Bandung kembali membiru dalam romantisme kejayaan yang selalu dinanti publik Jawa Barat. Keberhasilan Persib Bandung meraih trofi kasta tertinggi sepak bola Indonesia langsung disambut pesta besar-besaran. Euforia ini pun diresmikan secara elegan oleh manajemen Persib melalui acara "Ngariung Juara", sebuah acara untuk silaturahmi dan syukuran bersama para mitra yang menyokong operasional klub sepanjang musim. Bagi warga Jawa Barat, khususnya Bobotoh, Persib bukan sekadar sebelas pemain di lapangan hijau, melainkan identitas komunal, kebanggaan kultural, sekaligus pemersatu warga Bandung.
Oleh karena itu, momentum juara yang berhasil direbut setelah perjuangan panjang dan melelahkan sepanjang musim memang sudah selayaknya dirayakan oleh seluruh pencinta Maung Bandung.
Gelar juara Super League 2025/2026 ini terasa sangat istimewa karena mencatatkan sejarah baru yang luar biasa. Persib menjadi klub Indonesia pertama yang mampu meraih gelar juara tiga musim beruntun (hat-trick). Kepastian takhta tertinggi ini didapat setelah mereka bermain imbang melawan Persijap Jepara di pekan terakhir. Keberhasilan bersejarah itu langsung disambut ribuan Bobotoh dengan iring-iringan di jalanan Kota Bandung. Rute arak-arakan resmi sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa, dimulai dari Gedung Sate, melintasi titik-titik ikonik seperti Jalan Asia Afrika, dan berakhir di Pendopo Kota Bandung.
Namun, perayaan yang telah dirancang rapi justru berubah kacau di lapangan. Begitu piala dipastikan pulang ke tanah Pasundan, luapan kebahagiaan massa langsung tumpah ruah dan lepas kendali di luar rute yang ditentukan. Di balik terangnya nyala flare dan gegap gempita klakson kendaraan, Kota Bandung justru menyimpan duka yang mendalam. Pesta rakyat yang awalnya diniatkan untuk mengapresiasi sejarah baru sepak bola kita, dengan cepat berubah menjadi anarki jalanan karena aturan keselamatan berkendara diabaikan secara berjamaah. Kegilaan perayaan ini pada akhirnya harus dibayar dengan harga yang teramat mahal: nyawa manusia.
Di balik konvoi tersebut, tersimpan tragedi yang kelam, sebuah tragedi yang mencatatkan dua korban tewas dan sedikitnya 122 orang mengalami kecelakaan lalu lintas. Dari ratusan korban tersebut, puluhan di antaranya terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat luka serius, yang lebih memilukan menyebutkan bahwa salah satu insiden fatal dipicu oleh oknum suporter yang nekat berkendara di bawah pengaruh alkohol. Petugas kebersihan bahkan mengamankan sampah botol minuman keras hingga memenuhi satu mobil pikap penuh di area publik. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa euforia tanpa batas telah menjelma menjadi tragedi kemanusiaan yang mengerikan.

Ketika Fanatisme Berubah Menjadi Kericuhan
Dampak destruktif dari konvoi ini nyatanya tidak hanya menyisakan trauma di aspal jalanan, tetapi juga berbuntut panjang di ruang digital. Platform media sosial seperti TikTok seketika dibanjiri oleh video-video amatir yang merekam sisi gelap perayaan tersebut dari sudut pandang warga biasa. Alih-alih dipenuhi konten visual yang estetik tentang kemenangan, halaman For Your Page (FYP) justru didominasi oleh rekaman mencekam: aksi saling lempar, perusakan fasilitas umum, pengendara motor yang ugal-ugalan tanpa helm, hingga kericuhan antarkelompok di beberapa titik kota. Video-video tersebut memicu gelombang kecaman dari publik yang muak terhadap anarki atas nama loyalitas.
Kekecewaan masyarakat umum kian memuncak di kolom komentar TikTok. Suara-suara jengkel yang menuntut perubahan drastis mulai menggema, seperti kalimat, "Tahun depan jangan konvoi...malu-maluin" Sesama warga Bandung pun merasa martabat kotanya sedang dipertaruhkan, tercermin dari ungkapan kekecewaan mendalam seperti, "ngerakeun pisan (memalukan sekali)”, klubnya berprestasi tapi suporternya tidak beradab. Netizen di TikTok seraya mengingatkan sebuah prinsip etika mendasar yang sangat sederhana namun sering kali dilupakan: "merayakan boleh, tapi jangan merugikan orang lain." Ungkapan-ungkapan ini adalah potret kejujuran dari warga yang hak kenyamanan, hak bekerja, dan hak keamanannya dirampas begitu saja atas dalih fanatisme sepak bola.
Lebih memprihatinkan lagi ketika adanya respons defensif dan egosentris dari sebagian oknum suporter yang membalas kritik tersebut di kolom komentar. Alih-alih berefleksi atau menunjukkan rasa empati terhadap para korban dan pengguna jalan yang telantar, keluhan objektif masyarakat justru dimentahkan dengan narasi arogan sejenis, "Persib mah bebas da juara!" atau "Juara mah bebas, macet sakieu mah wajar!". Ungkapan tersebut menunjukkan mentalitas yang keliru. Status juara seolah dianggap sebagai pembenaran untuk melanggar aturan, membuat kericuhan, dan mengintimidasi kenyamanan warga kota lainnya. Menjadikan nama besar Persib sebagai tameng untuk bertindak semena-mena di jalanan justru mencoreng nilai kesantunan masyarakat Sunda.

Trofi Emas Ternoda Darah dan Air Mata
Krisis sosial dan kericuhan masif yang terekam di jalanan maupun jagat maya ini akhirnya memicu reaksi keras dari Pemerintah Kota Bandung. Menanggapi situasi yang dinilai sudah tidak kondusif, pemerintah daerah terpaksa mengambil keputusan taktis yang sangat tegas, yakni menghentikan sementara seluruh izin acara publik berskala besar yang melibatkan massa Persib. Langkah berani ini diambil karena fakta di lapangan sudah tidak bisa ditoleransi lagi; ratusan korban luka bergelimpangan dan hilangnya nyawa di jalanan menjadi bukti betapa mahalnya harga sebuah piala yang harus ditebus.

Sangat ironis ketika sebuah pencapaian sejarah besar berupa hat-trick juara yang begitu agung di lapangan hijau, harus dinodai oleh perilaku barbar sekelompok oknum di ruang publik. Menang memang sudah selayaknya dirayakan dengan penuh kebanggaan, namun meluapkannya dengan cara yang anarkis hingga merenggut hak hidup dan kenyamanan sesama adalah sebuah kesesatan berpikir.
Sudah saatnya manajemen klub dan pemerintah daerah merombak total kultur selebrasi liar ini, dengan memindahkan pusat perayaan ke tempat yang lebih terstruktur dan terlokalisasi, seperti memusatkan pesta juara di Stadion GBLA atau Stadion Siliwangi lewat format festival resmi yang tertib dan terkontrol. Langkah ini tidak hanya akan menyelamatkan wajah Bandung di mata publik, tetapi yang paling utama adalah menyelamatkan nyawa manusia.
Kita semua harus menyadari satu prinsip kemanusiaan yang paling mendasar: tidak ada satu pun trofi sepak bola di dunia ini, seberapa pun berkilaunya emas yang melapisi piala tersebut, yang harganya sebanding dengan nyawa manusia. Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati. (*)
REFERENSI
Lopes Costa, F, M. (2026). “Konvoi Persib Juara Berujung Duka, Dua Tewas dan Ratusan Orang Alami Kecelakaan”. Kompas.id.
PERSIB. (2026). “PERSIB Gelar Ngariung Juara”.
