Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar; kepala nggleleng, perut bergemuruh, pandangan mata berkunang-kunang, napas berat, badan benar-benar lemas. Saya mengira bahwa kotoran terakhir yang mengendap di dalam lambung saya juga ikut terserap menjadi nutrisi yang dibagikan ke seluruh tubuh untuk diubah menjadi energi terakhir yang penghabisan.
Bagi saya membaca novel Lapar dalam keadaan lapar ini tidak hanya pengalaman estetika semata, atau kegiatan literasi dan humaniora saja, tapi ini juga adalah semacam laku spiritual. Sebuah laku batin yang memperkuat jiwa; membaca novel tentang orang lapar dalam keadaan lapar; sungguh momen yang epik, bukan maen.
Novel Lapar terbit menjadi buku pada tahun 1890 (8 tahun kemudian di belahan bumi yang lain, seorang Patih di Purwokerto baru saja memulai menulis sebuah Babad, yang kelak dinamakan Babad Banjoemas Wirjaatmadjan, dan itu pun atas perintah Asisten Residen Purwokerto; W.P.D de Wolff van Westerrode)
Saya mendapatkan buku Lapar Knut Hamsun terjemahan Marianne Katoppo dan terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2013 itu dengan membeli dari seorang Penyair Banyumas bernama Yanwi Mudrikah di tahun 2020. (Tahun ketika Covid sedang ganas-ganasnya)
Novel berjudul Sult atau Lapar merupakan novel karangan penulis Norwegia bernama asli Knut Pedersen kelahiran Gudbransdal, Norwegia Tengah, pada 4 Agustus 1859. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Peder Pedersen dan Tora Olsen. Saat Knut berumur 9 tahun ia diambil oleh pamannya untuk menebus hutang-hutang orang tuanya, dan selama 5 tahun kemudian Knut dipaksa bekerja bagai kuda oleh pamannya yang tidak berbelas kasih, dan konon di sinilah Knut pertama kali bertemu dengan roh lapar itu. Saya sangat terkesan dengan tokoh utama dalam novel itu. Karena ia sedikit banyak sangat mirip dengan saya yang sering kelaparan dan kekurangan uang. Saya merasa saya sangat mirip dengan tokoh “aku” di dalam novel tersebut, yang saya kira adalah Tuan Pedersen sendiri.
Dalam keadaan perut keroncongan, kelaparan, dan setengah puasa itulah. Saya mencoba untuk membaca lembar demi lembar karangan Knut Hamsun itu hingga tandas. Lalu apa yang saya dapatkan ketika saya membaca Lapar dalam keadaan lapar? Tentu saja saya berhasil mempraktikan, tidak hanya dalam tahap simulasi semata, tapi saya melakukan aksi nyata, benar-benar memposisikan diri dalam keadaan lapar, dan hasilnya adalah kepekaan seorang penulis ketika lapar itu terkadang jauh lebih bisa diandalkan daripada dalam keadaan perut penuh dengan daging dan lemak berlebih. Itu sangat mirip dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh Tuan Pedersen.
Knut Hamsun mengajarkan saya melalui tokoh “aku” seorang penulis idealis yang menjaga idealisme dan moralitasnya hingga ke sungsum tulang, tapi sekaligus juga seorang yang gila, sinis, aneh, satir, getir namun penuh humor gelap yang pedih itu. Tokoh kita satu ini dalam sekali waktu pernah bersikap seperti orang gila, kurang ajar, dan kurang kerjaan, tapi di waktu lain ia akan menjelma seorang baik hati dengan pikiran mendalam dan bijaksana. Tapi tidak jarang ia kembali kumat lagi menjadi orang gila yang aneh, yang bisa melakukan hal-hal tak penting, dengan berkeliling taman Kristiania (Oslo), membual tentang Happolati sang pangeran sugih kepada seorang buta, atau tertawa-tawa tak jelas hanya dengan hal sederhana, kemudian sedetik kemudian menangis di bangku taman karena merasa Tuhan kejam dan tidak adil kepadanya.
Begitulah kemudian Knut memperkenalkan tokoh utama kita satu itu. Di waktu lain kita akan dibuat nelangsa dan merasa iba kepada “aku” / “Tuan Pedersen” yang kelaparan dan kurang (waras) gizi itu. ia bisa memakan kulit pohon untuk mengganjal laparnya, memakan tulang sisa yang ia minta dari seorang tukang daging di pasar dengan beralasan tulang itu untuk makan anjingnya, dan menelan remasan kertas tulisnya untuk sekadar menjaga dirinya tetap sadar meskipun dalam keadaan benar-benar sangat lapar.
Saya kira orang yang tak pernah merasakan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh tokoh utama Knut ini tidak akan pernah benar-benar mengerti dan memahami bagaimana esensi dari rasa lapar dan kelaparan itu sendiri. Bagaimana orang yang lapar tapi ia tetap mencoba hidup dengan idealisme dan moralitasnya, ia tetap menjaga nilainya sebagai seorang manusia yang berakhlak, berakal, dan berbudi pekerti. Ini adalah satu jihad yang benar-benar berat, jihad melawan kelaparan, melawan kelaparan diri sendiri, bahkan dari niat buruk dan jahat yang sering terlintas di dalam diri orang-orang yang sedang kelaparan. Oh dan jangan lupa, novel Sult karangan Hamsun ini juga yang menginspirasi sastrawan Indonesia seperti Eka Kurniawan untuk menjadi seorang penulis.
Tidak hanya ceritanya saja yang apik dan menyentuh, tapi proses penerbitan Lapar sendiri menurut Kata Pengantar dari Marianne Katoppo tak kalah menprihatinkannya, dan penuh dengan bumbu-bumbu kesedihan, keterharuan, dan kenelangsaan. Bagaimana tidak, setelah Knut menyelesaikan naskahnya, ia kemudian bolak-balik pergi ke rumah seorang Sastrawan Denmark yang terkenal bernama George Brandes. Namun sayang ketika sudah di beranda rumah George, Knut tidak berani masuk, dan George tidak keluar. Sehingga Knut mencari jalan lain. Ia kemudian membawa naskahnya yang dibungkus kertas koran itu pergi ke surat kabar Politiken dan bertemu dengan redakturnya yang bernama Edvart Brandes, adik dari George Brandes, dengan harapan Edvard secara tidak langsung akan memberikan naskah itu kepada kakaknya.
Edvard kemudian menceritakan pertemuannya dengan Knut kepada seorang pengarang Swedia Axel Lundegard, yang bertamu malam itu.
“Percaya atau tidak, tadi siang di redaksi aku didatangi seorang Norwegia. Sudah jelas ia membawa naskah! Tetapi pada mulanya, bukan naskahnya, melainkan orangnya yang menarik perhatianku. Belum pernah kulihat seseorang yang begitu tidak terurus. Bukan saja pakaiannya yang lusuh dan kotor, tetapi wajahnya!Anda tahu aku bukan orang yang sentimental. Tetapi wajah orang Norwegia itu membuatku terharu”
Tadinya Edvard berniat menolak naskah itu secara halus, karena terlalu panjang untuk cerpen dan terlalu pendek untuk cerber. Namun ketika tertangkap olehnya “perasaan yang berpijar dari balik kacamata orang itu” ia tidak tega. Ia berjanji akan membaca tulisan itu dan mencatat nama dan alamat pengarang.
Wajah yang pucat gemetar itu tetap membayang ketika Edvard Brandes pulang ke rumah, ia mulai membaca tulisan itu, dan segera terpesona. “Ini bukan bakat lagi, ini sederajat dengan Dostoyevski!” Bukan cuma terpeseona, tetapi malu, ketika disadarinya bahwa sang sastrawan barangkali sudah beberapa hari tidak makan. Edvard segera lari ke kantor pos dan mengirim uang sepuluh kroner kepada pengarang muda itu.
“Begitu mempesonakah kisahnya?” tanya Lundegard
“Apa judulnya?”
“Sult (Lapar)”
“Siapa pengarangnya?”
“Knut Hamsun”
Ini mirip seperti cerita Lapar sendiri di bagian pertama menjelang akhir, di mana saat tokoh “aku/Tuan Pedersen” mendapatkan sebuah surat yang ada di kamar kos-kosannya yang nunggak, ia kira surat itu dari induk semangnya untuk segera angkat kaki dari kos. Ia kemudian pelan-pelan keluar dari kos menuju jalanan seperti seorang pencuri dan gelandangan.
Cahaya lampu gas menyala cerah di ujung jalan, aku pergi ke situ, menyandarkan bungkusanku ke tiang lampu dan membuka surat itu, semuanya dengan perlahan-lahan sekali. Seakan-akan dadarku ditembus arus cahaya. Kudengar sorakanku sendiri, suatu bunyi kegirangan tanpa arti.
Surat itu berasal dari sang redaktur, tulisanku telah diteruma, sudah langsung turun cetak! “Beberapa perubahan kecil… beberapa kesalahan tulis telah diperbaiki…suatu karya yang menunjukkan bakat besar… besok akan diterbitkan…. Sepuluh krone.”
Aku tersenyum dan menangis, meloncat dan berlari di jalan itu,berhenti, memukul lututku, mengeluarkan kata-kata kasar, dan kata-kata indah, dan waktu berlalu terus
Sepanjang malam hingga merekahnya fajar, aku bersorak-sorak di jalan, bingung karena gembira, dan mengulang-ulang pada diriku. “Karya yang menunjukkan bakat besar”, berarti suatu karya hebat, olahan seorang jenius. Dan sepuluh krone! (Lapar, Knut Hamsun, hlm. 76)
Knut mendapatkan hadiah Nobel Sastra pada tahun 1920. Meskipun bukan novel Lapar yang menjadikannya menyabet hadiah Nobel, tapi setidaknya Lapar sudah menjadi pembuka jalan bagi para pengarang-pengarang setelah Knut Hamsun.

Karena Knut dianggap sebagai pembaharu, Sang Pemula arus sastra modern Eropa, bahkan dunia. Tak dapat disangkal betapa besar pengaruhnya atas sastrawan-sastrawan besar seperti Maxim Gorky, Stefan Zweig, Thomas Mann, Leon Feuchtwanger, William Faulkner, dan Ernest Hemingway. Kalangan sastrawan gempar saat Lapar pertama kali terbit. Semuanya mengaku bahwa gaya bahasa, penggunaan bahasa, penyajian cerita, sungguh menakjubkan. Suatu breaktrough, bukan saja bagi sastra Skandinavia, tetapi juga sastra dunia. (Kata Pengantar Lapar, Marianne Katoppo, hlm xv-xvi)
Saya merasa kelaparan yang dirasakan oleh “aku” atau menurut saya Tuan Pedersen sendiri sangat persis dengan jenis lapar yang saya rasakan. Dan ini tentu saja membuat kedekatan emosional saya dengan Tuan Pedersen jadi semakin kuat. Seorang pembaca yang lapar bertemu dengan tokoh utama dalam novel yang juga kelaparan, dan bahkan pengarangnya pun kelaparan. Sungguh pertemuan epik dan mengharukan, sebuah pertemuan yang dipenuhi dengan rasa sedih, getir, melas, dan nelangsa. Sebuah novel sastra dengan kegetiran dan keterharuan yang indah. …sudah terlalu lama aku tidak makan santapan yang sedemikian bergizi, dan lambat laun aku diresapi rasa ketenangan lesu yang sama, seperti kelesuan yang meliputi kita sesudah menangis lama (Lapar, Knut Hamsun, hlm. 13-14). (*)