Koperasi Desa Merah Putih, Akankah Menjadi Solusi Pemerataan Ekonomi Tingkat Desa?

7 menit baca
Fathiyah Khairiyah
Ditulis oleh Fathiyah Khairiyah diterbitkan
Koperasi Desa Merah Putih. (Sumber: blorakab.go.id)
Koperasi Desa Merah Putih. (Sumber: blorakab.go.id)

Program nasional 80.000 Koperasi Desa Merah Putih resmi diluncurkan pemerintah sebagai upaya percepatan kemandirian ekonomi desa. Peluncuran program diresmikan pada 21 Juli 2025 yang didasari Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan koperasi desa/kelurahan, Inpres ini ditandatangani pada 27 Maret 2025 dan menjadi payung kebijakan percepatan. Program ini juga dirujuk pada kerangka konstitusional dan perundang‑undangan: Pasal 33 UUD 1945 dan UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, yang menempatkan koperasi sebagai badan usaha yang berorientasi pada kesejahteraan anggota dan ekonomi kerakyatan. Kebijakan ini diposisikan sebagai implementasinya dalam skala nasional.

Kelembagaan 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara simbolis diresmikan oleh Presiden pada 21 Juli 2025 di Desa Bentangan, Klaten. Acara dihadiri oleh ribuan kepala desa/kelurahan dan pejabat pusat‑daerah. Pemerintah melaporkan telah tercatat 80.081 kelembagaan dan 81.147 musyawarah desa khusus sebagai proses pembentukan awal.

Tujuan utama program KDMP adalah untuk mendorong kemandirian ekonomi desa, mempercepat swasembada pangan, memotong rantai pasok yang merugikan petani, serta mengurangi peran tengkulak dan rentenir. Pemerintah menempatkan KDMP sebagai pilar transformasi ekonomi yang tadinya masyarakat berperan sebagai penerima bantuan kini menjadi pelaku ekonomi produktif, sejalan target pemerataan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Secara teknis, KDMP dirancang sebagai koperasi modern yang berbasis kerakyatan dengan unit usaha yang meliputi kantor koperasi, pengadaan sembako, simpan pinjam anggota, klinik, apotek, cold storage/pergudangan, logistik, penyediaan pupuk/benih, dan serapan hasil tani. Pemerintah juga menyiapkan infrastruktur pendukung seperti gudang, cold storage, gerai sembako, apotek, dan fasilitas pinjaman super mikro untuk memperlancar distribusi dan perputaran ekonomi desa.

Pemerintah memperkirakan KDMP dapat menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja secara langsung dan menciptakan jutaan peluang ekonomi tidak langsung melalui peningkatan nilai tukar petani dan akses pasar yang lebih adil. Menko Bidang Pangan menyebut peluncuran ini sebagai langkah transformasi besar. Di sisi lain, Presiden menegaskan koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat kecil.

Pelaksanaan yang Menuai Kritik

Koperasi Desa Merah Putih diklaim telah membentuk puluhan ribu kelembagaan dalam waktu singkat, namun realitas di lapangan menunjukkan celah besar antara janji dan praktik. Banyak desa melaporkan lokasi gerai dipilih jauh dari pusat aktivitas ekonomi sehingga aksesnya sulit. Lalu, proses verifikasi lahan dinilai terburu‑buru. Kasus paling bersar adalah pengrusakan sebagian SDN Wolomoni di Ende (NTT) untuk membuka akses proyek, yang memicu protes warga, penghentian sementara pembangunan, dan kecaman tokoh pendidikan setempat.

Kritik kembali muncul setelah lima calon manajer meninggal saat latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang menjadi bagian dari pelatihan SPPI untuk KDMP. Penyebabnya antara lain heat stroke, henti jantung, dan penyakit bawaan. Hasilnya, korban dan keluarga menuntut kejelasan standar kesehatan dan keselamatan peserta, sementara Komnas HAM meminta penghentian sementara latsarmil karena risiko bagi sipil.

Dari sisi anggaran, Kebijakan pengalihan anggaran memaksa sekitar 58–60% alokasi dana desa untuk mendanai pembangunan KDMP. Sehingga, banyak desa melaporkan penundaan proyek infrastruktur dan layanan dasar. Hal ini berdampak kepada proyek jalan, irigasi, dan perbaikan fasilitas publik yang tertunda di sejumlah kabupaten. Pengalihan dana tanpa konsensus musyawarah desa hanya akan mengikis prinsip otonomi dan partisipasi. Tekanan ini juga memicu protes dari pengurus BUMDes dan pedagang kecil yang khawatir usaha mereka akan tersaingi jika koperasi beroperasi sebagai jaringan ritel besar.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)

Ancaman crowding‑out terhadap warung tradisional tidak bisa dihindari. Pengamat ekonomi desa memperingatkan bahwa jika model operasional KDMP menempatkan gerai dan gudang besar di desa tanpa mekanisme proteksi, pedagang mikro akan kehilangan pangsa pasar dan pendapatan.

Bahkan, keputusan PT Agrinas mengimpor 105.000 pikap dari India melalui penunjukan langsung (nilai kontrak sekitar Rp24,66 triliun) memicu kritik soal transparansi, potensi korupsi, dan dampak pada industri otomotif domestik. Mekanisme pengadaan ini jelas melanggar prinsip persaingan dan membuka celah rente.

Benarkah koperasi desa efektif untuk pemerataan dan pembangunan ekonomi desa?

Pembangunan yang tidak berangkat dari kebutuhan masyarakat berisiko membuat koperasi minim partisipasi masyarakat serta tidak efektif menggerakkan ekonomi desa. Pembangunan koperasi desa dalam skema 80.000 KDMP yang digagas pemerintah memang terlihat megah di atas kertas, namun program ini tidak berangkat dari kebutuhan masyarakat secara nyata. Mulai dari lokasi, jenis unit usaha, dan skala investasi ditentukan dari atas. Keputusan teknis seringkali melompati musyawarah desa yang semestinya menjadi penentu prioritas. Akibatnya, fasilitas dibangun jauh dari pusat aktivitas ekonomi sehingga akses anggota dan arus barang‑jasa terhambat. Hal ini mengubah koperasi dari instrumen pemberdayaan menjadi proyek infrastruktur yang kurang relevan dengan kebutuhan riil petani, pedagang, dan rumah tangga desa. Sehingga, potensi multiplier ekonomi yang dijanjikan pemerintah akan sulit tercapai. Anggaran besar tanpa manfaat jelas ini memperlihatkan ketidakselarasan antara kebutuhan riil rakyat dan prioritas pembangunan pemerintah. Dengan skala anggaran yang masif, proyek KDMP justru memperlihatkan bagaimana kapitalisme melahirkan proyek besar yang lebih menguntungkan segelintir pihak dibanding masyarakat desa.

Kebijakan ini pada akhirnya cenderung lebih menguntungkan pemegang kekuasaan dan pemilik modal. Perusahaan yang ditunjuk langsung, kontraktor besar, serta jaringan pemasok luar negeri memperoleh keuntungan dari proyek ini, sementara petani dan pedagang kecil justru terpinggirkan. Model top‑down seperti KDMP berisiko mengulang kegagalan pada pelaksanaan KUD di masa lalu, di mana koperasi lebih menjadi alat distribusi proyek pemerintah dibandingkan dengan wadah pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan demikian, KDMP lebih tampak sebagai instrumen redistribusi keuntungan ke atas, bukan kesejahteraan ke bawah.

Ironisnya, APBN terus digelontorkan untuk proyek baru ini, sementara persoalan mendasar rakyat belum terselesaikan. Pemangkasan dana desa hingga 60% untuk mendanai KDMP membuat banyak proyek infrastruktur dasar seperti jalan desa, irigasi, dan perbaikan sekolah tertunda.

Logika kapitalisme proyek nasional semakin terlihat ketika pembangunan dipandang sebagai lahan basah bisnis. Dasarnya bukan masalah yang muncul dari rakyat, melainkan peluang keuntungan besar bagi pemodal. Ketika rakyat menolak, logika yang muncul adalah rakyat dianggap penghalang bisnis yang harus disingkirkan. Pengamat HAM menilai hal ini sebagai tanda bahaya, yakni rakyat yang seharusnya menjadi subjek pembangunan justru diposisikan sebagai objek yang harus tunduk pada logika bisnis dan kekuasaan.

Hal ini menunjukkan bahwa, alih‑alih menjadi pilar kemandirian desa, KDMP justru berisiko menjadi proyek kapitalisme negara yang mengabaikan partisipasi rakyat. KDMP hanya akan menjadi simbol pembangunan top‑down yang mahal, penuh polemik, dan jauh dari cita‑cita kesejahteraan rakyat desa.

Solusi Fundamental Menjawab Persoalan Ketimpangan Ekonomi

Ekonomi seharusnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan mengejar target proyek. Perbedaan pandangan kapitalisme dan islam dalam memandang masyarakat menjadi dasar bagaimana pemerintahan akan mengelola negara. Kapitalisme mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan individu bebas yang berinteraksi melalui pasar untuk mencapai tujuan ekonomi dan kesejahteraan mereka sendiri. Sedangkan, Islam mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama, yakni islam. Sehingga, dengan tanggung jawab dalam perannya sebagai penjaga masyarakat, pemerintah Islam akan mencari cara bagaimana memenuhi kebutuhan rakyat dengan pedoman peraturan Islam. Berbeda dengan pemerintahan kapitalisme yang akan mencari tujuan ekonomi dalam kuasanya.

Pemerintah bertugas sebagai pelayan rakyat, bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat melalui pengelolaan harta milik umum, pembukaan lapangan kerja, dan distribusi kekayaan yang adil. Dalam Islam, pajak bukan penghasilan utama negara. Lahan-lahan dan kekayaan alam juga bukanlah milik negara yang bisa dijual belikan begitu saja karena itu merupakan kepemilikan umum yang seharusnya dikelola oleh pemerintah, yang darinya didapatkan pemasukan keuangan negara. Tidak ada privatisasi lahan dan sumber daya. Lapangan kerja harus terjamin tercukupi untuk seluruh lapisan masyarakat, pemerintah memiliki kewenangan untuk dan kewajiban untuk itu. Dengan alat tukar real berupa emas dan perak, juga dengan sistemnya yang meniadakan bunga, hal ini bisa menjadi jalan distribusi kekayaan yang adil. Pembagian zakat yang dikhususkan untuk 8 asnaf (orang yang berhak menerima zakat), periayahan masyarakat yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dengan tujuan menjadi pelayan rakyat akan menciptakan bantuan-bantuan yang tepat sasaran. Karena sejatinya, kesejahteraan lahir dari penerapan syariat ekonomi secara menyeluruh. Ekonomi rakyat diperkuat dari hulunya, bukan hanya melalui proyek hilir.

Ketimpangan ekonomi desa dan kota merupakan masalah sistemik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggunakan solusi tambal sulam. Karena masalah sistemik hanya bisa diselesaikan dengan solusi fundamental berbasis sistem. Solusi islam hadir sebagai sistem yang telah dibuktikan oleh sejarah bisa menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat. (*) 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fathiyah Khairiyah
Penggiat Pers, Pengamat isu Politik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)