Mengapa Tanah di Cekungan Bandung Terus Ambles? Cerita dari Rancaekek dan Bojongsoang

4 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)
Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)

AYOBANDUNG.ID – Amblesnya tanah di cekungan Bandung menjadi isu serius yang tengah disoroti. Fenomena ini diungkap dalam banyak penelitian sejak 2006 dan yang terbaru adalah riset oleh Santika T. Maryudhaningrum dan timnya, yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Riset Geologi dan Pertambangan edisi 2025.

Hasil penelitian ini mengungkap alasan utama di balik fenomena yang membuat tanah di Cekungan Bandung terus ambles.

Penelitian ini menemukan dua penyebab utama yang membuat tanah terus turun: pengambilan air tanah yang terlalu banyak dan proses alami dari tanah itu sendiri. Rata-rata, tanah ambles 1.85 cm per tahun gara-gara pengambilan air tanah, dan ini menyumbang sekitar 44.30% dari total penurunan. Sementara itu, proses alami tanah menyumbang rata-rata 0.92 cm per tahun, sekitar 15.76%. Sisanya, 39.94%, disebabkan oleh hal lain seperti berat bangunan dan pergerakan lempeng bumi.

Penurunan tanah, atau yang dikenal dengan istilah ilmiah land subsidence, adalah bencana geologis di mana permukaan tanah turun secara perlahan. Penyebabnya bisa karena ulah manusia atau memang proses alamiah. Di Cekungan Bandung, penelitian sebelumnya sudah mencatat penurunan yang lumayan cepat. Berbagai alat canggih seperti GPS menunjukkan tanah turun 1.1 sampai 16.9 cm per tahun antara 2000-2012, sedangkan teknologi lain bernama InSAR mencatat 0.9 sampai 1.7 cm per tahun dari 2006-2010.

Studi ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendalam: seberapa besar pengaruh setiap penyebab itu? Meski teknologi canggih sudah dipakai, belum ada penelitian yang benar-benar memisahkan dan mengukur seberapa besar peran setiap faktor. Nah, inilah yang menjadi fokus utama tim Santika dkk., yaitu menganalisis peran pengambilan air tanah dan proses alami tanah secara terpisah.

Pengambilan air tanah adalah penyebab nomor satu yang diakibatkan oleh ulah manusia di Bandung. Sejak tahun 1970-an, Cekungan Bandung menjadi salah satu pusat industri tekstil terbesar di Indonesia. Pabrik-pabrik ini butuh banyak sekali air, dan selama lebih dari empat puluh tahun, mereka terus mengambil air dari dalam tanah. Akibatnya, permukaan air tanah turun drastis, dan ini menekan tanah di bawahnya, menyebabkan permukaan tanah di atasnya ikut turun.

Ahli geologi dari ITB, Imam Achmad Sadisun, menyebut bahwa pengambilan air tanah secara besar-besaran, baik untuk industri maupun kebutuhan rumah tangga, mempercepat terjadinya pemampatan tanah secara alami. Saat air tanah disedot, rongga-rongga di antara partikel tanah yang tadinya berisi air menjadi kosong, sehingga butiran tanah saling mendekat dan menyebabkan permukaan tanah turun.

Hal ini sejalan dengan penjelasan anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia, T. Bachtiar, yang menyebut eksploitasi air tanah sebagai penyebab utama amblesnya permukaan tanah di Bandung. Ia menekankan bahwa air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga penyangga tanah secara fisik. Ketika air itu hilang, tanah kehilangan daya tahan dan menjadi lebih mudah turun—sebuah proses yang terjadi perlahan, tapi merusak dalam jangka panjang.

Di sisi lain, ada juga faktor alam yang punya andil besar. Sebagian Cekungan Bandung dulu adalah danau purba. Endapan dari danau ini, yang disebut Formasi Kosambi, terdiri dari tanah liat (lempung) yang sangat mudah tertekan. Tanah liat ini mengalami proses alami yang disebut konsolidasi, di mana air dan udara di dalamnya terdesak keluar, sehingga permukaannya turun. Yang bahaya, proses ini bisa terus berjalan bahkan setelah tekanan di atasnya hilang.

Untuk mengukur dampak dari dua faktor ini, para peneliti menggunakan data yang sudah ada. Mereka memakai data kedalaman air tanah dari penelitian Gumilar (2013) yang mencakup periode 1980-an hingga 2000-an. Lalu, data tentang sifat tanah liat diambil dari penelitian Maryudhaningrum (2019). Semua data ini kemudian dihitung menggunakan rumus matematika untuk memperkirakan seberapa cepat tanah turun.

Hasilnya menunjukkan bahwa laju penurunan tanah akibat pengambilan air tanah dan proses alami tanah tersebar di lokasi yang berbeda.

Penurunan paling tinggi akibat pengambilan air tanah terjadi di Rancaekek. Ini masuk akal, karena Rancaekek adalah kawasan industri tekstil, yang menguatkan dugaan bahwa pengambilan air tanah yang berlebihan di sana memang jadi penyebab utamanya. Sebaliknya, laju penurunan tertinggi akibat proses alami tanah ditemukan di Bojongsoang, yang diperkirakan punya lapisan tanah liat yang tebal dan sangat mudah tertekan.

Analisis ini didukung oleh temuan dari penelitian lain. Misalnya, penelitian Abidin dkk. (2012) menggunakan GPS juga menemukan lokasi-lokasi dengan penurunan tanah yang signifikan, termasuk Rancaekek dan Dayeuhkolot. Studi terbaru ini sejalan dengan temuan itu, dan bahkan memberikan pemahaman yang lebih rinci. Di Dayeuhkolot, penurunan tanah terjadi bukan hanya karena pengambilan air tanah, tapi juga karena lapisan tanah liat yang tebal di bagian tengah cekungan yang sedang mengalami proses alami.

Penelitian ini juga secara jelas menghitung persentase kontribusi dari setiap faktor. Pengambilan air tanah menyumbang 44.30%, sedangkan proses alami tanah menyumbang 15.76%. Perhitungan ini didapatkan dengan membandingkan kecepatan penurunan dari kedua faktor tersebut dengan kecepatan penurunan total yang terekam oleh data GPS.

Dalam penelitian ini ditampilkan peta penurunan akibat pengambilan air tanah menunjukkan titik-titik terparah dengan laju lebih dari 40 cm per tahun di Rancaekek. Sedangkan peta penurunan akibat proses alami tanah menyoroti area Bojongsoang dengan laju lebih dari 9 cm per tahun.

Fenomena amblesnya tanah di Bandung, khususnya di Rancaekek dan Bojongsoang, menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tak selalu datang dalam bentuk bencana besar yang tiba-tiba. Ia bisa hadir perlahan, nyaris tanpa suara, namun meninggalkan dampak yang tak kalah serius. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)