AYOBANDUNG.ID - Suara nyaring tak-tok-tak-tok yang berirama menjadi ciri khas tapal kuda saat bergesekan dengan aspal. Bunyi itu kerap terdengar di sekeliling Gedung Sate—ikon sekaligus jantung Kota Bandung—yang hingga kini masih menjadi magnet wisatawan dari luar kota.
Di tengah laju perkembangan zaman, delman hadir sebagai potongan nostalgia. Kehadirannya seolah membawa ingatan pada masa ketika alat transportasi tradisional masih mendominasi, jauh sebelum teknologi mengambil alih hampir seluruh aspek kehidupan.
Kini, delman lebih sering dijumpai saat momentum liburan, di kawasan wisata atau landmark kota, hingga menjelang sore hari. Salah satu momen yang kerap dinanti ialah waktu puasa, ketika anak muda melakukan ritual “ngabuburit.” Perubahan fungsi ini semakin terasa: dari alat transportasi utama, delman bergeser menjadi pelengkap ruang kota yang menawarkan sensasi pengalaman bagi wisatawan.
Di sisi lain, delman justru menjadi penopang hidup bagi sebagian orang. Salah satunya Ade (48), kusir delman yang setiap hari mangkal di sekitar Gedung Sate. Lelaki paruh baya ini telah akrab dengan kuda dan delman sejak usia 12 tahun. Terbilang masih sangat belia ketika ia mulai menekuni profesi kusir—sebuah pilihan yang juga dipengaruhi tuntutan keluarga secara turun-temurun, dari kakek, orang tua, hingga dirinya sendiri.
Meski begitu, Ade mengakui profesi inilah yang menghidupinya selama puluhan tahun. Dari hasil menjadi kusir delman, ia mampu membesarkan anak hingga memiliki cucu, bahkan membangun rumah. Tak hanya menarik delman, Ade juga menambah penghasilan melalui jual beli kuda dan keterlibatannya dalam perayaan khitanan anak dengan kesenian kuda renggong, yang masih ia tekuni hingga kini.
Dalam kondisi apa pun, Ade berusaha tetap bersyukur. Padahal, secara realistis, bisnis delman semakin tergerus zaman—terutama sejak beragam moda transportasi modern hadir berkat kolaborasi inovasi dan teknologi di Kota Kembang.
“Ya, perbedaan sih ada. Sebelum ada alat transportasi mesin mah, ya lumayan bawa kuda tuh. Cuman, semenjak ada bandros ya mungkin agak berkurang pendapatan bawa delman-nya. Tapi ya, walaupun sedikit tetap Alhamdulillah,” ujarnya.
“Paling kalau lagi liburan gini, ya 200 ribu mah dapet. Kadang lebih, kalau usaha kuda kan nggak tentu, kadang dapet kadang nggak gitu,” tambah Ade sambil menghela napas sejenak.
Menurut Ade, pesanan memang meningkat saat musim liburan dibanding hari biasa. Namun, sistem pembayaran delman tidak dihitung per orang, melainkan berdasarkan paket—misalnya Rp50 ribu untuk satu rombongan berisi lima hingga enam orang.
Meski pendapatan tak menentu, Ade berusaha tetap optimistis dan pantang menyerah dalam urusan rezeki.
"Kesejahteraan Kuda"
Di balik profesi yang telah ia jalani sejak remaja, Ade juga memahami kekhawatiran publik, khususnya dari kalangan dokter hewan, terkait "kesejahteraan" dan kesehatan kuda. Berbagai perawatan rutin ia lakukan agar kudanya tetap sehat, bugar, dan sejahtera.
“Biasanya, ada pengawasan dari salah satu dokter hewan. Suka ditanya, udah divaksin atau belum, akhirnya kami vaksin. Terus kalau pulang kerja dari sini saya mandikan pakai air hangat, pakai air jahe khususnya kalau kondisinya dia habis kehujanan di jalan,” tuturnya.
“Sambil badan kudanya dipijat supaya dia juga rileks, supaya badannya segar lagi,” jelas Ade.
Namun, ada tantangan lain yang kerap ia hadapi. Tidak semua kuda bisa tetap tenang saat harus berdampingan dengan kendaraan roda dua dan roda empat di jalanan Kota Bandung yang padat.
Pada situasi tertentu, Ade memilih berhenti sejenak hingga kudanya kembali tenang—misalnya setelah mendengar klakson mendadak, terjebak kemacetan, atau disalip kendaraan dengan kecepatan tinggi. Baginya, keselamatan penumpang dan ketenangan kuda selalu menjadi prioritas utama, bahkan di atas kepentingannya sendiri.
Dari sudut pandang penumpang, Rizman Faturahman (14) mengaku sensasi naik delman sulit tergantikan oleh kendaraan bermesin. Ia kerap menaiki delman pada momen tertentu.
Semilir angin sore hari dan suara tapal kuda, menurut Rizman, kerap membangkitkan suasana kampung halaman. “Saya suka denger tapal kudanya, satisfying,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap merasa khawatir jika delman dinaiki terlalu banyak penumpang saat lalu lintas Bandung sedang macet.
Rizman juga mengaku sering memperhatikan kondisi kuda. “Kalau kelihatan capek, suka kepikiran, kasihan juga sama kudanya,” lanjutnya.
Di titik inilah dilema penumpang muncul: antara menikmati pengalaman dan romantisme budaya lama, dengan kesadaran akan beban kerja kuda yang harus menghadapi panas dan ramainya lalu lintas kota.
Meski demikian, Rizman menyadari bahwa posisi delman di masa kini lebih sebagai transportasi alternatif—daya tarik wisata sekaligus pengingat nostalgia—bukan lagi alat transportasi utama, khususnya di Kota Bandung.
Perlindungan Satwa
Seiring derasnya arus informasi dan meningkatnya literasi publik, kepedulian masyarakat terhadap isu perlindungan satwa pun kian menguat. Penumpang seperti Rizman berharap ada perbaikan sistem ke depan—baik melalui regulasi pemerintah, inovasi teknis, maupun alternatif kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan kuda dan keberlangsungan hidup kusir delman.
Secara regulasi, perlindungan hewan di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 sebagai amandemen dari UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Aturan ini menegaskan bahwa segala aktivitas manusia yang melibatkan hewan harus bebas dari penyakit, luka, serta tekanan fisik maupun mental, dan tidak masuk dalam ranah eksploitasi.
Artinya, delman tidak sepenuhnya dilarang. Namun, negara memiliki kewenangan untuk mengatur, membina, dan mengawasi praktiknya.
Contoh konkret dapat dilihat di DKI Jakarta, di mana jam dan lokasi operasional delman dibatasi. Kebijakan serupa juga diterapkan di Garut, dengan penyesuaian operasional pada momen tertentu demi menjaga kenyamanan dan ketertiban bersama. Regulasi ini bukan untuk menyingkirkan delman dari peradaban, melainkan mengaturnya secara jelas dan terarah.
Sementara di Kota Bandung, delman masih hadir dan menjadi pilihan favorit masyarakat, terutama saat musim liburan. Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Delman bukan sekadar romantisme nostalgia. Ia merupakan perwujudan relasi antara manusia, hewan, dan ruang kota—serta cerminan kehadiran negara dalam memandang budaya dan kesejahteraan satwa. Bukan untuk dimusnahkan atau disingkirkan, melainkan dirangkul agar tetap eksis di tengah derasnya arus peradaban.
