Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Senin 04 Mei 2026, 12:35 WIB
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Memasuki awal Mei, setelah peringatan Hari Buruh, kini Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Di Bandung, kota ini dipandang sebagai “kota pendidikan”, sebab tanda/label tersebut lahir dari banyaknya sekolah, kampus, hingga ruang-ruang belajar yang tumbuh di setiap sudut kota. Dari bangunan kampus yang megah hingga deretan sekolah terfavorit, Bandung seolah menjadi magnet bagi siapa pun yang ingin menempuh pendidikan, meskipun tidak sepopuler Yogyakarta sebagai kota pelajar, Bandung tetap memiliki daya tarik yang tidak kalah kuat.

Walaupun demikian, di balik bangunan sekolah hingga perguruan tinggi itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah semua orang dengan latar belakang yang berbeda benar-benar memiliki akses pendidikan yang setara atau kesempatan yang sama, atau hanya pendidikan di kota Bandung untuk mereka yang latarnya mampu saja?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Indonesia kembali lagi untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang selalu hadir setiap 2 Mei. Di balik tanggal itu, ada kisah yang perlu kita telaah. Pada 2 Mei 1889, ada pemuda yang lahir dan membawa perubahan pada dunia pendidikan, seorang aktivis yang juga mantan menteri pengajaran di Indonesia, ialah Ki Hajar Dewantara yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Meskipun telah wafat, gagasan dan perjuangannya tetap hidup hingga hari ini.

Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, berasal dari keturunan keraton Yogyakarta. Melalui perjuangannya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak segelintir golongan atau hanya untuk kelompok tertentu, melainkan sebagai kebutuhan bagi seluruh rakyat. Karena jasa dan pemikirannya, pemerintah kemudian menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 305 tahun 1959.

Salah satu warisan pemikirannya yang hingga masa kini masih dikenal adalah semboyan “Tut Wuri Handayani”, yang berarti dari belakang memberikan dorongan. Semboyan ini kemudian dijadikan motto pendidikan nasional dan menjadi landasan dalam mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.

Semangat yang diwariskan Ki Hajar Dewantara bukan sekadar tentang belajar di ruang kelas, tetapi tentang menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi, sebuah gagasan yang hingga kini masih terus diuji dalam realitas.

Namun dalam realitasnya di Bandung, masih terdapat jarak yang belum teratasi dalam sektor pendidikan. Di satu sisi, kota ini dipenuhi institusi pendidikan yang berprestasi dan menjadi tujuan banyak pelajar dari berbagai daerah. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan berkualitas masih dibatasi oleh faktor biaya, persaingan, hingga ketimpangan wilayah.

Kampus Unpar Bandung menjadi magnet pelajar dengan suasana nyaman dan udara sejuk. (Sumber: Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) | Foto: Iraveratika)
Kampus Unpar Bandung menjadi magnet pelajar dengan suasana nyaman dan udara sejuk. (Sumber: Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) | Foto: Iraveratika)

Bandung sebagai Magnet Pendidikan

Bandung tidak hanya dikenal karena banyaknya kampus, tetapi juga karena kemampuannya menarik pelajar dari berbagai daerah. Banyaknya perguruan tinggi dengan pilihan yang beragam membuat daya tarik Bandung sebagai tujuan pendidikan dari berbagai daerah. Mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dengan jurusan yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, menjadikannya kota ini sebagai salah satu tujuan utama untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Selain itu, suasana dan lingkungan kota yang relatif sejuk turut mendukung proses belajar menjadi lebih nyaman dan kondusif, yang membuat proses belajar lebih nyaman dan efektif. Ditambah dengan berkembangnya komunitas, ruang diskusi, hingga aktivitas kreatif, membuat proses pendidikan tidak hanya berlangsung secara formal. Mahasiswa tidak sekadar datang untuk kuliah, tetapi juga membangun relasi dan mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan di luar akademik.

Tingginya minat pelajar dari luar daerah yang datang ke Bandung semakin memperkuat posisi kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan. Arus mahasiswa yang terus berdatangan setiap tahunnya menunjukkan bahwa Bandung masih dipandang sebagai tempat yang menjanjikan untuk menempuh pendidikan, sekaligus menjadi ruang untuk mencari peluang dan pengalaman baru.

Namun di balik itu semua, terdapat realitas pendidikan di Bandung yang tidak selalu sesuai harapan,, ialah akses pendidikan yang belum merata.

Ketika pendidikan belum merata, mimpi sebagian anak terpaksa berhenti di tengah jalan. (Sumber: Freepik/ AI Generated)
Ketika pendidikan belum merata, mimpi sebagian anak terpaksa berhenti di tengah jalan. (Sumber: Freepik/ AI Generated)

Bandung Kota Pendidikan, Tapi Tidak untuk Semua

Namun di balik citra Bandung sebagai magnet pendidikan, realitas yang muncul tidak selalu sejalan dengan harapan. Akses terhadap pendidikan di kota ini masih menyisakan persoalan yang serius, terutama bagi masyarakat dengan latar belakang ekonomi tertentu. Biaya pendidikan, persaingan yang ketat, hingga ketimpangan kualitas antarwilayah menjadi faktor yang membuat kesempatan untuk pendidikan tidak terbuka secara merata.

Kondisi yang memprihatinkan di Bandung terlihat sejak jenjang pendidikan dasar dan menengah. Data dari Dinas Pendidikan Kota Bandung mencatat sekitar 7.800 anak masih berstatus putus sekolah, sebuah angka yang menunjukkan persoalan akses pendidikan yang belum terselesaikan.

Persoalan ini disebabkan oleh faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama, di mana sebagian anak memilih bekerja untuk membantu keluarga dibanding melanjutkan sekolah. Selain itu, muncul juga fenomena baru seperti rendahnya minat belajar akibat kecanduan gawai yang membuat anak enggan kembali ke bangku pendidikan.

Kini Bandung memperlihatkan wajah lain dari julukannya sebagai kota pendidikan. Di satu sisi, kota ini dipenuhi institusi unggulan dan menjadi tujuan pelajar dari berbagai daerah. Namun di sisi lain, masih ada ribuan anak yang bahkan belum menyelesaikan pendidikan dasar mereka.

Oleh karena itu, persoalan pendidikan di Bandung tidak bisa dilepaskan dari akar utamanya, yakni ketimpangan ekonomi yang masih membatasi banyak keluarga. Pendidikan masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus dibayar mahal, sehingga aksesnya belum benar-benar setara. Menambah jumlah sekolah atau kampus saja tidak cukup jika biaya tetap menjadi penghalang utama. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membenahi hal yang lebih mendasar, mulai dari bantuan pendidikan yang tepat sasaran, kebijakan biaya yang lebih berpihak, hingga memastikan bahwa program pendidikan gratis benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momen untuk menguji apakah pendidikan benar-benar telah menjadi hak bagi semua seperti yang diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebab masih ada anak yang tertinggal pendidikan karena alasan ekonomi yang menunjukkan bahwa julukan kota pendidikan belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan.

Bandung mungkin telah memiliki banyak kampus dan fasilitas, tetapi ukuran sesungguhnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada siapa saja yang benar-benar bisa mengaksesnya. Jika akses pendidikan masih menjadi batas, maka kemerdekaan pendidikan di Bandung belum benar-benar terwujud. (*)

REFERENSI

  • Pemkab Buleleng. (2019). Makna Sejarah Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS).

  • Ma’soem University. (2026). Kenapa Harus Bandung? Alasan Kota Ini Jadi Pusat Pendidikan Masa Depan di Indonesia!.

  • Alhamidi, R. (2026). Anak Putus Sekolah di Bandung Capai 7.800. detikjabar.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 04 Mei 2026, 17:05

Panduan Tamasya Kebun Raya Bogor: Laboratorium Hidup di Jantung Kota Hujan

Kebun Raya Bogor menawarkan 15.000 koleksi tanaman, tiket mulai Rp15 ribu, serta tips menjelajah taman luas dengan efisien.

Kebun Raya Bogor.
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 14:33

Hardiknas Jangan Sekedar Jadi Kalender

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar penanda kalender.

Sekolah Sabtu-Minggu Odesa di Cisanggarung Wetan, Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Antusias mereka untuk mengenal literasi lebih baik. Bekal mereka untuk tumbuh adaptif. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 12:35

Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

Bandung sebagai kota pendidikan yang masih menghadapi ketimpangan akses, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 10:12

Antrean Solar Subsidi Picu Kemacetan serta Ganggu Angkutan Umum dan Logistrik

Kelangkaan solar subsidi memicu antrean di SPBU, mengganggu operasional angkutan umum, distribusi barang, serta berpotensi menekan ekonomi melalui kenaikan biaya logistik.

Antrean truk yang akan membeli solar subsidi di SPBU Nagreg mengular hingga ke jalan raya, Kamis (30/4/2026) siang. (Sumber: Facebook/Radio Elshinta 90FM)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 08:19

Kebijakan Kriminal dan Kriminalisasi Kebijakan

Kebijakan yang telah ditetapkan dan kemudian diimplementasikannya, dalam prakteknya tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Ilustrasi penjara. (Sumber: Pexels | Foto: Xiaoyi)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 18:51

Tiga Dekade Kepergian Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien lahir dengan nama Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah di Jateng, wilayah Kadipaten Mangkunegaran, Surakarta, 23 Agustus 1923.

Halaman depan berbagai surat kabar nasional yang memberitakan wafatnya Ibu Tien Soeharto pada akhir April 1996. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanunbary)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 19:47

Menilai Peringatan Hardiknas dari Mata Mereka yang Masih Terpinggirkan

Hardiknas bukan sekadar tren, tapi mandat inklusivitas. Meneladani Ki Hajar Dewantara, mari bangun jembatan hak belajar bagi difabel demi memanusiakan manusia tanpa terkecuali.

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)