Budaya NG.O.P.I Anak Muda Sekarang: NGeluarin Opini 'Pragmatis vs Idealis'

8 menit baca
I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Ditulis oleh I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra diterbitkan
Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)
Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)

Trendsetter bagi sejumlah anak muda zaman sekarang dalam mencari serta membuka ruang opini secara spontan salah satunya dengan mengunjungi warkop atau coffee shop, dimana sembari meneguk kopi dengan santai lalu interaksi mengalir begitu saja melalui obrolan. Tentu, budaya ngopi seakan-akan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun hubungan mutual bersama rekan ataupun kolega. Gagasan demi gagasan diwartakan oleh mereka hingga berjam-jam lamanya sampai tak terasa subuh pun tiba. Semua topik dituangkan, mulai dari isu kecil seperti ke-struggle-an hidup tiap pribadinya sampai merambah ke berbagai isu politik bahkan hingga membahas selentingan elit global.

Tidak ayal warkop maupun coffee shop dapat dipandang sebagai third place, di samping rumah sebagai first place, dan kantor/kampus sebagai second place yang berperan sebagai ruang interaksi dan pertukaran gagasan, menurut Rey Oldenburg dalam bukunya yang berjudul The Great Good Place.

Lebih dari sekadar tempat menikmati secangkir kopi, ruang semacam ini dapat dipahami sebagai miniatur demokrasi, di mana berbagai pandangan disampaikan, dipertukarkan, dan diperdebatkan secara terbuka dalam keseharian.

Namun di dalam ruang yang terbuka tersebut, tidak jarang pula muncul perbedaan cara pandang dalam menyikapi suatu persoalan, yang kemudian membelah cara berpikir menjadi dua kecenderungan utama. Perbedaan inilah yang acap kali tampak dalam percakapan-percakapan santai di sela-sela secangkir kopi.

Pada saat mengopi bersama kawan, apakah pernah mendengar perdebatan opini di antara mereka yang saling menentang satu sama lain? Atau saling mengunggulkan pola pikir mereka yang "pragmatis" atau mereka yang "idealis"? Di sini akan membedah lebih dalam mengenai konsep pragmatis dan idealis yang akan digambarkan melalui analogi kopi. 

Ilustrasi perbandingan kopi kemasan dengan espresso (Sumber: ChatGPT)
Ilustrasi perbandingan kopi kemasan dengan espresso (Sumber: ChatGPT)

PRAGMATIS VS IDEALIS: IBARAT TIM KOPI KEMASAN VS TIM KOPI ESPRESSO

Dualisme pandangan antara kopi kemasan yang umumnya praktis dan kopi espresso yang disajikan melalui proses yang lebih kompleks tidak dapat diukur mana yang lebih baik, karena hal tersebut hanya menyangkut preferensi selera tiap individu.

Dimulai dari kopi kemasan yakni produk yang umumnya sudah berbentuk bubuk, kemudian diseduh dan siap disajikan. Atau bisa diberi tambahan seperti gula pasir atau gula aren jika menyukai cita rasa yang manis. Terdengar cukup mudah sebenarnya, tanpa perlu repot pergi ke warkop, seduh sendiri di rumah juga tidak masalah. Namun, kesederhanaan tersebut justru menimbulkan pertanyaan lain: mengapa warkop tetap bertahan di tengah menjamurnya bentuk konsumsi kopi yang lebih modern?

Berbeda halnya dengan kopi espresso. Secangkir espresso lahir melalui tahapan yang lebih kompleks, mulai dari pemilihan biji kopi berkualitas, tingkat sangrai (roasting), ukuran gilingan (grind size), proses tamping, suhu air, hingga waktu ekstraksi menggunakan mesin espresso agar menghasilkan cita rasa yang konsisten. Seluruh rangkaian tersebut menuntut ketelitian, keterampilan, dan perhatian terhadap detail demi memperoleh hasil yang dianggap paling ideal.

Begitu pula sejatinya konseptual dari dua pandangan yang mengatur pola pikir manusia, yaitu pragmatis yang mengedepankan hal-hal berbau praktis dan efektif serta idealis yang mengedepankan hal-hal yang lebih kompleks dan detail. Kedua pandangan tersebut tidak dapat diunggulkan sepihak. 

Ilustrasi perbandingan warkop dengan coffee shop (Sumber: ChatGPT)
Ilustrasi perbandingan warkop dengan coffee shop (Sumber: ChatGPT)

MENAKAR PROFIT DARI WARKOP YANG PRAGMATIS DAN COFFEE SHOP YANG IDEALIS

Membahas mengenai profit tidak dapat dilepaskan dari konsep "untung" dan "rugi". Dalam perspektif ekonomi, keuntungan diperoleh ketika total pendapatan (total revenue) mampu menutupi seluruh biaya (total cost) yang dikeluarkan suatu usaha (Mankiw, 2021). Namun, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari besarnya profit, melainkan juga dari kemampuan menjaga efisiensi biaya dan arus kas (cash flow) agar operasional tetap berkelanjutan. Begitu pula dengan pandangan pragmatis dan idealis yang sama-sama menawarkan keuntungan berikut konsekuensinya masing-masing. Untuk itu perlu keterbukaan terhadap konsep tersebut melalui penganalogian tempat mengopi, yakni warkop dan coffee shop

Warkop dalam lanskap sosial juga dapat dipahami sebagai ruang yang lekat dengan ritme kerja yang cepat dan fungsional, terutama bagi kalangan pekerja seperti buruh proyek atau individu yang sedang lembur. Di sela-sela pekerjaan, secangkir kopi disajikan secara praktis tanpa proses yang rumit, sehingga tidak mengganggu alur produktivitas yang sedang berjalan. Dalam konteks ini, kopi tidak diposisikan sebagai pengalaman yang harus dinikmati secara kompleks, melainkan sebagai sarana pendukung agar energi dan fokus tetap terjaga. Dengan demikian, pola pikir pragmatis tercermin dalam orientasinya terhadap kecepatan, efisiensi, dan keberlanjutan aktivitas, di mana nilai utama sebuah tindakan terletak pada seberapa cepat ia dapat menunjang tujuan yang sedang dikerjakan.

Sebaliknya, coffee shop merepresentasikan pola pikir idealis yang menawarkan lebih dari sekadar secangkir kopi. Tata ruang yang estetis, variasi menu yang beragam, hingga penyajian yang diperhatikan secara saksama merupakan bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang bernilai bagi pelanggan. Orientasi tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidak hanya dipandang dari hasil akhir, tetapi juga dari standar proses yang digunakan untuk mencapainya.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam praktik industri specialty coffee. Coffee Quality Institute (CQI) melalui program yang bertajuk Q Cupping Essentials memberikan bentuk pelatihan untuk mengukur kualitas kopi melalui metode cupping yang berperan untuk mengevaluasi karakteristik kopi secara sistematis, mulai dari aroma, rasa, hingga keseimbangan. Melalui proses kalibrasi yang presisi secara matematis dan deskriptif bertujuan agar peserta mampu memahami "bahasa global kualitas kopi" melalui prosedur yang terstandardisasi sehingga penilaian berkesesuaian dengan kriteria yang telah disepakati bersama.

Analogi inilah yang menggambarkan pola pikir idealis, yakni kecenderungan untuk meyakini bahwa kualitas terbaik hanya dapat dicapai melalui proses yang terukur, presisi, dan penuh pertimbangan.

Lalu, mana yang lebih menguntungkan?

Dalam perspektif ekonomi, keuntungan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola biaya operasional secara efisien. Oleh karena itu, perbandingan antara warkop dan coffee shop tidak cukup dilihat dari harga secangkir kopi, melainkan juga dari strategi bisnis yang dijalankan.

Coffee shop modern berpotensi memperoleh pendapatan yang lebih tinggi melalui diferensiasi produk, pengalaman pelanggan, serta konsep ruang yang menawarkan nilai tambah bagi konsumen. Namun, potensi tersebut diimbangi dengan biaya investasi dan biaya operasional yang relatif besar, mulai dari desain interior, peralatan kopi profesional, hingga kebutuhan sumber daya manusia yang lebih kompleks.

Sebaliknya, warung kopi tradisional mengandalkan kesederhanaan konsep dengan struktur biaya yang lebih ringan. Penyajian yang praktis, investasi peralatan yang minim, serta target pasar yang mengutamakan kecepatan dan keterjangkauan membuat warkop lebih fleksibel dalam menjaga efisiensi operasional. Dengan demikian, keunggulan utamanya bukan terletak pada tingginya margin per produk, melainkan pada kemampuan mempertahankan arus kas dan produktivitas melalui biaya yang lebih terkendali.

LEBIH BAIK MENJADI PRAGMATIS ATAU IDEALIS?

Berdasarkan pendekatan analogi kopi untuk menggambarkan dualisme pandangan yang kerap muncul di kalangan generasi muda, baik dalam ruang diskusi, organisasi, maupun percakapan sehari-hari, dapat dipahami bahwa pragmatis dan idealis sesungguhnya merupakan dua cara yang berbeda dalam memandang sebuah tujuan.

Pola pikir pragmatis mengedepankan kepraktisan dalam proses berpikir maupun aktualisasinya. Mereka yang pragmatis cenderung memprioritaskan waktu, tenaga, dan sumber daya pada aktivitas yang memberikan benefit secara langsung terhadap dirinya. Namun, pragmatis sering kali disalahartikan sebagai sikap apatis, padahal keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Orang yang apatis cenderung menutup diri dan tidak memiliki concern terhadap isu maupun persoalan yang berkembang di sekitarnya. Sebaliknya, orang yang pragmatis tetap memiliki concern terhadap berbagai permasalahan, hanya saja mereka lebih mempertimbangkan sejauh mana keterlibatan relevan bagi kebermanfaatan yang nyata untuk diri pribadi.

Analogi tersebut dapat diibaratkan seperti pengunjung warkop yang memesan secangkir kopi untuk mengusir kantuk sebelum kembali menyelesaikan pekerjaannya. Fokus utama mereka bukan pada asal-usul biji kopi, metode penyeduhan, ataupun teknik ekstraksinya, melainkan pada fungsi kopi itu sendiri sebagai penunjang produktivitas. Nilai kepraktisan, efisiensi waktu, dan kehematan menjadi pertimbangan utama, sehingga secangkir kopi sederhana sudah cukup memenuhi kebutuhan yang ingin dicapai.

Di sisi lain, pola pikir idealis mencerminkan kecenderungan untuk melakukan eksplorasi yang lebih mendalam terhadap gagasan, pengalaman, maupun kualitas suatu proses. Mereka tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada bagaimana hasil tersebut diperoleh melalui standar yang diyakini mampu menghasilkan kualitas terbaik. Layaknya pengunjung coffee shop yang tidak sekadar memesan kopi, mereka juga mempertimbangkan variasi menu, suasana ruang, estetika interior, hingga kenyamanan fasilitas sebagai bagian dari pengalaman yang ingin diperoleh.

Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan coffee shop sebagai comfort zone untuk mengembangkan ide, berdiskusi, mengerjakan tugas, ataupun membangun jejaring sosial. Apabila salah satu unsur yang dianggap penting tidak terpenuhi, mereka akan mencari tempat lain yang lebih sesuai dengan preferensinya. Kecenderungan tersebut menggambarkan bagaimana pola pikir idealis selalu berusaha mengejar kualitas gagasan dan pengalaman secara lebih utuh, meskipun konsekuensinya membutuhkan waktu, tenaga, maupun biaya yang lebih besar.

Perbedaan tersebut juga dapat dilihat dari sudut pandang pemilik usaha. Owner warkop lebih mengedepankan efisiensi, kesederhanaan operasional, serta biaya overhead yang relatif rendah sehingga mampu menawarkan harga yang terjangkau bagi konsumen. Segmen pasar yang didominasi oleh pekerja maupun masyarakat yang mengutamakan kepraktisan menjadikan warkop memiliki karakter yang merakyat sekaligus produktif.

Sebaliknya, owner dari coffee shop membangun usahanya melalui konsep yang lebih idealis dengan mengedepankan estetika ruang, kualitas pelayanan, variasi produk, serta pengalaman pelanggan secara menyeluruh. Konsep tersebut secara tidak langsung menciptakan kesan eksklusif, bukan dalam arti membatasi kalangan tertentu, melainkan sebagai upaya mem-branding identitas dan meng-upgrade value di mata konsumen. Oleh karena itu, tidak sedikit generasi muda yang rela membayar lebih karena mereka tidak hanya membeli secangkir kopi, tetapi juga membeli suasana, kenyamanan, dan ruang untuk mengeksplorasi gagasan.

MENEMUKAN STANDING POSITION DI BALIK SECANGKIR KOPI

Budaya ngopi mengajarkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir pada pertentangan. Di satu meja yang sama, kopi kemasan dan espresso dapat dinikmati dengan cara yang berbeda tanpa harus saling membuktikan mana yang lebih unggul. Begitu pula dengan pragmatis dan idealis yang menawarkan dua cara pandang dalam menyikapi sebuah persoalan.

Pragmatis percaya bahwa manfaat lahir dari efisiensi dan tindakan yang tepat guna, sedangkan idealis meyakini bahwa kualitas terbaik lahir dari proses, eksplorasi, dan keteguhan pada prinsip. Keduanya tidak sedang berjalan menuju tujuan yang berbeda, melainkan menempuh jalan yang berbeda untuk memberikan manfaat.

Karena itu, generasi muda tidak harus sibuk memilih menjadi pragmatis atau idealis. Yang lebih penting adalah menemukan standing position, memiliki karakter yang jelas, dan berani mempertanggungjawabkan setiap opini yang disampaikan. Sebab pada akhirnya, secangkir kopi hanyalah media, sedangkan nilai sesungguhnya terletak pada bagaimana kita meracik cara berpikir dan menghargai perbedaan. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Oldenburg, R. (1999). The Great Good Place.

  • Coffee Quality Institute. (2024). Quality Evaluation Program Guidebook (Versi 8). Coffee Quality Institute.

  • Mankiw, N. G. (2021). Principles of Microeconomics (9th ed.). Cengage Learning.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Mahasiswa yang senang membahas mengenai isu transportasi, tata kota, dan pegiat seni tradisional.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)