Buruh, Kerja, dan Ibadah

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Siang yang cerah. Bada salat Jumat di Masjid Ikomah, langkah terasa ringan, tapi pikiran belum sepenuhnya pulang. Tepat di pelataran (serambi) kanan, seorang kawan menyapa hangat, menanyakan kabar keluarga, keadaan anak, istri dan segala basa-basi yang selalu terasa tulus di hari yang penuh berkah.

Dengan menggeleng pelan, setengah heran, sambil menggoda berkata “Buruh aja libur, kok malah masuk kerja?”

Muhun” jawabku singkat.

Berarti ada yang mendadak, ya? Harus cepat diselesaikan?” lanjutnya, menebak.

“Biasa, nuju orientasi,” jelasku.

Laki-laki bertubuh gemuk itu mengangguk, lalu menepuk bahu. “Pantas saja. Sukses dan selamat, ya.”

Selesai bersalaman dan berpisah. Langkah kaki tidak serta-merta berjalan ke ruangan. Justru di sela perjalanan itu pikiran melayang pada satu pesan dan nasihat Prof. Nanat Fatah Natsir, Rektor ke-7 tentang empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

THE LIFE MANAGEMENT, Menata kelola Hidup agar Lebih Bermakna dan Berbahagia. (Sumber: Ahmad Izzan dan Usin S. Artyasa, 2013:121-122)
THE LIFE MANAGEMENT, Menata kelola Hidup agar Lebih Bermakna dan Berbahagia. (Sumber: Ahmad Izzan dan Usin S. Artyasa, 2013:121-122)

4 Falsafah Kerja

Kedengarannya empat kata itu sederhana, tapi kerap terasa berat saat dijalani dan dipraktikkan. Ikhlas, bekerja dengan hati, bukan sekadar menerima, melainkan menata niat tulus agar kerja tak berhenti pada upah, tanpa pamrih, mengeluh, tapi berujung ibadah, hati tenang dan tidak terbebani.

Cerdas, bekerja dengan otak, strategi, bukan hanya soal pintar, melainkan kemampuan membaca situasi, memilih cara yang tepat, tidak sekadar sibuk tanpa arah. Menggunakan ilmu, teknologi, dan strategi untuk mencapai hasil maksimal dengan efisiensi waktu dan energi.

Keras, bekerja dengan sungguh-sungguh. Memiliki dedikasi, disiplin, stamina, dan pantang menyerah untuk mencapai target meskipun harus melampaui batas kemampuan. Dengan daya tahan yang tetap berjalan kendati lelah, tegak berdiri walau ingin rebah.

Tuntas, bekerja sampai selesai.Tidak setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas, memastikan semua kewajiban beres dengan kualitas terbaik. Terlebih banyak yang memulai dengan semangat, tapi tak semua sampai di garis akhir dengan tanggung jawab.

Kehadiran kombinasi dari keempat falsafah ini diharapkan dapat membentuk karakter profesional yang tangguh, jujur, dan berintegritas.

Ibaratnya semacam panduan etos kerja untuk mencapai hasil maksimal dan sukses yang berkah. Semuanya ini menggabungkan ketulusan hati (ikhlas), strategi efisien (cerdas), stamina dan disiplin (keras), tanggung jawab menyelesaikan tugas hingga akhir (tuntas).

Slamet pengayuh becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Slamet pengayuh becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menjemput Kesejahteraan

Prof. Mahmud, Rektor ke-9 menegaskan dalam menjalani empat falsafah bekerja, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meluruskan niat. Dengan bekerja semata-mata sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Bekerja bukan sekadar rutinitas, melainkan pengabdian yang memiliki nilai spiritual. Pasalnya, setiap individu dituntut untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas dan potensi masing-masing.

Tentunya, bekerja tidak hanya berorientasi pada kepentingan dunia, justru harus menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat, sebagai “tiket” menuju surga.

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai momentum refleksi atas peran pekerja dalam menggerakkan peradaban.

Termasuk untuk di lingkungan UIN Bandung, peringatan ini semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang perenungan bersama tentang makna kerja sebagai ibadah, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara. (www.uinsgd.ac.id)

Ilustrasi aksi unjuk rasa buruh. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi aksi unjuk rasa buruh. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bangun Harmoni

Sudah saatnya kita renungkan apa yang disampaikan oleh KH. Khoirul Huda Basyir, dalam Khutbah Jumat bertajuk “Hari Buruh: Merajut Harmoni, Menjemput Kesejahteraan Bersama”

Setiap kali kalender menunjukkan tanggal 1 Mei, perhatian kita tertuju pada peringatan Hari Buruh. Kerap kali, momen ini diwarnai dengan turunnya saudara-saudara kita ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Tidak jarang pula, muncul kesan seolah terdapat jarak antara pekerja dan pemberi kerja dengan narasi “kami versus mereka”.

Padahal, bila diresapi dengan hati yang jernih, esensi sejati hubungan ketenagakerjaan dalam pandangan Islam bukanlah tentang perselisihan, melainkan tentang persaudaraan dan kesejahteraan bersama.

Islam memandang kerja sebagai amanah, sementara hubungan antara pekerja dan pemberi kerja dibangun atas dasar keadilan, saling menghargai, dan tanggung jawab.

Dalam suasana inilah pentingnya membangun harmoni. Pekerja tidak hanya diposisikan sebagai roda penggerak ekonomi, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat. Untuk pemberi kerja tidak sekadar menjadi pemilik modal, tetapi menjadi mitra dalam menciptakan kesejahteraan bersama.

Sejatinya momentum Hari Buruh menjadi pengingat ihwal kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi oleh kualitas relasi sosial yang adil dan manusiawi.

Saat harmoni terjalin, kesejahteraan bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan hasil dari kebersamaan.

Ke depan, narasi ketenagakerjaan kita harus bergeser. Bukan lagi tentang siapa yang paling kuat menekan, melainkan bagaimana kita bisa merangkul dan maju bersama.

Pemerintah akan terus hadir sebagai wasit yang adil dan fasilitator yang menjembatani. Namun, ikhtiar itu membutuhkan itikad baik dari kita semua. Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2).

Mari jadikan Hari Buruh ini sebagai momentum untuk meruntuhkan tembok kecurigaan dan mulai membangun jembatan persaudaraan. Di pabrik, di kantor, di instansi, mari kita buktikan firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kejernihan pikiran bagi para pemimpin kita, kelapangan rezeki bagi para pekerja kita, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kita tercinta. (www.kemenag.go.id).

Dengan demikian, bekerja sebagai jalan ibadah, ruang kolaborasi, dan sarana menghadirkan kemaslahatan. Hari Buruh bukan hanya milik para pekerja, justru milik kita semua, yang ingin melihat negeri ini tumbuh berkembang dengan keadilan, bergerak dengan kebersamaan, dan sejahtera tanpa meninggalkan siapa saja.

Dari obrolan ringan siang itu, terselip pelajaran berharga tentang kerja bukan semata soal hadir (tidak hadir) di hari libur. Bekerja adalah soal makna, tentang bagaimana kita menautkan niat, usaha, dan tanggung jawab dalam satu tarikan napas yang utuh.

Memang benar, hari libur adalah hak. Tapi saat panggilan tugas datang, di situlah falsafah diuji, prinsip mendapatkan tempat terhormat. Apakah kita sekadar bekerja, atau sedang menapaki jalan pengabdian?

Siang menjelang sore terus bergulir. Langit masih cerah. Rupanya di dalam dada, empat falsafah bekerja terus bergetar menjadi energi untuk menguatkan langkah, meneguhkan arah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)