Curhat Buruh Digital Perempuan Bandung, Jam Kerja Fleksibel jadi Tameng Eksploitasi Terselubung

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Ilustrasi pekerja kreatif yang sering bekerja lembur tak kenal waktu. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi pekerja kreatif yang sering bekerja lembur tak kenal waktu. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID — Hari Buruh Internasional diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Mei. Kesejahteraan buruh menjadi persoalan utama dalam setiap tuntutan serikat kerja atau kelompok lainnya. Di zaman yang serba cepat, buruh bukan hanya pekerja pabrik atau kantor. Perkembangan teknologi dewasa ini membuat pekerjaan berbasis digital muncul, menjamur, dan diminati.

Contohnya seperti ojek online (ojol), pekerja lepas digital, hingga content creator (pembuat konten). Content creator menjadi salah satu pekerjaan yang paling dicari oleh anak muda. Industri ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkreativitas seluas mungkin.

Ditambah, generasi milenial dan generasi Z memiliki kecenderungan lebih terhadap teknologi, seperti telepon genggam dan laptop. Seiring dengan itu, media sosial juga bertumbuh pesat dan menjadi hiburan anak muda.

Peluang ini kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan, baik yang bergerak di dunia digital maupun tidak. Media sosial menjadi sarana untuk mengiklankan produk atau jasa para pemilik modal. Pembuat konten promosi itu adalah mereka yang bekerja di balik layar gawai, laptop, atau komputer.

Salah satunya Nadya—bukan nama sebenarnya—remaja yang bekerja di salah satu perusahaan digital di Kota Bandung. Ia telah berkecimpung di dunia digital lebih dari tiga tahun. Mimpi yang selama ini tercatat di catatan telepon genggam dipertaruhkan di sana.

Dia bercerita, saat pertama kali terjun sebagai content creator, gaya hidupnya cukup berantakan. Berangkat pagi, pulang saat lembayung senja hampir hilang. Gaji pun jauh dari kata harapan. Bekerja lebih dari 8 jam, ia hanya digaji Rp1 juta per bulan.

Dengan gaji itu, ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari: ongkos ke kantor, kuota internet, hingga makan. Belum lagi membantu membiayai keluarga. Suatu waktu, Nadya mengalami hal yang menurutnya paling menyedihkan.

"Waktu itu lagi haid dan nggak punya uang sama sekali buat beli pembalut. Akhirnya aku akalin pakai sapu tangan buat jadi pembalut," katanya.

Di satu sisi, ia juga tengah mengejar gelar sarjana. Kini ia duduk di semester akhir. Hal ini membuat pembagian waktu kerja dan kuliah mesti diatur dengan tepat. Kondisi beban pekerjaan yang kerap dibawa pulang terkadang membuatnya kewalahan. Seperti ingin meluapkan semuanya, namun tertahan oleh realita. "Perempuan juga harus kuat," ucapnya.

Selama pengalamannya bekerja di perusahaan digital, ia mengaku perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam jenjang karier, hak, dan sebagainya. Akan tetapi, ia lebih menyoroti soal sejumlah buruh digital yang masih jauh dari kata sejahtera, termasuk dirinya.

Pemerintah, kata dia, mesti melindungi status kerja kreator secara hukum. Sebab, menurutnya, masih banyak pembuat konten yang tidak terikat kontrak alias kerja lepas atau freelancer. Apalagi perusahaan yang tergolong mikro, banyak yang tidak memiliki jam kerja. Itu karena mereka memanfaatkan celah fleksibilitas.

"Memang di era saat ini dipermudah untuk bekerja di mana saja, tapi kekurangannya tidak ada jam kerja yang pasti dan tidak adanya sisi profesionalitas dari perusahaan tersebut," beber perempuan 24 tahun itu.

"Komunitas wajib menciptakan ruang aman dan suportif untuk memberdayakan serta melindungi mereka dari kekerasan dan diskriminasi," lanjutnya.

Nadya mengaku memang tidak aktif dalam pergerakan buruh atau feminisme. Akan tetapi, ia tetap mendukung gerakan kelompok-kelompok tersebut. Katanya, mereka lah yang menyuarakan hak-hak buruh selama ini sehingga perlu terus didukung dengan cara apa pun.

"Aku sih kurang aktif dalam serikat ataupun demo, tapi aku selalu support dalam bentuk virtual untuk menyuarakan hak buruh perempuan," akunya.

Fleksibel tapi Rentan

Kendati begitu, pengalaman Nadya bukanlah satu-satunya gambaran tentang wajah buruh digital saat ini. Di sisi lain, ada kisah Lala (21), buruh digital perempuan yang bekerja sebagai content creator di sebuah platform e-commerce di Kota Bandung.

Berbeda dengan Nadya yang menghadapi tekanan waktu dan beban ekonomi, Lala merasakan fleksibilitas lebih dalam pekerjaannya—meskipun tetap diiringi risiko yang tak kalah nyata.

Bekerja dari balik layar ponsel dan kamera, Lala menekuni pekerjaannya dengan jam kerja lima jam per hari, menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya.

“Tidak ada beban untuk saya pribadi, karena jam kerja pun menyesuaikan jam kuliah dan waktu saya,” ujar Lala saat diwawancarai.

Gajinya terdiri atas upah pokok dan bonus jika ada produk yang terjual melalui siaran langsung (live) atau unggahan konten. Tak ada lembur, namun juga tak tersedia jaminan seperti cuti, libur rutin, atau perlindungan kerja.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Fleksibilitas itu, meski memudahkan, juga menyimpan sisi rapuh. Salah satunya, jika Lala berhalangan masuk, sulit baginya menukar jadwal dengan rekan shift lain. Sebagai buruh digital, Lala menyadari bahwa kerja di dunia maya bukan tanpa tantangan.

Salah satunya seperti hari ini. Meski tanggal merah, ia tetap harus bekerja pukul 18.30 WIB. Sebelum bekerja, ia mencari referensi dari content creator lain dan nanti akan ia modifikasi menjadi gayanya sendiri.

“Sebagai content creator perempuan, kerja di dunia digital memang fleksibel tapi sering nggak punya jaminan jelas seperti hak cuti, libur, atau perlindungan kerja. Kita bisa bebas atur waktu, tapi kadang harus kerja lembur tanpa kompensasi yang adil. Risiko lain juga kekerasan atau diskriminasi yang belum banyak dapat perhatian,” ungkapnya.

Hari Buruh tahun ini menjadi momen refleksi bahwa dunia kerja digital pun memerlukan regulasi yang kuat. Platform digital diminta lebih proaktif: menyediakan fitur keamanan, perlindungan hak cipta, dan sistem pelaporan yang mudah bagi content creator yang mengalami pelecehan atau pelanggaran.

Di sisi lain, peran pemerintah sangat krusial. Aturan hukum yang melindungi perempuan dari kekerasan digital, akses terhadap bantuan hukum dan psikologis, serta literasi digital yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak.

"Komunitas digital juga harus turut andil sih menurut aku. Dukungan moral, edukasi tentang kekerasan daring, serta menciptakan ruang aman bagi kreator perempuan adalah bentuk solidaritas nyata," ucapnya.

Hari Buruh tak lagi hanya milik buruh pabrik atau pekerja formal. Di era digital, buruh kreatif seperti Nadya dan Lala adalah wajah baru dari perjuangan hak dan keadilan di dunia kerja yang terus berubah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)