Hal pertama yang saya ingat jika mendengar kata hari buruh adalah “MARSINAH”. Siapa yang tak kenal dengan Perempuan Tangguh satu ini. Ia adalah simbol perjuangan dan perlawanan yang gigih menuntut hak-hak pekerja. Meski kematianya sangat mengenaskan akibat pemerkosaan dan pembunuhan tapi dentuman suaranya terekam dalam jejak Sejarah.
Mundur kembali untuk menelisik Sejarah—dicetuskannya 1 Mei sebagai hari buruh berawal dari perjuangan dan aksi mogok kerja massal buruh di Amerika Serikat pada tahun 1886. Isi tuntutan dalam demo yaitu meminta pengurangan jam kerja menjadi 8 jam/ hari yang memicu bentrokan berdarah di Chicago sehingga tanggal tersebut dijadikan symbol perjuangan hak pekerja internasional.
Sementara di Indonesia sendiri peresmiannya baru ada 1 Mei 2014 berdasarkan Keputusan presiden. Sebetulnya sejak zaman Belanda hari buruh sudah diperingati tepatnya 1 Mei 1918 oleh serikat buruh Kung Tang Hwee. Namun kegiatan ini sempat vakum karena dilarang saat orde baru dan dianggap sebagai Gerakan kiri.
Satu bulan ke belakang saya sedang melaksanakan kegiatan PKPA di daerah Riung Bandung. Untuk menempuh lokasi tersebut biasanya saya memilih jalan Cisirung Palasari. Jalan ini dipenuhi dengan sejumlah pabrik yang berdiri sangat kokoh. Bahkan setiap pagi dan sore ketika saya melewati jalan tersebut banyak pekerja yang hilir-mudik masuk gerbang megah.
Sepanjang pengamatan saya—jumlah Perempuan yang masuk area pabrik jumlahnya lebih banyak dari laki-laki. Dengan seragam warna biru saya sering melihat mereka berburu jajanan anak sd atau sarapan berat yang ada di sepanjang pabrik. Ada yang sedang membeli batagor, membeli teman nasi, baso, cakue, buah-buahan dan aneka jenis makanan yang lain. Bahkan ada beberapa yang berjualan baju dan perlengkapan rumah tangga.
Narasi mengenai jumlah Perempuan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki di dunia. Jumlah pekerja Perempuan pun seringnya begitu. Saya sering bertanya di dalam diri “apakah ini menunjukkan eksistensial atau justru tuntutat ekonomi keluarga karena sistem kapitalisme yang sedang berjalan”?
Setiap berpergian saya selalu suka mengobservasi orang atau keadaan yang saya temui dan alami secara langsung di jalan. Saya pernah melihat Perempuan berada di profesi yang secara sosial tak lazim ada pada dirinya. Misalnya di daerah Cibaduyut saya pernah melihat pekerja Perempuan sedang memperbaiki motor di sebuah bengkel. Saya pernah berbincang dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai driver ojek online karena suaminya sakit. Saya pernah melihat remaja Perempuan berjualan tahu bulat. Dan masih banyak Perempuan-perempuan lainnya yang menjelma sebagai buruh atau pekerja.
Perempuan seringkali di tuntut untuk diam di rumah dan mengurus pekerjaan domestik saja. Tapi bagi para Perempuan yang lahir dalam garis kemiskinan tampaknya hal tersebut hanya angan-angan belaka. Pada usia tertentu Perempuan dituntut untuk segera menikah. Beberapa diantaranya hanya manut saja. Tak peduli laki-laki yang dipilih atau memilihnya sudah punya ekonomi stabil atau belum. Yang jelas mereka merasa telah bebas dari beban sosial dengan julukan “perawan tua”.

Keluarga ini lalu melahirkan seorang anak tanpa pertimbangan yang matang. Menjadikan anak kekurangan asupan makanan yang bergizi, tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Pada akhirnya pasrah menerima Nasib dan kembali mengulang rantai yang sama—kemiskinan structural.
Banyak yang saya temui dan ajak bicara dari para Perempuan-perempuan yang menjadi buruh. Ada yang suaminya mokondo karena enggan mencari pekerjaan—setiap hari hanya mengurusi burung yang dipeliharanya dalam sangkar. Ada Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena memiliki sosok ayah yang tak pernah hadir dalam hidupnya. Ada Perempuan yang bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan sekundernya karena suaminya pelit. Ada seorang Perempuan tua yang berjualan baso ikan karena tidak ingin membebankan hidup kepada anak-anaknya.
Narasi di atas menjadi sebuah fakta bahwa Perempuan buruh atau pekerja tidak selalu lahir dari keinginan dan cita-citanya. Justru diam-diam ia menjelma dari tekanan sosial dan sistem kapitalisme yang berjalan di dunia ini. Bahkan fakta menyedihknnya meski Perempuan lebih banyak dibutuhkan dalam sektor industry dan manufaktur—mereka menjadi golongan yang mendapat gaji lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki.
Dilansir dari situs UN WOMEN menyataka bahwa Perempuan dibayar lebih rendah dengan kesenjangan gender mencapai 16 persen. Bahkan kesenjangan lebih besar didapatkan oleh Perempuan pekerja yang memiliki anak dan kondisi ini diperparah setelah dampak wabah Covid-19.
Masih dalam artikel yang sama mengatakan jika dibandingkan dengan kondisi global Perempuan Indonesia justru memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. Serta fakta mencengangkannya tingkat pendidikan Perempuan belum mampu mempersempit kesenjangan upah gender.
Menurut saya istilah “Indepent Woman” tidak selalu lahir dari kesadaran Perempuan untuk berdikari dalam segala hal dihidupnya. Melainkan ia banyak menjelma dari kondisi sosial yang tidak ideal—misalnya kehilangan sosok laki-laki di rumahnya—baik itu ayah, adik, kakak, paman, kakek dan saudara laki-laki lainnya.
Banyak dari Perempuan independent justru melihat sosok ibunya di rumah yang selalu kuat. Mampu mengurusi rumah tangga, mampu berjualan untuk menambah penghasilan, diam ketika disakiti oleh suaminya. Dan pertahanan diri lainnya yang sering dianggap sebagai kekuatan.

Meski demikian tak bisa dipungkiri bahwa ada independent woman yang lahir dari kesadaran dalam dirinya. Ia ingin memiliki dampak yang luas bagi Perempuan lainnya sehingga ia menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri tanpa sokongan laki-laki dibelakangnya. Ia ingin menunjukkan kepada Perempuan yang sering dinarasikan lemah untuk terinspirasi bangkit dan tidak bertahan dalam hubungan toxic hanya karena takut kehilangan finansial. Perempuan ini juga ingin menunjukkan emansipasi bahwa Perempuan berhak dan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan ini biasanya memiliki kebebasan memilih dan tidak terkungkung dengan stigma Perempuan baik itu harus manut. Biasanya tipe independent woman ini banyak lahir dari mereka yang memiliki previlage dalam keluarganya. Contohnya saja Cinta Laura. Ia lahir menjadi indepent woman karena keresahannya terhadap sikap dunia kepada Perempuan.
Sementara Perempuan- Perempuan buruh pekerja dipaksa menjadi independent woman untuk berperan ganda dalam memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya, anak-anaknya dan bahkan suaminya. Jadi sudah bisa terjawab secara singkat bahwasannya pemberdayaan Perempuan dipengaruhi oleh previlage yang dimiliki dalam keluarganya.
Meski demikian kedu Perempuan ini hebat dalam bidangnya masing-masing—yang satu berjuang lebih untuk dirinya – Perempuan satu lagi berjuang lebih untuk dunia. Seperti Marsinah—hiduplah terus dengan keberanian untuk menyuarakan hak-hak dan keadilan yang sudah sepantasnya kita dapatkan. (*)
