Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 11 Mar 2026, 10:39 WIB
Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih menunjukkan tren yang memprihatinkan. Data terbaru dari Komnas Perempuan melalui Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 mencatat bahwa Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Angka tersebut meningkat 46.432 kasus atau sekitar 14,07 persen dibandingkan tahun 2024. Data ini menunjukkan bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah serius yang terjadi di berbagai ruang kehidupan, mulai dari rumah tangga hingga tempat kerja.

Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 data kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. (Sumber: Komnas Perempuan)
Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 data kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. (Sumber: Komnas Perempuan)

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sosial yang berkaitan dengan ketimpangan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

Pimpinan Umum Marsinah.id, Dian Septi Trinasti (42), menilai bahwa memahami persoalan tersebut harus dimulai dari pengertian yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan kekerasan berbasis gender.

Menurutnya, istilah ini merujuk pada tindakan kekerasan yang terjadi karena identitas gender seseorang, terutama terhadap perempuan dan kelompok gender minoritas. Marsinah.id sendiri merupakan media komunitas yang fokus pada isu kesejahteraan buruh perempuan dan kelompok gender minoritas, serta aktif mengangkat berbagai persoalan terkait kesetaraan.

“Kekerasan berbasis gender adalah kekerasan terhadap perempuan atau minoritas gender yang terjadi karena identitas gendernya,” ujar Dian.

Ia menambahkan bahwa penyebab kekerasan tersebut tidak terlepas dari konstruksi sosial yang telah lama menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara dengan laki-laki. Ketidaksetaraan itu, menurutnya, terbentuk sejak seseorang lahir dan dibesarkan dalam sistem budaya patriarki.

“Secara gender, perempuan selalu ditempatkan sebagai makhluk nomor dua, sehingga sejak lahir perempuan tidak memiliki hak istimewa yang sama dengan laki-laki,” ungkap Dian.

Kondisi tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk diskriminasi yang bersifat sistemik dalam kehidupan sehari-hari. Ketidaksetaraan tidak hanya terlihat dalam hubungan personal, tetapi juga dalam akses perempuan terhadap sumber daya sosial.

“Ada diskriminasi yang sistemik terhadap perempuan dalam akses ekonomi, politik, maupun pekerjaan yang membuat posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki,” kata Dian.

Namun, ia menekankan bahwa perjuangan kesetaraan gender bukan bertujuan menempatkan perempuan di atas laki-laki. Yang diperjuangkan adalah terciptanya kesempatan yang setara bagi semua orang tanpa memandang gender.

“Yang kita perjuangkan bukan perempuan berada di atas laki-laki, tetapi akses yang setara untuk semua gender,” ujarnya.

Pemimpin umum marsinah.id, Dian Septi Trinasti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pemimpin umum marsinah.id, Dian Septi Trinasti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Belakangan ini, sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan memicu kemarahan sekaligus kekhawatiran masyarakat. Meski perhatian publik sering muncul ketika sebuah kasus terungkap, persoalan kekerasan berbasis gender sebenarnya telah lama mengakar dalam kehidupan sosial.

Dian menilai bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilihat hanya sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh individu semata. Ia melihatnya sebagai cerminan ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang masih kuat dalam masyarakat.

Dalam banyak kasus, kekerasan terjadi karena ada pihak yang merasa memiliki kuasa lebih besar terhadap tubuh dan kehidupan perempuan.

“Kekerasan seksual bukan semata soal nafsu atau dorongan biologis, tetapi soal relasi kuasa,” ujar Dian.

Menurutnya, pandangan yang menganggap kekerasan hanya sebagai tindakan individu sering membuat masyarakat gagal melihat akar persoalan yang lebih dalam. Ketika perhatian hanya tertuju pada pelaku, struktur sosial yang memungkinkan kekerasan terus terjadi sering kali luput dari perhatian.

“Kekerasan berbasis gender tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan individu pelaku. Kita perlu melihat bagaimana sistem sosial, budaya, dan relasi gender membentuk kondisi yang membuat kekerasan itu terus berulang,” ungkapnya.

Ratusan orang berkumpul di kawasan Asia Afrika hingga Cikapundung, Kota Bandung, Minggu (8/3), dalam aksi International Women’s Day (IWD) 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ratusan orang berkumpul di kawasan Asia Afrika hingga Cikapundung, Kota Bandung, Minggu (8/3), dalam aksi International Women’s Day (IWD) 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kekerasan Banyak Terjadi di Ranah Personal

Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah personal atau hubungan pribadi. Dari total kasus yang tercatat, sebanyak 337.961 kasus atau sekitar 89,76 persen terjadi di ranah personal.

Ranah ini mencakup berbagai bentuk kekerasan dalam hubungan dekat, seperti kekerasan terhadap istri (KTI), kekerasan oleh mantan pacar (KMP), kekerasan dalam pacaran (KDP), kekerasan terhadap anak perempuan dalam rumah tangga (KTAP), kekerasan dalam relasi personal lain yang tinggal serumah, hingga kekerasan yang dilakukan oleh mantan suami (KMS).

Sementara itu, kekerasan yang terjadi di ranah publik tercatat sebanyak 17.252 kasus. Di ruang ini, bentuk kekerasan yang paling dominan adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang pada 2025 tercatat sebanyak 1.091 kasus.

Selain itu, kekerasan di ranah publik juga terjadi di berbagai tempat seperti lingkungan kerja, ruang publik, tempat tinggal di luar relasi personal, fasilitas medis, hingga dalam kasus tindak pidana perdagangan orang.

Di sisi lain, kekerasan dalam ranah negara juga masih ditemukan dengan jumlah 2.707 kasus. Bentuknya antara lain kekerasan yang dialami Perempuan Berhadapan dengan Hukum (PBH), kekerasan seksual yang dilakukan oleh pejabat publik, konflik agraria dan tata ruang, konflik sumber daya alam, hingga berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Selain itu, tercatat pula konflik penggusuran, kebijakan diskriminatif, penyiksaan, pelanggaran hak perempuan pekerja, serta kasus perdagangan orang terhadap anak perempuan. Sebanyak 18.609 kasus lainnya tidak dapat diklasifikasikan karena perbedaan sistem pendokumentasian antar lembaga.

Ketidakadilan yang Dinormalisasi

Menurut Dian, salah satu persoalan utama adalah banyak bentuk ketidakadilan terhadap perempuan yang telah dianggap sebagai hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, masyarakat sering menormalisasi berbagai ketimpangan tersebut.

Contohnya dapat dilihat dalam pembagian tanggung jawab rumah tangga. Perempuan sering dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab utama dalam merawat rumah, mengurus anak, serta memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

“Ketika kerja-kerja yang berkaitan dengan perawatan tadi yang determinis biologis—karena perempuan punya rahim—maka kerja yang berkaitan dengan anak dan perawatan itu dianggap alamiahnya perempuan,” ujar Dian.

Akibatnya, pekerjaan perawatan tersebut sering dipandang tidak bernilai secara ekonomi.

“Maka kemudian kerja-kerja itu dianggap tidak bernilai, tidak produktif, tidak menghasilkan uang,” tambahnya.

Karena tidak dianggap sebagai pekerjaan yang bernilai, kontribusi perempuan dalam menopang kehidupan keluarga sering kali menjadi tidak terlihat. Dalam banyak situasi, pekerjaan domestik bahkan dianggap sebagai kewajiban yang tidak perlu mendapat pengakuan sosial maupun ekonomi.

“Itu tangan-tangan perempuan yang mengerjakan tidak terlihat. Dan ketika itu dikapitalisasi, nilainya menjadi rendah,” kata Dian.

Menurutnya, masyarakat cenderung hanya menganggap pekerjaan di ranah publik sebagai pekerjaan yang produktif, sementara akses perempuan ke ranah tersebut masih jauh lebih terbatas dibandingkan laki-laki.

“Yang dianggap produktif itu yang ada di ranah publik. Akses perempuan ke ranah publik itu kecil, tidak sama dengan laki-laki,” ujarnya.

Para peserta membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi tuntutan terkait hak-hak perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Para peserta membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi tuntutan terkait hak-hak perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kekerasan Berbasis Gender di Dunia Kerja

Ketimpangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika perempuan berada dalam posisi sebagai pekerja. Dian menjelaskan bahwa perempuan sering menghadapi kerentanan berlapis dalam bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Di berbagai sektor industri, perempuan kerap ditempatkan pada posisi pekerjaan dengan upah rendah serta perlindungan yang minim. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap eksploitasi maupun kekerasan.

“Ada diskriminasi soal akses dan pengakuan kerja. Banyak perempuan dimobilisasi di kerja-kerja yang berupah murah,” ujar Dian.

Ia mencontohkan bahwa di sektor industri, perempuan banyak bekerja di sektor garmen atau industri makanan yang cenderung memiliki upah lebih rendah dibandingkan sektor lain.

“Misalnya kalau di industri, mayoritas perempuan di garmen dan makanan. Tapi kalau di otomotif yang upahnya lebih tinggi, jumlah perempuannya jauh lebih sedikit,” jelasnya.

Ketergantungan ekonomi juga membuat banyak perempuan tidak memiliki ruang yang cukup untuk melawan ketika mereka mengalami kekerasan, baik di tempat kerja maupun dalam hubungan personal.

“Dalam kondisi seperti ini, tubuh perempuan sering kali tidak sepenuhnya merdeka. Banyak perempuan harus bertahan dalam situasi yang tidak adil karena keterbatasan pilihan yang mereka miliki,” kata Dian.

Trauma Lintas Generasi

Dampak kekerasan berbasis gender tidak hanya dirasakan oleh korban secara langsung. Menurut Dian, kekerasan juga memiliki konsekuensi sosial yang lebih luas dan sering kali tidak terlihat.

Trauma yang dialami penyintas dapat memengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang, mulai dari rasa takut, hilangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Lebih jauh, ia menilai bahwa dampak kekerasan juga dapat menjangkau generasi berikutnya melalui pengalaman sosial yang diwariskan secara tidak langsung.

“Trauma akibat kekerasan seksual tidak hanya dialami korban, tetapi bisa berlangsung lintas generasi,” ujarnya.

Karena itu, Dian menilai bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sosial yang dapat memengaruhi masa depan masyarakat secara luas.

“Tidak ada bangsa yang bisa maju jika perempuannya tertindas dan terus menjadi korban kekerasan,” jelasnya.

Mengubah Cara Pandang

Menurut Dian, upaya mengurangi kekerasan berbasis gender tidak dapat hanya bergantung pada penegakan hukum. Perubahan yang lebih mendasar harus dimulai dari cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan relasi gender.

Ia menilai bahwa kesadaran publik perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan yang sering tersembunyi di balik norma sosial yang dianggap wajar.

“Perubahan paling mendasar adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan relasi gender. Selama ketimpangan itu masih dianggap wajar, kekerasan berbasis gender akan terus berulang,” ujar Dian.

Karena itu, perjuangan melawan kekerasan berbasis gender tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja kolektif yang melibatkan masyarakat, komunitas, organisasi, hingga pemerintah.

“Perempuan harus memperjuangkan ruang demokrasi, karena tanpa demokrasi kita tidak bisa memperjuangkan hak-hak kita,” tutup Dian.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)