Buruh, Kerja, dan Ibadah

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 03 Mei 2026, 07:12 WIB
Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Siang yang cerah. Bada salat Jumat di Masjid Ikomah, langkah terasa ringan, tapi pikiran belum sepenuhnya pulang. Tepat di pelataran (serambi) kanan, seorang kawan menyapa hangat, menanyakan kabar keluarga, keadaan anak, istri dan segala basa-basi yang selalu terasa tulus di hari yang penuh berkah.

Dengan menggeleng pelan, setengah heran, sambil menggoda berkata “Buruh aja libur, kok malah masuk kerja?”

Muhun” jawabku singkat.

Berarti ada yang mendadak, ya? Harus cepat diselesaikan?” lanjutnya, menebak.

“Biasa, nuju orientasi,” jelasku.

Laki-laki bertubuh gemuk itu mengangguk, lalu menepuk bahu. “Pantas saja. Sukses dan selamat, ya.”

Selesai bersalaman dan berpisah. Langkah kaki tidak serta-merta berjalan ke ruangan. Justru di sela perjalanan itu pikiran melayang pada satu pesan dan nasihat Prof. Nanat Fatah Natsir, Rektor ke-7 tentang empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

THE LIFE MANAGEMENT, Menata kelola Hidup agar Lebih Bermakna dan Berbahagia. (Sumber: Ahmad Izzan dan Usin S. Artyasa, 2013:121-122)
THE LIFE MANAGEMENT, Menata kelola Hidup agar Lebih Bermakna dan Berbahagia. (Sumber: Ahmad Izzan dan Usin S. Artyasa, 2013:121-122)

4 Falsafah Kerja

Kedengarannya empat kata itu sederhana, tapi kerap terasa berat saat dijalani dan dipraktikkan. Ikhlas, bekerja dengan hati, bukan sekadar menerima, melainkan menata niat tulus agar kerja tak berhenti pada upah, tanpa pamrih, mengeluh, tapi berujung ibadah, hati tenang dan tidak terbebani.

Cerdas, bekerja dengan otak, strategi, bukan hanya soal pintar, melainkan kemampuan membaca situasi, memilih cara yang tepat, tidak sekadar sibuk tanpa arah. Menggunakan ilmu, teknologi, dan strategi untuk mencapai hasil maksimal dengan efisiensi waktu dan energi.

Keras, bekerja dengan sungguh-sungguh. Memiliki dedikasi, disiplin, stamina, dan pantang menyerah untuk mencapai target meskipun harus melampaui batas kemampuan. Dengan daya tahan yang tetap berjalan kendati lelah, tegak berdiri walau ingin rebah.

Tuntas, bekerja sampai selesai.Tidak setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas, memastikan semua kewajiban beres dengan kualitas terbaik. Terlebih banyak yang memulai dengan semangat, tapi tak semua sampai di garis akhir dengan tanggung jawab.

Kehadiran kombinasi dari keempat falsafah ini diharapkan dapat membentuk karakter profesional yang tangguh, jujur, dan berintegritas.

Ibaratnya semacam panduan etos kerja untuk mencapai hasil maksimal dan sukses yang berkah. Semuanya ini menggabungkan ketulusan hati (ikhlas), strategi efisien (cerdas), stamina dan disiplin (keras), tanggung jawab menyelesaikan tugas hingga akhir (tuntas).

Slamet pengayuh becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Slamet pengayuh becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menjemput Kesejahteraan

Prof. Mahmud, Rektor ke-9 menegaskan dalam menjalani empat falsafah bekerja, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meluruskan niat. Dengan bekerja semata-mata sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Bekerja bukan sekadar rutinitas, melainkan pengabdian yang memiliki nilai spiritual. Pasalnya, setiap individu dituntut untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas dan potensi masing-masing.

Tentunya, bekerja tidak hanya berorientasi pada kepentingan dunia, justru harus menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat, sebagai “tiket” menuju surga.

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai momentum refleksi atas peran pekerja dalam menggerakkan peradaban.

Termasuk untuk di lingkungan UIN Bandung, peringatan ini semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang perenungan bersama tentang makna kerja sebagai ibadah, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara. (www.uinsgd.ac.id)

Ilustrasi aksi unjuk rasa buruh. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi aksi unjuk rasa buruh. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bangun Harmoni

Sudah saatnya kita renungkan apa yang disampaikan oleh KH. Khoirul Huda Basyir, dalam Khutbah Jumat bertajuk “Hari Buruh: Merajut Harmoni, Menjemput Kesejahteraan Bersama”

Setiap kali kalender menunjukkan tanggal 1 Mei, perhatian kita tertuju pada peringatan Hari Buruh. Kerap kali, momen ini diwarnai dengan turunnya saudara-saudara kita ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Tidak jarang pula, muncul kesan seolah terdapat jarak antara pekerja dan pemberi kerja dengan narasi “kami versus mereka”.

Padahal, bila diresapi dengan hati yang jernih, esensi sejati hubungan ketenagakerjaan dalam pandangan Islam bukanlah tentang perselisihan, melainkan tentang persaudaraan dan kesejahteraan bersama.

Islam memandang kerja sebagai amanah, sementara hubungan antara pekerja dan pemberi kerja dibangun atas dasar keadilan, saling menghargai, dan tanggung jawab.

Dalam suasana inilah pentingnya membangun harmoni. Pekerja tidak hanya diposisikan sebagai roda penggerak ekonomi, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat. Untuk pemberi kerja tidak sekadar menjadi pemilik modal, tetapi menjadi mitra dalam menciptakan kesejahteraan bersama.

Sejatinya momentum Hari Buruh menjadi pengingat ihwal kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi oleh kualitas relasi sosial yang adil dan manusiawi.

Saat harmoni terjalin, kesejahteraan bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan hasil dari kebersamaan.

Ke depan, narasi ketenagakerjaan kita harus bergeser. Bukan lagi tentang siapa yang paling kuat menekan, melainkan bagaimana kita bisa merangkul dan maju bersama.

Pemerintah akan terus hadir sebagai wasit yang adil dan fasilitator yang menjembatani. Namun, ikhtiar itu membutuhkan itikad baik dari kita semua. Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2).

Mari jadikan Hari Buruh ini sebagai momentum untuk meruntuhkan tembok kecurigaan dan mulai membangun jembatan persaudaraan. Di pabrik, di kantor, di instansi, mari kita buktikan firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kejernihan pikiran bagi para pemimpin kita, kelapangan rezeki bagi para pekerja kita, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kita tercinta. (www.kemenag.go.id).

Dengan demikian, bekerja sebagai jalan ibadah, ruang kolaborasi, dan sarana menghadirkan kemaslahatan. Hari Buruh bukan hanya milik para pekerja, justru milik kita semua, yang ingin melihat negeri ini tumbuh berkembang dengan keadilan, bergerak dengan kebersamaan, dan sejahtera tanpa meninggalkan siapa saja.

Dari obrolan ringan siang itu, terselip pelajaran berharga tentang kerja bukan semata soal hadir (tidak hadir) di hari libur. Bekerja adalah soal makna, tentang bagaimana kita menautkan niat, usaha, dan tanggung jawab dalam satu tarikan napas yang utuh.

Memang benar, hari libur adalah hak. Tapi saat panggilan tugas datang, di situlah falsafah diuji, prinsip mendapatkan tempat terhormat. Apakah kita sekadar bekerja, atau sedang menapaki jalan pengabdian?

Siang menjelang sore terus bergulir. Langit masih cerah. Rupanya di dalam dada, empat falsafah bekerja terus bergetar menjadi energi untuk menguatkan langkah, meneguhkan arah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)