Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

7 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)

Sebelah barat Rumah Sakit Dustira, Kota Cimahi, ada Jalan Warungcontong. Bila mengikuti jalan itu ke barat kurang-lebih 390 m dari rumah sakit, di sana ada taman kota Warungcontong. Kedua toponim jalan dan taman itu berada di Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah. 

Namun, menurut Machmud Mubarok, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Cimahi, bahwa bukan hanya ada toponim Jalan Warungcontong dan Taman Warungcontong, tapi ada toponim Kampung Warungcontong, yang lokasinya di sebelah barat Rumah Sakit Dustira. Kampung itu masih ada sampai sekarang. 

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat. Jangan-jangan hanya ada di Kota Cimahi. Kata contong, saat ini tidak populer dalam Bahasa Sunda, bahkan tidak ada lema contong dalam kamus berbahasa Sunda. 

Sebagai bandingan, di Jawa Tengah ada toponim Contong di Widodaren, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Di Jawa Timur ada beberapa toponim yang memakai kata contong, seperti: Alun-alun Contong di Kecamatan Bubutan Surabaya. Ada juga di Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, dan di Kebotohan, Kecamatan Kraton Pasuruan. 

Dalam Bahasa Jawa, contong (conthong) berarti kerucut. Di Jawa Timur ada yang berjualan sego contong, nasi yang dibungkus daun pisang, bentuk bungkusnya kerucut. Misalnya: Sego Contong di Jl. Siguragura no. 21, Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, dan Warung Sego Contong di Jl. Tanjung no. 1, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Sego contong ini disajikan dengan menu utama: kering tempe, urab sayuran, daging ayam suwir, semur daging sapi, mi kuning, dan sambal.

Toponim Kampung Warungcontong, terdapat dalam berita di koran-koran zaman Belanda. Ini memberikan kejelasan, bahwa kampung itu sudah ada sebelum tahun pemuatan berita itu. Misalnya dalam koran De Sumatra post tanggal 22-02-1922. Dalam berita itu dituliskan tentang rabies di Cimahi. Ada seorang gadis dari sekolah pertama yang harus dirawat di rumah sakit karena rabies. Berita itu berdasar pada surat warga Cimahi tanggal 13 Februari 1922 yang ditujukan kepada P.8. Penulis surat mengabarkan, bahwa apa yang sudah lama diduga itu benar-benar menjadi kenyataan. Ada gadis yang digigit anjing. Kasus rabies berulang kali terjadi, namun bahaya penularan rabies belum dihentikan. Betapa orang-orang di sini menganggap sepele bahaya anjing. Kawanan anjing berkeliaran di sepanjang jalan, seperti di Kampung Gubuk, Baros, di belakang rumah sakit, Kerkhofweg, Warongcontong, dan di sepanjang jalan di belakang kamp, banyak sekali berkeliaran anjing liar (De Sumatra post, 22-02-1922).

Toponim Kampung Warungcontong terdapat dalam beberapa berita surat kabar, seperti yang dimuat dalam berita 22 November 1926, yang berjudul Kebakaran di Cimahi. Pada Sabtu pagi, alarm kebakaran berbunyi. Kebakaran terjadi di Kampung Warungcontong, yang berbatasan dengan rumah sakit militer. Mobil pemadam kebakaran segera datang, namun tidak banyak yang dapat diselamatkan. Keluarga-keluarga yang mengungsi di lereng tanggul kereta api tampak menyedihkan. Banyak yang kehilangan hampir semua harta bendanya. Kepala polisi sibuk menyelidiki dari mana api bermula dan apakah ada unsur kesengajaan. Atau, apakah kebakaran ini terkait dengan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini? Sekitar tiga puluh rumah hangus terbakar (Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1926).

Berita tanggal 14 Maret 1927 berjudul Kisah Brutal! Upaya Perampokan dan Penembakan. Pada 10 Maret 1927, sersan Verhagen yang tinggal di Warungcontong, mendengar suara gemerisik yang mencurigakan di salah satu jendela rumahnya. Ia mengambil sepotong besi sebagai senjata, dan pergi keluar untuk menyelidiki. Begitu berada di luar, ia melihat seorang penduduk berlari menuju lapangan terbuka di depan rumahnya. Ia segera mengejarnya dan berhasil memukulnya dengan besi. Pada saat yang sama, karena tidak memakai alas kaki, ia terpeleset, yang memungkinkan buronan itu melarikan diri (Delokomotif, 14 Maret 1927).

Berita tanggal 09 April 1932, memuat berita tentang tujuh kasus wabah pes di Cimahi, yang terjadi di Kecamatan Cimahi, distrik Cilengkrang, Warungcontong, dan Kebonkalapa di kecamatan Batujajar (De koerier, 09-04-1932).

Berita koran tanggal 24 September 1935, tentang pencuri sepeda yang tertangkap. Jumat lalu, D, seorang warga Gunung Bohong, melaporkan kepada polisi bahwa sepedanya telah dicuri. Sepedah itu oleh D diparkir di tribun lapangan sepakbola Velocitas, tempatnya bekerja. Kemarin, saat D pulang kerja, ia melihat seorang pria di Warungcontong yang mengendarai sepedanya. D menangkapnya dan menyerahkan orang itu kepada polisi. Investigasi polisi menetapkan bahwa pria itu bernama Bedor. Ia pencuri sepeda terkenal dan telah beberapa kali dipenjara karena mencuri sepeda (De koerier, 24-09-1935).

Dari berita yang dimuat di koran zaman Belanda antara tahun 1922 sampai tahun 1935 meyakinkan, bahwa toponim Kampung Warungcontong itu sudah ada sebelum tahun 1922. 

Penelusuran toponim Warungcontong dalam peta-peta lama tidak membuahkan hasil. Sangat mungkin karena dalam peta-peta lama hanya toponim perkampungan dan toponim jalan yang sangat penting yang dituliskan.  

Peta tertua yang tersedia dalam koleksi KITLV terbit tahun 1896 berjudul Cimahi, dengan skala 1:200.000. Peta yang diterbitkan oleh Joh. C. Stemlercz sudah mencantumkan Halte Cimahi, yang mulai beroperasi pada tanggal 17 Mei 1884. Sudah ada jalan tapi tidak dituliskan toponimnya, yang sekarang Jl Raya Baros dan Jl Gatot Subroto. Namun, gedung rumahsakit dan jalan di depan rumahsakit belum tercantum, padahal rumahsakit itu dibangun tahun 1887. Toponim Warungcontong dan jalan yang sejajar rel kereta api yang menuju perkampungan itu belum ada, begitupun jalan yang sekarang bernama Jl Sriwijaya Raya.

Peta berjudul Cimahi yang diterbitkan tahun 1933, hasil perbaikan dari peta terbitan tahun 1931. Dalam peta ini sudah ada garis jalan yang kini bernama Jl Warungcontong, dan sudah dipetakan segitiga yang kini menjadi taman kota Warungcontong, walaupun toponimnya tidak dituliskan. Sudah ada lapangan pacuan di sebelah utara Jl Warungcontong (sekarang) dan sebelah barat Jl Sriwijaya Raya (sekarang). Sudah ada rumah sakit (Rs Dustira sekarang), dan yang semula Halte Cimahi sudah ditulis Stasiun Cimahi. Di sebelah barat rumahsakit, dipisahkan oleh sungai dan jalan, sudah dipetakan lapangan tembak.

Saya belum mengamati peta-peta Cimahi yang terbit antara tahun 1950 sampai tahun 1960, sehingga belum mengetahui, sejak kapan toponim Kampung Warungcontong, Jalan Warungcontong, dan Taman Waruncontong mulai ada dalam peta. 

Dalam Peta Rupabumi Indonesia Lembar Bandung dengan skala 1: 25.000 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Bogor, 2001, toponim (Kampung) Warungcontong sudah dipetakan, namun toponim jalan tidak ditulis. 

Toponim Jl Warungcontong sudah ditulis dalam Street Atlas Bandung, edisi 2004-2005 yang diterbitkan oleh Periplus, dan dalam Bandung Raya Map & Street Guide, yang diterbitkan PT BIP kelompok Gramedia, Jakarta 2009. Namun dalam kedua atlas itu penulisan toponim Jl Warungcontong di dua jalan yang berbeda.

Toponim Warungcontong ditulis dalam berita koran tahun 1922. Mungkin saja ada dalam berita sebelum itu yang tidak saya temukan. Kalau melihat peta-peta zaman Belanda, Kampung Warungcontong itu berada di luar batas wilayah yang direncanakan oleh Belanda, baik untuk Gedung-gedung tentara, maupun untuk gedung markasnya. Tampak jelas dalam peta jalan dan tata letak gedung-gedungnya, sudah diatur dengan rapi dan baik. Sementara kampung yang kemudian dinamai Warungcontoh, tumbuh tak berdasarkan perencanaan. Bila wilayah Kampung Warungcontong diplot dalam peta saat ini, di sebelah timurnya dibatasi Ci Bolang/Rs Dustira, di utara dibatasi Jl Warungcontong, dan di barat dibatasi jalan berarah utara selatan.

Lalu, apa yang menyebabkan perkampungan itu diberi nama Warungcontong? Ada yang menduga dengan menghubungkan arti kata contong pada taman kota yang bentuknya segitiga, yang sekarang dinamai Taman Contong. Padahal, bentuk segitiga seperti Taman Contong di kawasan militer Cimahi lebih dari dua jumlahnya.

Ada juga yang menafsirkan, dinamai Kampung Warungcontong, karena di sudut segitiga itu pada masa lalu terdapat warung, maka disebutlah Warungcontong, warung yang berada di sudut. 

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Berbeda dengan dua pendapat itu, saya menduga, toponim Warungcontong karena ada warung nasi yang lokasinya diperkirakan berada di sudut (selatan) antara ujung barat Jl Dustira dan ujung timur Jl Warungcontong. Letak yang sangat strategis dan mudah dikenali pada saat akan memasuki perkampungan. Di posisi itu sekarang ada toko kacamata. Di sanalah ada warung nasi untuk masyarakat kebanyakan, untuk pegawai pribumi yang bekerja di kantor-kantor militer Belanda dan di rumah sakit, serta untuk masyarakat umum yang harganya terjangkau. Agar terukur, nasinya sudah dibungkus daun pisang dengan bentuk contong, kerucut.

Warung nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk contong itu sangat kajojo, terkenal, viral, sehingga jalan yang berada di depan warung itu kemudian dinamai Jl Warungcontong. Begitu pun perkampungan yang lebih ke barat dari warung nasi itu kemudian dinamai Kampung Warungcontong. 

Sebagai bandingan, di tempat lain ada toponim yang memakai kata warung, seperti: Warungbandrek, Warungcaringin, Warungkondang, Warungmuncang, Warunglimus, Warungnangka, dan Warungkiara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)