Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

9 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan
Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)

Pernikahan selalu menjadi momen yang membahagiakan sekaligus bersejarah dalam hidup manusia. Dua orang dipertemukan dalam satu ikatan, membawa harapan panjang tentang rumah tangga yang tenang, romantis, dan penuh cinta. Tidak heran jika dalam budaya masyarakat kita, ucapan yang paling sering terdengar kepada pengantin baru adalah: “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.”

Namun menariknya, jika diperhatikan lebih dalam, tujuan utama pernikahan dalam Islam sejatinya bukan mawaddah ataupun rahmah. Tujuan utamanya adalah sakinah, ketenteraman hati.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Surah Ar-Rum:

لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ
“Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Allah menggunakan kalimat litaskunuu ilaiha, agar kalian merasa tenteram kepadanya. Allah tidak menggunakan lafazh litaskunuu li mawaddah wa rahmah. Sehingga, tujuan besar dalam rumah tangga itu adalah sakinah, ketenangan jiwa.

Lalu bagaimana cara mencapai ketenteraman itu?

Barulah Allah menjelaskan jalannya: dengan mawaddah dan rahmah. Mawaddah adalah rasa cinta. Rahmah adalah kasih sayang. Keduanya merupakan modal untuk mencapai ketenteraman dalam rumah tangga.

Masalahnya, banyak orang memasuki pernikahan hanya dengan membawa mawaddah, tetapi lupa mempersiapkan rahmah. Akibatnya, ketika rasa cinta mulai naik turun, rumah tangga ikut goyah.

Padahal hidup, termasuk kehidupan rumah tangga, tidak pernah berjalan lurus terus menerus sesuai keinginan manusia.

Ada kalanya senang, ada kalanya susah. Kadang seseorang tertawa hari ini, lalu menangis esok hari. Kadang pasangan terasa sangat cocok, lalu beberapa waktu kemudian justru terasa asing.

Dalam bahasa Al-Qur'an, dua keadaan ini dapat dipahami sebagai hasanah dan sayyiah.

Hasanah adalah maa tasytahi biha nafsu, sesuatu yang sesuai dengan keinginan jiwa manusia. Sedangkan sayyiah adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

Karena itu, sehat belum tentu menjadi hasanah. Jika kesehatan adalah sesuatu yang diinginkan seseorang, maka itu menjadi hasanah baginya. Tetapi jika keadaan sehat justru menghalangi keinginannya, maka ia bisa memandangnya sebagai sesuatu yang buruk.

Begitu pula sakit. Secara umum sakit dianggap jelek. Tetapi anak kecil yang tidak ingin pergi sekolah rela pura-pura sakit demi tetap tinggal di rumah. Mengapa? Karena dalam kondisi tertentu, sakit justru sesuai dengan keinginannya.

Artinya, bukan sehat yang otomatis baik, bukan sakit yang otomatis buruk. Yang menentukan adalah bagaimana manusia memandang keadaan tersebut.

Begitu pula dalam rumah tangga.

Di awal pernikahan, terutama tiga sampai enam bulan pertama, banyak pasangan masih hidup dalam fase romantisasi. Masakan yang terlalu asin tetap dipuji enak. Kopi pahit terasa manis. Kekurangan pasangan tertutupi oleh rasa cinta yang masih meluap-luap.

Tetapi waktu perlahan membuka kenyataan.

Rumah tangga ternyata bukan hanya tentang cinta, melainkan tentang menghadapi manusia lain dengan segala kekurangan dan perbedaannya. Ada masa ketika pasangan tidak lagi sesuai dengan ekspektasi yang kita bangun sendiri di kepala.

Dan ketika momen itu datang, sebagian orang mulai mengeluh:

“Kalau tahu begini, dulu saya tidak akan memilih dia.”
“Capek.”
“Bosan.”
“Menyesal.”

Padahal Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa hidup memang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia. Bahkan hidup ini bukan sepenuhnya pilihan kita.

Kalau hidup sepenuhnya pilihan manusia, tentu semua orang ingin kaya selamanya, sehat selamanya, bahagia selamanya, kuat selamanya. Tidak ada orang yang ingin gagal, kehilangan, atau bersedih.

Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Hadid ayat 22:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِىْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِىْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
“Apapun yang menimpa kamu, dan yang menimpa di muka bumi ini sudah Aku tetapkan, tertulis dalam Kitab sebelum kejadian itu terjadi. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”

Ayat ini bukan mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha. Ayat ini sedang mengajari manusia agar tidak hancur oleh ekspektasinya sendiri. Sebab banyak depresi lahir bukan semata karena hidupnya sulit, tetapi karena manusia terlalu yakin bahwa hidup harus berjalan sesuai skenario yang ia buat di kepalanya.

Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)
Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)

Dalam kehidupan modern, manusia sering diajarkan bahwa semua hasil sepenuhnya bergantung pada usaha. “Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” begitu kata banyak orang. Kalimat itu memang terdengar memotivasi. Tetapi hidup ternyata tidak sesederhana rumus matematika.

Ada orang membuka usaha restoran dengan modal besar, rasa makanan yang enak, lokasi strategis, promosi maksimal, lalu sukses besar. Logika kita menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Ada pula orang membuka usaha asal-asalan, modal kecil, rasa makanan buruk, tanpa promosi, lalu gagal total. Itu pun logika kita anggap wajar.

Namun kehidupan sering menghadirkan kasus ketiga: seseorang yang sudah berusaha sangat serius, modal besar, rasa makanan luar biasa, tempat strategis, promosi di mana-mana, tetapi tetap gagal.

Di sinilah logika manusia menemukan batasnya.

Ternyata tidak semua hal dapat dijelaskan hanya dengan kerja keras dan kecerdasan. Ada campur tangan Allah yang bekerja di luar jangkauan akal manusia.

Sebagian orang kemudian jatuh pada pemikiran yang terlalu mengagungkan logika dan tenaga manusia. Ketika gagal, mereka mulai menyalahkan keadaan, lingkungan, bahkan mencari jawaban kepada hal-hal mistis.

Tetapi di sisi lain, ada pula orang yang salah memahami takdir. Mereka merasa karena rezeki sudah diatur Allah, maka usaha tidak lagi penting. Akhirnya akal menjadi malas, tidak kreatif, dan menjadikan agama sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan dua ekstrem itu.

Islam hadir sebagai ummatan wasathan, agama penengah.

Manusia diperintahkan untuk berusaha, tetapi juga diajarkan bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah. Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Anbiya ayat 35:

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”

Ternyata sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, memiliki anak ataupun belum memiliki anak, semuanya sama di hadapan Allah: ujian.

Lalu apa yang diuji?

Jika seseorang ditimpa hasanah, Nabi mengajarkan dua kemungkinan: aasykuru am akfuru apakah ia mau bersyukur atau kufur?

Dan jika seseorang ditimpa sayyiah: ashbiru am aqnuth, apakah ia mau bersabar atau putus asa?

Di sinilah letak kedewasaan seorang Muslim. Bukan pada seberapa sempurna hidupnya, tetapi bagaimana ia bersikap terhadap keadaan hidupnya.

Karena itu Islam memerintahkan manusia untuk berikhtiyar. Menariknya, kata ikhtiyar berasal dari akar kata khair, kebaikan. Artinya, usaha yang benar dalam Islam bukan sekadar bekerja keras, tetapi berusaha melalui jalan yang baik.

Menipu, mencuri, korupsi, memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi itu mungkin menghasilkan uang, tetapi bukan ikhtiyar dalam pandangan Islam karena hal tersebut merupakan usaha yang salah, atau juga disebut sebagai isytiror yang akar katanya dari syarrun.

Karena itulah Nabi bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Alangkah mengagumkan urusan orang beriman. Semua urusannya berakhir menjadi kebaikan baginya.”

Mengapa orang mukmin selalu berakhir dalam kebaikan?

Karena ketika ia diberi kebahagiaan, ia bersyukur tanpa menjadi sombong. Ketika memiliki tanah, ia tidak mengambil tanah milik orang lain. Ketika diberi rezeki, ia tidak lupa diri.

Dan ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar tanpa menjadi jahat. Seorang petani yang lapar sekalipun tidak akan mencangkul tanah milik orang lain walau hanya satu jengkal.

Di situlah keberadaan seorang mukmin selalu melahirkan kebaikan bagi sekitarnya.

Sebagaimana Nabi melanjutkan sabdanya:

وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Tatkala seorang mukmin ditimpa kebahagiaan lalu ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Dan jika ia ditimpa kesusahan lalu bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”

Masalahnya, dalam budaya kita, syukur sering dipersempit hanya menjadi prosesi syukuran atau pesta makanan.

Padahal jika syukur dimaknai sekadar pesta, bagaimana memahami firman Allah dalam surat Surah Ibrahim: “Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepadamu.”

Apakah artinya menjadi: “Jika kamu mengadakan pesta maka Aku tambah nikmatmu”? Tentu bukan.

Karena syukur dan sabar dalam Islam sejatinya adalah ibadah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Maka hakikat syukur dan sabar adalah istiqamah dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Tetap baik ketika bahagia. Tetap jujur ketika susah. Tetap menjaga iman ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Dan inilah yang sebenarnya dititipkan Nabi dalam doa pernikahan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Dalam doa ini, Nabi menggunakan dua huruf yang sangat indah secara balaghah: laka dan ‘alaika.

Huruf lam pada kata laka sering digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang menyenangkan, ringan, dan menguntungkan. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan menyertaimu saat kamu berada dalam kebahagiaan.”

Lalu Nabi melanjutkan dengan: wa baaraka ‘alaika.

Huruf ‘ala dalam bahasa Arab sering digunakan untuk sesuatu yang berat, sulit, dan penuh tanggung jawab. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan juga menyertaimu saat kamu berada dalam kesulitan.”

Artinya, keberkahan rumah tangga bukan hanya ketika tertawa bersama, tetapi juga ketika mampu bersabar bersama.

Jika pasangan sudah terbiasa mampu bersyukur saat lapang dan bersabar saat sempit, maka jangan heran jika rumah tangga mereka akhirnya sampai pada doa penutup Nabi:

وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Dan Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

Betapa indahnya rumah tangga yang terus melahirkan kebaikan dalam setiap keadaan. Maka doa pernikahan yang pendek ini ternyata perjalanan dan perjuangannya sangat jauh dan luas, maka dalam Islam kita semua diajarkan meminta dengan cara berdo'a bukan dengan jampe.

Karena do'a lahir dari ucapan yang dipahami maknanya, permintaan yang yang harus diperjuangkan dalam ikhtiyar. Sedangkan jampe adalah ungkapan yang hanya sebatas diucapkan dilisan tanpa dipahami maknanya, dan permintaan yang tidak diiringi oleh usaha yang baik (ikhtiyar).

Namun ada satu hal terakhir yang perlu dipahami setiap pasangan: rasa bosan itu fitrah.

Sebagaimana seseorang lebih tertarik pada pakaian baru dibanding pakaian lama yang sering dilihat, demikian pula manusia terhadap pasangannya.

Karena itu rumah tangga membutuhkan kreativitas: memperindah diri, memperbaiki penampilan, menjaga sikap.

Tetapi ingat bahwa kreativitas fisik memiliki batas.

Kecantikan akan biasa. Ketampanan akan terbiasa. Apa pun yang lahir dari fisik akan dibatasi ruang dan waktu. Inilah yang disebut mawaddah, cinta yang lahir dari penglihatan.

Karena itu Allah tidak hanya memberi mawaddah, tetapi juga rahmah.

Rahmah lahir bukan dari mata, melainkan dari hati. Ia hadir dalam akhlak, perhatian, suara yang lembut, kesetiaan, pengorbanan, dan manfaat yang diberikan kepada pasangan.

Dan mungkin karena itulah Nabi Muhammad begitu sulit melupakan Khadijah binti Khuwailid setelah wafatnya beliau. Nabi tidak hanya mencintai kecantikannya, tetapi mengingat rahmah-nya: perjuangannya membantu dakwah, kesetiaannya, pengorbanannya, kasih sayangnya.

Dari sinilah kita memahami bahwa rahmah adalah salah satu modal terbesar dalam rumah tangga.

Sebab manusia pada hakikatnya selalu mencari manfaat dan ketenangan hati.

Karena itu, jika kita takut pasangan berpaling karena kecantikan orang lain atau kekayaan orang lain, barangkali yang perlu dibenahi bukan sekadar penampilan, tetapi apakah kita sudah menjadi rahmah bagi pasangan kita.

Apakah keberadaan kita benar-benar menghadirkan manfaat?
Apakah pasangan merasa tenang ketika bersama kita?
Apakah akhlak kita menyentuh hatinya?

Karena pada akhirnya, rumah tangga tidak akan bertahan hanya dengan cinta yang lahir dari mata.

Rumah tangga bertahan karena ada rahmah, kasih sayang yang lahir dari hati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)