Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

3 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)

Karena Fear of Missing Out (FOMO), Oktober membuat saya merasa perlu mengangkat tema peringatan Sumpah Pemuda. Ngomong-ngomong, kalau pada tahun 1928 sudah ada padel, saya yakin  di sela rangkaian kegiatan para pemuda akan menyempatkan bermain padel atau nongkrong cantik di cafe. Hari ini, kita perlu menengok cara anak muda menyikapi perbedaan. Hampir seabad lalu, sekelompok anak muda bisa berkumpul di Jakarta dari berbagai daerah—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, hingga Jong Celebes untuk menyelesaikan persoalan bersama–dalam kungkungan kolonialisme. Pertemuan itu jelas bukan untuk ajang adu gengsi gawai siapa paling canggih atau kendaraan siapa yang terkini. 

Bagaimana momentum sumpah pemuda yang monumental itu dapat menjadi alat reflektor kehidupan pemuda kiwari. Pertama, terkait dengan isu persatuan. Jika Tahun 1928 musuh utama persatuan adalah provinsialisme—rasa bahwa daerah sendiri lebih unggul dari yang lain–hari ini batas-batas geografis itu sudah kabur oleh gelombang globalisasi, internet. Anehnya, prasangka tidak pernah mau ikut hilang begitu saja. Sebaliknya, sekatan baru justru muncul di ruang digital, kubu politik, echo chamber media sosial, hingga algoritma yang membuat kita cuma mau dengar apa yang ingin kita dengar.

Dulu, pemuda berjuang menurunkan ego kedaerahan demi jadi satu bangsa. Hari ini, tantangannya adalah menahan ego jempol kita agar tidak gampang memecah belah saat ada beda pendapat di kolom komentar. Dari ratusan bahasa daerah, bahasa apa yang bisa bikin orang dari Sabang sampai Merauke saling paham? Pilihannya jatuh pada Bahasa Melayu yang disepakati menjadi Bahasa Indonesia. Meski Bahasa Indonesia sudah kokoh sebagai bahasa nasional. Tapi di era globalisasi, kita menghadapi tantangan baru, bahasa serapan asing, istilah populer internet, hingga komunikasi yang makin serba cepat dan singkat.

Bukan melarang bahasa gaul atau bahasa asing, melainkan menjaga agar Bahasa Indonesia tetap punya ruang utama sebagai alat perekat—bahasa yang dipakai untuk memahami satu sama lain, bukan untuk menghujat.

Menariknya, di tengah tekanan penjajahan dan ancaman penangkapan oleh pemerintah kolonial, mereka tidak memilih untuk mengurung diri atau merasa berjuang sendirian. Mereka duduk bersama, merumuskan ikrar, dan saling menopang. Lalu, bagaimana kalau cermin 1928 itu kita arahkan ke Indonesia hari ini—khususnya ke dalam diri dan pikiran anak mudanya?

Di tengah dunia yang makin terhubung karena globalisasi dan gelombang internet, anak muda justru makin sering merasa terisolasi dan cemas. Ruang digital melahirkan standar hidup yang semakin tidak realistis. Fenomena FOMO, tekanan pencapaian di usia muda, hingga komentar negatif di media sosial menjadi "penjajah baru" bagi kesehatan mental kita. Jika pemuda 1928 berjuang menyatukan perbedaan fisik dan menyatukannya dengan gagasan, generasi hari ini berjuang agar mentalnya tidak pecah di bawah tekanan zaman.

Salah satu pemicu krisis kesehatan mental adalah rasa tidak didengar dan ketakutan untuk terlihat lemah. Semangat 1928 mengajarkan bahwa tidak ada perjuangan yang bisa dilakukan sendirian. Kita butuh ruang aman di mana anak muda bisa jujur mengakui kalau mereka sedang tidak baik-baik saja, tanpa takut di-judge atau dianggap kurang bersyukur.

Sidang kedua Kongres 1928 menekankan pentingya pendidikan tidak boleh cuma soal angka di atas kertas, tapi harus membentuk karakter dan rasa cinta tanah air melalui kegiatan seperti kepanduan. Lalu mengapa hari ini sistem pendidikan kita masih berorientasi pada  nilai ujian dan pencapaian akademis semata-mata. Bukannya kita butuh anak muda yang bukan cuma cerdas secara teknis atau jago coding, tapi juga punya empati sosial, disiplin, dan kepedulian pada sesama. Bukankah kita tidak kekurangan contoh bahwa gelar akademik yang melekat pada seseorang tak pernah cukup mencegahnya melakukan korupsi.

Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar teks sejarah yang hanya dibaca berulang tanpa refleksi. Nilai terbesarnya ada pada keberanian untuk duduk bersama dan mencari titik temu di tengah perbedaan. Indonesia hari ini tidak lagi berjuang melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan ketimpangan, polarisasi, dan rasa acuh tak acuh. Kalau generasi 1928 berhasil menyatukan perbedaan yang begitu besar dengan keterbatasan teknologi, seharusnya kita yang punya segala kemudahan, hari ini, bisa berbuat lebih baik untuk menjaga rumah bersama, Indonesia.

Indonesia hari ini tidak hanya butuh anak muda yang kritis dan berprestasi, tapi juga anak muda yang sehat secara jiwa dan raga. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa menjaga tanah air dan bangsa ini, kalau kita sendiri lupa cara menjaga diri sendiri dan teman di sebelah kita? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.