Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di salah satu sudut sebuah mal di Bandung, sekumpulan toples kaca berisi rempah tradisional dan biji kopi tersusun rapi di atas meja kayu. Di sisi lain, berjejer baju dan topi dengan motif hasil ecoprint. Tepat di sampingnya, puluhan jeriken hasil olahan eco enzyme berbaris rapi dalam bentuk pembersih lantai, pelicin pakaian, dan sabun cuci tangan.

Saat masuk, di sisi kiri terdapat rak bertingkat yang diisi pangan lokal seperti umbi-umbian, bumbu dapur, serta berbagai jenis madu. Mata seolah tidak dibiarkan fokus pada satu produk, karena begitu banyaknya barang unik yang seakan meminta untuk dilihat lebih dalam.

Tidak ada plastik sekali pakai, tidak ada kantong kresek tergantung di kasir. Yang ada justru imbauan sederhana: bawa wadahmu sendiri, isi seperlunya, lalu pulang.

Di tempat ini, berbelanja terasa seperti kegiatan yang perlahan bertransformasi menjadi kebiasaan baru. Ini bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga pertemuan dengan cerita tentang limbah, produksi, dan pilihan hidup yang lebih sadar akan dampaknya terhadap lingkungan.

“Ini bukan sekadar toko. Kita berbicara tentang konteks dimana setiap produk ada cerita, ada nilai jualnya,” kata salah satu founder Jaga Bumi Ecomart, Tubagus Ari Satria Bakti (47).

Tubagus Ari Satria Bakti, founder Jaga Bumi Ecomart, mengajak masyarakat memulai perubahan dari hal kecil lewat kebiasaan mengelola sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tubagus Ari Satria Bakti, founder Jaga Bumi Ecomart, mengajak masyarakat memulai perubahan dari hal kecil lewat kebiasaan mengelola sampah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Toko ini dikenal sebagai Jaga Bumi Ecomart, sebuah ruang yang muncul dari keresahan mendalam mengenai sampah dan sistem yang tidak pernah sepenuhnya tertangani dari hulu.

Ari menjelaskan bahwa Jaga Bumi tidak terbentuk dari modal besar atau strategi ritel tradisional. Sebaliknya, toko ini berawal dari berbagai komunitas pengelola sampah di Bandung yang berusaha menemukan bentuk hilirisasi dari produk hasil pengolahan sampah yang mereka lakukan.

“Jaga Bumi Ecomart ini lahir dari teman-teman pekerja sampah, green planner, yang akhirnya membuka toko ini,” ucap Ari saat ditemui di tokonya.

Melalui proses inkubasi bisnis dari program Green Planner Academy di bawah Kitabisa.org, mereka mendapatkan satu pertanyaan fundamental: setelah orang diajari memilah dan mengolah sampah, ke mana produk tersebut harus diarahkan?

“Akhirnya didirikan Jaga Bumi sebagai bentuk hilirisasi dari semua program itu,” ujarnya.

Tepat pada 12 Desember 2025, Jaga Bumi Ecomart didirikan. Berlokasi strategis di salah satu ruko Cihampelas Walk (Ciwalk), toko ini kini menampung produk dari 21 green planner dengan sekitar 400 jenis produk. Produk itu antara lain makanan, kerajinan, hingga kebutuhan sehari-hari yang semuanya eco-friendly dan memiliki cerita tentang proses serta asal-usulnya.

“Ini toko zero waste pertama yang ada di mal Bandung,” ucap Ari.

Pengalaman Belanja yang Mengubah Cara Pandang

Di Jaga Bumi, pengalaman berbelanja sengaja didesain berbeda. Setiap pengunjung wajib membawa wadah atau kantong belanja sendiri. Jika lupa, toko ini menyediakan kantong belanja hasil daur ulang yang berbayar. Pengunjung tidak hanya membeli barang, tetapi juga diajak memahami lebih dalam isu lingkungan.

“Yang kita jual bukan cuma barang, tapi cara berpikir. Kita ingin orang lebih eco-conscious,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Ari menekankan pentingnya konsep refill dan reuse. Ia menerangkan bahwa konsep ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga upaya kecil untuk menantang sistem konsumsi yang selama ini bergantung pada plastik sekali pakai.

“Kenapa harus ada refill? Kenapa harus reuse? Kita butuh isinya, bukan wadahnya,” ucap Ari, penuh penekanan, dengan gestur tangan yang ikut menjelaskan.

Hal ini terlihat dari puluhan jeriken produk hasil olahan eco enzyme yang berjajar di salah satu sudut ruangan. Salah satu corongnya dilengkapi pump untuk mengisi wadah pengunjung sesuai kebutuhan, mulai dari deterjen cair, softener, pelicin pakaian, pembersih karbol, pembersih lantai, pembersih keramik power, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, parfum laundry, hingga penghilang noda pakaian.

Sudut bulk corner di Jaga Bumi Ecomart, tempat pengunjung mengisi ulang kebutuhan sehari-hari tanpa kemasan sekali pakai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sudut bulk corner di Jaga Bumi Ecomart, tempat pengunjung mengisi ulang kebutuhan sehari-hari tanpa kemasan sekali pakai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, konsep refill juga diterapkan pada makanan yang tersedia di Jaga Bumi Ecomart, seperti berbagai jenis cookies, kacang-kacangan, serbuk teh, makaroni pasta, serta mi yang gluten-free.

Jenis olahan sampah anorganik juga terlihat dari salah satu produk aksesori yang terpajang di meja depan kasir, berasal dari merek Ecosajah. Ecosajah merupakan produk daur ulang dari Leuwigajah, Cimahi, yang lahir dari kecemasan akan terulangnya longsor TPA Leuwigajah pada 2005. Produk mereka mengolah sampah warga menjadi barang bernilai seperti carabiner, coaster, cincin, kalung, dan gantungan.

Menjaga Idealisme di Tengah Tantangan Ekonomi

Selanjutnya, toko ini juga berusaha memastikan tidak ada limbah yang dihasilkan dari ruangannya. Sampah organik diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sementara limbah nonorganik dikirimkan ke jaringan daur ulang mereka di Punclut.

“Tidak boleh ada sampah yang keluar dari toko ini,” tegas Ari.

Di balik idealisme tersebut, tantangan jelas ada di depan mata. Ari tidak menyembunyikan fakta bahwa menjalankan gerakan seperti ini berarti harus terus bernegosiasi dengan kebutuhan ekonomi.

“Tantangannya bagaimana omzet tetap jalan, tapi idealisme tidak hilang,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa menolak produk massal dari industri besar bukan keputusan mudah, terutama ketika produk tersebut menawarkan margin lebih tinggi.

“Kita menolak produk-produk massal yang polutan. Tidak semua produk bisa masuk ke sini,” kata Ari.

Namun, di sisi lain, mereka terus mencari cara agar gerakan ini tetap berlanjut—melalui kelas, kegiatan komunitas, hingga berbagai program edukasi yang mengajak lebih banyak orang untuk berpartisipasi.

Pertama, Temu Pagi, program kerja sama dengan Ciwalk setiap Sabtu dan Minggu melalui kegiatan jalan kaki minimal 2.500 langkah di area mal, dengan Jaga Bumi menyediakan sarapan gratis bagi peserta.

Kedua, Tukar Bumi, yakni kegiatan lingkungan di mana masyarakat dapat menyumbangkan minyak jelantah atau barang elektronik yang kemudian diolah menjadi biodiesel, termasuk menjadi sabun cuci lerak yang dipajang di salah satu rak, berasal dari Toko Nol Sampah.

Ketiga, Sedekah Bumi, yakni aksi penuangan eco enzyme ke Sungai Cikapundung untuk membantu menjernihkan air secara alami, berkolaborasi dengan Komunitas Cika-Cika.

Kegiatan Jaga Bumi tidak hanya sebatas ecomart, tetapi juga menjadi community hub. Berbagai aktivitas diadakan, seperti workshop teknik ecoprint, matcha class, yoga, hingga english conversation club.

Masalah yang coba diatasi Jaga Bumi tidak lepas dari konteks yang lebih besar. Kota Bandung masih menghadapi tantangan kompleks terkait limbah. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, sampah harian mencapai sekitar 1.500 ton per hari, dan sebagian besar masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

Pemerintah setempat telah mendorong sejumlah program, seperti Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) dan Gaslah (Gerakan Angkat Sampah Lah), serta berbagai pengelolaan sampah berbasis Rukun Warga hingga pengembangan fasilitas pengolahan limbah organik. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi banyak kendala, terutama dalam mengubah perilaku masyarakat dan keterbatasan infrastruktur.

Di tengah kondisi tersebut, inisiatif seperti Jaga Bumi hadir sebagai pendekatan alternatif dari komunitas yang langsung menyasar perubahan pola konsumsi sehari-hari.

“Kita buang hampir 13 triliun setiap tahun untuk food waste,” decak Ari, dengan sorot mata tajam.

Pada akhirnya, menurut Ari, perubahan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kebijakan pemerintah. Ia menilai, awal mula perubahan justru terletak pada kesadaran individu.

“Dari hal kecil, dari diri sendiri. Mulai pilah sampah sendiri,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap aktivitas sehari-hari sebenarnya menghasilkan limbah yang sering kali tidak disadari, mulai dari sisa minyak goreng, sabun cuci, hingga sisa makanan.

Di Jaga Bumi, pesan itu disampaikan bukan melalui kampanye besar atau istilah rumit. Pesannya hadir dalam bentuk sederhana: toples kaca, wadah isi ulang, dan percakapan kecil antara penjual dan pembeli yang perlahan mengubah cara orang memandang limbahdari sesuatu yang dibuang, menjadi sesuatu yang diperhatikan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.