Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Malam di awal bulan Mei, tempat parkir salah satu Borma di Kota Bandung tampak padat. Kendaraan berjejer rapi, sementara pengunjung tampak sibuk dengan troli atau keranjang belanjaan mereka. Di area kasir, sejumlah ibu-ibu mengantre panjang, sedangkan beberapa bapak-bapak tampak menunggu di kursi pijat sembari memangku anak kecil.

Di antara deretan kendaraan tersebut, Ade Thopan (39) berdiri tegap, mengenakan peluit dan rompi bertuliskan “Borma Toserba” di sisi kanan serta “Parkir” di sisi kirinya. Selama dua dekade lebih, Ade telah bekerja di sana, mengarahkan kendaraan dengan gerakan tangan yang sudah terlatih.

Dari pukul delapan pagi hingga sembilan malam, ia menjalani rutinitas yang sama. Dalam sehari, ia bekerja selama 13 jam—sebuah potret kehidupan pekerja informal yang kian hari kian menunjukkan ironinya. Ade bercerita bahwa durasi tersebut adalah hasil kesepakatan dengan dua rekan kerjanya terkait pengaturan jam kerja.

Semula, mereka bekerja bersamaan setiap hari tanpa libur. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan sistem shifting. Untuk satu orang, berlaku satu hari kerja dan dua hari libur. Dari sistem itulah, mereka memiliki waktu luang yang digunakan untuk mencari penghasilan tambahan.

“Kerjanya ya beres-beres motor sama mobil, hadir aja di sini. Dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam," kata Ade sambil merapikan uang dua ribuan di genggaman tangannya.

Pendapatannya tak menentu, bergantung pada volume kendaraan yang datang. Dalam sehari, rata-rata Ade mendapatkan penghasilan Rp300 ribu. Dari jumlah tersebut, ia masih harus menyetor Rp100 ribu kepada pengelola dan Rp20 ribu kepada Karang Taruna setiap hari kerja.

“Ya lumayan lah, cukup. Tapi jadi gali lubang tutup lubang,” ucap Ade dengan santainya tertawa.

Ade menyebutkan bahwa pekerjaan sebagai tukang parkir sudah ia tekuni sejak tahun 2003. Artinya, ia sudah menjadi juru parkir sejak berusia 16 tahun, atau lebih dari setengah hidupnya ia habiskan mengadu nasib di persimpangan tempat kendaraan menepi ini.

Di balik rutinitas itu, terdapat risiko yang tersembunyi, mulai dari konflik dengan preman hingga tekanan di lingkungan masyarakat yang tidak selalu aman.

“Gesekannya sama preman. Macam-macam lah, orang mabuk,” kata Ade terbata-bata dengan penjelasan yang tidak begitu jelas dan terkesan enggan ditanya lebih dalam.

Ramainya volume kendaraan yang silih berganti dengan jam kerja yang begitu panjang membuat Ade membutuhkan bantuan tenaga lain. Akhir-akhir ini, setiap bekerja, ia selalu dibantu oleh dua petugas parkir tidak resmi.

Namun, di sisi lain, tanggung jawab sebagai petugas parkir resmi menjadikannya pihak yang harus menanggung konsekuensi jika terjadi masalah. Ia adalah orang pertama yang disalahkan dan harus bertanggung jawab kepada pengelola.

“Kalau ada apa-apa, saya tanggung jawabnya. Ke dalam atas nama saya,” kata Ade sambil matanya mengarah ke dalam Borma.

“Yang bantuin mah cuma kerja, nggak tahu ke dalamnya gimana,” tambah Ade.

Di Balik Seragam dan Stigma

Tidak jauh dari Ade, seorang pria lain melakukan tugas yang sama. Ia membantu mengatur kendaraan, namun tidak mengenakan rompi layaknya Ade.

Terkadang ia menggantikan posisi tersebut, tetapi ia tidak terdaftar sebagai petugas parkir resmi. Saat diwawancara, ia memilih untuk tidak menyebutkan namanya.

“Banyak yang mandang sebelah mata. Padahal tujuannya sama-sama mencari nafkah,” ujarnya tertawa tipis.

Dulunya, ia bekerja menjadi buruh pabrik, hingga pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Setelah di-PHK, ia kesulitan untuk kembali ke dunia kerja formal.

“Sudah puluhan lamaran saya masukin, hasilnya tetap nol,” keluhnya sambil menatap ke arah parkiran.

Hingga akhirnya, ia membantu petugas parkir resmi yang sebelumnya diwawancarai, Ade, yang ternyata adalah adiknya sendiri. Baginya, menjadi petugas parkir bukanlah pekerjaan tetap, melainkan cara untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan peluang kerja.

Bagi dia, usia menjadi halangan yang paling nyata. Di usia 45 tahun, ia merasa masih mampu bekerja—terlihat pula dari perawakannya yang masih begitu kuat—tetapi dunia kerja formal seolah menutup pintu kesempatan.

“Umur saya 45. Tapi tiap melamar kerja, selalu terbentur persyaratan usia,” tuturnya.

Ia berpendapat bahwa syarat kerja di Indonesia sering kali tidak realistis. Bahkan untuk pekerjaan yang membayar upah minimum, persyaratan yang diminta terasa begitu tinggi.

Kondisi itu membuatnya melihat setiap kesempatan kerja yang ada sebagai peluang, termasuk menjadi tukang parkir tidak resmi. Baginya, pilihan bukan lagi soal ideal atau tidak, melainkan tentang ada atau tidaknya penghasilan.

Berbeda dengan pekerja formal, pendapatan dari parkir tidak pernah tetap. Tanggal-tanggal tertentu, momentum hari raya, tingkat kesibukan, serta sepinya pengunjung menjadi faktor utama.

Hari-hari yang ramai umumnya muncul di akhir dan awal bulan, ketika orang-orang baru saja memperoleh gaji mereka. Di luar waktu tersebut, mereka harus pintar mengatur uang agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Ramainya paling pas tanggal gajian, itu juga harus disisihin buat nutupin hari sepi,” katanya.

“Kalau hujan, jangankan nabung, buat makan saja susah,” tambahnya sambil menghitung uang yang akan disetorkan kepada seseorang di sampingnya.

Ia bercerita bahwa dirinya juga dibebani setoran yang sama dengan Ade, baik kepada pihak outlet maupun Karang Taruna. Ade saja, sebagai petugas parkir resmi, tidak mendapat upah atau jaminan apa pun dari tempatnya bekerja, apalagi dirinya sebagai pekerja tambahan.

“Orang lihatnya cuma pas ramai. Nggak tahu sepinya kayak gimana. Kadang ada yang ngasih 700, 800 (perak), padahal karcisnya ada,” katanya.

Untuk menutupi kekurangan, ia mengambil pekerjaan sampingan menjadi pengemudi ojek atau kuli bangunan. Kondisinya yang memiliki istri dan dua anak yang sedang bersekolah membuat ia terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Semuanya dilakukan agar kebutuhan dapur tetap terjaga.

“Kalau sehari nggak kerja, ya nggak makan,” katanya dengan nada mulai penuh penekanan.

Selain membantu menjadi petugas parkir dan pengemudi ojek, ia mengaku jika ada panggilan kerja lain menjadi tukang bangunan, ia akan memenuhinya selama ia masih mampu berdiri. Walaupun sering dipandang negatif, ia tetap berusaha melakukan pekerjaannya dengan baik. Baginya, sebagai petugas parkir, menjaga kepercayaan lebih bernilai daripada pendapat orang lain.

“Saya niatnya bantu. Kalau ada kunci ketinggalan atau dompet, pasti saya amankan,” ujarnya sambil menunjuk arah pusat informasi di bagian dalam.

Ia menyadari stigma yang sering melekat pada tukang parkir, terutama yang tidak resmi, sering kali muncul di tempat umum ataupun media sosial. Namun, ia memilih untuk tidak terjebak dalam penilaian tersebut.

“Bukan masalah hina atau nggak, yang penting anak saya nggak kelaparan,” katanya.

Di balik segala keterbatasan, harapannya tidak muluk. Ia hanya menginginkan lebih banyak peluang kerja yang tersedia bagi orang-orang sepertinya.

“Perbanyak lapangan kerja. Jangan dipersulit. Persyaratannya jangan aneh-aneh, terutama soal usia,” katanya penuh penegasan.

Sejauh ini belum ada satu undang-undang yang secara khusus dan komprehensif mengatur pekerja informal seperti halnya pekerja formal dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jadi, perlindungannya tersebar di beberapa regulasi, tidak berdiri dalam satu payung besar.

Salah satu yang paling relevan adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan turunannya, termasuk Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS. Lewat aturan ini, pekerja informal bisa mengakses jaminan seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan (misalnya Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian), meskipun sifatnya mandiri, bukan difasilitasi pemberi kerja.

Selain itu, ada juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang mencoba memperluas perlindungan tenaga kerja secara umum, termasuk mendorong perlindungan bagi pekerja non-formal. Namun, secara praktik, pekerja informal tetap banyak bergantung pada skema sukarela dan belum memiliki kepastian perlindungan setara pekerja formal. Itulah celah yang dirasakan Ade selama 20 tahun terakhir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)