Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

9 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Dalam lanskap sejarah Indonesia, gastronomi Jawa bukan sekadar perkara mengenyangkan perut. Di balik setiap hidangan tersimpan jejak budaya, sejarah, dan identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Takaran bumbu, pemilihan bahan, hingga teknik pengolahan mencerminkan kearifan lokal sekaligus kecerdasan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Semangat inilah yang diusung Ida S. melalui karyanya, Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa).

Melalui buku tersebut, Ida S. berupaya menghadirkan panduan memasak yang tidak hanya praktis, tetapi juga memiliki nilai penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi kuliner. Buku ini ditujukan kepada kaum putri maupun masyarakat umum agar pengetahuan tentang masakan tradisional tetap hidup dan tidak perlahan hilang ditelan zaman.

Dokumentasi semacam ini menjadi penting karena banyak pengetahuan kuliner pada mulanya diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung di dapur. Tanpa pencatatan yang memadai, resep, teknik memasak, dan kekayaan rasa yang menjadi bagian dari khazanah Nusantara dapat perlahan terlupakan.

Melalui literatur kuliner klasik seperti Kawan Dapur, kita dapat melihat bahwa dapur bukan sekadar ruang untuk mengolah makanan. Ia juga menjadi tempat berlangsungnya pewarisan pengetahuan dan ingatan budaya. Dari sanalah cita rasa masa lalu terus dipertahankan, sekaligus menjadi penghubung antara pengalaman kuliner generasi terdahulu dengan masyarakat masa kini.

Tentang Buku "Kawan Dapur" Karya Ida S.

Dokumentasi tertulis dalam dunia kuliner merupakan jangkar yang menjaga keberlangsungan resep tradisional agar tidak hilang atau menjadi "hambar bak masakan tanpa garam". Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya. Diterbitkan oleh Toko Buku "Amin" yang berbasis di Madiun, karya Ida S. ini merupakan representasi literatur domestik era 1960-an.

Dalam konteks historis, saya menemukan satu detail kecil menarik berupa perbedaan penomoran dalam buku ini. Pada bagian Kata Pengantar, penulis menyebutkan bahwa buku tersebut memuat “95 macam masakan”. Namun, ketika melihat Isi Buku atau daftar isinya, penomoran resep justru berakhir pada angka 96. Ketidakkonsistenan semacam ini dapat dipandang sebagai salah satu ciri khas buku cetakan lama, sekaligus memberi gambaran mengenai proses penyuntingan dan produksi literatur pada zamannya yang belum seketat penerbitan modern.

Menarik pula mencermati gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini. Penulis memilih penyampaian yang “singkat, jelas, dan sederhana”, terutama dalam menjelaskan bahan maupun langkah memasak. Pilihan tersebut bukan semata-mata persoalan gaya penulisan, tetapi juga dapat dibaca sebagai upaya menghadirkan panduan yang praktis dan mudah diterapkan. Dalam konteks kehidupan masyarakat pascakemerdekaan, khususnya bagi ibu rumah tangga dan remaja putri yang menjadi salah satu sasaran pembaca, pengetahuan domestik perlu disampaikan secara lugas agar instruksi memasak dapat segera dipahami dan dipraktikkan di dapur.

Dari segi isi, buku ini memperlihatkan keragaman masakan Jawa yang cukup luas. Hidangan pokok mencakup berbagai cara mengolah nasi, mulai dari nasi putih, nasi liwet, hingga nasi gurih. Ragam hidangan berkuah juga mendapat tempat yang cukup besar melalui berbagai jenis soto ayam, soto daging, kare, dan gulai. Sementara itu, bahan pangan hewani seperti daging lembu, kambing, dan ayam diolah dengan beragam teknik menjadi hidangan seperti semur, bali, hingga sate.

Kekayaan tersebut semakin lengkap dengan hadirnya berbagai olahan sayuran dan sambal. Buku ini mencatat beragam janganan atau masakan sayur, disertai aneka sambal serta olahan botok. Susunan resep yang begitu beragam menunjukkan bahwa buku ini tidak sekadar berfungsi sebagai panduan memasak, tetapi juga menjadi rekaman kecil mengenai kekayaan bahan, teknik pengolahan, dan kebiasaan makan masyarakat Jawa pada masanya.

Potret Dapur Tradisional: Teknik Memasak Sebelum Era Rice Cooker

Di masa lalu, keterbatasan teknologi dapur justru menjadi katalisator lahirnya ketelatenan. Proses memasak bukan sekadar mematangkan bahan, melainkan sebuah ritual slow cooking yang menghasilkan kedalaman rasa yang sulit direplikasi oleh alat modern. Salah satu teknik paling fundamental yang dibedah oleh Ida S. adalah proses menanak nasi yang autentik menggunakan dandang atau sabrukan.

Proses ini dimulai dengan tahap dipususi (dicuci bersih). Menariknya, menanak nasi dilakukan dalam dua tahap besar. Pertama, beras direbus hingga menjadi nasi setengah matang yang disebut kempal. Dalam instruksinya, Ida S. menekankan pentingnya manajemen api untuk mencapai tekstur sempurna:

“Sekiranya berasnya agak kempal dan airnya hampir asat, apinya harus dikecilkan... Setelah beras itu kempal, tandanya itu nasi sudah setengah matang. Kemudian angkatlah, biarkan dingin.”

Setelah mencapai tahap kempal, nasi dipindahkan dan pengukus dipanaskan kembali hingga air mendidih sebelum nasi dimasukkan untuk tahap akhir. Teknik ini sering melibatkan proses ngaru—mencampur nasi setengah matang dengan air panas atau santan—yang menuntut kepekaan koki dalam mengatur besaran api.

Kearifan lain muncul dalam pembuatan nasi liwet. Alih-alih membuang kerak nasi yang melekat di dasar panci yang disebut intip, masyarakat era tersebut menerapkan filosofi zero-waste tradisional yang lahir dari ekosistem dapur subsisten. Intip yang kering tidak dibuang, melainkan direbus kembali dengan air dingin agar mudah diambil, lalu dicampur dengan kelapa parut dan garam untuk dikepal-kepal sebagai kudapan gurih.

Sementara itu, untuk hidangan nasi gurih, kompleksitas rasa dibangun melalui penggunaan santan kental, daun jeruk purut, daun sereh, dan kunir yang harus "diparut diberi air lalu diperas dan disaring" untuk menghasilkan warna kuning alami yang merata dan aroma yang mewah.

Khazanah Hidangan Unik: Eksplorasi Bahan dan Diksi Rasa

Masyarakat Jawa pada era 1960-an menunjukkan kreativitas yang tinggi dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Hampir seluruh bagian tanaman dapat diolah menjadi makanan, mulai dari daun, batang, bunga, tunas, hingga bahan yang secara visual mungkin dianggap sudah tidak layak digunakan. Jejak kreativitas tersebut terlihat jelas dalam berbagai resep yang dihimpun Ida S., yang memperlihatkan bagaimana keterbatasan bahan justru melahirkan beragam teknik pengolahan dan cita rasa.

Keragaman itu tampak terutama pada kelompok janganan atau masakan sayur. Lodeh Tewel, misalnya, menggunakan nangka muda sebagai bahan utama, sedangkan Jangan Lumbu memanfaatkan daun dan batang talas atau bentul yang dimasak bersama kacang tolo. Ada pula Jangan Kunci yang menggunakan temu kunci untuk memberi aroma segar pada pare atau gambas. Sementara itu, Jangan Menir memadukan bayam dan jagung muda, dengan instruksi khas yang menekankan penggunaan “kuah yang banyak”. Rangkaian resep ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar rumah maupun kebun.

Kreativitas yang sama juga terlihat pada berbagai olahan tempe dan sambal. Salah satu bahan yang menarik adalah tempe bosok, yakni tempe yang telah mengalami fermentasi lebih lanjut (over-fermented). Bahan ini digunakan dalam hidangan seperti Mendal, Sambal Letok, dan Sambal Tumpang.

Dalam perspektif kuliner, fermentasi lanjutan tersebut menghasilkan aroma dan rasa yang lebih kuat sehingga dapat berfungsi sebagai sumber cita rasa gurih alami. Penggunaan tempe bosok dengan demikian tidak semata-mata mencerminkan upaya memanfaatkan bahan yang hampir terbuang, tetapi juga menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap karakter rasa yang muncul dari proses fermentasi. Selain itu, terdapat Sambal Lodoh yang memadukan udang, santan kental, dan belimbing wuluh sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih dan asam yang seimbang.

Teknik memasak dengan cara membungkus dan mengukus juga menempati bagian penting dalam buku ini. Salah satu hidangan yang paling unik adalah Botok Tawon, yang menggunakan anak lebah beserta sarangnya. Ida S. bahkan mencatat langkah teknis yang cukup rinci, yakni sarang lebah terlebih dahulu “direndam air panas perlunya agar anak-anak lebah bisa terlepas” sebelum dicampurkan dengan bumbu dan kelapa. Teknik serupa juga terlihat pada Botok Simbukan dan Botok Lamtoro, yang memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus sekaligus media dalam proses pengukusan. Instruksi memasaknya menggunakan istilah ditanak, memperlihatkan kedekatan teknik pengolahannya dengan cara tradisional menanak nasi.

Selain hidangan utama, buku ini juga merekam berbagai pelengkap dengan teknik pengolahan yang tidak kalah menarik. Pada Kerawu Sayur, misalnya, sayuran yang telah dimasak harus ditiriskan menggunakan wakul atau wadah anyaman bambu hingga airnya benar-benar habis sebelum dicampur dengan kelapa parut berbumbu. Ada pula Semayi, olahan kelapa berbumbu yang setelah dibungkus rapat justru didiamkan selama dua hari sebelum dikonsumsi. Proses penyimpanan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan rasa dalam dapur tradisional tidak selalu berlangsung melalui pemanasan, tetapi juga melalui waktu dan proses pematangan.

Keseluruhan resep tersebut memperlihatkan bahwa dapur Jawa pada masa itu dibangun atas pengetahuan yang sangat dekat dengan alam, pengalaman, dan efisiensi bahan. Hampir tidak ada bagian pangan yang terbuang percuma. Dari tempe bosok hingga sarang lebah, dari batang talas hingga kelapa berbumbu yang didiamkan berhari-hari, semuanya menunjukkan kecakapan masyarakat dalam mengubah bahan sederhana menjadi hidangan yang memiliki karakter rasa dan teknik pengolahan yang khas.

Trivia Gastronomi: Fakta Menarik di Balik Resep Ida S.

Resep-resep tradisional dalam buku ini tidak hanya memuat petunjuk memasak, tetapi juga menyimpan pengetahuan praktis tentang kesehatan, pengawetan bahan pangan, dan keseimbangan rasa. Banyak instruksi disampaikan secara sederhana, namun jika dibaca lebih dalam, terlihat adanya pengalaman kuliner yang terbentuk dari kebiasaan hidup sehari-hari.

Salah satu contoh yang menarik adalah resep Sop Orang Sakit. Hidangan ini memperlihatkan perhatian terhadap makanan yang ringan dan mudah dikonsumsi ketika kondisi tubuh sedang lemah. Biskuit terlebih dahulu dilunakkan dengan air, kemudian direbus sebentar bersama air jeruk nipis, gula, dan garam. Komposisinya sederhana, tetapi menunjukkan upaya menghadirkan makanan yang lembut sekaligus tetap memiliki rasa.

Hal lain yang cukup menonjol adalah pengulangan kalimat “jangan lupa sambalnya” pada berbagai resep, mulai dari soto ayam, semur daging, hingga jangan lumbu. Pengulangan ini menunjukkan bahwa sambal memiliki posisi penting dalam pola makan masyarakat Jawa. Sambal bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari komposisi rasa yang membantu memberi aksen pedas dan segar, terutama ketika disandingkan dengan hidangan berbahan santan atau daging yang cenderung kaya dan gurih.

Buku ini juga merekam teknik pengawetan alami melalui resep seperti Dendeng Ragi dan Dendeng Kering. Setelah dibumbui, daging dijemur di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, kemudian digoreng hingga kering. Teknik dehidrasi semacam ini merupakan cara tradisional untuk memperpanjang daya simpan makanan, sehingga lauk dapat disimpan lebih lama di dalam stoples tanpa bergantung pada bahan pengawet modern.

Keunikan lain terlihat pada penggunaan bunga turi putih dalam hidangan pecel. Bunga turi direbus terlebih dahulu hingga cukup lunak sebelum disajikan bersama sayuran lain dan saus kacang. Bahan ini menghadirkan karakter rasa dan tekstur yang khas, sekaligus menunjukkan luasnya pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar mereka sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

Keseluruhan contoh tersebut memperlihatkan bahwa resep tradisional bukan sekadar kumpulan takaran bahan dan cara memasak. Di dalamnya tersimpan pengetahuan mengenai cara merawat tubuh, menjaga makanan agar tahan lebih lama, sekaligus membangun keseimbangan rasa dari bahan-bahan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menjaga Api Dapur Tetap Menyala

Meninjau kembali literatur kuliner era 1960-an seperti karya Ida S. bukan sekadar aktivitas nostalgia, melainkan sebuah bentuk konservasi budaya yang vital. Di tengah gempuran makanan instan yang serba cepat, nilai-nilai autentisitas—seperti ketelatenan dalam menanak nasi, pemanfaatan bahan lokal secara kreatif, dan keseimbangan rasa yang presisi—tetap memiliki relevansi yang kuat bagi identitas kita.

Buku "Kawan Dapur" mengingatkan kita bahwa memasak adalah tentang perhatian, kesabaran, dan penghormatan terhadap alam. Dengan memahami jejak rasa dari masa lalu, kita dapat memastikan bahwa warisan adiluhung ini tetap hidup. Mari kita terus menghidupkan semangat "kawan tempat bertanya" ini di dapur kita masing-masing, agar sejarah tidak hanya berakhir sebagai catatan bisu, tetapi tetap menjadi hidangan nyata yang menyatukan keluarga di meja makan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)