Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

5 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Suara nyaring tak-tok-tak-tok yang berirama menjadi ciri khas tapal kuda saat bergesekan dengan aspal. Bunyi itu kerap terdengar di sekeliling Gedung Sate—ikon sekaligus jantung Kota Bandung—yang hingga kini masih menjadi magnet wisatawan dari luar kota.

Di tengah laju perkembangan zaman, delman hadir sebagai potongan nostalgia. Kehadirannya seolah membawa ingatan pada masa ketika alat transportasi tradisional masih mendominasi, jauh sebelum teknologi mengambil alih hampir seluruh aspek kehidupan.

Kini, delman lebih sering dijumpai saat momentum liburan, di kawasan wisata atau landmark kota, hingga menjelang sore hari. Salah satu momen yang kerap dinanti ialah waktu puasa, ketika anak muda melakukan ritual “ngabuburit.” Perubahan fungsi ini semakin terasa: dari alat transportasi utama, delman bergeser menjadi pelengkap ruang kota yang menawarkan sensasi pengalaman bagi wisatawan.

Di sisi lain, delman justru menjadi penopang hidup bagi sebagian orang. Salah satunya Ade (48), kusir delman yang setiap hari mangkal di sekitar Gedung Sate. Lelaki paruh baya ini telah akrab dengan kuda dan delman sejak usia 12 tahun. Terbilang masih sangat belia ketika ia mulai menekuni profesi kusir—sebuah pilihan yang juga dipengaruhi tuntutan keluarga secara turun-temurun, dari kakek, orang tua, hingga dirinya sendiri.

Meski begitu, Ade mengakui profesi inilah yang menghidupinya selama puluhan tahun. Dari hasil menjadi kusir delman, ia mampu membesarkan anak hingga memiliki cucu, bahkan membangun rumah. Tak hanya menarik delman, Ade juga menambah penghasilan melalui jual beli kuda dan keterlibatannya dalam perayaan khitanan anak dengan kesenian kuda renggong, yang masih ia tekuni hingga kini.

Dalam kondisi apa pun, Ade berusaha tetap bersyukur. Padahal, secara realistis, bisnis delman semakin tergerus zaman—terutama sejak beragam moda transportasi modern hadir berkat kolaborasi inovasi dan teknologi di Kota Kembang.

“Ya, perbedaan sih ada. Sebelum ada alat transportasi mesin mah, ya lumayan bawa kuda tuh. Cuman, semenjak ada bandros ya mungkin agak berkurang pendapatan bawa delman-nya. Tapi ya, walaupun sedikit tetap Alhamdulillah,” ujarnya.

“Paling kalau lagi liburan gini, ya 200 ribu mah dapet. Kadang lebih, kalau usaha kuda kan nggak tentu, kadang dapet kadang nggak gitu,” tambah Ade sambil menghela napas sejenak.

Menurut Ade, pesanan memang meningkat saat musim liburan dibanding hari biasa. Namun, sistem pembayaran delman tidak dihitung per orang, melainkan berdasarkan paket—misalnya Rp50 ribu untuk satu rombongan berisi lima hingga enam orang.

Meski pendapatan tak menentu, Ade berusaha tetap optimistis dan pantang menyerah dalam urusan rezeki.

"Kesejahteraan Kuda"

Di balik profesi yang telah ia jalani sejak remaja, Ade juga memahami kekhawatiran publik, khususnya dari kalangan dokter hewan, terkait "kesejahteraan" dan kesehatan kuda. Berbagai perawatan rutin ia lakukan agar kudanya tetap sehat, bugar, dan sejahtera.

“Biasanya, ada pengawasan dari salah satu dokter hewan. Suka ditanya, udah divaksin atau belum, akhirnya kami vaksin. Terus kalau pulang kerja dari sini saya mandikan pakai air hangat, pakai air jahe khususnya kalau kondisinya dia habis kehujanan di jalan,” tuturnya.

“Sambil badan kudanya dipijat supaya dia juga rileks, supaya badannya segar lagi,” jelas Ade.

Namun, ada tantangan lain yang kerap ia hadapi. Tidak semua kuda bisa tetap tenang saat harus berdampingan dengan kendaraan roda dua dan roda empat di jalanan Kota Bandung yang padat.

Pada situasi tertentu, Ade memilih berhenti sejenak hingga kudanya kembali tenang—misalnya setelah mendengar klakson mendadak, terjebak kemacetan, atau disalip kendaraan dengan kecepatan tinggi. Baginya, keselamatan penumpang dan ketenangan kuda selalu menjadi prioritas utama, bahkan di atas kepentingannya sendiri.

Dari sudut pandang penumpang, Rizman Faturahman (14) mengaku sensasi naik delman sulit tergantikan oleh kendaraan bermesin. Ia kerap menaiki delman pada momen tertentu.

Semilir angin sore hari dan suara tapal kuda, menurut Rizman, kerap membangkitkan suasana kampung halaman. “Saya suka denger tapal kudanya, satisfying,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap merasa khawatir jika delman dinaiki terlalu banyak penumpang saat lalu lintas Bandung sedang macet.

Rizman juga mengaku sering memperhatikan kondisi kuda. “Kalau kelihatan capek, suka kepikiran, kasihan juga sama kudanya,” lanjutnya.

Di titik inilah dilema penumpang muncul: antara menikmati pengalaman dan romantisme budaya lama, dengan kesadaran akan beban kerja kuda yang harus menghadapi panas dan ramainya lalu lintas kota.

Meski demikian, Rizman menyadari bahwa posisi delman di masa kini lebih sebagai transportasi alternatif—daya tarik wisata sekaligus pengingat nostalgia—bukan lagi alat transportasi utama, khususnya di Kota Bandung.

Perlindungan Satwa

Seiring derasnya arus informasi dan meningkatnya literasi publik, kepedulian masyarakat terhadap isu perlindungan satwa pun kian menguat. Penumpang seperti Rizman berharap ada perbaikan sistem ke depan—baik melalui regulasi pemerintah, inovasi teknis, maupun alternatif kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan kuda dan keberlangsungan hidup kusir delman.

Secara regulasi, perlindungan hewan di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 sebagai amandemen dari UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Aturan ini menegaskan bahwa segala aktivitas manusia yang melibatkan hewan harus bebas dari penyakit, luka, serta tekanan fisik maupun mental, dan tidak masuk dalam ranah eksploitasi.

Artinya, delman tidak sepenuhnya dilarang. Namun, negara memiliki kewenangan untuk mengatur, membina, dan mengawasi praktiknya.

Contoh konkret dapat dilihat di DKI Jakarta, di mana jam dan lokasi operasional delman dibatasi. Kebijakan serupa juga diterapkan di Garut, dengan penyesuaian operasional pada momen tertentu demi menjaga kenyamanan dan ketertiban bersama. Regulasi ini bukan untuk menyingkirkan delman dari peradaban, melainkan mengaturnya secara jelas dan terarah.

Sementara di Kota Bandung, delman masih hadir dan menjadi pilihan favorit masyarakat, terutama saat musim liburan. Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.

Delman bukan sekadar romantisme nostalgia. Ia merupakan perwujudan relasi antara manusia, hewan, dan ruang kota—serta cerminan kehadiran negara dalam memandang budaya dan kesejahteraan satwa. Bukan untuk dimusnahkan atau disingkirkan, melainkan dirangkul agar tetap eksis di tengah derasnya arus peradaban.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)