Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

5 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Memasuki awal Mei, setelah peringatan Hari Buruh, kini Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Di Bandung, kota ini dipandang sebagai “kota pendidikan”, sebab tanda/label tersebut lahir dari banyaknya sekolah, kampus, hingga ruang-ruang belajar yang tumbuh di setiap sudut kota. Dari bangunan kampus yang megah hingga deretan sekolah terfavorit, Bandung seolah menjadi magnet bagi siapa pun yang ingin menempuh pendidikan, meskipun tidak sepopuler Yogyakarta sebagai kota pelajar, Bandung tetap memiliki daya tarik yang tidak kalah kuat.

Walaupun demikian, di balik bangunan sekolah hingga perguruan tinggi itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah semua orang dengan latar belakang yang berbeda benar-benar memiliki akses pendidikan yang setara atau kesempatan yang sama, atau hanya pendidikan di kota Bandung untuk mereka yang latarnya mampu saja?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Indonesia kembali lagi untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang selalu hadir setiap 2 Mei. Di balik tanggal itu, ada kisah yang perlu kita telaah. Pada 2 Mei 1889, ada pemuda yang lahir dan membawa perubahan pada dunia pendidikan, seorang aktivis yang juga mantan menteri pengajaran di Indonesia, ialah Ki Hajar Dewantara yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Meskipun telah wafat, gagasan dan perjuangannya tetap hidup hingga hari ini.

Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, berasal dari keturunan keraton Yogyakarta. Melalui perjuangannya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak segelintir golongan atau hanya untuk kelompok tertentu, melainkan sebagai kebutuhan bagi seluruh rakyat. Karena jasa dan pemikirannya, pemerintah kemudian menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 305 tahun 1959.

Salah satu warisan pemikirannya yang hingga masa kini masih dikenal adalah semboyan “Tut Wuri Handayani”, yang berarti dari belakang memberikan dorongan. Semboyan ini kemudian dijadikan motto pendidikan nasional dan menjadi landasan dalam mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.

Semangat yang diwariskan Ki Hajar Dewantara bukan sekadar tentang belajar di ruang kelas, tetapi tentang menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi, sebuah gagasan yang hingga kini masih terus diuji dalam realitas.

Namun dalam realitasnya di Bandung, masih terdapat jarak yang belum teratasi dalam sektor pendidikan. Di satu sisi, kota ini dipenuhi institusi pendidikan yang berprestasi dan menjadi tujuan banyak pelajar dari berbagai daerah. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan berkualitas masih dibatasi oleh faktor biaya, persaingan, hingga ketimpangan wilayah.

Kampus Unpar Bandung menjadi magnet pelajar dengan suasana nyaman dan udara sejuk. (Sumber: Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) | Foto: Iraveratika)
Kampus Unpar Bandung menjadi magnet pelajar dengan suasana nyaman dan udara sejuk. (Sumber: Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) | Foto: Iraveratika)

Bandung sebagai Magnet Pendidikan

Bandung tidak hanya dikenal karena banyaknya kampus, tetapi juga karena kemampuannya menarik pelajar dari berbagai daerah. Banyaknya perguruan tinggi dengan pilihan yang beragam membuat daya tarik Bandung sebagai tujuan pendidikan dari berbagai daerah. Mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dengan jurusan yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, menjadikannya kota ini sebagai salah satu tujuan utama untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Selain itu, suasana dan lingkungan kota yang relatif sejuk turut mendukung proses belajar menjadi lebih nyaman dan kondusif, yang membuat proses belajar lebih nyaman dan efektif. Ditambah dengan berkembangnya komunitas, ruang diskusi, hingga aktivitas kreatif, membuat proses pendidikan tidak hanya berlangsung secara formal. Mahasiswa tidak sekadar datang untuk kuliah, tetapi juga membangun relasi dan mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan di luar akademik.

Tingginya minat pelajar dari luar daerah yang datang ke Bandung semakin memperkuat posisi kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan. Arus mahasiswa yang terus berdatangan setiap tahunnya menunjukkan bahwa Bandung masih dipandang sebagai tempat yang menjanjikan untuk menempuh pendidikan, sekaligus menjadi ruang untuk mencari peluang dan pengalaman baru.

Namun di balik itu semua, terdapat realitas pendidikan di Bandung yang tidak selalu sesuai harapan,, ialah akses pendidikan yang belum merata.

Ketika pendidikan belum merata, mimpi sebagian anak terpaksa berhenti di tengah jalan. (Sumber: Freepik/ AI Generated)
Ketika pendidikan belum merata, mimpi sebagian anak terpaksa berhenti di tengah jalan. (Sumber: Freepik/ AI Generated)

Bandung Kota Pendidikan, Tapi Tidak untuk Semua

Namun di balik citra Bandung sebagai magnet pendidikan, realitas yang muncul tidak selalu sejalan dengan harapan. Akses terhadap pendidikan di kota ini masih menyisakan persoalan yang serius, terutama bagi masyarakat dengan latar belakang ekonomi tertentu. Biaya pendidikan, persaingan yang ketat, hingga ketimpangan kualitas antarwilayah menjadi faktor yang membuat kesempatan untuk pendidikan tidak terbuka secara merata.

Kondisi yang memprihatinkan di Bandung terlihat sejak jenjang pendidikan dasar dan menengah. Data dari Dinas Pendidikan Kota Bandung mencatat sekitar 7.800 anak masih berstatus putus sekolah, sebuah angka yang menunjukkan persoalan akses pendidikan yang belum terselesaikan.

Persoalan ini disebabkan oleh faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama, di mana sebagian anak memilih bekerja untuk membantu keluarga dibanding melanjutkan sekolah. Selain itu, muncul juga fenomena baru seperti rendahnya minat belajar akibat kecanduan gawai yang membuat anak enggan kembali ke bangku pendidikan.

Kini Bandung memperlihatkan wajah lain dari julukannya sebagai kota pendidikan. Di satu sisi, kota ini dipenuhi institusi unggulan dan menjadi tujuan pelajar dari berbagai daerah. Namun di sisi lain, masih ada ribuan anak yang bahkan belum menyelesaikan pendidikan dasar mereka.

Oleh karena itu, persoalan pendidikan di Bandung tidak bisa dilepaskan dari akar utamanya, yakni ketimpangan ekonomi yang masih membatasi banyak keluarga. Pendidikan masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus dibayar mahal, sehingga aksesnya belum benar-benar setara. Menambah jumlah sekolah atau kampus saja tidak cukup jika biaya tetap menjadi penghalang utama. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membenahi hal yang lebih mendasar, mulai dari bantuan pendidikan yang tepat sasaran, kebijakan biaya yang lebih berpihak, hingga memastikan bahwa program pendidikan gratis benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momen untuk menguji apakah pendidikan benar-benar telah menjadi hak bagi semua seperti yang diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebab masih ada anak yang tertinggal pendidikan karena alasan ekonomi yang menunjukkan bahwa julukan kota pendidikan belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan.

Bandung mungkin telah memiliki banyak kampus dan fasilitas, tetapi ukuran sesungguhnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada siapa saja yang benar-benar bisa mengaksesnya. Jika akses pendidikan masih menjadi batas, maka kemerdekaan pendidikan di Bandung belum benar-benar terwujud. (*)

REFERENSI

  • Pemkab Buleleng. (2019). Makna Sejarah Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS).

  • Ma’soem University. (2026). Kenapa Harus Bandung? Alasan Kota Ini Jadi Pusat Pendidikan Masa Depan di Indonesia!.

  • Alhamidi, R. (2026). Anak Putus Sekolah di Bandung Capai 7.800. detikjabar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)