Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

5 menit baca
Juli Prasetya
Ditulis oleh Juli Prasetya diterbitkan
Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Video terkait Josepha Alexandra viral karena berani memprotes keputusan juri, yang menyalahkan jawaban benarnya, tapi ketika peserta lain menjawab sama, juri malah membenarkan jawaban peserta tersebut.

  • LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang-orang dewasa.

  • Video keberanian Josepha itu kemudian menuai berbagai macam dukungan dari masyarakat luas. Bahkan ia ditawari beasiswa ke China.

Kritis, pemberani, dan cerdas. Mungkin itu yang bisa saya sematkan kepada sosok Josepha Alexandra aka Ocha, salah satu peserta final Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) 2026.  Videonya viral karena berani memprotes keputusan juri, yang menyalahkan jawaban benarnya, tapi ketika peserta lain menjawab sama dengan jawaban Ocha, juri malah membenarkan jawaban peserta tersebut.

Video pembelaan Ocha itu viral karena ia dianggap sebagai representasi generasi muda yang berani dan kritis (kesadaran yang sudah jarang dimiliki oleh generasi sekarang) ketika ia berani menginterupsi dewan juri yang menyalahkan jawabannya yang sudah benar. Dan juri memberi tim C dari SMAN 1 Pontianak (tim Ocha) minus 5. Padahal jawabannya benar.

Alih-alih Dewan juri legowo dan meminta maaf karena sudah diingatkan kekhilafannya oleh Ocha, mereka malah menunjukkan arogansi yang luar biasa. 

Juri tetap bersikukuh dengan keputusannya bak dewa, yang merasa selalu benar, dan tidak bisa diganggu gugat. Bukannya meminta maaf atau merasa bersalah, dewan juri malah menyudutkan Ocha.  

Juri ketiga Dyastasita Widya Budi mengatakan Ocha tidak menyebutkan DPD dalam jawabannya, tapi Ocha dkk. bersikukuh ia menjawabnya, ada kalimat itu. Setelah merasa blunder akan kekeliruannya, Juri pertama Indri Wahyuni muncul untuk menghentikan "perlawanan" Ocha. Ia kemudian menjadi sorotan publik setelah cuplikan video Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) viral dan memicu perdebatan hangat mengenai objektivitas penilaian. Indri Wahyuni yang duduk di kursi dewan juri menuai kritik tajam karena pembelaannya terhadap keputusan juri yang menyalahkan jawaban benar Ocha dengan dalih masalah artikulasi Ocha yang kurang jelas. 

Ocha diam, tapi ia tetap yakin dan bersikukuh bahwa jawabannya benar, dan pihak Ocha berani membuktikan untuk memutar ulang video jawabannya. Tapi mungkin karena tak ingin malu. Dewan juri tetap menolak opsi itu, dan tetap kukuh berpendirian jika keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. "Hanya peserta yang berhak memprotes keputusan dewan juri, guru pendamping tidak. Dan keputusan tetap berada di dewan juri yang bersifat mengikat, dan tidak bisa diganggu gugat" kata-kata itu terlontar dari mulut salah satu juri saat ada guru pendamping Tim C ingin memprotes keputusan dewan juri. 

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang-orang dewasa. Dan arogansi para dewan juri itu malah merusak nilai dan semangat dari perlombaan yang diadakan oleh MPR RI itu sendiri. Lembaga yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan, tapi malah dirusak oleh orang-orang arogan, dan tak berintegirtas macam itu.

Mereka mengira sanggahan dan protes Ocha itu seperti pisau yang menggores integritas dan (terutama) ego mereka, sebagai orang dewasa, sekaligus sebagai juri dan pejabat. Mereka kira mereka adalah malaikat yang tak pernah berbuat salah. Mereka lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Yang kadang berbuat salah. Tapi mungkin karena ego mereka lebih besar dan ego mereka pula yang dikedepankan, maka ketika salah satu dewan juri membuat pernyataan permintaan maaf pun kata-kata yang disampaikan blunder dan tidak jelas sama sekali. Ia seperti ingin memintaa maaf, tapi gengsi. Dan ketika dimintai klarifikasi kenapa dewan juri tidak menyampaikan maaf secara terbuka, pihak MPR bilang. Permintaan maaf mereka tidak perlu, karena sudah diwakili oleh Lembaga. Bukan main.

Mungkin ketika mereka yang tua-tua itu diingatkan oleh anak muda, yang umurnya jauh di bawah mereka. Mereka tidak menerimanya, dan menganggap itu sebagai sebuah penghinaan, pembangkangan, dan bentuk kekurangajaran. Mereka sepertinya menganggap tak perlu ada permintaan maaf kepada Ocha dan kepada pihak yang dirugikan. Karena mereka adalah dewan juri, dan dewan juri selalu benar, keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Dan ketika diminta untuk membuat pernyataan permohonan maaf secara public, mereka menjawab itu tidak perlu, karena sudah diwakili oleh lembaga.

Saat itu, setelah dewan juri mengatakan bahwa keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat, dan hak menilai ada pada dewan juri. Ocha surut, ia terlihat memasang wajah kuyu, marah, kecewa, dan sedih, semua bercampur menjadi satu. Tapi ia tetap berdiri di sana. Ia sudah berani mencari keadilan itu,  mencoba melawan sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya. Meskipun ia berhadapan dengan para pejabat sekalipun, Josepha tidak gentar. Ia tetap berdiri dengan berani dan tegar.

Setelah Josepha ditekan oleh 2 dewan Juri dewasa yang "membungkamnya" ada hal yang lebih menyebalkan lagi. MC dalam acara lomba tersebut Shindy Lutfiana bukannya meluruskan, menengah,  mengklarifiksi jawaban, atau memberikan dukungab dan empati terhadap Josepha. Ia malah dengan entengnya nyeletuk "mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja". Begitulah ketika seseorang tidak bisa menempatkan diri dengan benar. Ia mengira celetukannya itu hanya candaan untuk mencairkan suasana. Tapi kalau ia peka, dan bisa menempatkan diri dengan benar, ia akan paham. Tidak perlu menjadi Josepha untuk memahami betapa menyakitkannya ungkapan kosong dan tak penting macam itu, ketika seorang anak tengah mencari keadilan, memegang prinsipnya, nilainya, dan kebenaran akan jawabannya, tapi malah dikatakan sebagai "hanya perasaanmu saja".  Sebenarnya Si MC cukup memiliki sedikit rasa peka dan empati saja, cukup sedikit saja. Maka ia akan paham bahwa celetukannya itu sangat melukai seseorang. Apalagi di posisi Josepha saat itu.

Tapi sekali lagi, Josepha tidak gentar,  ia tetap berdiri tegar, sangat profesional, tenang, dan dewasa. Mungkin saja kebijaksanannya melebihi orang-orang dewasa yang  menjadi dewan juri yang terhormat di situ. 

Video keberanian Josepha itu kemudian menuai berbagai macam dukungan dari masyarakat luas. Bahkan ia ditawari beasiswa ke China. Dan sikap arogansi dewan juri serta sikap tak profesional dari MC langsung menjadi bahan gorengan netizen Indonesia.  

Yang bisa kita pelajari dari sini adalah, arogansi yang ditunjukkan para dewan juri yang juga pejabat itu mungkin saja sedikit banyak adalah cerminan dari perilaku pejabat kita. Meskipun tidak semua pejabat itu arogan, tapi hampir sebagian besar jabatan akan melenakan mereka. Dan mereka merasa besar dan bebas untuk bersikap arogan, karena merasa diri sebagai yang paling pejabat. Yang bisa dengan seenaknya membungkam orang-orang berani dan kritis untuk menyuarakan kebenaran, dan mencari keadilan.

Sedangkan Josepha Alexandra adalah kita. Ia adalah generasi muda kita, cerminan masyarakat kecil kita yang ingin mencari keadilan, tapi suara dan langkah beraninya kadang dicoba untuk dibungkam, oleh kekuasaan, oleh relasi kuasa. Karena di tangan dewan jurilah segala keputusan diambil, dan dengan dalih keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat. Mereka jadi bersikap semena-mena, mereka bersikap sewenang-wenang,  karena merasa diri selalu benar, memiliki kuasa untuk membungkam suara, dan tak ingin mendengarkan. Meskipun itu adalah sebuah kebenaran. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Juli Prasetya
Tentang Juli Prasetya
Penulis asal Banyumas. Kumcernya Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)