Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

9 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan
Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)

Pernikahan selalu menjadi momen yang membahagiakan sekaligus bersejarah dalam hidup manusia. Dua orang dipertemukan dalam satu ikatan, membawa harapan panjang tentang rumah tangga yang tenang, romantis, dan penuh cinta. Tidak heran jika dalam budaya masyarakat kita, ucapan yang paling sering terdengar kepada pengantin baru adalah: “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.”

Namun menariknya, jika diperhatikan lebih dalam, tujuan utama pernikahan dalam Islam sejatinya bukan mawaddah ataupun rahmah. Tujuan utamanya adalah sakinah, ketenteraman hati.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Surah Ar-Rum:

لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ
“Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Allah menggunakan kalimat litaskunuu ilaiha, agar kalian merasa tenteram kepadanya. Allah tidak menggunakan lafazh litaskunuu li mawaddah wa rahmah. Sehingga, tujuan besar dalam rumah tangga itu adalah sakinah, ketenangan jiwa.

Lalu bagaimana cara mencapai ketenteraman itu?

Barulah Allah menjelaskan jalannya: dengan mawaddah dan rahmah. Mawaddah adalah rasa cinta. Rahmah adalah kasih sayang. Keduanya merupakan modal untuk mencapai ketenteraman dalam rumah tangga.

Masalahnya, banyak orang memasuki pernikahan hanya dengan membawa mawaddah, tetapi lupa mempersiapkan rahmah. Akibatnya, ketika rasa cinta mulai naik turun, rumah tangga ikut goyah.

Padahal hidup, termasuk kehidupan rumah tangga, tidak pernah berjalan lurus terus menerus sesuai keinginan manusia.

Ada kalanya senang, ada kalanya susah. Kadang seseorang tertawa hari ini, lalu menangis esok hari. Kadang pasangan terasa sangat cocok, lalu beberapa waktu kemudian justru terasa asing.

Dalam bahasa Al-Qur'an, dua keadaan ini dapat dipahami sebagai hasanah dan sayyiah.

Hasanah adalah maa tasytahi biha nafsu, sesuatu yang sesuai dengan keinginan jiwa manusia. Sedangkan sayyiah adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

Karena itu, sehat belum tentu menjadi hasanah. Jika kesehatan adalah sesuatu yang diinginkan seseorang, maka itu menjadi hasanah baginya. Tetapi jika keadaan sehat justru menghalangi keinginannya, maka ia bisa memandangnya sebagai sesuatu yang buruk.

Begitu pula sakit. Secara umum sakit dianggap jelek. Tetapi anak kecil yang tidak ingin pergi sekolah rela pura-pura sakit demi tetap tinggal di rumah. Mengapa? Karena dalam kondisi tertentu, sakit justru sesuai dengan keinginannya.

Artinya, bukan sehat yang otomatis baik, bukan sakit yang otomatis buruk. Yang menentukan adalah bagaimana manusia memandang keadaan tersebut.

Begitu pula dalam rumah tangga.

Di awal pernikahan, terutama tiga sampai enam bulan pertama, banyak pasangan masih hidup dalam fase romantisasi. Masakan yang terlalu asin tetap dipuji enak. Kopi pahit terasa manis. Kekurangan pasangan tertutupi oleh rasa cinta yang masih meluap-luap.

Tetapi waktu perlahan membuka kenyataan.

Rumah tangga ternyata bukan hanya tentang cinta, melainkan tentang menghadapi manusia lain dengan segala kekurangan dan perbedaannya. Ada masa ketika pasangan tidak lagi sesuai dengan ekspektasi yang kita bangun sendiri di kepala.

Dan ketika momen itu datang, sebagian orang mulai mengeluh:

“Kalau tahu begini, dulu saya tidak akan memilih dia.”
“Capek.”
“Bosan.”
“Menyesal.”

Padahal Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa hidup memang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia. Bahkan hidup ini bukan sepenuhnya pilihan kita.

Kalau hidup sepenuhnya pilihan manusia, tentu semua orang ingin kaya selamanya, sehat selamanya, bahagia selamanya, kuat selamanya. Tidak ada orang yang ingin gagal, kehilangan, atau bersedih.

Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Hadid ayat 22:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِىْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِىْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
“Apapun yang menimpa kamu, dan yang menimpa di muka bumi ini sudah Aku tetapkan, tertulis dalam Kitab sebelum kejadian itu terjadi. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”

Ayat ini bukan mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha. Ayat ini sedang mengajari manusia agar tidak hancur oleh ekspektasinya sendiri. Sebab banyak depresi lahir bukan semata karena hidupnya sulit, tetapi karena manusia terlalu yakin bahwa hidup harus berjalan sesuai skenario yang ia buat di kepalanya.

Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)
Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)

Dalam kehidupan modern, manusia sering diajarkan bahwa semua hasil sepenuhnya bergantung pada usaha. “Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” begitu kata banyak orang. Kalimat itu memang terdengar memotivasi. Tetapi hidup ternyata tidak sesederhana rumus matematika.

Ada orang membuka usaha restoran dengan modal besar, rasa makanan yang enak, lokasi strategis, promosi maksimal, lalu sukses besar. Logika kita menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Ada pula orang membuka usaha asal-asalan, modal kecil, rasa makanan buruk, tanpa promosi, lalu gagal total. Itu pun logika kita anggap wajar.

Namun kehidupan sering menghadirkan kasus ketiga: seseorang yang sudah berusaha sangat serius, modal besar, rasa makanan luar biasa, tempat strategis, promosi di mana-mana, tetapi tetap gagal.

Di sinilah logika manusia menemukan batasnya.

Ternyata tidak semua hal dapat dijelaskan hanya dengan kerja keras dan kecerdasan. Ada campur tangan Allah yang bekerja di luar jangkauan akal manusia.

Sebagian orang kemudian jatuh pada pemikiran yang terlalu mengagungkan logika dan tenaga manusia. Ketika gagal, mereka mulai menyalahkan keadaan, lingkungan, bahkan mencari jawaban kepada hal-hal mistis.

Tetapi di sisi lain, ada pula orang yang salah memahami takdir. Mereka merasa karena rezeki sudah diatur Allah, maka usaha tidak lagi penting. Akhirnya akal menjadi malas, tidak kreatif, dan menjadikan agama sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan dua ekstrem itu.

Islam hadir sebagai ummatan wasathan, agama penengah.

Manusia diperintahkan untuk berusaha, tetapi juga diajarkan bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah. Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Anbiya ayat 35:

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”

Ternyata sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, memiliki anak ataupun belum memiliki anak, semuanya sama di hadapan Allah: ujian.

Lalu apa yang diuji?

Jika seseorang ditimpa hasanah, Nabi mengajarkan dua kemungkinan: aasykuru am akfuru apakah ia mau bersyukur atau kufur?

Dan jika seseorang ditimpa sayyiah: ashbiru am aqnuth, apakah ia mau bersabar atau putus asa?

Di sinilah letak kedewasaan seorang Muslim. Bukan pada seberapa sempurna hidupnya, tetapi bagaimana ia bersikap terhadap keadaan hidupnya.

Karena itu Islam memerintahkan manusia untuk berikhtiyar. Menariknya, kata ikhtiyar berasal dari akar kata khair, kebaikan. Artinya, usaha yang benar dalam Islam bukan sekadar bekerja keras, tetapi berusaha melalui jalan yang baik.

Menipu, mencuri, korupsi, memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi itu mungkin menghasilkan uang, tetapi bukan ikhtiyar dalam pandangan Islam karena hal tersebut merupakan usaha yang salah, atau juga disebut sebagai isytiror yang akar katanya dari syarrun.

Karena itulah Nabi bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Alangkah mengagumkan urusan orang beriman. Semua urusannya berakhir menjadi kebaikan baginya.”

Mengapa orang mukmin selalu berakhir dalam kebaikan?

Karena ketika ia diberi kebahagiaan, ia bersyukur tanpa menjadi sombong. Ketika memiliki tanah, ia tidak mengambil tanah milik orang lain. Ketika diberi rezeki, ia tidak lupa diri.

Dan ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar tanpa menjadi jahat. Seorang petani yang lapar sekalipun tidak akan mencangkul tanah milik orang lain walau hanya satu jengkal.

Di situlah keberadaan seorang mukmin selalu melahirkan kebaikan bagi sekitarnya.

Sebagaimana Nabi melanjutkan sabdanya:

وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Tatkala seorang mukmin ditimpa kebahagiaan lalu ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Dan jika ia ditimpa kesusahan lalu bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”

Masalahnya, dalam budaya kita, syukur sering dipersempit hanya menjadi prosesi syukuran atau pesta makanan.

Padahal jika syukur dimaknai sekadar pesta, bagaimana memahami firman Allah dalam surat Surah Ibrahim: “Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepadamu.”

Apakah artinya menjadi: “Jika kamu mengadakan pesta maka Aku tambah nikmatmu”? Tentu bukan.

Karena syukur dan sabar dalam Islam sejatinya adalah ibadah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Maka hakikat syukur dan sabar adalah istiqamah dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Tetap baik ketika bahagia. Tetap jujur ketika susah. Tetap menjaga iman ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Dan inilah yang sebenarnya dititipkan Nabi dalam doa pernikahan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Dalam doa ini, Nabi menggunakan dua huruf yang sangat indah secara balaghah: laka dan ‘alaika.

Huruf lam pada kata laka sering digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang menyenangkan, ringan, dan menguntungkan. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan menyertaimu saat kamu berada dalam kebahagiaan.”

Lalu Nabi melanjutkan dengan: wa baaraka ‘alaika.

Huruf ‘ala dalam bahasa Arab sering digunakan untuk sesuatu yang berat, sulit, dan penuh tanggung jawab. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan juga menyertaimu saat kamu berada dalam kesulitan.”

Artinya, keberkahan rumah tangga bukan hanya ketika tertawa bersama, tetapi juga ketika mampu bersabar bersama.

Jika pasangan sudah terbiasa mampu bersyukur saat lapang dan bersabar saat sempit, maka jangan heran jika rumah tangga mereka akhirnya sampai pada doa penutup Nabi:

وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Dan Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

Betapa indahnya rumah tangga yang terus melahirkan kebaikan dalam setiap keadaan. Maka doa pernikahan yang pendek ini ternyata perjalanan dan perjuangannya sangat jauh dan luas, maka dalam Islam kita semua diajarkan meminta dengan cara berdo'a bukan dengan jampe.

Karena do'a lahir dari ucapan yang dipahami maknanya, permintaan yang yang harus diperjuangkan dalam ikhtiyar. Sedangkan jampe adalah ungkapan yang hanya sebatas diucapkan dilisan tanpa dipahami maknanya, dan permintaan yang tidak diiringi oleh usaha yang baik (ikhtiyar).

Namun ada satu hal terakhir yang perlu dipahami setiap pasangan: rasa bosan itu fitrah.

Sebagaimana seseorang lebih tertarik pada pakaian baru dibanding pakaian lama yang sering dilihat, demikian pula manusia terhadap pasangannya.

Karena itu rumah tangga membutuhkan kreativitas: memperindah diri, memperbaiki penampilan, menjaga sikap.

Tetapi ingat bahwa kreativitas fisik memiliki batas.

Kecantikan akan biasa. Ketampanan akan terbiasa. Apa pun yang lahir dari fisik akan dibatasi ruang dan waktu. Inilah yang disebut mawaddah, cinta yang lahir dari penglihatan.

Karena itu Allah tidak hanya memberi mawaddah, tetapi juga rahmah.

Rahmah lahir bukan dari mata, melainkan dari hati. Ia hadir dalam akhlak, perhatian, suara yang lembut, kesetiaan, pengorbanan, dan manfaat yang diberikan kepada pasangan.

Dan mungkin karena itulah Nabi Muhammad begitu sulit melupakan Khadijah binti Khuwailid setelah wafatnya beliau. Nabi tidak hanya mencintai kecantikannya, tetapi mengingat rahmah-nya: perjuangannya membantu dakwah, kesetiaannya, pengorbanannya, kasih sayangnya.

Dari sinilah kita memahami bahwa rahmah adalah salah satu modal terbesar dalam rumah tangga.

Sebab manusia pada hakikatnya selalu mencari manfaat dan ketenangan hati.

Karena itu, jika kita takut pasangan berpaling karena kecantikan orang lain atau kekayaan orang lain, barangkali yang perlu dibenahi bukan sekadar penampilan, tetapi apakah kita sudah menjadi rahmah bagi pasangan kita.

Apakah keberadaan kita benar-benar menghadirkan manfaat?
Apakah pasangan merasa tenang ketika bersama kita?
Apakah akhlak kita menyentuh hatinya?

Karena pada akhirnya, rumah tangga tidak akan bertahan hanya dengan cinta yang lahir dari mata.

Rumah tangga bertahan karena ada rahmah, kasih sayang yang lahir dari hati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)