Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih menunjukkan tren yang memprihatinkan. Data terbaru dari Komnas Perempuan melalui Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 mencatat bahwa Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Angka tersebut meningkat 46.432 kasus atau sekitar 14,07 persen dibandingkan tahun 2024. Data ini menunjukkan bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah serius yang terjadi di berbagai ruang kehidupan, mulai dari rumah tangga hingga tempat kerja.

Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 data kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. (Sumber: Komnas Perempuan)
Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 data kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. (Sumber: Komnas Perempuan)

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sosial yang berkaitan dengan ketimpangan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

Pimpinan Umum Marsinah.id, Dian Septi Trinasti (42), menilai bahwa memahami persoalan tersebut harus dimulai dari pengertian yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan kekerasan berbasis gender.

Menurutnya, istilah ini merujuk pada tindakan kekerasan yang terjadi karena identitas gender seseorang, terutama terhadap perempuan dan kelompok gender minoritas. Marsinah.id sendiri merupakan media komunitas yang fokus pada isu kesejahteraan buruh perempuan dan kelompok gender minoritas, serta aktif mengangkat berbagai persoalan terkait kesetaraan.

“Kekerasan berbasis gender adalah kekerasan terhadap perempuan atau minoritas gender yang terjadi karena identitas gendernya,” ujar Dian.

Ia menambahkan bahwa penyebab kekerasan tersebut tidak terlepas dari konstruksi sosial yang telah lama menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara dengan laki-laki. Ketidaksetaraan itu, menurutnya, terbentuk sejak seseorang lahir dan dibesarkan dalam sistem budaya patriarki.

“Secara gender, perempuan selalu ditempatkan sebagai makhluk nomor dua, sehingga sejak lahir perempuan tidak memiliki hak istimewa yang sama dengan laki-laki,” ungkap Dian.

Kondisi tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk diskriminasi yang bersifat sistemik dalam kehidupan sehari-hari. Ketidaksetaraan tidak hanya terlihat dalam hubungan personal, tetapi juga dalam akses perempuan terhadap sumber daya sosial.

“Ada diskriminasi yang sistemik terhadap perempuan dalam akses ekonomi, politik, maupun pekerjaan yang membuat posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki,” kata Dian.

Namun, ia menekankan bahwa perjuangan kesetaraan gender bukan bertujuan menempatkan perempuan di atas laki-laki. Yang diperjuangkan adalah terciptanya kesempatan yang setara bagi semua orang tanpa memandang gender.

“Yang kita perjuangkan bukan perempuan berada di atas laki-laki, tetapi akses yang setara untuk semua gender,” ujarnya.

Pemimpin umum marsinah.id, Dian Septi Trinasti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pemimpin umum marsinah.id, Dian Septi Trinasti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Belakangan ini, sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan memicu kemarahan sekaligus kekhawatiran masyarakat. Meski perhatian publik sering muncul ketika sebuah kasus terungkap, persoalan kekerasan berbasis gender sebenarnya telah lama mengakar dalam kehidupan sosial.

Dian menilai bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilihat hanya sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh individu semata. Ia melihatnya sebagai cerminan ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang masih kuat dalam masyarakat.

Dalam banyak kasus, kekerasan terjadi karena ada pihak yang merasa memiliki kuasa lebih besar terhadap tubuh dan kehidupan perempuan.

“Kekerasan seksual bukan semata soal nafsu atau dorongan biologis, tetapi soal relasi kuasa,” ujar Dian.

Menurutnya, pandangan yang menganggap kekerasan hanya sebagai tindakan individu sering membuat masyarakat gagal melihat akar persoalan yang lebih dalam. Ketika perhatian hanya tertuju pada pelaku, struktur sosial yang memungkinkan kekerasan terus terjadi sering kali luput dari perhatian.

“Kekerasan berbasis gender tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan individu pelaku. Kita perlu melihat bagaimana sistem sosial, budaya, dan relasi gender membentuk kondisi yang membuat kekerasan itu terus berulang,” ungkapnya.

Ratusan orang berkumpul di kawasan Asia Afrika hingga Cikapundung, Kota Bandung, Minggu (8/3), dalam aksi International Women’s Day (IWD) 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ratusan orang berkumpul di kawasan Asia Afrika hingga Cikapundung, Kota Bandung, Minggu (8/3), dalam aksi International Women’s Day (IWD) 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kekerasan Banyak Terjadi di Ranah Personal

Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah personal atau hubungan pribadi. Dari total kasus yang tercatat, sebanyak 337.961 kasus atau sekitar 89,76 persen terjadi di ranah personal.

Ranah ini mencakup berbagai bentuk kekerasan dalam hubungan dekat, seperti kekerasan terhadap istri (KTI), kekerasan oleh mantan pacar (KMP), kekerasan dalam pacaran (KDP), kekerasan terhadap anak perempuan dalam rumah tangga (KTAP), kekerasan dalam relasi personal lain yang tinggal serumah, hingga kekerasan yang dilakukan oleh mantan suami (KMS).

Sementara itu, kekerasan yang terjadi di ranah publik tercatat sebanyak 17.252 kasus. Di ruang ini, bentuk kekerasan yang paling dominan adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang pada 2025 tercatat sebanyak 1.091 kasus.

Selain itu, kekerasan di ranah publik juga terjadi di berbagai tempat seperti lingkungan kerja, ruang publik, tempat tinggal di luar relasi personal, fasilitas medis, hingga dalam kasus tindak pidana perdagangan orang.

Di sisi lain, kekerasan dalam ranah negara juga masih ditemukan dengan jumlah 2.707 kasus. Bentuknya antara lain kekerasan yang dialami Perempuan Berhadapan dengan Hukum (PBH), kekerasan seksual yang dilakukan oleh pejabat publik, konflik agraria dan tata ruang, konflik sumber daya alam, hingga berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Selain itu, tercatat pula konflik penggusuran, kebijakan diskriminatif, penyiksaan, pelanggaran hak perempuan pekerja, serta kasus perdagangan orang terhadap anak perempuan. Sebanyak 18.609 kasus lainnya tidak dapat diklasifikasikan karena perbedaan sistem pendokumentasian antar lembaga.

Ketidakadilan yang Dinormalisasi

Menurut Dian, salah satu persoalan utama adalah banyak bentuk ketidakadilan terhadap perempuan yang telah dianggap sebagai hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, masyarakat sering menormalisasi berbagai ketimpangan tersebut.

Contohnya dapat dilihat dalam pembagian tanggung jawab rumah tangga. Perempuan sering dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab utama dalam merawat rumah, mengurus anak, serta memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

“Ketika kerja-kerja yang berkaitan dengan perawatan tadi yang determinis biologis—karena perempuan punya rahim—maka kerja yang berkaitan dengan anak dan perawatan itu dianggap alamiahnya perempuan,” ujar Dian.

Akibatnya, pekerjaan perawatan tersebut sering dipandang tidak bernilai secara ekonomi.

“Maka kemudian kerja-kerja itu dianggap tidak bernilai, tidak produktif, tidak menghasilkan uang,” tambahnya.

Karena tidak dianggap sebagai pekerjaan yang bernilai, kontribusi perempuan dalam menopang kehidupan keluarga sering kali menjadi tidak terlihat. Dalam banyak situasi, pekerjaan domestik bahkan dianggap sebagai kewajiban yang tidak perlu mendapat pengakuan sosial maupun ekonomi.

“Itu tangan-tangan perempuan yang mengerjakan tidak terlihat. Dan ketika itu dikapitalisasi, nilainya menjadi rendah,” kata Dian.

Menurutnya, masyarakat cenderung hanya menganggap pekerjaan di ranah publik sebagai pekerjaan yang produktif, sementara akses perempuan ke ranah tersebut masih jauh lebih terbatas dibandingkan laki-laki.

“Yang dianggap produktif itu yang ada di ranah publik. Akses perempuan ke ranah publik itu kecil, tidak sama dengan laki-laki,” ujarnya.

Para peserta membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi tuntutan terkait hak-hak perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Para peserta membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi tuntutan terkait hak-hak perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kekerasan Berbasis Gender di Dunia Kerja

Ketimpangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika perempuan berada dalam posisi sebagai pekerja. Dian menjelaskan bahwa perempuan sering menghadapi kerentanan berlapis dalam bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Di berbagai sektor industri, perempuan kerap ditempatkan pada posisi pekerjaan dengan upah rendah serta perlindungan yang minim. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap eksploitasi maupun kekerasan.

“Ada diskriminasi soal akses dan pengakuan kerja. Banyak perempuan dimobilisasi di kerja-kerja yang berupah murah,” ujar Dian.

Ia mencontohkan bahwa di sektor industri, perempuan banyak bekerja di sektor garmen atau industri makanan yang cenderung memiliki upah lebih rendah dibandingkan sektor lain.

“Misalnya kalau di industri, mayoritas perempuan di garmen dan makanan. Tapi kalau di otomotif yang upahnya lebih tinggi, jumlah perempuannya jauh lebih sedikit,” jelasnya.

Ketergantungan ekonomi juga membuat banyak perempuan tidak memiliki ruang yang cukup untuk melawan ketika mereka mengalami kekerasan, baik di tempat kerja maupun dalam hubungan personal.

“Dalam kondisi seperti ini, tubuh perempuan sering kali tidak sepenuhnya merdeka. Banyak perempuan harus bertahan dalam situasi yang tidak adil karena keterbatasan pilihan yang mereka miliki,” kata Dian.

Trauma Lintas Generasi

Dampak kekerasan berbasis gender tidak hanya dirasakan oleh korban secara langsung. Menurut Dian, kekerasan juga memiliki konsekuensi sosial yang lebih luas dan sering kali tidak terlihat.

Trauma yang dialami penyintas dapat memengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang, mulai dari rasa takut, hilangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Lebih jauh, ia menilai bahwa dampak kekerasan juga dapat menjangkau generasi berikutnya melalui pengalaman sosial yang diwariskan secara tidak langsung.

“Trauma akibat kekerasan seksual tidak hanya dialami korban, tetapi bisa berlangsung lintas generasi,” ujarnya.

Karena itu, Dian menilai bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sosial yang dapat memengaruhi masa depan masyarakat secara luas.

“Tidak ada bangsa yang bisa maju jika perempuannya tertindas dan terus menjadi korban kekerasan,” jelasnya.

Mengubah Cara Pandang

Menurut Dian, upaya mengurangi kekerasan berbasis gender tidak dapat hanya bergantung pada penegakan hukum. Perubahan yang lebih mendasar harus dimulai dari cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan relasi gender.

Ia menilai bahwa kesadaran publik perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan yang sering tersembunyi di balik norma sosial yang dianggap wajar.

“Perubahan paling mendasar adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan relasi gender. Selama ketimpangan itu masih dianggap wajar, kekerasan berbasis gender akan terus berulang,” ujar Dian.

Karena itu, perjuangan melawan kekerasan berbasis gender tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja kolektif yang melibatkan masyarakat, komunitas, organisasi, hingga pemerintah.

“Perempuan harus memperjuangkan ruang demokrasi, karena tanpa demokrasi kita tidak bisa memperjuangkan hak-hak kita,” tutup Dian.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)