Menikmati Perkedel Ibu Kokom 3 dan Syahdu Alam Cimenyan

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Warung Prekedel Ibu Kokom 3 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Warung Prekedel Ibu Kokom 3 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Bandung adalah surga kuliner yang tak pernah habis untuk dijamahi. Beragam kuliner tak hanya memanjakan lidah tapi mampu menajamkan kelima fungsi indera.

Salah satunya adalah Warung Ibu Kokom Cabang ke-3 di Cimenyan, Kabupaten Bandung. Warung ini pertama kali terkenal di jalur trek Tahura (Taman Hutan Raya) Dago. Untuk menikmati kuliner ini pengunjung perlu melakukan trekking sepanjang 4 km.

Namun kali ini untuk menikmati sajian perkedel pengunjung bisa datang menggunakan motor atau mobil. Bahkan bagi yang tidak memiliki kendaraan tempat ini bisa dijangkau menggunakan Go-Jek.

Menuju Warung Ibu Kokom, pengunjung disuguhi pemandangan yang indah dari kawasan Dago. Deretan rumah sederhana hingga megah, deretan warung kopi hingga cafe dengan ambience sejuk mulai dari Cafe D'Pakar, Nokturnal, Asaan kopi hingga Boekit Tjahaya.

Berangkat dari Selasar Sunaryo Art Space menggunakan ojek online dengan jarak 2.9 km. Melewati kawasan Ciburial terdapat jalan sempit yang menanjak, benar-benar butuh keahlian untuk mengendalikan keseimbangan.

Setelah itu jalan kembali datar dan mulai menanjak kembali di kawasan dekat Imago Hills. Driver mengendarai motornya dengan zig-zag saat melintasi kawasan tersebut.

Hanya berselang 3 menit akhirnya saya sampai di Warung Ibu Kokom 3. Puluhan kendaraan motor dan sejumlah mobil terparkir di halaman warung. Warung Ibu Kokom dipenuhi dengan berbagai macam pengunjung mulai dari anak kecil, remaja hingga dewasa.

Di sekitar area warung berwarna biru telor asin terdapat banyak varian makanan ringan mulai dari snack, kerupuk, gorengan, berbagai varian minuman dan beberapa gantung kopi sachet ikut menyemarakan keadaan warung.

Pengunjung bisa memesan dengan cara menuliskannya dalam sebuah kertas yang sudah disediakan. Makanan yang tersaji cukup beragam mulai dari camilan hingga makan berat seperti nasi goreng, nasi ikan asin, ayam goreng dan aneka sambal yang dibuat secara dadakan. Minuman yang tersaji cukup lengkap mulai dari Bandrek, Rosella, kopi, milkshake hingga es cingcau.

Es Cingcau Rosella Warung Perkedel Ibu Kokom 3 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Es Cingcau Rosella Warung Perkedel Ibu Kokom 3 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Menu pertama yang terhidang adalah es cingcau yang memiliki beberapa toping pilihan seperti gula aren, lemon, susu, rosella, susu vanilla. Saya pribadi memilih es cingcau toping rosella karena ingin merasakan rasa baru.

Ternyata pilihan saya tepat, rasa cingcau yang hambar berpadu dengan asam sedikit manis dari rosella. Meskipun es batunya tidak ada karena habis tapi suhu udara sekitar sedikit menambah sensasi dingin secara alami.

Perkedel Ibu Kokom Cimenyan Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Perkedel Ibu Kokom Cimenyan Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Selanjutnya perkedel, menu andalan dan primadona di Warung Ibu Kokom sudah sejak tadi saya tunggu-tunggu. Perkedel yang di buat secara dadakan ini menjadi pilihan cerdas yang dipilih oleh pemilik.

Teksturnya yang masih crunchy di luar dan lembut di dalam yang matang dengan sempurna dan tidak terdapat bau tajam dari adonan kentang basah. Menurut saya perkedel Ibu Kokom dibuat dengan tambahan tepung tapioka (aci) karena teksturnya yang kokoh. Tidak seperti buatan sendiri di rumah yang hasilnya sedikit rapuh dan mudah hancur ketika dipegang oleh tangan.

Perkedel hangat yang dicocol sambal tomat, beuh wuenak tenan. Sambil sedikit melamun memandang hijaunya alam sekitar di depan mata, mencium aroma khas setiap minuman yang disajikan, mengecap setiap makanan yang masuk melalui mulut, mendengar suara alam yaitu tongeret secara bersahutan juga angin yang menerpa wajah ketika mata di buat merem-melek karena autentiknya masakan yang tersaji.

Minuman Jadul Bandrek Kelapa (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Minuman Jadul Bandrek Kelapa (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Minuman penutup yaitu bandrek kelapa menjadi penutup yang sempurna di kala suhu udara makin rendah. Campuran air jahe dan gula aren membantu menghangatkan tubuh. Mengesap bandrek sedikit demi sedikit sambil meresapi aroma yang membawa nostalgia pada minuman khas Bandung yang saat kecil sering ditemui di abang gerobak yang menyediakan makanan kukusan Sunda lainnya.

Ketiga menu yang saya pesan hanya menghabiskan Rp.42.000 saja, cukup worth it untuk rasa yang enak dan bonus pemandangan yang cukup indah. Kekurangannya hanya banyak lalat yang berterbangan. Beberapa kali sering saya temui di tempat makan yang berada di dataran tinggi. Di tempat ini terdapat lilin hanya saja pengunjung harus meminta secara khusus karena tidak disiapkan secara langsung di meja.

Satu lagi kekurangannya tidak disedikan tempat khusus untuk pengunjung yang merokok. Asap rokok yang menghablur ke udara terbawa terbang oleh udara sekitar. Membuat dada sesak dan mengurangi kesejukan udara asri yang sudah diberikan oleh alam.

Menuju pulang saya agak kesulitan menemukan driver ojek online yang bisa terdeteksi oleh aplikasi. Saya memutuskan untuk turun jalan kaki sambil sedikit berolahraga menuju Kamakarsa Garden sekitar 32 menit dengan jarak 2.4 km.

Jika berangkat saya menemukan tanjakan tapi kali ini saya harus melalui turunan. Ancang-ancang kaki harus kuat agar tidak jatuh, beruntungnya saya mengenakan alas kaki yang nyaman dan sesuai. Sebelum kembali melewati Imago Hills ada jalanan yang tertutup pohon dengan vegetasi yang tinggi.

Membuat tempat ini terasa lebih dingin dan sepi. Rasanya seperti masuk ke dunia lain, tentram, menyejukkan sekaligus menakutkan. Tidak direkomendasikan dilewati pagi buta atau sore menjelang malam dengan berjalan kaki sendirian.

Menuju jalan turun saya bertemu dengan sepasang kekasih yang sedang melewati tanjakan sekitar Imago Hills. Sambil tertawa riang dan mengendarai motor secara zig zag tapi sempat terhenti di tengah jalan.

Saya jadi penasaran kenapa semua pengemudi melakukan hal yang sama yaitu mengendarai motor secara zig zag. Saya pikir driver yang membawa motor tadi melakukannya karena iseng. Ternyata setelah saya cari tau di internet ternyata metode ini ada manfaatnya.

Mengendarai secara zig-zag ditanjakan bermanfaat karena akan membuat jalur tanjakan terasa lebih landai. Membantu mempertahankan momentum kendaraan dan menjaga putaran mesin (RPM) tetap stabil. Sehingga memudahkan kendaraan untuk melaju tanpa kehabisan tenaga, terutama pada tanjakan yang curam

Sesederhana apapun perjalanan selalu membuat saya takjub karena begitu banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya pelajari, salah satunya metode kendaraan zig zag tadi.

Menurut saya kadang berjalan kaki membuat kita bisa melambat sebentar dan melihat apa yang terjadi pada sekitar. Kehangatan sebuah keluarga yang duduk di atas tikar sambil menikmati alam yang indah. Seorang anak kecil yang sedang bermain layangan dengan kakeknya.

Sekumpulan warga lokal yang berkumpul di warung sambil berbincang-bincang. Juga perjalanan saya yang terhenti di Kamakarsa Garden, 32 menit yang terasa ringan karena dihabiskan dengan melihat fenomena alam dari masyarakat sekitar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)