Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

6 menit baca
J O
Ditulis oleh J O diterbitkan
Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Komitmen Net Zero Emission perbankan dipertanyakan, karena di balik deklarasi keberlanjutan masih ditemukan aliran pembiayaan besar ke sektor batu bara dan bahan bakar fosil.

  • Kesenjangan antara klaim dan praktik mengarah pada dugaan greenwashing, ketika peningkatan portofolio hijau dan citra ESG tidak selalu diikuti perubahan nyata dalam arah pembiayaan bank.

  • Lemahnya regulasi dan sanksi membuka ruang manipulasi, sehingga pelaporan keberlanjutan berisiko menjadi formalitas tanpa verifikasi dan pengawasan yang cukup kuat.

Krisis iklim bukan lagi sebuah ancaman masa depan, melainkan sebuah kenyataan yang dapat langsung dirasakan. Dalam AR6 Synthesis Report yang dirilis pada Maret 2023, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa krisis iklim yang disebabkan oleh manusia terjadi secara cepat dan meningkatkan frekuensi terjadinya cuaca ekstrem di seluruh dunia, mulai dari gelombang panas, curah hujan tinggi, hingga kekeringan ekstrem dan siklon tropis. Suhu bumi saat ini telah meningkat mencapai 1,1°C dan berisiko meningkat hingga 2,8°C apabila mengacu pada komitmen negara-negara dalam Nationally Determined Contributions (NDC) suhu bumi saat ini jauh melampaui batas aman 1,5°C. Di tengah tekanan inilah, perusahaan perbankan global berlomba-lomba mendeklarasikan komitmen  Net Zero Emission (NZE) sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan pemenuhan ESG (Environmental, Social, and Governance). Laporan keberlanjutan yang tebal menjadi tren laporan tahunan pada berbagai bank di dunia, seolah-olah sektor keuangan memposisikan dirinya sebagai garda terdepan untuk menyelamatkan lingkungan.

Namun dibalik komitmen perbankan terhadap Net Zero Emission (NZE) kerap kali selaras dengan bagaimana uang yang dimiliki bank mengalir. Laporan tahunan Banking on Climate Chaos mencatat bahwa terdapat pendanaan bahan bakar fosil dari 60 bank terbesar dunia telah mencapai hampir 6,9 triliun dolar AS dalam delapan tahun sejak Perjanjian Paris disepakati. Hal yang lebih ironis adalah bahwa sebagian besar dana yang dialirkan justru mengalir kedalam proyek ekspansi bahan bakar fosil baru. Bank-bank yang memiliki komitmen terhadap net zero emission justru tercatat membiayai tambang batu bara, pengeboran minyak lepas pantai, dan proyek gas melalui skema pembiayaan yang jarang tersorot oleh media dan memanfaatkan celah regulasi yang ada.

Net Zero Emission sebagai Strategi Pemasaran

Kemudian bukan timbul lagi pertanyaan seperti apakah bank memiliki komitmen terhadap net zero emission, melainkan mengapa hampir setiap bank termasuk bank di Indonesia berlomba-lomba mendeklarasikannya komitmennya. Kasus pada bank mandiri memberikan gambaran yang jelas mengenai logika di baliknya. Dalam jurnalnya berjudul Green Financial or Greenwashing? Bank Mandiri Innovation in Support of Net Zero Emission 2060, Wibowo menyatakan bahwa Bank Mandiri memiliki portofolio berkelanjutan senilai Rp 278 triliun, dengan portofolio hijau yang tumbuh 20,4% per tahun menjadi Rp139 triliun, sebagai bagian dari komitmennya terhadap target Net Zero Emission 2060. Angka-angka pertumbuhan semacam ini kerap ditonjolkan dalam laporan tahunan dan pemberitaan karena berfungsi untuk menunjukkan kepatuhan terhadap tren global sekaligus membangun citra sebagai bank yang berkembang di mata investor, regulator, dan nasabah yang makin kesini makin sadar dengan isu lingkungan sehingga menjadi sebuah nilai jual yang baru yang tidak dimiliki bank-bank yang belum mengumumkan komitmennya. 

Pertumbuhan portofolio hijau tidak mencerminkan bahwa adanya perubahan arah pembiayaan secara menyeluruh. Meskipun dana telah dialokasikan untuk proyek energi terbarukan seperti tenaga air dan panas bumi, sebagian besar dana tetap mengalir ke sektor-sektor berisiko pada lingkungan, seperti pengembangan smelter yang bergantung pada bahan bakar fosil sehingga bertentangan dengan tujuan NZE. Oleh karena itu jika kita melihat bank Mandiri sebagai contoh program ESG yang dilakukan oleh bank mandiri bisa dibilang belum memenuhi standar keberlanjutan dan mengindikasikan praktik greenwashing. Hal serupa juga terlihat pada level global riset National Bureau of Economic Research (NBER) terhadap bank-bank anggota Net Zero Banking Alliance (NZBA) menemukan bahwa bank-bank besar mengalami sebuah peningkatan yang signifikan pada rating ESG setelah bergabung dengan NZBA, namun bank-bank dengan komitmen net zero emission tidak secara berbeda mengalihkan pembiayaan mereka menjauh dari sektor-sektor yang mencemari lingkungan dibandingkan bank-bank yang tidak berkomitmen terhadap NZE. 

Kesenjangan Antara Komitmen dan Aliran Dana 

Kemana sebenarnya uang dari bank-bank mengalir. Dalam Laporan terbaru Koalisi BersihkanBankmu dengan judul “Mendanai Krisis Iklim: Bagaimana Perbankan di Indonesia Mendukung Pembiayaan Batubara” mengungkap bahwa sepanjang 2021–2024, lembaga keuangan di Indonesia mengucurkan pinjaman hingga $7,2 miliar kepada perusahaan batu bara, dengan lima bank nasional menyumbang $5,6 miliar dari total tersebut. Angka ini menjadi ironis mengingat bank-bank tersebut adalah pihak yang paling lantang mengampanyekan komitmen NZE 2060 dalam laporan keberlanjutan mereka sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan, laporan yang sama mencatat masih adanya rencana penambahan 11 gigawatt pembangkit listrik batu bara yang terhubung langsung ke fasilitas industri. 

Jika aliran dana ini ditelusuri lebih dalam hingga mencapai level korporasi penerima dana maka sebuah kesenjangan akan menjadi lebih tampak. Investigasi Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Trend Asia berjudul “Mendanai untuk Menunda” menemukan bahwa selama 2020-2023 sebuah perbankan nasional menyalurkan sebagian besar dana sebesar Rp 163 triliun kepada enam buah perusahaan batu bara besar di Indonesia dengan Bank Mandiri dan BRI menempati posisi pertama dan kedua sebagai pemberi dana terbesar masing-masing Rp 66 triliun dan Rp23 triliun. Bank Mandiri dalam laporan tahunannya secara eksplisit menyatakan tidak akan membiayai proyek yang dapat membahayakan lingkungan, namun pada kenyataannya  bank tersebut tercatat mendanai PLTU captive milik smelter aluminium yang diperkirakan melepas 5,2 juta ton CO2 per tahun. Kontradiksi antara sebuah pernyataan tertulis dan praktik pembiayaan semacam ini menegaskan bahwa jarak antara klaim NZE dan aliran dana merupakan pola yang berulang dan terdokumentasi yang pada akhirnya mengarah pada satu pertanyaan mengapa manipulasi semacam ini bisa terus dibiarkan berlangsung.

Mengapa Manipulasi Ini Bisa Terus Berlangsung 

Mengapa manipulasi ini bisa terus berlangsung? Jawabannya terletak pada lemahnya kerangka hukum yang mengatur pelaporan keberlanjutan perbankan di Indonesia. Dalam Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, Salsabela dkk menemukan bahwa meski regulasi ini mewajibkan sebuah bank menyusun Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dan Laporan Keberlanjutan, ketentuan sanksinya kurang memiliki daya paksa karena hanya bersifat administratif berupa teguran tertulis, tanpa eskalasi hukuman yang progresif. Ketiadaan indikator pelanggaran yang spesifik serta lemahnya mekanisme pengawasan dari OJK menyebabkan pelaporan keberlanjutan kerap terjebak pada formalitas semata. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tanpa reformasi regulasi yang memperkuat sanksi dan instrumen pengawasan, implementasi green banking berisiko menjadi sekadar pencitraan yang tidak memberikan dampak nyata.

Minimnya sanksi bukan hanya sebuah celah teknis melainkan pendorong bagi bank untuk terus mengulang pola yang sama. Herry Ginanjar, Chairman Indonesia Environment & Energy Center (IEPA) menyoroti bahwa self claim atas komitmen keberlanjutan di Indonesia tidak memiliki sanksi hukum berbeda dengan Amerika Serikat di mana perusahaan yang terbukti melakukan greenwashing dapat dikenai denda minimal satu juta dolar AS, sementara Indonesia belum memiliki mekanisme penegakan yang setara. Alih-alih menjadi pendorong perbankan berkelanjutan, POJK 51/2017 justru berisiko berfungsi sebagai kerangka legal yang secara tidak langsung melindungi praktik greenwashing, karena kepatuhan formal terhadap kewajiban pelaporan sudah cukup untuk memenuhi syarat regulasi tanpa perlu mengubah arah pembiayaan secara nyata. 

Sebuah kata Net Zero Emission dalam sebuah industri perbankan lebih sering beralih fungsi menjadi sebuah kata-kata pemsaran yang di bangun hnaya sebagai formalitas semata. Komitmen Net Zero Emission hanya digunakan sebuah bank untuk memperoleh keuntungan citra dan finansial tanpa harus benar-benar mengubah arah pembiayaan mereka. Bank-bank yang paling lantang berkomitmen terhadap lingkungan justru tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar pendanaan batu bara di Indonesia, dengan kontradiksi yang bahkan terjadi antara pernyataan tertulis mereka di laporan tahunan dan praktik nyatanya.

Persoalan ini pada akhirnya bukan hanya sekadar etika melainkan soal integritas pelaporan dan akuntabilitas keuangan  sebuah area yang seharusnya menjadi perhatian utama bagi profesi akuntansi. Selama laporan keberlanjutan tidak diperlakukan dengan standar verifikasi setara laporan keuangan, dan selama regulator belum memberi sanksi nyata atas kesenjangan antara klaim dan praktik, "Net Zero Emission" akan terus menjadi kata yang mudah diucapkan namun tidak benar-benar dijalankan. Krisis iklim yang dibahas di awal esai ini tidak akan berkurang hanya karena semakin banyak bank menuliskan target Net Zero Emission di laporan tahunan mereka. Krisis ini baru akan berkurang jika target itu benar-benar dapat diperiksa oleh pihak independen, memiliki sanksi yang tegas, dan bank berani menghentikan pendanaan ke sektor yang paling banyak menghasilkan emisi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

J O
Tentang J O
pemula yang sedang belajar menulis esai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 16:40

Romantisme Membaca Majalah Monitor : Ketika TVRI Menjadi Jendela Hiburan Keluarga

Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.

Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 15:14

Hari Lahir Kemenlu dan Bandung Gudangnya Diplomat Ulung

Banyaknya diplomat asal Kota Bandung yang berprestasi memberikan citra positif bangsa di mata dunia.

Ilustrasi Gedung Pancasila terkait dengan hari jadi Kementerian Luar Negeri, 19 Agustus (Sumber: galeri kemlu.go.id)
Wisata & Kuliner 20 Agu 2026, 13:22

Panduan Wisata Kebun Raya Kuningan: Taman Batu, Bunga Kuning, dan Udara Ciremai

Panduan lengkap Kebun Raya Kuningan, mulai dari harga tiket, jam buka, Rock Garden, Taman Kuning, hingga tips berkunjung ke kaki Gunung Ciremai.

Kebun Raya Kuningan.
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 13:01

DAMRI Leuwi Panjang—Cibiru: Antara Antusiasme Penumpang dan Berbagi Jatah dengan Angkot

Membicarakan transportasi umum di Bandung memang cukup rumit—baik pembagian rute maupun keterbatasan trayek yang bisa menjangkau setiap sudut Kota Bandung.

Antusiasme Pengguna DAMRI tidak sebanding dengan armada dan waktu yang disediakan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 11:14

Wujudkan Furnitur Fungsional yang Ergonomik untuk Mall di Bandung

Ada kecenderungan Mall yang kini banyak dikunjungi oleh masyarakat karena memiliki furnitur fungsional dan taman yang luas.

Kolase foto penulis disekitar furnitur fungsional Mall Sumaba (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 20 Agu 2026, 09:44

Menelusuri Jejak Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Arcamanik, Lapang Golf sampai Buruan Sae

Data BPS 2019–2024 mengungkap luas ruang terbuka hijau tiap kelurahan di Kecamatan Arcamanik, dari taman raksasa Sukamiskin hingga kebun warga Buruan Sae.

Pengendara melintasi jalan Pacuan Kuda Arcamanik pada Rabu, 19 Agustus 2026. Tampak jalan tersebut teduh karena masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)