Gotong Royong dalam Pelestarian Cagar Budaya

Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan Kamis 12 Mar 2026, 12:35 WIB
Indra Wijaya, S.E. sedang melaukan pengawasan kegiatan revitalisasi Gereja S. Albanus pada 6 Maret 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Garbi Cipta Perdana)

Indra Wijaya, S.E. sedang melaukan pengawasan kegiatan revitalisasi Gereja S. Albanus pada 6 Maret 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Garbi Cipta Perdana)

Beberapa waktu lalu muncul pernyataan dari mantan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung periode 2025 dalam liputan ARCOM-MEDIA berjudul “Pemkot Bandung Buka Seleksi Terbuka Anggota Tim Ahli Cagar Budaya, Baiknya Diisi Arsitek, Bukan Arkeolog”. Dalam tulisan tersebut, beliau menyampaikan bahwa ada orang-orang arkeologi yang saat ini diduga menguasai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung dan sangat berambisi menduduki jabatan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung periode 2026–2028, padahal TACB sepantasnya diisi arsitek. Pernyataan tersebut dapat dilihat sebagai sebuah “tudingan” bahwa seorang atau sekelompok orang dengan latar pendidikan tertentu dapat “menguasai” pemerintahan, serta menyiratkan bahwa latar pendidikan tertentu dirasa lebih pantas daripada yang lainnya.

Saya menoleh ke kalender dan melihat angka 2026. Oh, artinya ini bukan zaman baheula, di mana masing-masing disiplin ilmu merasa paling penting di antara yang lainnya. Saya melihat daftar nama pegawai Disbudpar, menyusurinya satu per satu, dan hanya mendapati bahwa sayalah satu-satunya pegawai dengan latar belakang arkeologi di kantor ini. Seingat saya, malahan yang ada adalah seorang arsitek yang “menguasai” dinas dan Kota Bandung dengan cara menjadi Wali Kota selama satu periode dalam rentang tahun 2013–2018.

Sebagai manusia yang agak gede rasa, saya menduga tuduhan dalam tulisan tersebut diarahkan kepada saya. Dengan penuh kesadaran, saya merasa terhormat dengan tuduhan tersebut. Saya pun merasa tidak masalah karena itu bagian dari risiko pekerjaan. Namun, dalam tulisan ini saya ingin kita berkaca bahwa kerja-kerja pelestarian cagar budaya bukanlah domain satu disiplin keilmuan semata, melainkan kerja kolaboratif dari berbagai bidang ilmu untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif. Agar lebih jelas dan tidak menimbulkan beban, saya sampaikan bahwa tulisan ini 100% opini pribadi dan tidak ada kaitannya dengan kedinasan.

Seperti kata Indra Wijaya, kolega saya di kantor yang superduper aktif dan selalu mengingatkan bahwa segala sesuatunya perlu berdasarkan regulasi, melalui UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya ditegaskan bahwa Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersifat kolektif-kolegial. Artinya, lembaga ini tidak bekerja berdasarkan instruksi satu orang atau supremasi satu gelar akademik, melainkan melalui konsensus lintas pakar. Sertifikasi kompetensi sebagai Ahli Cagar Budaya pun tidak dibatasi oleh sekat satu disiplin ilmu saja; syarat utamanya adalah kompetensi nyata dalam pelestarian, bukan sekadar ijazah profesi tertentu. Itulah sebabnya pelestarian adalah kerja gotong royong, dan kita dapat meneladani banyak hal dari sejarah panjang pelestarian cagar budaya di negeri ini.

Mari sejenak menengok ke belakang, ke awal abad ke-20. Kita akan menemukan jawaban yang lugas pada sosok Theodorus van Erp. Van Erp bukanlah seorang arkeolog. Ia adalah seorang tentara yang dilatih baris-berbaris dan siap mengokang bedil. Namun, ia bukan sekadar serdadu biasa; ia adalah perwira zeni, seorang teknokrat militer dengan latar belakang arsitektur yang kuat. Sejarah mencatatnya sebagai penyelamat Borobudur. Pada tahun 1907, saat ia memimpin proyek rekonstruksi yang kita kenal sekarang sebagai Pemugaran I pada candi tersebut, ia tidak hanya datang dengan penggaris siku, jangka, dan kalkulasi beban struktur dengan rumus yang jelimet. Ia datang dengan keuletan seorang peneliti dan rasa hormat seorang peneliti yang siap sedia bekerja sama dengan siapa pun guna mengembalikan kemegahan Borobudur.

Dalam kerjanya, Van Erp menerapkan anastilosis—sebuah metode rekonstruksi arkeologi dengan menyusun kembali blok-blok batu asli ke posisi asalnya berdasarkan bukti otentik, bukan imajinasi arsitektural. Van Erp membuktikan bahwa seorang arsitek bisa berpikir secara arkeologis; ia mendokumentasikan setiap lekuk batu dengan fotografi yang obsesif, memastikan bahwa setiap intervensi teknis yang ia lakukan tidak mengubur nilai sejarahnya.

Tak hanya Van Erp, sejarah pelestarian kita juga berutang besar pada V.R. van Romondt. Ia adalah tokoh kunci pendidikan arsitektur di Indonesia, khususnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang menjadi cikal bakal ITB. Salah satu peran pentingnya adalah ikut andil dalam membentuk kurikulum dan mendidik arsitek-arsitek modern pertama Indonesia sejak tahun 1920-an. Menariknya, sang begawan arsitektur ini justru pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst). Pada tahun 1931, ia mengisi posisi pimpinan pemugaran Candi Prambanan yang kosong pasca B. de Haan meninggal dunia. Selain itu, pada tahun 1951, van Romondt memimpin penelitian di Gunung Penanggungan yang berhasil mendata hampir seratus situs yang ada. Maka tidak heran jika di area Kampus ITB terdapat artefak-artefak dari sekitar Candi Prambanan atau Gunung Penanggungan. Hal itu berkaitan erat dengan kerja-kerja van Romondt di lokasi tersebut. Van Romondt menjadi bukti bahwa pendidikan arsitektur di Indonesia lahir dari tangan seseorang yang sangat menghargai arkeologi. Lalu ada pula Henri Maclaine Pont, arsitek di balik megahnya Aula Barat dan Aula Timur ITB, yang namanya abadi dalam sejarah karena dedikasinya menggali situs Trowulan demi memahami jiwa arsitektur Nusantara.

Bahkan, jika kita butuh cermin yang lebih kekinian, lihatlah persahabatan antara mendiang Pak Mundardjito (Bapak Arkeologi Modern Indonesia) dan Pak Han Awal (Begawan Konservasi Arsitektur). Di tangan mereka berdua, pelestarian bukan lagi soal rebutan siapa yang paling berhak, melainkan sebuah simfoni kolaborasi. Mereka tidak saling curiga tentang siapa yang lebih ahli; mereka justru saling melengkapi untuk memastikan warisan budaya kita tidak hancur oleh gerak zaman. Jika para guru besar ini bisa duduk satu meja dengan penuh rasa hormat, mengapa kita hari ini masih terjebak pada sekat-sekat keilmuan?

Baiklah, saya sudahi berkaca ke masa lalu. Saya akan kembali ke Bandung, tempat saya lahir, hidup, dan bekerja. Tinggalan budaya yang ada di kota ini, mulai dari batu Prasasti Curug Dago—tinggalan Raja Thailand—hingga kemegahan lengkung Art Deco di Jalan Asia Afrika, tempat terjadinya peristiwa Konferensi Asia-Afrika yang monumental bagi umat manusia abad ke-20 yang menggaungkan solidaritas, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa di dunia, memperlihatkan bahwa kota ini adalah tempat bagi beragam warisan yang kompleks.

TACB memang bertugas menggali “nilai penting” sebagai dasar penetapan. Namun, nilai itu tidak tunggal. Nilai itu ada pada artefak dan materialnya (arkeologi), konsep bangunan serta estetika fasadnya (arsitektur), peristiwanya (sejarah), memori kolektifnya (sosiologi–antropologi), keberlanjutan fungsinya (ekonomi), dan nilai lainnya yang dapat dilihat dari banyak sudut keilmuan. Memaksa TACB hanya diisi oleh satu disiplin ilmu adalah sebuah upaya penyempitan makna yang akan menghasilkan tafsir tunggal. Jika hanya berisi arkeolog, kita khawatir kota ini akan menjadi museum yang beku—indah tetapi rapuh. Sebaliknya, jika hanya berisi arsitek, kita takut kota ini kehilangan jiwanya—indah tetapi palsu (pseudohistoris).

Baca Juga: Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Seharusnya, spirit yang kita bawa adalah semangat transdisipliner. Kita butuh arsitek yang mau masuk ke dalam labirin arsip sejarah yang berdebu agar tahu mengapa sebuah jendela dibuat melengkung. Kita juga butuh arkeolog yang mau belajar tentang kekuatan material bangunan agar bisa memberi masukan yang masuk akal ketika sebuah gedung tua harus diadaptasikan menjadi ruang publik yang hidup.

Pelestarian di Bandung tidak boleh menjadi menara gading bagi para ahli. Sebagaimana Borobudur di tangan Van Erp, Prambanan dan Gunung Penanggungan di tangan Van Romondt, atau Trowulan di mata Maclaine Pont yang berhasil “pulih” karena perpaduan ketajaman teknis dan keheningan riset lintas keilmuan, cagar budaya di Kota Bandung pun butuh sentuhan yang melampaui ego sektoral.

Pada akhirnya, pelestarian cagar budaya adalah upaya gotong royong guna menjaga ingatan kota agar tidak lekas pikun. Karena pada setiap bata yang kita selamatkan, ada doa-doa dari masa lalu serta harapan bagi masa depan yang sedang kita titipkan. Sebab, bukankah arkeolog adalah arsitek masa lalu, dan arsitek adalah arkeolog masa depan? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Garbi Cipta Perdana
Bapaknya Lir. Ngebantuin Wali Kota ngurusin Kebudayaan Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mar 2026, 16:07

Cik, THR-na?

Kehadiran ramadan, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Melainkan soal merawat kebiasaan kecil yang membuat hubungan antarmanusia tetap hangat, akrab

Tunjangan Hari Raya (THR) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Rasyad Yahdiyan)
Ayo Netizen 12 Mar 2026, 15:04

Dadang Adnan Dahlan Jejak Pegiat Literasi dari Jatinangor

Di kalangan perbukuan dan penerbitan, nama Dadang Adnan Dahlan dikenal dengan nama pena Adnan Abi Wildan, atau akrab disapa Pa Adnan.

Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dadang Adnan Dahlan berfoto di depan kompleks istana bersejarah tersebut. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Mar 2026, 14:25

I’tikaf, Panggilan Keheningan dalam Kebisingan

I'tikaf adalah cara Islam mengingatkan bahwa setiap manusia dan setiap peradaban, sesekali perlu berhenti, masuk ke dalam dirinya sendiri, dan bertanya: ke mana sesungguhnya semua ini bergerak?

Seorang laki-laki muslim sedang bermunajat dalam kesendirian di ujung senja (Sumber: pixabay | Foto: pixabay)
Sejarah 12 Mar 2026, 13:51

Sejarah Tragedi Tol Brexit 2016, Kemacetan Mudik Paling Mematikan

Pada mudik Lebaran 2016, kemacetan di Gerbang Tol Brebes Timur berubah menjadi bencana. Ribuan mobil terjebak tanpa bergerak berjam-jam hingga menyebabkan puluhan pemudik mengalami gangguan kesehatan

Ilustrasi kemacetan mudik.
Ayo Netizen 12 Mar 2026, 12:35

Gotong Royong dalam Pelestarian Cagar Budaya

Kerja-kerja pelestarian cagar budaya bukanlah domain satu disiplin keilmuan semata.

Indra Wijaya, S.E. sedang melaukan pengawasan kegiatan revitalisasi Gereja S. Albanus pada 6 Maret 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Garbi Cipta Perdana)
Linimasa 12 Mar 2026, 11:10

Melihat Kesiapan Jalur Mudik di Nagreg

Jalur Nagreg mulai dipersiapkan menghadapi arus mudik Lebaran 2026. Ratusan personel disiagakan, rambu lalu lintas ditambah, dan penerangan jalan diperkuat di sejumlah titik rawan.

Pengendara melintasi jalur Nagreg, pada musim mudik lebaran 2025 lalu. (Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Mar 2026, 10:37

Pensiun Jadi Pemburu THR: Selamat Datang Gen Z di Fase 'Berbagi Berkah' demi Senyum Keponakan

Memasuki Lebaran 2026, tiba-tiba ada pergeseran status yang tidak diumumkan di grup WhatsApp keluarga. Gen Z resmi dinyatakan pensiun dini dari dunia per-THR-an.

Ilustrasi amplop THR lucu (Sumber: Koleksi pribadi)
Ayo Netizen 12 Mar 2026, 09:29

Refleksi Ramadan dan Makna Terdalam Lebaran, Jujurlah Melihat Realitas Kemiskinan!

Mencari solusi yang tepat mengatasi kemiskinan yang kian melebar jauh melampaui statistik diatas kertas.

Ilustrasi tentang kemiskinan struktural. (Sumber: Dibuat dengan bantuan Meta | Foto: Arif Minardi))
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 20:22

Gerakkan Selasa BERSERI dari SMPN 1 Kasokandel

Dari ASRI, untuk Kepedulian bersama menjaga lingkungan.

Kegiatan ASRI (Selasa Berseri) (Foto: Penulis)
Seni Budaya 11 Mar 2026, 18:46

Sejarah Silat Cimande, Bela Diri Legendaris Tradisional Sunda

Berawal dari desa Cimande di Bogor, aliran silat ini berkembang sejak ratusan tahun lalu dan melahirkan banyak cabang di Nusantara, membawa warisan teknik bertarung sekaligus nilai budaya Sunda.

Ilustrasi Silat Cimande
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 18:05

Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan mudik Lebaran bisa diukur dari kondisi jalan yang mulus hingga ke kampung halaman para pemudik.

Ilustrasi jalan rusak di Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Bandung 11 Mar 2026, 17:45

Geliat Bolu Susu Asli Lembang di Tengah Kemeriahan Bazar Ramadhan

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran.

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)