AYOBANDUNG.ID - Di salah satu sudut sebuah mal di Bandung, sekumpulan toples kaca berisi rempah tradisional dan biji kopi tersusun rapi di atas meja kayu. Di sisi lain, berjejer baju dan topi dengan motif hasil ecoprint. Tepat di sampingnya, puluhan jeriken hasil olahan eco enzyme berbaris rapi dalam bentuk pembersih lantai, pelicin pakaian, dan sabun cuci tangan.
Saat masuk, di sisi kiri terdapat rak bertingkat yang diisi pangan lokal seperti umbi-umbian, bumbu dapur, serta berbagai jenis madu. Mata seolah tidak dibiarkan fokus pada satu produk, karena begitu banyaknya barang unik yang seakan meminta untuk dilihat lebih dalam.
Tidak ada plastik sekali pakai, tidak ada kantong kresek tergantung di kasir. Yang ada justru imbauan sederhana: bawa wadahmu sendiri, isi seperlunya, lalu pulang.
Di tempat ini, berbelanja terasa seperti kegiatan yang perlahan bertransformasi menjadi kebiasaan baru. Ini bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga pertemuan dengan cerita tentang limbah, produksi, dan pilihan hidup yang lebih sadar akan dampaknya terhadap lingkungan.
“Ini bukan sekadar toko. Kita berbicara tentang konteks dimana setiap produk ada cerita, ada nilai jualnya,” kata salah satu founder Jaga Bumi Ecomart, Tubagus Ari Satria Bakti (47).

Toko ini dikenal sebagai Jaga Bumi Ecomart, sebuah ruang yang muncul dari keresahan mendalam mengenai sampah dan sistem yang tidak pernah sepenuhnya tertangani dari hulu.
Ari menjelaskan bahwa Jaga Bumi tidak terbentuk dari modal besar atau strategi ritel tradisional. Sebaliknya, toko ini berawal dari berbagai komunitas pengelola sampah di Bandung yang berusaha menemukan bentuk hilirisasi dari produk hasil pengolahan sampah yang mereka lakukan.
“Jaga Bumi Ecomart ini lahir dari teman-teman pekerja sampah, green planner, yang akhirnya membuka toko ini,” ucap Ari saat ditemui di tokonya.
Melalui proses inkubasi bisnis dari program Green Planner Academy di bawah Kitabisa.org, mereka mendapatkan satu pertanyaan fundamental: setelah orang diajari memilah dan mengolah sampah, ke mana produk tersebut harus diarahkan?
“Akhirnya didirikan Jaga Bumi sebagai bentuk hilirisasi dari semua program itu,” ujarnya.
Tepat pada 12 Desember 2025, Jaga Bumi Ecomart didirikan. Berlokasi strategis di salah satu ruko Cihampelas Walk (Ciwalk), toko ini kini menampung produk dari 21 green planner dengan sekitar 400 jenis produk. Produk itu antara lain makanan, kerajinan, hingga kebutuhan sehari-hari yang semuanya eco-friendly dan memiliki cerita tentang proses serta asal-usulnya.
“Ini toko zero waste pertama yang ada di mal Bandung,” ucap Ari.
Pengalaman Belanja yang Mengubah Cara Pandang
Di Jaga Bumi, pengalaman berbelanja sengaja didesain berbeda. Setiap pengunjung wajib membawa wadah atau kantong belanja sendiri. Jika lupa, toko ini menyediakan kantong belanja hasil daur ulang yang berbayar. Pengunjung tidak hanya membeli barang, tetapi juga diajak memahami lebih dalam isu lingkungan.
“Yang kita jual bukan cuma barang, tapi cara berpikir. Kita ingin orang lebih eco-conscious,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Ari menekankan pentingnya konsep refill dan reuse. Ia menerangkan bahwa konsep ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga upaya kecil untuk menantang sistem konsumsi yang selama ini bergantung pada plastik sekali pakai.
“Kenapa harus ada refill? Kenapa harus reuse? Kita butuh isinya, bukan wadahnya,” ucap Ari, penuh penekanan, dengan gestur tangan yang ikut menjelaskan.
Hal ini terlihat dari puluhan jeriken produk hasil olahan eco enzyme yang berjajar di salah satu sudut ruangan. Salah satu corongnya dilengkapi pump untuk mengisi wadah pengunjung sesuai kebutuhan, mulai dari deterjen cair, softener, pelicin pakaian, pembersih karbol, pembersih lantai, pembersih keramik power, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, parfum laundry, hingga penghilang noda pakaian.

Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, konsep refill juga diterapkan pada makanan yang tersedia di Jaga Bumi Ecomart, seperti berbagai jenis cookies, kacang-kacangan, serbuk teh, makaroni pasta, serta mi yang gluten-free.
Jenis olahan sampah anorganik juga terlihat dari salah satu produk aksesori yang terpajang di meja depan kasir, berasal dari merek Ecosajah. Ecosajah merupakan produk daur ulang dari Leuwigajah, Cimahi, yang lahir dari kecemasan akan terulangnya longsor TPA Leuwigajah pada 2005. Produk mereka mengolah sampah warga menjadi barang bernilai seperti carabiner, coaster, cincin, kalung, dan gantungan.
Menjaga Idealisme di Tengah Tantangan Ekonomi
Selanjutnya, toko ini juga berusaha memastikan tidak ada limbah yang dihasilkan dari ruangannya. Sampah organik diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sementara limbah nonorganik dikirimkan ke jaringan daur ulang mereka di Punclut.
“Tidak boleh ada sampah yang keluar dari toko ini,” tegas Ari.
Di balik idealisme tersebut, tantangan jelas ada di depan mata. Ari tidak menyembunyikan fakta bahwa menjalankan gerakan seperti ini berarti harus terus bernegosiasi dengan kebutuhan ekonomi.
“Tantangannya bagaimana omzet tetap jalan, tapi idealisme tidak hilang,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa menolak produk massal dari industri besar bukan keputusan mudah, terutama ketika produk tersebut menawarkan margin lebih tinggi.
“Kita menolak produk-produk massal yang polutan. Tidak semua produk bisa masuk ke sini,” kata Ari.
Namun, di sisi lain, mereka terus mencari cara agar gerakan ini tetap berlanjut—melalui kelas, kegiatan komunitas, hingga berbagai program edukasi yang mengajak lebih banyak orang untuk berpartisipasi.
Pertama, Temu Pagi, program kerja sama dengan Ciwalk setiap Sabtu dan Minggu melalui kegiatan jalan kaki minimal 2.500 langkah di area mal, dengan Jaga Bumi menyediakan sarapan gratis bagi peserta.
Kedua, Tukar Bumi, yakni kegiatan lingkungan di mana masyarakat dapat menyumbangkan minyak jelantah atau barang elektronik yang kemudian diolah menjadi biodiesel, termasuk menjadi sabun cuci lerak yang dipajang di salah satu rak, berasal dari Toko Nol Sampah.
Ketiga, Sedekah Bumi, yakni aksi penuangan eco enzyme ke Sungai Cikapundung untuk membantu menjernihkan air secara alami, berkolaborasi dengan Komunitas Cika-Cika.
Kegiatan Jaga Bumi tidak hanya sebatas ecomart, tetapi juga menjadi community hub. Berbagai aktivitas diadakan, seperti workshop teknik ecoprint, matcha class, yoga, hingga english conversation club.
Masalah yang coba diatasi Jaga Bumi tidak lepas dari konteks yang lebih besar. Kota Bandung masih menghadapi tantangan kompleks terkait limbah. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, sampah harian mencapai sekitar 1.500 ton per hari, dan sebagian besar masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Pemerintah setempat telah mendorong sejumlah program, seperti Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) dan Gaslah (Gerakan Angkat Sampah Lah), serta berbagai pengelolaan sampah berbasis Rukun Warga hingga pengembangan fasilitas pengolahan limbah organik. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi banyak kendala, terutama dalam mengubah perilaku masyarakat dan keterbatasan infrastruktur.
Di tengah kondisi tersebut, inisiatif seperti Jaga Bumi hadir sebagai pendekatan alternatif dari komunitas yang langsung menyasar perubahan pola konsumsi sehari-hari.
“Kita buang hampir 13 triliun setiap tahun untuk food waste,” decak Ari, dengan sorot mata tajam.
Pada akhirnya, menurut Ari, perubahan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kebijakan pemerintah. Ia menilai, awal mula perubahan justru terletak pada kesadaran individu.
“Dari hal kecil, dari diri sendiri. Mulai pilah sampah sendiri,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap aktivitas sehari-hari sebenarnya menghasilkan limbah yang sering kali tidak disadari, mulai dari sisa minyak goreng, sabun cuci, hingga sisa makanan.
Di Jaga Bumi, pesan itu disampaikan bukan melalui kampanye besar atau istilah rumit. Pesannya hadir dalam bentuk sederhana: toples kaca, wadah isi ulang, dan percakapan kecil antara penjual dan pembeli yang perlahan mengubah cara orang memandang limbahdari sesuatu yang dibuang, menjadi sesuatu yang diperhatikan.
