Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

6 menit baca
Arya Destiano Pratama
Ditulis oleh Arya Destiano Pratama diterbitkan
Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Berdasarkan data sebaran kontribusi emisi gas karbon dioksida (CO2) dunia, manufaktur semen konvensional memberikan kontribusi 6-8% total emisi gas CO2 dunia.

  • Berdasarkan berbagai pengujian laboratorium yang salah satunya dipublikasikan oleh Rokiah Othman et al. pada tahun 2024, diketahui bahwa material basalt telah memiliki berbagai senyawa oksida aktif yang dibutuhkan dalam pembentukan semen.

Industri konstruksi saat ini mendapat perhatian khusus terkait kontribusinya terhadap akumulasi emisi karbon global. Berdasarkan data sebaran kontribusi emisi gas karbon dioksida (CO2) dunia, manufaktur semen konvensional memberikan kontribusi 6-8% total emisi gas CO2 dunia. Salah satu pemicunya adalah tingginya kebutuhan akan produksi semen konvensional.

Faktanya, semen konvensional menjadi material ke-2 yang paling banyak digunakan di dunia setelah air. Melihat ketergantungan tersebut, salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah mengganti sebagian porsi penggunaan semen konvensional dengan bubuk basalt yang lebih ramah lingkungan tanpa merusak karakteristik struktur semen itu sendiri.

Permasalahan Industri Konstruksi di Indonesia sebagai Negara Berkembang

Besarnya akumulasi emisi karbon sangat dipengaruhi oleh jumlah kebutuhan semen pada wilayahnya. Pada tahun 2023, jumlah emisi karbon industri semen di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dapat mencapai hingga 44 juta ton gas CO2. Cheng et al. dalam penelitiannya pada tahun 2023 terkait proyeksi emisi karbon masa depan, mengungkap bahwa negara berkembang menjadi kontributor utama yang  menyumbang hingga 87% emisi gas CO2 akibat tingginya urbanisasi serta kebutuhan akan membangun infrastruktur baru.

Menurut Raiful Islam et al. dalam studinya di Universitas Sichuan pada tahun 2025, proses produksi semen konvensional mencakup reaksi kalsinasi di mana batu kapur (CaCO3) terurai menjadi kalsium oksida (CaO) dan CO2 sebagai produk sampingannya. Setelah itu, dilanjut proses klinkerisasi pada tanur putar (rotary kiln) yang membutuhkan suhu sangat tinggi (mencapai 1.450°C) untuk membentuk klinker sebagai bahan utama semen konvensional. Kebutuhan energi panas yang besar ini disuplai melalui bahan bakar fosil yang proses pembakarannya menghasilkan produk sampingan gas CO2.

Di samping itu, konsumsi listrik berskala megawatt pada pabrik semen pun ikut berkontribusi dalam menyumbang emisi. Pasokan energi listrik Indonesia (PLN) masih sangat bergantung pada PLTU batu bara, sehingga juga dihasilkan emisi karbon secara tidak langsung. 

Tingginya kadar polutan udara yang beredar di atmosfer bumi dapat menimbulkan bencana ekologis berskala global. Secara umum, sebagian besar polusi udara dihasilkan oleh aktivitas antropogenik seperti deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil, serta limbah industri. Akumulasi gas polutan tersebut dalam jumlah besar dapat membuat efek rumah kaca. Hal ini lah, yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi yang terus berlanjut dan menjadi semacam bom waktu bagi stabilitas ekologis kedepannya. 

Mengenal Lebih Jauh Material Basalt di Indonesia

Material basalt merupakan material buangan dari aktivitas vulkanik yang sangat melimpah di Indonesia. Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia menjadi titik pertemuan 4 lempeng tektonik aktif (Eurasia, Pasifik, Laut Filipina, dan Indo-Australia) serta dilewati jalur ring of fire sehingga tidak heran Indonesia memiliki banyak gunung aktif yang menjadi sumber material vulkanik. Batuan basalt seringkali menjadi incaran karena memiliki kemampuan menahan kuat tekan yang sangat tinggi, sehingga dapat diandalkan untuk menjadi pondasi bangunan ringan di Indonesia sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI 03-0394-1989).

Menurut Santoso et al. dalam penelitiannya tentang karakteristik mekanis lava basalt, didapatkan bahwa material basalt dapat menahan kuat tekan mencapai 877,550-898,737 Kg/cm2. Bubuk basalt sendiri pada umumnya banyak ditemukan sebagai limbah dari aktivitas penambangan batu basalt. Maraknya penambangan batuan basalt di Indonesia dapat memicu permasalahan penumpukan limbah bubuk basalt. Walaupun bubuk material vulkanik terkenal akan kekayaan mineral yang baik untuk kesuburan tanah, akumulasi bubuk basalt yang terlalu banyak dapat memicu pencemaran air, hingga polusi udara yang mengancam kesehatan makhluk hidup di sekitarnya. 

Potensi Bubuk Basalt dapat Menjinakan Bom Waktu Emisi Karbon

Berdasarkan berbagai pengujian laboratorium yang salah satunya dipublikasikan oleh Rokiah Othman et al. pada tahun 2024, diketahui bahwa material basalt telah memiliki berbagai senyawa oksida aktif yang dibutuhkan dalam pembentukan semen. Meskipun pada bubuk basalt terdapat senyawa magnesium oksida (MgO) sebagai zat pengotor, kadarnya masih masuk dalam kategori aman (MgO ≤6%) berdasarkan ASTM C150/C150M-21. Namun mengetahui adanya zat pengotor kalium oksida (K2O) sebagai senyawa alkali kuat, diperlukan adanya batasan penggunaan material basalt (substitusi parsial) dalam campuran semen untuk mencegah risiko terjadinya Alkali-Silica Reaction (ASR) yang bersifat ekspansif. 

Potensi bubuk basalt sebagai kunci permasalahan diperkuat oleh data eksperimental Çelikten dan Baran tahun 2024. Melalui perhitungan jejak karbon, didapatkan bahwa pemanfaatan bubuk basalt pada kadar optimal 5-15% ke dalam campuran semen dapat mereduksi emisi karbon yang dihasilkan hingga 22%. Menariknya, pengurangan emisi yang signifikan ini sama sekali tidak menurunkan kekuatan mekanisnya. Selain itu, temuan dari eksperimen Dobiszewska dan Beycioğlu tahun 2017 terkait pengaruh bubuk basalt membuktikan bahwa substitusi parsial bubuk basalt tidak memengaruhi kekentalan dan kemudahan pengerjaan (workability) adonan semen. Meski demikian, hasil eksperimen ini juga memberikan catatan penting bahwa pemanfaatan bubuk basalt dapat membuat waktu pengikatan semen dari saat mulai mengeras (initial setting time) hingga benar-benar padat (final setting time) semen menjadi lebih lambat. 

Adanya perlambatan waktu pengikatan terjadi akibat berkurangnya porsi semen konvensional murni. Bubuk basalt bersifat pozolan alami yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bereaksi secara kimia. Namun demikian, terjadinya perlambatan waktu ikat memberikan dampak yang kondisional. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun 2025 menyatakan bahwa Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa cenderung memiliki suhu udara yang tinggi mencapai kisaran 35 °C pada siang hari. Dalam kondisi ini, lambatnya waktu pengikatan semen justru menjadi suatu keuntungan. Sifat ini dapat mencegah risiko pengerasan dini (premature stiffening) akibat tingginya suhu lingkungan di Indonesia juga memberi kelonggaran waktu bagi para pekerja konstruksi di lapangan untuk melakukan mobilisasi pengangkutan, penuangan, hingga pemadatan secara optimal.

Mampukah Inovasi Pemanfaatan Bubuk Basalt dalam Memenuhi Ekspektasi Industri?

Untuk dapat menggunakan inovasi semen basalt ke dalam pasar sesungguhnya, dibutuhkan berbagai kepastian lebih lanjut. Berdasarkan regulasi dari Kementerian Perindustrian dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2014, seluruh varian semen komposit komersial wajib berlabel SNI demi keselamatan publik. Tanpa adanya dukungan regulasi standarisasi yang sah, inovasi semen ramah lingkungan berbasis bubuk basalt ini akan selamanya dicap ilegal untuk digunakan secara publik.

Tantangan lainnya, inovasi campuran semen ini juga harus memenuhi ekspektasi ekonomis pasar selaku konsumennya. Studi dari Tasoff (2026) dalam University of California menegaskan bahwa inovasi semen basalt dapat memotong kebutuhan energi hingga di bawah 60%. Proyeksi konsumsi energi inilah yang diproyeksikan mampu menekan biaya operasional menjadi lebih murah. Namun tidak hanya terkait biaya, kepercayaan publik atas kualitas semen basalt juga menjadi faktor penentu yang krusial. Inovasi semen basalt harus dapat bersaing dengan semen konvensional yang telah menjadi tumpuan industri konstruksi selama lebih dari satu abad. 

Bubuk Basalt Terobosan Konstruksi Hijau Indonesia

Secara keseluruhan, bubuk basalt dapat menjadi jawaban konkret atas isu lingkungan industri konstruksi di Indonesia. Pada kadar optimal 5-15%, pemanfaatan bubuk basalt terbukti mampu memangkas jejak karbon hingga 22% tanpa mengurangi kekuatan mekanis semen yang dihasilkan. Uniknya, inovasi ini juga menyebabkan perlambatan waktu ikat yang cocok dengan kondisi iklim di Indonesia demi mencegah pengerasan dini adonan semen.

Berkat melimpahnya ketersediaan material vulkanik di Indonesia, bubuk basalt memiliki keunggulan pasokan jangka panjang yang jauh lebih kompetitif dibanding inovasi semen hijau lainnya. Melalui kesesuaian standar regulasi serta kebutuhan pasar yang terpenuhi, tentu inovasi semen bubuk basalt berpeluang menjadi tumpuan baru bagi industri konstruksi khususnya di Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arya Destiano Pratama
Seorang mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)