Berita itu berdasar pada surat warga Cimahi tanggal 13 Februari 1922 yang ditujukan kepada P.8. Penulis surat mengabarkan, bahwa apa yang sudah lama diduga itu benar-benar menjadi kenyataan. Ada gadis yang digigit anjing. Kasus rabies berulang kali terjadi, namun bahaya penularan rabies belum dihentikan. Betapa orang-orang di sini menganggap sepele bahaya anjing. Kawanan anjing berkeliaran di sepanjang jalan, seperti di Kampung Gubuk, Baros, di belakang rumah sakit, Kerkhofweg, Warongcontong, dan di sepanjang jalan di belakang kamp, banyak sekali berkeliaran anjing liar (De Sumatra post, 22-02-1922).

Toponim Kampung Warungcontong terdapat dalam beberapa berita surat kabar, seperti yang dimuat dalam berita 22 November 1926, yang berjudul Kebakaran di Cimahi. Pada Sabtu pagi, alarm kebakaran berbunyi. Kebakaran terjadi di Kampung Warungcontong, yang berbatasan dengan rumah sakit militer. Mobil pemadam kebakaran segera datang, namun tidak banyak yang dapat diselamatkan. Keluarga-keluarga yang mengungsi di lereng tanggul kereta api tampak menyedihkan. Banyak yang kehilangan hampir semua harta bendanya. Kepala polisi sibuk menyelidiki dari mana api bermula dan apakah ada unsur kesengajaan. Atau, apakah kebakaran ini terkait dengan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini? Sekitar tiga puluh rumah hangus terbakar (Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1926).

Berita tanggal 14 Maret 1927 berjudul Kisah Brutal! Upaya Perampokan dan Penembakan. Pada 10 Maret 1927, sersan Verhagen yang tinggal di Warungcontong, mendengar suara gemerisik yang mencurigakan di salah satu jendela rumahnya. Ia mengambil sepotong besi sebagai senjata, dan pergi keluar untuk menyelidiki. Begitu berada di luar, ia melihat seorang penduduk berlari menuju lapangan terbuka di depan rumahnya. Ia segera mengejarnya dan berhasil memukulnya dengan besi. Pada saat yang sama, karena tidak memakai alas kaki, ia terpeleset, yang memungkinkan buronan itu melarikan diri (Delokomotif, 14 Maret 1927).

Berita tanggal 09 April 1932, memuat berita tentang tujuh kasus wabah pes di Cimahi, yang terjadi di Kecamatan Cimahi, distrik Cilengkrang, Warungcontong, dan Kebonkalapa di kecamatan Batujajar (De koerier, 09-04-1932).

Berita koran tanggal 24 September 1935, tentang pencuri sepeda yang tertangkap. Jumat lalu, D, seorang warga Gunung Bohong, melaporkan kepada polisi bahwa sepedanya telah dicuri. Sepedah itu oleh D diparkir di tribun lapangan sepakbola Velocitas, tempatnya bekerja. Kemarin, saat D pulang kerja, ia melihat seorang pria di Warungcontong yang mengendarai sepedanya. D menangkapnya dan menyerahkan orang itu kepada polisi. Investigasi polisi menetapkan bahwa pria itu bernama Bedor. Ia pencuri sepeda terkenal dan telah beberapa kali dipenjara karena mencuri sepeda (De koerier, 24-09-1935).

Dari berita yang dimuat di koran zaman Belanda antara tahun 1922 sampai tahun 1935 meyakinkan, bahwa toponim Kampung Warungcontong itu sudah ada sebelum tahun 1922. 

Penelusuran toponim Warungcontong dalam peta-peta lama tidak membuahkan hasil. Sangat mungkin karena dalam peta-peta lama hanya toponim perkampungan dan toponim jalan yang sangat penting yang dituliskan.  

Peta tertua yang tersedia dalam koleksi KITLV terbit tahun 1896 berjudul Cimahi, dengan skala 1:200.000. Peta yang diterbitkan oleh Joh. C. Stemlercz sudah mencantumkan Halte Cimahi, yang mulai beroperasi pada tanggal 17 Mei 1884. Sudah ada jalan tapi tidak dituliskan toponimnya, yang sekarang Jl Raya Baros dan Jl Gatot Subroto. Namun, gedung rumahsakit dan jalan di depan rumahsakit belum tercantum, padahal rumahsakit itu dibangun tahun 1887. Toponim Warungcontong dan jalan yang sejajar rel kereta api yang menuju perkampungan itu belum ada, begitupun jalan yang sekarang bernama Jl Sriwijaya Raya.

Peta berjudul Cimahi yang diterbitkan tahun 1933, hasil perbaikan dari peta terbitan tahun 1931. Dalam peta ini sudah ada garis jalan yang kini bernama Jl Warungcontong, dan sudah dipetakan segitiga yang kini menjadi taman kota Warungcontong, walaupun toponimnya tidak dituliskan. Sudah ada lapangan pacuan di sebelah utara Jl Warungcontong (sekarang) dan sebelah barat Jl Sriwijaya Raya (sekarang). Sudah ada rumah sakit (Rs Dustira sekarang), dan yang semula Halte Cimahi sudah ditulis Stasiun Cimahi. Di sebelah barat rumahsakit, dipisahkan oleh sungai dan jalan, sudah dipetakan lapangan tembak.

Saya belum mengamati peta-peta Cimahi yang terbit antara tahun 1950 sampai tahun 1960, sehingga belum mengetahui, sejak kapan toponim Kampung Warungcontong, Jalan Warungcontong, dan Taman Waruncontong mulai ada dalam peta. 

Dalam Peta Rupabumi Indonesia Lembar Bandung dengan skala 1: 25.000 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Bogor, 2001, toponim (Kampung) Warungcontong sudah dipetakan, namun toponim jalan tidak ditulis. 

Toponim Jl Warungcontong sudah ditulis dalam Street Atlas Bandung, edisi 2004-2005 yang diterbitkan oleh Periplus, dan dalam Bandung Raya Map & Street Guide, yang diterbitkan PT BIP kelompok Gramedia, Jakarta 2009. Namun dalam kedua atlas itu penulisan toponim Jl Warungcontong di dua jalan yang berbeda.

Toponim Warungcontong ditulis dalam berita koran tahun 1922. Mungkin saja ada dalam berita sebelum itu yang tidak saya temukan. Kalau melihat peta-peta zaman Belanda, Kampung Warungcontong itu berada di luar batas wilayah yang direncanakan oleh Belanda, baik untuk Gedung-gedung tentara, maupun untuk gedung markasnya. Tampak jelas dalam peta jalan dan tata letak gedung-gedungnya, sudah diatur dengan rapi dan baik. Sementara kampung yang kemudian dinamai Warungcontoh, tumbuh tak berdasarkan perencanaan. Bila wilayah Kampung Warungcontong diplot dalam peta saat ini, di sebelah timurnya dibatasi Ci Bolang/Rs Dustira, di utara dibatasi Jl Warungcontong, dan di barat dibatasi jalan berarah utara selatan.

Lalu, apa yang menyebabkan perkampungan itu diberi nama Warungcontong? Ada yang menduga dengan menghubungkan arti kata contong pada taman kota yang bentuknya segitiga, yang sekarang dinamai Taman Contong. Padahal, bentuk segitiga seperti Taman Contong di kawasan militer Cimahi lebih dari dua jumlahnya.

Ada juga yang menafsirkan, dinamai Kampung Warungcontong, karena di sudut segitiga itu pada masa lalu terdapat warung, maka disebutlah Warungcontong, warung yang berada di sudut. 

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Berbeda dengan dua pendapat itu, saya menduga, toponim Warungcontong karena ada warung nasi yang lokasinya diperkirakan berada di sudut (selatan) antara ujung barat Jl Dustira dan ujung timur Jl Warungcontong. Letak yang sangat strategis dan mudah dikenali pada saat akan memasuki perkampungan. Di posisi itu sekarang ada toko kacamata. Di sanalah ada warung nasi untuk masyarakat kebanyakan, untuk pegawai pribumi yang bekerja di kantor-kantor militer Belanda dan di rumah sakit, serta untuk masyarakat umum yang harganya terjangkau. Agar terukur, nasinya sudah dibungkus daun pisang dengan bentuk contong, kerucut.

Warung nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk contong itu sangat kajojo, terkenal, viral, sehingga jalan yang berada di depan warung itu kemudian dinamai Jl Warungcontong. Begitu pun perkampungan yang lebih ke barat dari warung nasi itu kemudian dinamai Kampung Warungcontong. 

Sebagai bandingan, di tempat lain ada toponim yang memakai kata warung, seperti: Warungbandrek, Warungcaringin, Warungkondang, Warungmuncang, Warunglimus, Warungnangka, dan Warungkiara. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)