AYOBANDUNG.ID – Pernahkah kamu bingung saat menulis artikel atau laporan, apakah harus menggunakan angka "3" atau kata "tiga"? Atau ragu apakah boleh menulis "tahun 2000an" tanpa tanda hubung? Ternyata, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) sudah mengatur hal ini secara jelas dan terperinci.
Memahami aturan penulisan angka dan bilangan bukan hanya penting bagi penulis profesional atau jurnalis, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin berkomunikasi secara tertulis dengan baik dan benar. Berikut panduan lengkapnya.
Mengenal Dua Jenis Angka dalam Bahasa Indonesia
Sebelum masuk ke aturannya, kita perlu tahu bahwa ada dua jenis angka yang lazim digunakan dalam tulisan bahasa Indonesia, yaitu angka Arab dan angka Romawi.
Angka Arab adalah angka yang paling sering kita gunakan sehari-hari: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Sementara itu, angka Romawi seperti I, II, III, IV, V, dan seterusnya biasanya dipakai untuk penomoran bab, peringkat, atau nama peristiwa bersejarah seperti Perang Dunia II.
Kapan Ditulis dengan Huruf, Kapan dengan Angka?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul. Aturannya sebenarnya cukup sederhana.
Ditulis dengan huruf jika bilangan tersebut dapat dinyatakan dengan satu kata. Misalnya, "Mereka menonton film itu sampai tiga kali" atau "Koleksi pribadi saya lebih dari seribu buku."
Ditulis dengan angka jika bilangan digunakan secara berurutan dalam sebuah perincian. Contohnya, "Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain."
Cara mudah mengingatnya: jika bilangan berdiri sendiri dan bisa diucapkan dalam satu kata, gunakan huruf. Jika ada dalam daftar atau perbandingan, gunakan angka agar lebih mudah dibaca.
Angka untuk Ukuran, Nilai Uang, dan Persentase
EYD menegaskan bahwa angka selalu digunakan untuk menyatakan ukuran dan nilai. Ini mencakup ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu, serta nilai uang dan persentase.
Beberapa contohnya:
- 5 kilogram
- 4 hektare
- 1 jam 20 menit
- Rp5.000,00
- 5 persen
Aturan ini berlaku konsisten sehingga tidak perlu ragu ketika menulis angka dalam konteks data atau laporan.
Aturan Khusus yang Sering Diabaikan
Angka di Awal Kalimat
Jika sebuah kalimat dimulai dengan bilangan yang terdiri lebih dari satu kata, EYD mewajibkan kita mendahului angka tersebut dengan kata seperti sebanyak, sejumlah, atau sebesar. Atau, susunan kalimatnya bisa diubah sehingga angka tidak berada di posisi paling awal.
Contoh yang benar:
- "Sebanyak 2.500 orang peserta diundang panitia."
- "Panitia mengundang 2.500 orang peserta."
Bilangan Besar Boleh Dikombinasikan
Untuk bilangan yang sangat besar, EYD memperbolehkan penulisan gabungan angka dan huruf agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Misalnya, "500 ribu dosis vaksin" jauh lebih mudah dicerna daripada "500.000 dosis vaksin."
Contoh lain: 55 miliar rupiah, 7 triliun rupiah.
Akhiran "-an" Harus Pakai Tanda Hubung
Satu kesalahan yang sering terjadi adalah menulis "2000an" atau "5000an" tanpa tanda hubung. Menurut EYD, penulisan yang benar adalah menggunakan tanda hubung di antara angka dan akhiran "-an", seperti tahun 2000-an atau uang 5.000-an.

Bilangan Tingkat Punya Tiga Cara Penulisan
Menariknya, EYD memberi kebebasan dalam menulis bilangan tingkat. Ketiganya sama-sama benar:
- abad VII (angka Romawi)
- abad ke-7 (awalan "ke-" + angka Arab)
- abad ketujuh (huruf)
Pilihlah salah satu dan gunakan secara konsisten dalam satu tulisan.
Penulisan dalam Dokumen Resmi
Untuk dokumen seperti akta notaris, kuitansi, dan peraturan perundang-undangan, EYD mengatur bahwa bilangan harus ditulis dua kali: sekali dalam angka, sekali dalam huruf di dalam tanda kurung.
Contohnya seperti dalam kalimat hukum: "...dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)."
Aturan ini bertujuan menghindari kesalahan baca atau pemalsuan angka dalam dokumen penting.
Bilangan dalam Nama Geografi
Ini fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui. Jika bilangan menjadi bagian dari nama geografi, maka bilangan tersebut ditulis dengan huruf dan digabung serangkai.
Beberapa contoh yang kita temui sehari-hari:
- Rajaampat (bukan Raja 4 atau Raja Empat)
- Simpanglima (bukan Simpang 5)
- Kelapadua (bukan Kelapa 2)
- Tigakarsa

Aturan penulisan angka dan bilangan dalam EYD memang cukup beragam, tetapi semuanya logis dan bertujuan membuat tulisan lebih jelas serta seragam. Ringkasnya:
- Bilangan satu kata ditulis dengan huruf; bilangan dalam perincian ditulis dengan angka.
- Angka selalu digunakan untuk ukuran, nilai uang, dan persentase.
- Hindari memulai kalimat langsung dengan angka.
- Bilangan besar boleh dikombinasikan dengan huruf.
- Akhiran "-an" wajib pakai tanda hubung.
- Dokumen resmi wajib mencantumkan angka sekaligus huruf.
- Nama geografi yang mengandung bilangan ditulis serangkai dengan huruf.
Simpan panduan ini sebagai referensi dan bagikan kepada rekan penulis, mahasiswa, atau siapa saja yang sering berkutat dengan dunia tulis-menulis! (*)
