Gotong Royong dalam Pelestarian Cagar Budaya

6 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan
Indra Wijaya, S.E. sedang melaukan pengawasan kegiatan revitalisasi Gereja S. Albanus pada 6 Maret 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Garbi Cipta Perdana)
Indra Wijaya, S.E. sedang melaukan pengawasan kegiatan revitalisasi Gereja S. Albanus pada 6 Maret 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Garbi Cipta Perdana)

Beberapa waktu lalu muncul pernyataan dari mantan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung periode 2025 dalam liputan ARCOM-MEDIA berjudul “Pemkot Bandung Buka Seleksi Terbuka Anggota Tim Ahli Cagar Budaya, Baiknya Diisi Arsitek, Bukan Arkeolog”. Dalam tulisan tersebut, beliau menyampaikan bahwa ada orang-orang arkeologi yang saat ini diduga menguasai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung dan sangat berambisi menduduki jabatan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung periode 2026–2028, padahal TACB sepantasnya diisi arsitek. Pernyataan tersebut dapat dilihat sebagai sebuah “tudingan” bahwa seorang atau sekelompok orang dengan latar pendidikan tertentu dapat “menguasai” pemerintahan, serta menyiratkan bahwa latar pendidikan tertentu dirasa lebih pantas daripada yang lainnya.

Saya menoleh ke kalender dan melihat angka 2026. Oh, artinya ini bukan zaman baheula, di mana masing-masing disiplin ilmu merasa paling penting di antara yang lainnya. Saya melihat daftar nama pegawai Disbudpar, menyusurinya satu per satu, dan hanya mendapati bahwa sayalah satu-satunya pegawai dengan latar belakang arkeologi di kantor ini. Seingat saya, malahan yang ada adalah seorang arsitek yang “menguasai” dinas dan Kota Bandung dengan cara menjadi Wali Kota selama satu periode dalam rentang tahun 2013–2018.

Sebagai manusia yang agak gede rasa, saya menduga tuduhan dalam tulisan tersebut diarahkan kepada saya. Dengan penuh kesadaran, saya merasa terhormat dengan tuduhan tersebut. Saya pun merasa tidak masalah karena itu bagian dari risiko pekerjaan. Namun, dalam tulisan ini saya ingin kita berkaca bahwa kerja-kerja pelestarian cagar budaya bukanlah domain satu disiplin keilmuan semata, melainkan kerja kolaboratif dari berbagai bidang ilmu untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif. Agar lebih jelas dan tidak menimbulkan beban, saya sampaikan bahwa tulisan ini 100% opini pribadi dan tidak ada kaitannya dengan kedinasan.

Seperti kata Indra Wijaya, kolega saya di kantor yang superduper aktif dan selalu mengingatkan bahwa segala sesuatunya perlu berdasarkan regulasi, melalui UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya ditegaskan bahwa Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersifat kolektif-kolegial. Artinya, lembaga ini tidak bekerja berdasarkan instruksi satu orang atau supremasi satu gelar akademik, melainkan melalui konsensus lintas pakar. Sertifikasi kompetensi sebagai Ahli Cagar Budaya pun tidak dibatasi oleh sekat satu disiplin ilmu saja; syarat utamanya adalah kompetensi nyata dalam pelestarian, bukan sekadar ijazah profesi tertentu. Itulah sebabnya pelestarian adalah kerja gotong royong, dan kita dapat meneladani banyak hal dari sejarah panjang pelestarian cagar budaya di negeri ini.

Mari sejenak menengok ke belakang, ke awal abad ke-20. Kita akan menemukan jawaban yang lugas pada sosok Theodorus van Erp. Van Erp bukanlah seorang arkeolog. Ia adalah seorang tentara yang dilatih baris-berbaris dan siap mengokang bedil. Namun, ia bukan sekadar serdadu biasa; ia adalah perwira zeni, seorang teknokrat militer dengan latar belakang arsitektur yang kuat. Sejarah mencatatnya sebagai penyelamat Borobudur. Pada tahun 1907, saat ia memimpin proyek rekonstruksi yang kita kenal sekarang sebagai Pemugaran I pada candi tersebut, ia tidak hanya datang dengan penggaris siku, jangka, dan kalkulasi beban struktur dengan rumus yang jelimet. Ia datang dengan keuletan seorang peneliti dan rasa hormat seorang peneliti yang siap sedia bekerja sama dengan siapa pun guna mengembalikan kemegahan Borobudur.

Dalam kerjanya, Van Erp menerapkan anastilosis—sebuah metode rekonstruksi arkeologi dengan menyusun kembali blok-blok batu asli ke posisi asalnya berdasarkan bukti otentik, bukan imajinasi arsitektural. Van Erp membuktikan bahwa seorang arsitek bisa berpikir secara arkeologis; ia mendokumentasikan setiap lekuk batu dengan fotografi yang obsesif, memastikan bahwa setiap intervensi teknis yang ia lakukan tidak mengubur nilai sejarahnya.

Tak hanya Van Erp, sejarah pelestarian kita juga berutang besar pada V.R. van Romondt. Ia adalah tokoh kunci pendidikan arsitektur di Indonesia, khususnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang menjadi cikal bakal ITB. Salah satu peran pentingnya adalah ikut andil dalam membentuk kurikulum dan mendidik arsitek-arsitek modern pertama Indonesia sejak tahun 1920-an. Menariknya, sang begawan arsitektur ini justru pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst). Pada tahun 1931, ia mengisi posisi pimpinan pemugaran Candi Prambanan yang kosong pasca B. de Haan meninggal dunia. Selain itu, pada tahun 1951, van Romondt memimpin penelitian di Gunung Penanggungan yang berhasil mendata hampir seratus situs yang ada. Maka tidak heran jika di area Kampus ITB terdapat artefak-artefak dari sekitar Candi Prambanan atau Gunung Penanggungan. Hal itu berkaitan erat dengan kerja-kerja van Romondt di lokasi tersebut. Van Romondt menjadi bukti bahwa pendidikan arsitektur di Indonesia lahir dari tangan seseorang yang sangat menghargai arkeologi. Lalu ada pula Henri Maclaine Pont, arsitek di balik megahnya Aula Barat dan Aula Timur ITB, yang namanya abadi dalam sejarah karena dedikasinya menggali situs Trowulan demi memahami jiwa arsitektur Nusantara.

Bahkan, jika kita butuh cermin yang lebih kekinian, lihatlah persahabatan antara mendiang Pak Mundardjito (Bapak Arkeologi Modern Indonesia) dan Pak Han Awal (Begawan Konservasi Arsitektur). Di tangan mereka berdua, pelestarian bukan lagi soal rebutan siapa yang paling berhak, melainkan sebuah simfoni kolaborasi. Mereka tidak saling curiga tentang siapa yang lebih ahli; mereka justru saling melengkapi untuk memastikan warisan budaya kita tidak hancur oleh gerak zaman. Jika para guru besar ini bisa duduk satu meja dengan penuh rasa hormat, mengapa kita hari ini masih terjebak pada sekat-sekat keilmuan?

Baiklah, saya sudahi berkaca ke masa lalu. Saya akan kembali ke Bandung, tempat saya lahir, hidup, dan bekerja. Tinggalan budaya yang ada di kota ini, mulai dari batu Prasasti Curug Dago—tinggalan Raja Thailand—hingga kemegahan lengkung Art Deco di Jalan Asia Afrika, tempat terjadinya peristiwa Konferensi Asia-Afrika yang monumental bagi umat manusia abad ke-20 yang menggaungkan solidaritas, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa di dunia, memperlihatkan bahwa kota ini adalah tempat bagi beragam warisan yang kompleks.

TACB memang bertugas menggali “nilai penting” sebagai dasar penetapan. Namun, nilai itu tidak tunggal. Nilai itu ada pada artefak dan materialnya (arkeologi), konsep bangunan serta estetika fasadnya (arsitektur), peristiwanya (sejarah), memori kolektifnya (sosiologi–antropologi), keberlanjutan fungsinya (ekonomi), dan nilai lainnya yang dapat dilihat dari banyak sudut keilmuan. Memaksa TACB hanya diisi oleh satu disiplin ilmu adalah sebuah upaya penyempitan makna yang akan menghasilkan tafsir tunggal. Jika hanya berisi arkeolog, kita khawatir kota ini akan menjadi museum yang beku—indah tetapi rapuh. Sebaliknya, jika hanya berisi arsitek, kita takut kota ini kehilangan jiwanya—indah tetapi palsu (pseudohistoris).

Baca Juga: Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Seharusnya, spirit yang kita bawa adalah semangat transdisipliner. Kita butuh arsitek yang mau masuk ke dalam labirin arsip sejarah yang berdebu agar tahu mengapa sebuah jendela dibuat melengkung. Kita juga butuh arkeolog yang mau belajar tentang kekuatan material bangunan agar bisa memberi masukan yang masuk akal ketika sebuah gedung tua harus diadaptasikan menjadi ruang publik yang hidup.

Pelestarian di Bandung tidak boleh menjadi menara gading bagi para ahli. Sebagaimana Borobudur di tangan Van Erp, Prambanan dan Gunung Penanggungan di tangan Van Romondt, atau Trowulan di mata Maclaine Pont yang berhasil “pulih” karena perpaduan ketajaman teknis dan keheningan riset lintas keilmuan, cagar budaya di Kota Bandung pun butuh sentuhan yang melampaui ego sektoral.

Pada akhirnya, pelestarian cagar budaya adalah upaya gotong royong guna menjaga ingatan kota agar tidak lekas pikun. Karena pada setiap bata yang kita selamatkan, ada doa-doa dari masa lalu serta harapan bagi masa depan yang sedang kita titipkan. Sebab, bukankah arkeolog adalah arsitek masa lalu, dan arsitek adalah arkeolog masa depan? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)