Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

4 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)

Meski tingkat melek huruf sangat tinggi, namun kemampuan memahami bacaan masih berada di tingkat bawah dunia. PISA yang merupakan studi/evaluasi internasional yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development setiap tiga tahun sekali untuk mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains pada siswa berusia 15 tahun di berbagai PISA menyebut skor literasi Indonesia hanya menduduki peringkat 69 dari 81 negara. Dan, UNESCO menyebut hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca buku secara rutin. Tentu ini bukan data yang menggembirakan jika dibaca dalam peringatan bulan bahasa.

Tentu saja, banyak hal bisa disebut sebagai akarnya. Akan tetapi saya tertarik untuk mengulik satu faktor yang menyebut bahwa bangsa kita mengalami pergeseran dari budaya tutur ke budaya digital. Kita melompati fase budaya baca-tulis langsung menuju budaya lisan-digital (smartphone/media sosial). Informasi yang anak-anak kita peroleh hari ini didapat secara visual dan cepat, tanpa kedalaman analisis. Celakanya, guru-guru di kelas masih setia  dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita bisa disebut konvensional. Pengajaran di sekolah kerap kali menargetkan hafalan ketimbang kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi (High Order Thinking Skills) terhadap sebuah teks.

Kita mungkin perlu mundur jauh agak jauh menengok sejarah pemikiran dunia. Modernitas yang lahir di Barat sejak era Renaissance dan Enlightenment, abad 16 hingga 17, menandai dirinya dengan pergeseran besar dari era dominasi teosentris menuju pandangan dunia yang berpusat pada akal budi dan kebebasan manusia. Dan, ketika moderitas itu hadir di tengah-tengah kita, seperti makan nangka, kita tak hanya akan makan buahnya, kita juga akan berurusan dengan pulut atau getahnya.

Jika kita menengok sejarah pemikiran manusia, apa yang terjadi pada para pelajar kita hari ini menyimpan sebuah ironi yang sangat dalam. Teknologi yang diciptakan modernitas untuk membebaskan manusia dari kebodohan serta mempermudah kehidupan– komputer dan internet diciptakan sebagai perpustakaan raksasa agar anak-anak sekolah bisa mengakses ilmu pengetahuan dengan mudah, berpikir kritis, dan membangun masa depan yang lebih cerah. Namun, di tangan anak-anak Indonesia, untuk menyebut sebagaian, teknologi bukannya digunakan untuk mengasah ketajaman berpikir, melainkan menumpulkan rasa ingin tahu. Kemampuan membaca buku tebal, memahami paragraf yang panjang, serta merangkai argumen yang logis perlahan luntur, tergerus oleh kebiasaan mengonsumsi informasi serba cepat yang habis dalam hitungan detik. Rasionalisme yang diagungkan modernitas justru lumpuh ketika anak-anak berlutut di hadapan kecanggihan algoritma yang dirancang untuk menyita waktu dan perhatian mereka.

Kondisi ini menjadi semakin pelik manakala mereka hidup di dunia digital, mereka kehilangan “momen seru” di dunia nyata yang acap menyuntikkan kebosanan dan ketidakmenarikan. Mereka lebih peduli pada jumlah likes, angka pengikut, serta penampilan visual di layar kaca daripada interaksi jujur di dunia nyata. Inilah yang membuat mereka terjebak dalam ruang ilusi–sebuah keadaan media sosial terasa lebih nyata dan menentukan harga diri mereka dibandingkan kehidupan nyata di sekolah atau di rumah.

Tidak hanya itu, bagi seorang pelajar yang sudah ketergantungan media sosial, ucapan seorang pembuat konten yang lucu atau viral sering kali dianggap lebih berharga dan dipercaya ketimbang nasihat guru atau ilmu di dalam buku pelajaran. Kebenaran tidak lagi diukur dari bukti atau logika yang kuat, melainkan dari sejauh mana hal tersebut terlihat menarik dan estetik di layar gawai berukuran 6 inci.

Para siswa mungkin hadir secara fisik di dalam kelas, namun pikiran dan jiwa mereka mengembara jauh di dalam semesta maya. Mereka menjadi mudah cemas karena takut tertinggal tren (FOMO), terbiasa menilai orang lain sebatas tampilan luar, dan kehilangan kemampuan untuk mendengarkan sesama dengan tulus. Kelas yang seharusnya menjadi ruang diskusi yang hangat berubah menjadi sekumpulan individu yang terasing satu sama lain dalam kesendirian digital mereka.

Menyalahkan gadget atau melarang penggunaannya secara total bukanlah jawaban yang bijak. Kita perlu menata ulang cara kita mendidik anak-anak di sekolah. Kurikulum sekolah di Indonesia harus berani melangkah lebih jauh, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan komputer, melainkan melatih cara berpikir di era digital. Pelajar perlu diajak untuk memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja memengaruhi emosi mereka, agar mereka bisa kembali memegang kendali atas pikiran sendiri.

Sekolah harus mengambil peran, menyediakan ruang untuk memperkuat logika, membiasakan kembali budaya membaca mendalam tanpa gangguan sinyal, serta menghidupkan kembali dialog-dialog hangat di dalam kelas. Di sisi lain, ruang-ruang pengalaman nyata harus dibuka selebar-lebarnya melalui kegiatan seni, olahraga, dan interaksi sosial di masyarakat, agar mereka sadar bahwa dunia nyata jauh lebih indah dan bermakna ketimbang sekadar guliran gambar di layar ponsel.

Ruang kelas harus kembali menjadi tempat di mana manusia belajar menjadi manusia seutuhnya. Kita tidak sedang bertaruh untuk melarang teknologi, melainkan bertaruh untuk menyelamatkan jiwa dan masa depan anak-anak muda Indonesia. Dengan menggabungkan kembali ketajaman berpikir yang kritis dan kesadaran untuk hidup secara autentik di dunia nyata, kita bisa membantu para pelajar keluar dari jebakan layar kaca, melangkah mantap menyongsong masa depan dengan akal yang jernih dan hati yang bijak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)