Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

7 menit baca
Juli Prasetya
Ditulis oleh Juli Prasetya diterbitkan
Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar; kepala nggleleng, perut bergemuruh, pandangan mata berkunang-kunang, napas berat, badan benar-benar lemas. Saya mengira bahwa kotoran terakhir yang mengendap di dalam lambung saya juga ikut terserap menjadi nutrisi yang dibagikan ke seluruh tubuh untuk diubah menjadi energi terakhir yang penghabisan.

Bagi saya membaca novel Lapar dalam keadaan lapar ini tidak hanya pengalaman estetika semata, atau kegiatan literasi dan humaniora saja, tapi ini juga adalah semacam laku spiritual. Sebuah laku batin yang memperkuat jiwa; membaca novel tentang orang lapar dalam keadaan lapar; sungguh momen yang epik, bukan maen.

Novel Lapar terbit menjadi buku pada tahun 1890 (8 tahun kemudian di belahan bumi yang lain, seorang Patih di Purwokerto baru saja memulai menulis sebuah Babad, yang kelak dinamakan Babad Banjoemas Wirjaatmadjan, dan itu pun atas perintah Asisten Residen Purwokerto; W.P.D de Wolff van Westerrode)

Saya mendapatkan buku Lapar Knut Hamsun terjemahan Marianne Katoppo dan terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2013 itu dengan membeli dari seorang Penyair Banyumas bernama Yanwi Mudrikah di tahun 2020. (Tahun ketika Covid sedang ganas-ganasnya)

Novel berjudul Sult atau Lapar merupakan novel karangan penulis Norwegia bernama asli Knut Pedersen kelahiran Gudbransdal, Norwegia Tengah, pada 4 Agustus 1859. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Peder Pedersen dan Tora Olsen. Saat Knut berumur 9 tahun ia diambil oleh pamannya untuk menebus hutang-hutang orang tuanya, dan selama 5 tahun kemudian Knut dipaksa bekerja bagai kuda oleh pamannya yang tidak berbelas kasih, dan konon di sinilah Knut pertama kali bertemu dengan roh lapar itu. Saya sangat terkesan dengan tokoh utama dalam novel itu. Karena ia sedikit banyak sangat mirip dengan saya yang sering kelaparan dan kekurangan uang. Saya merasa saya sangat mirip dengan tokoh “aku” di dalam novel tersebut, yang saya kira adalah Tuan Pedersen sendiri.

Dalam keadaan perut keroncongan, kelaparan, dan setengah puasa itulah. Saya mencoba untuk membaca lembar demi lembar karangan Knut Hamsun itu hingga tandas. Lalu apa yang saya dapatkan ketika saya membaca Lapar dalam keadaan lapar? Tentu saja saya berhasil mempraktikan, tidak hanya dalam tahap simulasi semata, tapi saya melakukan aksi nyata, benar-benar memposisikan diri dalam keadaan lapar, dan hasilnya adalah kepekaan seorang penulis ketika lapar itu terkadang jauh lebih bisa diandalkan daripada dalam keadaan perut penuh dengan daging dan lemak berlebih. Itu sangat mirip dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh Tuan Pedersen.

Knut Hamsun mengajarkan saya melalui tokoh “aku” seorang penulis idealis yang menjaga idealisme dan moralitasnya hingga ke sungsum tulang, tapi sekaligus juga seorang yang gila, sinis, aneh, satir, getir namun penuh humor gelap yang pedih itu. Tokoh kita satu ini dalam sekali waktu pernah bersikap seperti orang gila, kurang ajar, dan kurang kerjaan, tapi di waktu lain ia akan menjelma seorang baik hati dengan pikiran mendalam dan bijaksana. Tapi tidak jarang ia kembali kumat lagi menjadi orang gila yang aneh, yang bisa melakukan hal-hal tak penting, dengan berkeliling taman Kristiania (Oslo), membual tentang Happolati sang pangeran sugih kepada seorang buta, atau tertawa-tawa tak jelas hanya dengan hal sederhana, kemudian sedetik kemudian menangis di bangku taman karena merasa Tuhan kejam dan tidak adil kepadanya.

Begitulah kemudian Knut memperkenalkan tokoh utama kita satu itu. Di waktu lain kita akan dibuat nelangsa dan merasa iba kepada “aku” / “Tuan Pedersen” yang kelaparan dan kurang (waras) gizi itu. ia bisa memakan kulit pohon untuk mengganjal laparnya, memakan tulang sisa yang ia minta dari seorang tukang daging di pasar dengan beralasan tulang itu untuk makan anjingnya, dan menelan remasan kertas tulisnya untuk sekadar menjaga dirinya tetap sadar meskipun dalam keadaan benar-benar sangat lapar.

Saya kira orang yang tak pernah merasakan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh tokoh utama Knut ini tidak akan pernah benar-benar mengerti dan memahami bagaimana esensi dari rasa lapar dan kelaparan itu sendiri. Bagaimana orang yang lapar tapi ia tetap mencoba hidup dengan idealisme dan moralitasnya, ia tetap menjaga nilainya sebagai seorang manusia yang berakhlak, berakal, dan berbudi pekerti. Ini adalah satu jihad yang benar-benar berat, jihad melawan kelaparan, melawan kelaparan diri sendiri, bahkan dari niat buruk dan jahat yang sering terlintas di dalam diri orang-orang yang sedang kelaparan. Oh dan jangan lupa, novel Sult karangan Hamsun ini juga yang menginspirasi sastrawan Indonesia seperti Eka Kurniawan untuk menjadi seorang penulis.

Tidak hanya ceritanya saja yang apik dan menyentuh, tapi proses penerbitan Lapar sendiri menurut Kata Pengantar dari Marianne Katoppo tak kalah menprihatinkannya, dan penuh dengan bumbu-bumbu kesedihan, keterharuan, dan kenelangsaan. Bagaimana tidak, setelah Knut menyelesaikan naskahnya, ia kemudian bolak-balik pergi ke rumah seorang Sastrawan Denmark yang terkenal bernama George Brandes. Namun sayang ketika sudah di beranda rumah George, Knut tidak berani masuk, dan George tidak keluar. Sehingga Knut mencari jalan lain. Ia kemudian membawa naskahnya yang dibungkus kertas koran itu pergi ke surat kabar Politiken dan bertemu dengan redakturnya yang bernama Edvart Brandes, adik dari George Brandes, dengan harapan Edvard secara tidak langsung akan memberikan naskah itu kepada kakaknya.

Edvard kemudian menceritakan pertemuannya dengan Knut kepada seorang pengarang Swedia Axel Lundegard, yang bertamu malam itu.

“Percaya atau tidak, tadi siang di redaksi aku didatangi seorang Norwegia. Sudah jelas ia membawa naskah! Tetapi pada mulanya, bukan naskahnya, melainkan orangnya yang menarik perhatianku. Belum pernah kulihat seseorang yang begitu tidak terurus. Bukan saja pakaiannya yang lusuh dan kotor, tetapi wajahnya!Anda tahu aku bukan orang yang sentimental. Tetapi wajah orang Norwegia itu membuatku terharu”

Tadinya Edvard berniat menolak naskah itu secara halus, karena terlalu panjang untuk cerpen dan terlalu pendek untuk cerber. Namun ketika tertangkap olehnya “perasaan yang berpijar dari balik kacamata orang itu” ia tidak tega. Ia berjanji akan membaca tulisan itu dan mencatat nama dan alamat pengarang.

Wajah yang pucat gemetar itu tetap membayang ketika Edvard Brandes pulang ke rumah, ia mulai membaca tulisan itu, dan segera terpesona. “Ini bukan bakat lagi, ini sederajat dengan Dostoyevski!” Bukan cuma terpeseona, tetapi malu, ketika disadarinya bahwa sang sastrawan barangkali sudah beberapa hari tidak makan. Edvard segera lari ke kantor pos dan mengirim uang sepuluh kroner kepada pengarang muda itu.

“Begitu mempesonakah kisahnya?” tanya Lundegard

“Apa judulnya?”

“Sult (Lapar)”

“Siapa pengarangnya?”

“Knut Hamsun”

Ini mirip seperti cerita Lapar sendiri di bagian pertama menjelang akhir, di mana saat tokoh “aku/Tuan Pedersen” mendapatkan sebuah surat yang ada di kamar kos-kosannya yang nunggak, ia kira surat itu dari induk semangnya untuk segera angkat kaki dari kos. Ia kemudian pelan-pelan keluar dari kos menuju jalanan seperti seorang pencuri dan gelandangan.  

Cahaya lampu gas menyala cerah di ujung jalan, aku pergi ke situ, menyandarkan bungkusanku ke tiang lampu dan membuka surat itu, semuanya dengan perlahan-lahan sekali. Seakan-akan dadarku ditembus arus cahaya. Kudengar sorakanku sendiri, suatu bunyi kegirangan tanpa arti.

Surat itu berasal dari sang redaktur, tulisanku telah diteruma, sudah langsung turun cetak! “Beberapa perubahan kecil… beberapa kesalahan tulis telah diperbaiki…suatu karya yang menunjukkan bakat besar… besok akan diterbitkan…. Sepuluh krone.”

Aku tersenyum dan menangis, meloncat dan berlari di jalan itu,berhenti, memukul lututku, mengeluarkan kata-kata kasar, dan kata-kata indah, dan waktu berlalu terus

Sepanjang malam hingga merekahnya fajar, aku bersorak-sorak di jalan, bingung karena gembira, dan mengulang-ulang pada diriku. “Karya yang menunjukkan bakat besar”, berarti suatu karya hebat, olahan seorang jenius. Dan sepuluh krone! (Lapar, Knut Hamsun, hlm. 76)

Knut mendapatkan hadiah Nobel Sastra pada tahun 1920. Meskipun bukan novel Lapar yang menjadikannya menyabet hadiah Nobel, tapi setidaknya Lapar sudah menjadi pembuka jalan bagi para pengarang-pengarang setelah Knut Hamsun.

Karena Knut dianggap sebagai pembaharu, Sang Pemula arus sastra modern Eropa, bahkan dunia. Tak dapat disangkal betapa besar pengaruhnya atas sastrawan-sastrawan besar seperti Maxim Gorky, Stefan Zweig, Thomas Mann, Leon Feuchtwanger, William Faulkner, dan Ernest Hemingway. Kalangan sastrawan gempar saat Lapar pertama kali terbit. Semuanya mengaku bahwa gaya bahasa, penggunaan bahasa, penyajian cerita, sungguh menakjubkan. Suatu breaktrough, bukan saja bagi sastra Skandinavia, tetapi juga sastra dunia. (Kata Pengantar Lapar, Marianne Katoppo, hlm xv-xvi)

Saya merasa kelaparan yang dirasakan oleh “aku” atau menurut saya Tuan Pedersen sendiri sangat persis dengan jenis lapar yang saya rasakan. Dan ini tentu saja membuat kedekatan emosional saya dengan Tuan Pedersen jadi semakin kuat. Seorang pembaca yang lapar bertemu dengan tokoh utama dalam novel yang juga kelaparan, dan bahkan pengarangnya pun kelaparan. Sungguh pertemuan epik dan mengharukan, sebuah pertemuan yang dipenuhi dengan rasa sedih, getir, melas, dan nelangsa. Sebuah novel sastra dengan kegetiran dan keterharuan yang indah. …sudah terlalu lama aku tidak makan santapan yang sedemikian bergizi, dan lambat laun aku diresapi rasa ketenangan lesu yang sama, seperti kelesuan yang meliputi kita sesudah menangis lama (Lapar, Knut Hamsun, hlm. 13-14). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)