Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

7 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan
Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pada dasarnya, sebagian orang tua berpikir bahwa meskipun dirinya belum menjadi pribadi yang saleh, setidaknya ia masih dapat mengarahkan keturunannya agar menjadi anak yang saleh.

  • Ketika seseorang menginginkan keturunan yang saleh, semestinya harapan itu tidak hanya berhenti pada tuntutan kepada anak.

  • Kebaikan diperoleh dengan mengikuti orang-orang baik dan meneladani keutamaan yang terdapat dalam perkara-perkara yang baik.

Ada satu hal yang sering kali luput dalam pendidikan keluarga, khususnya bagi mereka yang telah menjadi orang tua: kita sering begitu besar dalam menuntut dan berharap agar anak-anak kita menjadi anak yang saleh, baik, berakhlak, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, terkadang kita lupa untuk mengimbangi tuntutan dan harapan tersebut dengan pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita menjadi teladan dari kesalehan dan kebaikan yang kita harapkan itu?

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Karena pada dasarnya, sebagian orang tua berpikir bahwa meskipun dirinya belum menjadi pribadi yang saleh, setidaknya ia masih dapat mengarahkan keturunannya agar menjadi anak yang saleh. Seolah-olah kesalehan anak dapat dibentuk hanya dengan nasihat, larangan, perintah, dan arahan. Padahal, dalam ajaran Islam, pendidikan tidak berhenti pada apa yang diucapkan. Ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata: uswah, keteladanan yang hidup di hadapan mata.

Keshalehan adalah harapan yang perlu diwujudkan melalui orang-orang yang mendidik dan mengarahkannya. Jika seorang guru ingin memiliki murid-murid yang baik dan saleh, maka ia harus mampu memperlihatkan kesalehan dan kebaikan itu kepada murid-muridnya dalam bentuk uswah atau keteladanan. Demikian pula orang tua. Jika ingin anak-anaknya memiliki akhlak yang baik, maka akhlak tersebut harus terlebih dahulu tampak dalam kehidupan orang tuanya.

Keteladanan atau uswah merupakan ikhtiar seseorang dalam memperlihatkan sikap dan perilakunya dalam keadaan yang baik dan benar. Karena itu, tidak ada keteladanan tanpa pembuktian nyata melalui perilaku dan sikap. Uswah orang tua bukan hanya berada dalam bingkai kata-kata yang diucapkan lisannya, tetapi harus diimbangi dengan contoh nyata yang dapat dilihat, dirasakan, dan disaksikan oleh anak-anaknya.

Bukan berarti anak tidak perlu diberikan contoh secara terus-menerus. Justru dalam konsep pendidikan keturunan, hal tersebut memang sangat penting. Hanya saja, pendidikan tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada nasihat-nasihat. Anak tidak hanya membutuhkan apa yang harus ia dengarkan, tetapi juga membutuhkan sesuatu yang dapat ia lihat. Ia membutuhkan perilaku yang dapat ia tiru. Ia membutuhkan figur yang dapat ia jadikan rujukan dalam menjalani kehidupannya.

Inilah yang kemudian sering dilupakan oleh para orang tua. Kebanyakan mereka berharap bahwa nasihatnya akan mampu membuat anak menjadi saleh. Mereka berharap nasihat agama yang terus disampaikan akan membentuk akhlak anak. Bahkan terkadang mereka berharap contoh dari guru di sekolah, ustaz di majelis, atau tokoh agama yang mereka hadirkan dapat membentuk kesalehan anak-anaknya. Padahal, aksi nyata dari sikap dan perilaku orang tua justru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak.

Keturunan tidak bisa dididik hanya melalui tradisi lisan berupa nasihat agama. Ia perlu didorong melalui pembuktian nyata dari orang tuanya. Sentuhan perilaku orang tua justru sering kali jauh lebih membekas. Seorang manusia membutuhkan uswah yang riil, membutuhkan figur yang kuat, bukan sekadar kumpulan kalimat yang baik.

Kita mungkin tidak akan mampu menundukkan hati seseorang hanya dengan kata-kata, kecuali setelah ia menyaksikan contoh keteladanan yang menarik dan memikat hatinya. Manusia mungkin merasa gentar terhadap kekuatan, tetapi ia sangat menghargai kepahlawanan. Makna-makna yang indah akan menarik hatinya dan mengalir dalam jiwanya. Ia membangunkan perasaannya dan membuka pandangannya terhadap makna kebenaran yang tampak di hadapannya.

Dan barangkali, derajat tertinggi dari sebuah kekuatan adalah kekuatan untuk berdiri di atas kebenaran: menyeru manusia menuju kebenaran, sekaligus bersabar di atas jalannya. Sebab, seseorang tidak hanya mengajarkan kebenaran melalui apa yang ia katakan, tetapi juga melalui bagaimana ia menjalani kebenaran tersebut di dalam kehidupannya.

Cara seperti ini bukanlah sebuah khayalan belaka. Al-Qur'an bahkan mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat dalam tentang keturunan. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15:

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan perbaikilah akhlakku agar aku bisa menjadi contoh untuk keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang-orang muslim.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini menarik untuk direnungkan oleh setiap orang tua. Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan kita untuk berharap memiliki keturunan yang baik, tetapi juga mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar akhlak kita diperbaiki dan menjadi pribadi yang sholeh agar menjadi contoh yang baik untuk keturunan kelak. Doa itu hadir dalam rangkaian ayat yang sebelumnya berbicara tentang rasa syukur kepada Allah dan kebaikan kepada kedua orang tua.

Dengan demikian, ketika seseorang menginginkan keturunan yang saleh, semestinya harapan itu tidak hanya berhenti pada tuntutan kepada anak. Ia juga harus disertai dengan pertobatan, perbaikan diri, rasa syukur, dan kesungguhan untuk menjadi pribadi yang layak diteladani. Sebab, bagaimana mungkin kita begitu keras menuntut anak untuk menjadi baik, sementara anak setiap hari menyaksikan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita tuntut darinya?

Di sinilah konsep uswah menjadi sangat penting.

Dalam Islam, uswah hasanah yang paling sempurna adalah Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Uswah Rasulullah ﷺ bukan sekadar teori. Ia adalah kebenaran yang hidup dalam perilaku. Apa yang beliau ajarkan hadir dalam akhlaknya, dalam kesabarannya, dalam kelembutannya, dalam keberaniannya, dalam cara beliau memperlakukan keluarga, sahabat, bahkan orang-orang yang berbeda dan memusuhinya.

Karena itu, warisan uswah tersebut semestinya sampai kepada para orang tua. Rasulullah ﷺ adalah teladan bagi umat, sementara orang tua memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai keteladanan itu kepada generasi setelahnya. Dengan demikian, uswah hasanah tidak berhenti pada kekaguman kepada Rasulullah ﷺ, tetapi harus diwariskan melalui perilaku kita kepada anak-anak kita.

Itulah mengapa Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa al-uswah memiliki makna yang berdekatan dengan al-qudwah, yaitu mengikuti orang lain dalam sifat, akhlak, dan perilaku yang dimilikinya, baik dalam perkara yang baik maupun buruk.

Syaikh Shalih bin Hamid juga menjelaskan bahwa uswah mengandung dua sisi pada diri manusia: kebaikan dan keburukan. Kebaikan diperoleh dengan mengikuti orang-orang baik dan meneladani keutamaan yang terdapat dalam perkara-perkara yang baik. Sementara keburukan muncul ketika seseorang berjalan di atas jalan yang hina, mengikuti dan meneladani pelaku keburukan tanpa ilmu.

Maka, sesungguhnya setiap orang tua sedang menjadi uswah, disadari ataupun tidak. Anak-anak sedang belajar dari kita, bahkan ketika kita merasa tidak sedang mengajar mereka. Mereka melihat bagaimana kita berbicara kepada pasangan. Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain. Mereka melihat bagaimana kita menghadapi kemarahan, kesulitan, uang, kekuasaan, perbedaan, dan bahkan bagaimana kita menjalankan agama ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Anak mungkin lupa dengan sebagian besar nasihat yang pernah kita sampaikan. Tetapi ia bisa jadi sangat ingat bagaimana ayahnya bersikap ketika marah. Ia mungkin lupa ayat yang pernah kita bacakan. Tetapi ia akan mengingat bagaimana ibunya memperlakukan orang lain. Ia mungkin tidak mengingat berapa kali kita memerintahkannya untuk salat, tetapi ia akan melihat apakah orang tuanya sendiri menjaga salat atau tidak.

Karena itu, pendidikan keluarga sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada anak, tetapi siapa diri kita di hadapan mereka.

Barangkali inilah salah satu makna terdalam dari doa dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15. Ketika kita memohon, وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي “perbaikilah akhlakku agar bisa menjadi contoh untuk keturunanku,” kita sebenarnya sedang diingatkan bahwa persoalan keturunan bukan hanya persoalan bagaimana anak harus menjadi baik, tetapi juga bagaimana orang tua terus memperbaiki dirinya agar layak menjadi jalan kebaikan bagi keturunannya.

Sebab, anak-anak tidak hanya mewarisi nama kita. Mereka juga bisa mewarisi kebiasaan kita, cara berpikir kita, cara berbicara kita, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.

Maka sebelum terlalu sibuk bertanya, “Bagaimana agar anak saya menjadi anak yang saleh?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih dalam untuk kita ajukan kepada diri sendiri:

“Sudahkah saya menjadi orang tua yang layak diteladani?”

Sebab keteladanan bukanlah sekadar ucapan. Uswah adalah aksi nyata.

Dan mungkin, salah satu bentuk doa terbaik seorang ayah dan ibu bukan hanya memohon agar anaknya menjadi saleh, tetapi juga memohon kepada Allah agar dirinya terus diperbaiki, agar perilakunya menjadi baik, akhlaknya menjadi indah, ibadahnya menjadi benar, dan kehidupannya dapat menjadi contoh yang kelak dikenang oleh keturunannya.

Karena pada akhirnya, kita tidak hanya sedang membesarkan seorang anak.

Kita sedang menyiapkan manusia yang suatu hari nanti akan menjadi orang tua bagi generasi setelah kita.

Maka, jika kita menginginkan keturunan yang baik, barangkali kita harus mulai dari satu hal sederhana:

Jadilah uswah sebelum menuntut anak menjadi saleh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)