Sebelah barat Rumah Sakit Dustira, Kota Cimahi, ada Jalan Warungcontong. Bila mengikuti jalan itu ke barat kurang-lebih 390 m dari rumah sakit, di sana ada taman kota Warungcontong. Kedua toponim jalan dan taman itu berada di Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah.
Namun, menurut Machmud Mubarok, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Cimahi, bahwa bukan hanya ada toponim Jalan Warungcontong dan Taman Warungcontong, tapi ada toponim Kampung Warungcontong, yang lokasinya di sebelah barat Rumah Sakit Dustira. Kampung itu masih ada sampai sekarang.
Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat. Jangan-jangan hanya ada di Kota Cimahi. Kata contong, saat ini tidak populer dalam Bahasa Sunda, bahkan tidak ada lema contong dalam kamus berbahasa Sunda.
Sebagai bandingan, di Jawa Tengah ada toponim Contong di Widodaren, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Di Jawa Timur ada beberapa toponim yang memakai kata contong, seperti: Alun-alun Contong di Kecamatan Bubutan Surabaya. Ada juga di Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, dan di Kebotohan, Kecamatan Kraton Pasuruan.
Dalam Bahasa Jawa, contong (conthong) berarti kerucut. Di Jawa Timur ada yang berjualan sego contong, nasi yang dibungkus daun pisang, bentuk bungkusnya kerucut. Misalnya: Sego Contong di Jl. Siguragura no. 21, Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, dan Warung Sego Contong di Jl. Tanjung no. 1, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Sego contong ini disajikan dengan menu utama: kering tempe, urab sayuran, daging ayam suwir, semur daging sapi, mi kuning, dan sambal.
Toponim Kampung Warungcontong, terdapat dalam berita di koran-koran zaman Belanda. Ini memberikan kejelasan, bahwa kampung itu sudah ada sebelum tahun pemuatan berita itu. Misalnya dalam koran De Sumatra post tanggal 22-02-1922. Dalam berita itu dituliskan tentang rabies di Cimahi. Ada seorang gadis dari sekolah pertama yang harus dirawat di rumah sakit karena rabies. Berita itu berdasar pada surat warga Cimahi tanggal 13 Februari 1922 yang ditujukan kepada P.8. Penulis surat mengabarkan, bahwa apa yang sudah lama diduga itu benar-benar menjadi kenyataan. Ada gadis yang digigit anjing. Kasus rabies berulang kali terjadi, namun bahaya penularan rabies belum dihentikan. Betapa orang-orang di sini menganggap sepele bahaya anjing. Kawanan anjing berkeliaran di sepanjang jalan, seperti di Kampung Gubuk, Baros, di belakang rumah sakit, Kerkhofweg, Warongcontong, dan di sepanjang jalan di belakang kamp, banyak sekali berkeliaran anjing liar (De Sumatra post, 22-02-1922).
Toponim Kampung Warungcontong terdapat dalam beberapa berita surat kabar, seperti yang dimuat dalam berita 22 November 1926, yang berjudul Kebakaran di Cimahi. Pada Sabtu pagi, alarm kebakaran berbunyi. Kebakaran terjadi di Kampung Warungcontong, yang berbatasan dengan rumah sakit militer. Mobil pemadam kebakaran segera datang, namun tidak banyak yang dapat diselamatkan. Keluarga-keluarga yang mengungsi di lereng tanggul kereta api tampak menyedihkan. Banyak yang kehilangan hampir semua harta bendanya. Kepala polisi sibuk menyelidiki dari mana api bermula dan apakah ada unsur kesengajaan. Atau, apakah kebakaran ini terkait dengan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini? Sekitar tiga puluh rumah hangus terbakar (Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1926).
Berita tanggal 14 Maret 1927 berjudul Kisah Brutal! Upaya Perampokan dan Penembakan. Pada 10 Maret 1927, sersan Verhagen yang tinggal di Warungcontong, mendengar suara gemerisik yang mencurigakan di salah satu jendela rumahnya. Ia mengambil sepotong besi sebagai senjata, dan pergi keluar untuk menyelidiki. Begitu berada di luar, ia melihat seorang penduduk berlari menuju lapangan terbuka di depan rumahnya. Ia segera mengejarnya dan berhasil memukulnya dengan besi. Pada saat yang sama, karena tidak memakai alas kaki, ia terpeleset, yang memungkinkan buronan itu melarikan diri (Delokomotif, 14 Maret 1927).
Berita tanggal 09 April 1932, memuat berita tentang tujuh kasus wabah pes di Cimahi, yang terjadi di Kecamatan Cimahi, distrik Cilengkrang, Warungcontong, dan Kebonkalapa di kecamatan Batujajar (De koerier, 09-04-1932).
Berita koran tanggal 24 September 1935, tentang pencuri sepeda yang tertangkap. Jumat lalu, D, seorang warga Gunung Bohong, melaporkan kepada polisi bahwa sepedanya telah dicuri. Sepedah itu oleh D diparkir di tribun lapangan sepakbola Velocitas, tempatnya bekerja. Kemarin, saat D pulang kerja, ia melihat seorang pria di Warungcontong yang mengendarai sepedanya. D menangkapnya dan menyerahkan orang itu kepada polisi. Investigasi polisi menetapkan bahwa pria itu bernama Bedor. Ia pencuri sepeda terkenal dan telah beberapa kali dipenjara karena mencuri sepeda (De koerier, 24-09-1935).
Dari berita yang dimuat di koran zaman Belanda antara tahun 1922 sampai tahun 1935 meyakinkan, bahwa toponim Kampung Warungcontong itu sudah ada sebelum tahun 1922.
Penelusuran toponim Warungcontong dalam peta-peta lama tidak membuahkan hasil. Sangat mungkin karena dalam peta-peta lama hanya toponim perkampungan dan toponim jalan yang sangat penting yang dituliskan.
Peta tertua yang tersedia dalam koleksi KITLV terbit tahun 1896 berjudul Cimahi, dengan skala 1:200.000. Peta yang diterbitkan oleh Joh. C. Stemlercz sudah mencantumkan Halte Cimahi, yang mulai beroperasi pada tanggal 17 Mei 1884. Sudah ada jalan tapi tidak dituliskan toponimnya, yang sekarang Jl Raya Baros dan Jl Gatot Subroto. Namun, gedung rumahsakit dan jalan di depan rumahsakit belum tercantum, padahal rumahsakit itu dibangun tahun 1887. Toponim Warungcontong dan jalan yang sejajar rel kereta api yang menuju perkampungan itu belum ada, begitupun jalan yang sekarang bernama Jl Sriwijaya Raya.
Peta berjudul Cimahi yang diterbitkan tahun 1933, hasil perbaikan dari peta terbitan tahun 1931. Dalam peta ini sudah ada garis jalan yang kini bernama Jl Warungcontong, dan sudah dipetakan segitiga yang kini menjadi taman kota Warungcontong, walaupun toponimnya tidak dituliskan. Sudah ada lapangan pacuan di sebelah utara Jl Warungcontong (sekarang) dan sebelah barat Jl Sriwijaya Raya (sekarang). Sudah ada rumah sakit (Rs Dustira sekarang), dan yang semula Halte Cimahi sudah ditulis Stasiun Cimahi. Di sebelah barat rumahsakit, dipisahkan oleh sungai dan jalan, sudah dipetakan lapangan tembak.
Saya belum mengamati peta-peta Cimahi yang terbit antara tahun 1950 sampai tahun 1960, sehingga belum mengetahui, sejak kapan toponim Kampung Warungcontong, Jalan Warungcontong, dan Taman Waruncontong mulai ada dalam peta.
Dalam Peta Rupabumi Indonesia Lembar Bandung dengan skala 1: 25.000 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Bogor, 2001, toponim (Kampung) Warungcontong sudah dipetakan, namun toponim jalan tidak ditulis.
Toponim Jl Warungcontong sudah ditulis dalam Street Atlas Bandung, edisi 2004-2005 yang diterbitkan oleh Periplus, dan dalam Bandung Raya Map & Street Guide, yang diterbitkan PT BIP kelompok Gramedia, Jakarta 2009. Namun dalam kedua atlas itu penulisan toponim Jl Warungcontong di dua jalan yang berbeda.
Toponim Warungcontong ditulis dalam berita koran tahun 1922. Mungkin saja ada dalam berita sebelum itu yang tidak saya temukan. Kalau melihat peta-peta zaman Belanda, Kampung Warungcontong itu berada di luar batas wilayah yang direncanakan oleh Belanda, baik untuk Gedung-gedung tentara, maupun untuk gedung markasnya. Tampak jelas dalam peta jalan dan tata letak gedung-gedungnya, sudah diatur dengan rapi dan baik. Sementara kampung yang kemudian dinamai Warungcontoh, tumbuh tak berdasarkan perencanaan. Bila wilayah Kampung Warungcontong diplot dalam peta saat ini, di sebelah timurnya dibatasi Ci Bolang/Rs Dustira, di utara dibatasi Jl Warungcontong, dan di barat dibatasi jalan berarah utara selatan.
Lalu, apa yang menyebabkan perkampungan itu diberi nama Warungcontong? Ada yang menduga dengan menghubungkan arti kata contong pada taman kota yang bentuknya segitiga, yang sekarang dinamai Taman Contong. Padahal, bentuk segitiga seperti Taman Contong di kawasan militer Cimahi lebih dari dua jumlahnya.
Ada juga yang menafsirkan, dinamai Kampung Warungcontong, karena di sudut segitiga itu pada masa lalu terdapat warung, maka disebutlah Warungcontong, warung yang berada di sudut.
Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang
Berbeda dengan dua pendapat itu, saya menduga, toponim Warungcontong karena ada warung nasi yang lokasinya diperkirakan berada di sudut (selatan) antara ujung barat Jl Dustira dan ujung timur Jl Warungcontong. Letak yang sangat strategis dan mudah dikenali pada saat akan memasuki perkampungan. Di posisi itu sekarang ada toko kacamata. Di sanalah ada warung nasi untuk masyarakat kebanyakan, untuk pegawai pribumi yang bekerja di kantor-kantor militer Belanda dan di rumah sakit, serta untuk masyarakat umum yang harganya terjangkau. Agar terukur, nasinya sudah dibungkus daun pisang dengan bentuk contong, kerucut.
Warung nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk contong itu sangat kajojo, terkenal, viral, sehingga jalan yang berada di depan warung itu kemudian dinamai Jl Warungcontong. Begitu pun perkampungan yang lebih ke barat dari warung nasi itu kemudian dinamai Kampung Warungcontong.
Sebagai bandingan, di tempat lain ada toponim yang memakai kata warung, seperti: Warungbandrek, Warungcaringin, Warungkondang, Warungmuncang, Warunglimus, Warungnangka, dan Warungkiara. (*)
