Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hal pertama yang saya ingat jika mendengar kata hari buruh adalah “MARSINAH”. Siapa yang tak kenal dengan Perempuan Tangguh satu ini. Ia adalah simbol perjuangan dan perlawanan yang gigih menuntut hak-hak pekerja. Meski kematianya sangat mengenaskan akibat pemerkosaan dan pembunuhan tapi dentuman suaranya terekam dalam jejak Sejarah.

Mundur kembali untuk menelisik Sejarah—dicetuskannya 1 Mei sebagai hari buruh berawal dari perjuangan dan aksi mogok kerja massal buruh di Amerika Serikat pada tahun 1886. Isi tuntutan dalam demo yaitu meminta pengurangan jam kerja menjadi 8 jam/ hari yang memicu bentrokan berdarah di Chicago sehingga tanggal tersebut dijadikan symbol perjuangan hak pekerja internasional.

Sementara di Indonesia sendiri peresmiannya baru ada 1 Mei 2014 berdasarkan Keputusan presiden. Sebetulnya sejak zaman Belanda hari buruh sudah diperingati tepatnya 1 Mei 1918 oleh serikat buruh Kung Tang Hwee. Namun kegiatan ini sempat vakum karena dilarang saat orde baru dan dianggap sebagai Gerakan kiri.

Satu bulan ke belakang saya sedang melaksanakan kegiatan PKPA di daerah Riung Bandung. Untuk menempuh lokasi tersebut biasanya saya memilih jalan Cisirung Palasari. Jalan ini dipenuhi dengan sejumlah pabrik yang berdiri sangat kokoh. Bahkan setiap pagi dan sore ketika saya melewati jalan tersebut banyak pekerja yang hilir-mudik masuk gerbang megah.

Sepanjang pengamatan saya—jumlah Perempuan yang masuk area pabrik jumlahnya lebih banyak dari laki-laki. Dengan seragam warna biru saya sering melihat mereka berburu jajanan anak sd atau sarapan berat yang ada di sepanjang pabrik. Ada yang sedang membeli batagor, membeli teman nasi, baso, cakue, buah-buahan dan aneka jenis makanan yang lain. Bahkan ada beberapa yang berjualan baju dan perlengkapan rumah tangga.

Narasi mengenai jumlah Perempuan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki di dunia. Jumlah pekerja Perempuan pun seringnya begitu. Saya sering bertanya di dalam diri “apakah ini menunjukkan eksistensial atau justru tuntutat ekonomi keluarga karena sistem kapitalisme yang sedang berjalan”?

Setiap berpergian saya selalu suka mengobservasi orang atau keadaan yang saya temui dan alami secara langsung di jalan. Saya pernah melihat Perempuan berada di profesi yang secara sosial tak lazim ada pada dirinya. Misalnya di daerah Cibaduyut saya pernah melihat pekerja Perempuan sedang memperbaiki motor di sebuah bengkel. Saya pernah berbincang dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai driver ojek online karena suaminya sakit. Saya pernah melihat remaja Perempuan berjualan tahu bulat. Dan masih banyak Perempuan-perempuan lainnya yang menjelma sebagai buruh atau pekerja.

Perempuan seringkali di tuntut untuk diam di rumah dan mengurus pekerjaan domestik saja. Tapi bagi para Perempuan yang lahir dalam garis kemiskinan tampaknya hal tersebut hanya angan-angan belaka. Pada usia tertentu Perempuan dituntut untuk segera menikah. Beberapa diantaranya hanya manut saja. Tak peduli laki-laki yang dipilih atau memilihnya sudah punya ekonomi stabil atau belum. Yang jelas mereka merasa telah bebas dari beban sosial dengan julukan “perawan tua”.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Keluarga ini lalu melahirkan seorang anak tanpa pertimbangan yang matang. Menjadikan anak kekurangan asupan makanan yang bergizi, tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Pada akhirnya pasrah menerima Nasib dan kembali mengulang rantai yang sama—kemiskinan structural.

Banyak yang saya temui dan ajak bicara dari para Perempuan-perempuan yang menjadi buruh. Ada yang suaminya mokondo karena enggan mencari pekerjaan—setiap hari hanya mengurusi burung yang dipeliharanya dalam sangkar. Ada Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena memiliki sosok ayah yang tak pernah hadir dalam hidupnya. Ada Perempuan yang bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan sekundernya karena suaminya pelit. Ada seorang Perempuan tua yang berjualan baso ikan karena tidak ingin membebankan hidup kepada anak-anaknya.

Narasi di atas menjadi sebuah fakta bahwa Perempuan buruh atau pekerja tidak selalu lahir dari keinginan dan cita-citanya. Justru diam-diam ia menjelma dari tekanan sosial dan sistem kapitalisme yang berjalan di dunia ini. Bahkan fakta menyedihknnya meski Perempuan lebih banyak dibutuhkan dalam sektor industry dan manufaktur—mereka menjadi golongan yang mendapat gaji lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki.

Dilansir dari situs  UN WOMEN menyataka bahwa Perempuan dibayar lebih rendah dengan kesenjangan gender mencapai 16 persen. Bahkan kesenjangan lebih besar didapatkan oleh Perempuan pekerja yang memiliki anak dan kondisi ini diperparah setelah dampak wabah Covid-19.

Masih dalam artikel yang sama mengatakan jika dibandingkan dengan kondisi global Perempuan Indonesia justru memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. Serta fakta mencengangkannya tingkat pendidikan Perempuan belum mampu mempersempit kesenjangan upah gender.

Menurut saya istilah “Indepent Woman” tidak selalu lahir dari kesadaran Perempuan untuk berdikari dalam segala hal dihidupnya. Melainkan ia banyak menjelma dari kondisi sosial yang tidak ideal—misalnya kehilangan sosok laki-laki di rumahnya—baik itu ayah, adik, kakak, paman, kakek dan saudara laki-laki lainnya.

Banyak dari Perempuan independent justru melihat sosok ibunya di rumah yang selalu kuat. Mampu mengurusi rumah tangga, mampu berjualan untuk menambah penghasilan, diam ketika disakiti oleh suaminya. Dan pertahanan diri lainnya yang sering dianggap sebagai kekuatan.

Meski demikian tak bisa dipungkiri bahwa ada independent woman yang lahir dari kesadaran dalam dirinya. Ia ingin memiliki dampak yang luas bagi Perempuan lainnya sehingga ia menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri tanpa sokongan laki-laki dibelakangnya. Ia ingin menunjukkan kepada Perempuan yang sering dinarasikan lemah untuk terinspirasi bangkit dan tidak bertahan dalam hubungan toxic hanya karena takut kehilangan finansial. Perempuan ini juga ingin menunjukkan emansipasi bahwa Perempuan berhak dan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan ini biasanya memiliki kebebasan memilih dan tidak terkungkung dengan stigma Perempuan baik itu harus manut. Biasanya tipe independent woman ini banyak lahir dari mereka yang memiliki previlage dalam keluarganya. Contohnya saja Cinta Laura. Ia lahir menjadi indepent woman karena keresahannya terhadap sikap dunia kepada Perempuan.

Sementara Perempuan- Perempuan buruh pekerja dipaksa menjadi independent woman untuk berperan ganda dalam memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya, anak-anaknya dan bahkan suaminya. Jadi sudah bisa terjawab secara singkat bahwasannya pemberdayaan Perempuan dipengaruhi oleh previlage yang dimiliki dalam keluarganya.

Meski demikian kedu Perempuan ini hebat dalam bidangnya masing-masing—yang satu berjuang lebih untuk dirinya – Perempuan satu lagi berjuang lebih untuk dunia. Seperti Marsinah—hiduplah terus dengan keberanian untuk menyuarakan hak-hak dan keadilan yang sudah sepantasnya kita dapatkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.